
Happy reading ....
Saat ini di kediamannya Bu Linda, Mayra, Arga, Reno dan juga Naina sudah berkumpul karena mereka diundang untuk makan malam.
Bu Linda benar-benar sangat beruntung karena memiliki Putri seperti Mayra dan juga Naina. Dan setelah mereka makan malam kemudian kumpul-kumpul di ruang tengah.
"Ibu berharap kamu dan juga Mayra segera memiliki keturunan, karena Ibu sudah tidak sabar ingin sekali menimang cucu dari kalian," ucap Bu Linda dengan binar bahagia pada Naina dan juga Mayra.
"Aamiin ... Ibu doakan saja, semoga kami cepat memiliki momongan ya," jawab Naina sambil memeluk tubuh ibunya dari samping.
Kemudian mereka pun mengobrol tentang pekerjaan Reno, Arga dan juga tentang kehidupan mereka. Bahkan Arga dan juga Reno pun mengatakan jika mereka tidak akan membiarkan istri mereka untuk bekerja.
Sebab keduanya ingin Naina ataupun Mayra fokus mengurus suami dan juga keluarga, ketimbang bekerja. Karena mereka pikir masih mampu untuk mencukupi kebutuhan istrinya.
.
.
Naina baru saja membeli kebutuhan bulanan di supermarket, namun tiba-tiba pundaknya di tepuk oleh seseorang. Dan saat dia membelikan tubuhnya ternyata itu adalah Ivan.
Wanita itu cukup terkejut saat melihat keberadaan Ivan di sana, namun Naina mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Kak Ivan!" kaget Naina.
Ivan tersenyum melihat Naina, dia menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Ivan begitu kagum karena Naina terlihat sangat langsing, walaupun masih berisi tapi bodinya sangat goals.
'Naina semakin cantik saja. Aku menyesal telah menduakannya, dan aku menyesal telah meninggalkannya. Andai kami masih bersama, mungkin--'
"Kak Ivan, kok malah ngelamun?" tanya Naina sama buyarkan lamunan Ivan.
"Ah tidak apa-apa. Apa kabar Naina? Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu. Terakhir ketemu waktu kamu nikahan," ucap Ivan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Naina menyambut uluran tangan itu dengan baik. "Alhamdulillah, kabar aku baik kok Kak. Kak Ivan ke sini sama siapa? Apa sama Bu Santi?" tanya Naina sambil melihat ke belakang Ivan, namun tidak menemukan siapapun.
"Tidak. Aku ke sini sendiri," jawab Ivan.
Kemudian Naina pun permisi, karena dia merasa tak nyaman lama-lama dengan pria itu. Walaupun sudah tidak ada rasa lagi di hati Naina untuk Ivan, tetap saja dia merasa canggung. Karena walau bagaimanapun mereka pernah ada hubungan yang spesial, pernah menjalin kasih sayang dan juga rasa cinta bersama-sama.
Namun saat Naina akan pergi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Ivan, membuat wanita itu menatap ke arahnya dengan bingung. Namun dia segera menepis tangan Ivan, karena Naina merasa tak enak.
"Maaf Kak, aku ini sudah jadi istri orang. Jadi ..." Naina menggantung ucapannya.
"Iya maaf, aku sedikit lancang. Hanya saja boleh kita berbicara sebentar," jawab Ivan.
Naina terdiam, namun Ivan memohon kepada dirinya. Akhirnya wanita itu pun mau, lalu mereka duduk di di kursi yang tak jauh dari parkiran.
"Ada apa, Kak?" tanya Naina tanpa mau berbasa-basi.
Ivan duduk menghadap ke arah Naina, dan itu membuat wanita tersebut merasa tak nyaman. Namun akhirnya mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Cukup Kak! Jangan pernah membahas itu lagi! Semua hanyalah masa lalu, aku tidak mempunyai dendam apapun kepada Kak Ivan ataupun Rere. Aku sudah memaafkan kalian. Bagiku tidak masalah karena aku tahu semua sudah jalan takdirnya, dan karena kejadian itu juga aku sangat bersyukur, karena aku bisa dipertemukan dengan pria yang begitu amat sangat menyayangiku, menerima diri ini apa adanya tanpa melihat ada apanya. Bahkan dia memberikan aku cinta yang tulus." Naina memotong ucapan Ivan, karena dia tahu apa yang akan pria itu ucapkan.
Naina tidak ingin membahas masa lalu, karena yang ada saat ini adalah masa depan. Dia tidak ingin menatap ke belakang, di mana rasa sakit selalu menghantui dirinya.
Tidak Naina pungkiri, perlakuan Ivan dulu yang membuat dirinya down, tidak bisa ia lupakan begitu saja. Namun, Naina bukanlah wanita yang pendendam. Dia bahkan sudah berdamai dengan masa lalu, dia sudah memaafkan semua kesalahan Ivan yang telah menyakitinya.
"Malah harusnya aku tuh berterima kasih sama Kakak, karena berkata Kakak ninggalin aku. Aku bisa bertemu dengan Mas Reno, pria yang saat ini sudah menjadi suamiku. Pria idamanku. Dan aku juga turut prihatin dengan rumah tangga Kakak dan juga Rere, semoga ada jalan keluar yang terbaik." Naina beranjak dari duduknya.
"Kalau memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku permisi ya Kak. Soalnya harus masak untuk makan malam. Dan jangan pernah membicarakan tentang masa lalu lagi Kak! Karena aku sudah menguburnya dalam-dalam." Setelah mengatakan itu Naina pun pergi meninggalkan Ivan yang masih termenung dan terduduk.
Pria tersebut menatap kepergian Naina dengan tatapan yang sendu. Jauh di dalam lubuk hati Ivan masih ada secercah cinta untuk wanita itu.
Ivan juga menyesal telah meninggalkan Naina.
__ADS_1
Namun, melihat dan juga mendengar jawaban Naina, membuat Ivan sadar bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di hati wanita itu.
Nama Ivan sudah digantikan dengan Reno, dan dia sangat yakin Naina saat ini sudah pasti sangat bahagia hidup bersama dengan suaminya. Xan Ivan tidak ingin menjadi pembinor yang merebut istri orang, walaupun sebenarnya dia masih mencintai Naina.
.
.
Di kediaman Bu Renata saat ini Putra pertamanya baru saja pulang dari kota Palembang, bersama dengan istri dan juga anaknya.
Melihat itu tentu saja Bu Renata sangat senang, kemudian dia memeluk tubuh Sahrul, lalu dia menatap lekat ke arah putranya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Mah? Kenapa tatapan Mama seolah ingin mengatakan sesuatu?" tanya Sahrul saat duduk berada di hadapan sang mama.
"Mama sudah menemukan adikmu, Nak. Mama sudah menemukannya," ucap Bu Renata.
Sahrul yang mendengar itu pun sangat kaget. Dia memang selama ini juga mencari adiknya, namun selama 24 tahun itu tidak ketemu. Karena tidak ada tanda-tanda ataupun saksi jadi agak menyulitkan mereka.
Namun seketika Sahrul menjadi sedih dan menatap sang mama. "Ma, Sahrul tahu kalau mama itu sangat rindu dengan Angelica. Namun kita masih belum menemukannya Mah. Jangan seperti ini! Sahrul sangat sedih melihat Mama," ucap Sahrul yang tidak percaya jika Mamanya sudah menemukan adik satu-satunya tersebut.
"Apa kamu menganggap Mama ini gila? Mama serius. Kemarin waktu Mama akan pergi ke Bali, Mama bertabrakan dengan seorang wanita di bandara, dan dia memiliki tanda lahir yang sama dengan Angelica. Awalnya Mama ragu, namun kemarin Mama bertemu lagi di sebuah Cafe. Dan setelah Mama perhatikan wajahnya benar-benar mirip. Itu kenapa Mama juga meminta Papa untuk menyelidiki tentang wanita itu, dan dia bernama Mayra," jelas bu Renata.
Sahrul yang mendengar itu tentu saja sangat terkejut. Dia menatap sang Mama dengan tatapan tak percaya. "Apa Mama serius?" tanya Sahrul memastikan.
"Apa kamu melihat raut bercanda dari wajah Mama, Sahrul? Mama serius. Kamu harus menyelidikinya! Karena Mama sangat yakin dia adalah adik kamu, Putri Mama! Wajahnya begitu mirip dengan mama waktu muda. Please Nak, cari tahu tentang dia! Jika pun tidak, biar kita tidak penasaran!" pinta Bu Renata pada Sang putra.
Sahrul menganggukkan kepalanya, menuruti keinginan sang mama. Karena dia pun begitu penasaran dengan wanita yang ditemui mamanya. Apakah benar itu adiknya atau bukan?
'Semoga saja memang benar, jika itu adalah kamu Angelica. Kakak sangat merindukanmu!' batin Syahrul
bersambung
__ADS_1