
Happy reading.....
"Ivan, di mana kamu?!" teriak seseorang membuat Ivan seketika menoleh ke arah samping.
"Ibu!" kaget Ivan saat melihat sang Mama berjalan ke arahnya.
Kemudian bu Santi duduk di hadapan Ivan, menatapnya dengan tajam sekaligus raut wajah yang bingung.
"Katakan pada Ibu, kenapa Rere dibawa sama polisi?" tanya Bu Santi dengan tatapan menyipit.
Ivan cukup kaget saat mamanya mengetahui tentang hal itu. "Dari mana Ibu tahu?" tanya Ivan.
"Tadi Ibu ke sini karena ingin bertemu kamu dan Rere. Tapi saat Ibu berada di teras, melihat Rere dibawa sama polisi. Ada apa ini Ivan? Jelaskan sama Ibu!" ujar Bu Santi dengan wajah yang panik.
Dia takut jika Rere telah melakukan sesuatu hal yang mencelakai putranya. Walau bagaimanapunx Rere tengah mengandung cucunya. Jadi walau Bu Santi tidak pernah menyukai Rere, akan tetapi tetap dia harus bersikap baik pada wanita itu.
Namun melihat Rere ditangkap polisi, banyak pertanyaan dalam benak bu Santi, dan saat ini dia tengah menunggu jawaban dari putranya.
"Dia ditangkap karena aku yang melaporkannya, Bu," jawab Ivan sambil meminum kopi buatan pembantunya.
"Apa! Kamu yang melaporkannya? Kenapa Ivan? Dia kan istrimu, dan Rere juga lagi hamil!" kaget bu Santi sambil memegangi dadanya.
Kemudian Ivan pun menjelaskan jika Rere berencana untuk membunuhnya dan menguasai hartanya. Dia juga memutar sebuah bukti rekaman percakapan antara Damar dan juga Rere di telepon.
Bu Santi yang mendengar itu pun terlihat begitu sangat syok, dia tidak menyangka jika Rere begitu sangat jahat. Ya ... walaupun dia tahu Rere itu wanita licik, tapi tidak menyangka jika wanita tersebut akan menghabisi putranya.
"Ibu tidak menyangka, jika dia sejahat itu? Dia tega merencanakan pembunuhan untuk kamu dan ingin lari bersama selingkuhannya? Benar-benar keterlaluan! Tapi Ivan, kenapa kamu meragukan anak itu?"
"Bagaimana Ivan bisa yakin, Bu? Dia saja selingkuh, bisa jadi kan anak yang dikandungnya bukan darah daging Ivan? Dan bisa jadi, dia hanya menjebak Ivan? Rencananya, Ivan akan melakukan tes DNA setelah anak itu lahir. Jadi kita tunggu saja. Kalau memang betul anak itu bukan darah daging Ivan, maka tidak ada harta sepeserpun. Jika anak itu beneran anak Ivan, maka Ivan akan memberikan nafkah kepadanya, tapi tidak bisa untuk diperas oleh wanita tersebut. Bahkan Ivan akan mengambil Hak asuh atas anak itu," jelas Ivan.
Ibu Santi menganggukan kepalanya, dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Ivan. Karena walau bagaimanapun, semua harus diselidiki.
__ADS_1
Setelah Ivan menghabiskan kopinya dia pun beranjak dari duduk. "Kamu mau ke mana?" tanya Bu Santi saat melihat putranya akan pergi.
"Aku mau ke kantor polisi, memberikan bukti sekaligus kesaksian. Selingkuhan Rere juga sudah ditangkap lebih dulu oleh polisi, karena aku takut jika pria itu kan kabur," jawab Ivan.
"Ibu ikut ya!"
Ivan mengangguk, kemudian dia ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah itu mereka pun pergi ke kantor Polisi untuk memberikan kesaksian.
.
.
Saat ini Naina dan juga Reno berada di rumahnya Bu Linda. Rencananya mereka tidak akan langsung pergi ke Jogja, sementara Ibu Sumarni sudah pulang lebih dulu bersama dengan Dewa dan Karina.
"Oh iya, kalian memangnya jadi ingin bulan madu?" tanya Bu Linda saat berada di ruang tamu.
"Jadi Bu, rencananya Naina sama Mas Reno akan bulan madu ke Turki, karena Naina ingin sekali ke Capadokia."
Naina dan juga Reno saling bertatapan satu sama lain, kemudian mereka pun terkekeh. "Ibu ini ada-ada aja! Mana mungkin di Turki ketemu sama Maher Zain?" Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Ya bisa aja, kan di Turki sama Palestina nggak beda jauh? Ya kali aja Maher Zain juga lagi Healing, jadi nanti minta tanda tangannya ya!"
"Ya sudah, nanti kalau Naina ketemu nanti minta tanda tangannya. Tapi kalau ketemu yang abal-abal juga tidak masalah ya Bu?" kelakar Naina.
Dia dan juga Reno memang berencana untuk berbulan madu satu minggu, karena mereka ingin sekali menghabiskan waktu berdua. Dan untuk momongan, keduanya juga tidak menunda satu sama lain, karena dari Naina maupun Reno mereka sepakat untuk segera memiliki momongan.
Keduanya tidak ingin menunda-nunda, karena anak itu adalah titipan dan juga rezeki dari Allah. Dan tidak semua beruntung bisa mendapatkan anugerah tersebut, jadi Naina tidak ingin mencegah jika Tuhan akan memberikannya sebuah rezeki.
"Ya sudah, sebaiknya kalian siap-siap gih! Ibu juga mau ke warung dulu nih, beli sayuran. Oh ya Naina, kamu mau dimasakin apa sama ibu?" tanya Bu Linda sambil menatap ke arah putrinya.
"Naina mau dibikinin urap sayur toge, kacang, kangkung, terus sama ikan teri campur kacang balado. Kayaknya enak deh Bu," jawab Naina sambil mengusap air liurnya.
__ADS_1
Kemudian dia menatap ke arah Suaminya, "Kamu mau makan apa, Mas?" tanya Naina.
"Kalau aku makan apa aja, yang penting halal dan bisa dimakan, asalkan jangan batu, karena gigiku sudah pasti ompong." canda Reno.
Naina yang mendengar itu pun segera mencubit perut sixpack sang suami, membuat Bu Linda terkekeh. Kemudian dia beranjak ke kamar untuk mengambil dompet lalu pergi untuk membeli sayur di mana tukang sayur keliling biasanya lewat.
.
.
Ivan dan juga Bu Santi sampai di kantor kepolisian, kemudian mereka menunggu dan duduk, setelah memberikan kesaksian dan juga bukti kepada salah satu polisi.
Tak lama Rere datang dikawal dengan satu orang polisi dan duduk di hadapan mereka berdua dengan tatapan tajam penuh kebencian.
"Tega kamu ya Mas, memenjarakan istri sendiri?! Apa kamu tidak punya otak, hah! Aku ini lagi hamil anak kamu, Mas. Tapi kamu dengan teganya malah menuduh aku yang tidak-tidak untuk menghabisi kamu! Untuk apa aku melakukan itu?!" teriak Rere dengan tangan menunjuk ke arah wajah Ivan.
"Sudah jangan mencak-mencak! Sayang-sayang tenagamu Rere. Kamu mau ngelak seperti apapun, buktinya sudah ada di kantor polisi. Apa kamu pikir, aku selama ini bodoh, membiarkan Istriku selingkuh dan tidak mencari tahu buktinya?" Ivan mencebik dengan tatapan mengejek ke arah Rere.
"Kamu ya---"
"Cukup! Sudah cukup kesabaranku selama ini sama kamu Rere. Dan asal kamu tahu ya! Selingkuhan kamu juga sudah ditangkap kan lebih awal? Jadi kalian bisa mendekam di penjara dan bisa mempersatukan cinta kalian. Oh ... satu lagi, setelah anak itu lahir, kita akan melakukan tes DNA, dan jika terbukti anak itu Anakku, maka aku akan mengambil Hak asuh atasnya. Tapi jika anak itu bukan Anakku, jangan pernah berharap satu peser pun nafkah dariku, paham!" Ivan berkata dengan nada yang dingin dan datar tatapannya bahkan bagaikan elang.
"Mas, mau sampai berapa kali sih aku bilang, anak ini tuh anak kamu!" Rere tetap ngotot jika anak yang dikandungnya adalah anak Ivan.
"Bu ayo kita pergi! Biarkan dia mendapatkan hukumannya. Biarkan nanti pengadilan yang memutuskan berapa puluh tahun dia akan dipenjara bersama dengan kekasih gelapnya itu." Setelah mengatakan hal tersebut Ivan menggenggam tangan sang Ibu lalu pergi meninggalkan Rere yang teriak memanggil namanya.
Namun, Ivan tidak perduli. Dia sudah cukup lelah dengan semua sikap Rere, dan Ivan juga sudah menyewa pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan wanita itu. Dan setelah Rere lahiran, dia akan langsung mentalak wanita tersebut.
Akan tetapi, tiba tiba saja bu Santi menghentikan langkahnya lalu berbalik berjalan ke arah Rere.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1