Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Berbeda


__ADS_3

Happy reading....


didesak oleh Mayra seperti itu, membuat Arga semakin gugup. Namun, dia mencoba untuk menyembunyikan rasa itu.


"Tiddak ada sayang. Jangan berpikiran yang aneh-aneh deh! Udah yuk kita masuk!" ajak Arga


Mayra pun hanya menurut, dia tidak mau memaksa suaminya untuk bercerita. 'Baiklah Mas, jika kamu memang tidak ingin aku mengetahui semuanya. Tapi, pasti aku akan tahu apa yang kamu sembunyikan dariku.' batin Mayra.


.


.


Beberapa bulan telah berlalu, saat ini kandungan Naina dan juga Maimyra sudah menginjak bulan kelima, dan mereka sedang berjalan-jalan di mall untuk membeli beberapa perlengkapan bayi.


Keduanya pergi tanpa didampingi suami, karena Arga maupun Reno sedang sibuk mengurusi pekerjaannya. Dan mereka rencananya akan menyusul saat jam makan siang.


"Nai, kalau stroller warna ini gimana, bagus nggak?" tanya Mayra kepada Naina, sambil menunjuk Stroller bayi berwarna merah.


"Kalau kata aku sih cocok aja, yang penting cariin warnanya yang netral, jadi bayi cewek ataupun cowok masuk. Kita kan sengaja USG tidak mengetahui tentang jenis kelamin biar jadi surprise nantinya," jawab Naina.


Mendengar itu akhirnya Mayra memutuskan untuk membeli stroller berwarna merah, sedangkan Naina berwarna abu-abu.


Entah kenapa, Naina semenjak hamil senang sekali dengan warna-warna yang netral tidak ngejreng. Sedangkan Mayra kebalikannya, dia lebih suka warna yang begitu terang karena baginya terlihat cerah.


"Kita ini aneh sekali ya. Lo suka warna yang redup sedangkan gue suka warna yang terang?" kekeh Mayra.


"Yah, itulah ibu hamil. Nggak mungkin kan, kalau kita sama ngidamnya? Pasti beda-beda," jawab Naina sambil keluar dari toko bayi.


Mereka berjalan menyusuri Mall tersebut, melihat-lihat berbagai toko pakaian. Dan pada akhirnya, mereka singgah di salah satu toko yang menjual sandal dan juga sepatu yang branded.


"Gue mau beli flat shoes dulu ya. Lo mau ikut gue nggak?" ajak Mayra.


"Iya gue masuk, tapi gue nunggu aja ya," jawab Naina


"Lo nggak ikut belanja?"


"Nggak deh. Entah kenapa semenjak hamil gue nggak suka belanja. Gue aja bingung, biasanya kan cewek-cewek doyan sekali belanja tapi gue malah kebalikannya?"


Akhirnya Mayra pun berbelanja sendiri,memilih sepatu yang tanpa hak tinggi. Dia sedang hamil, jadi tidak mau memakai sendal atau sepatu yang ada haknya.


Setelah selesai mereka pun berjalan mencari restoran untuk makan siang, karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Dan saat mereka sudah duduk di kursi, keduanya pun mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada pasangannya masing-masing untuk segera datang.


"Oh ya, May. Gimana, lo bahagia nggak nikah sama Kak Arga?"


"Bahagia dong. Masa nggak bahagia? Kalau gue nggak bahagia, nggak mungkin nih ada bibit kecebong nyangkut di rahim gue?" kekeh Mayra.


"Iya juga ya." Kemudian mereka pun berbicara seputar pernikahan mereka, dan sebelum mereka menikah dan masih bekerja di kantor.


Dan saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya dan ternyata itu adalah tante Renata.


"Mayra," sapa tante Renata. Karena kebetulan dia juga lagi belanja di mall tersebut, dan akan makan siang tapi tidak sengaja bertemu dengan Mayra.


"Tante Renata!" jawab Maira dengan wajah yang kaget. "Tante habis belanja juga?" tanyanya sambil melihat ke arah paper bag yang berada di tangan wanita itu.

__ADS_1


"Iya nih, kamu lagi belanja juga sayang?" tanya Tante Renata, dan Mayra langsung menganggukan kepalanya.


"Iya Tante. Oh iya Tante, sini duduk gabung sama kita!" ajak Mayra sambil menyuruh tante Renata untuk duduk.


Wanita itu mengangguk, kemudian dia duduk. "Kamu Naina kan sahabatnya Mayra?" tanya Tante Renata sambil melihat ke arah Naina.


"Iya Tante, apa kabar?" Naina mengulurkan tangannya dan langsung dibalas oleh tante Renata. "Alhamdulillah kabar baik," jawabnya.


Kemudian tatapan tante Renata mengarah ke arah perut Naina dan juga Mayra bergantian. "Wah! Kandungan kalian sudah berapa bulan? Sepertinya sudah besar ya?"


"Jalan 5 bulan Tante, alhamdulillah," jawab Mayra dengan lembut sambil mengusap perutnya.


"Bolehkah tante memegang perut kamu, Nak?" minta tante Renata kepada Mayra.


Wanita itu terdiam sambil melirik ke arah Naina, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya. Mayra rasa tidak ada salahnya jika tante Renata memegang dan juga mengusap perutnya.


Saat tangan itu menempel di perutnya, mengusap dengan lembut, Mayra merasakan ada getaran yang aneh di dalam tubuhnya, dan itu mengalir ke hati. Entah kenapa dia merasa nyaman, bahagia bahkan terharu.


'Ya Allah, perasaan apa ini? Kenapa rasanya aku ingin menangis tapi juga bahagia? Ada apa ini ya Allah?' batin Mayra bertanya-tanya.


Tak lama Arga dan juga Reno pun datang, dan betapa terkejutnya Arga saat melihat di sana sedang ada tante Renata yang sedang mengusap perut istrinya.


'Ternyata mau bagaimanapun mereka menjauh, tetap saja, jika takdir sudah berkehendak maka sejauh apapun jarak pasti akan selalu dipertemukan.' batin Arga.


"Maaf ya, kita lama. Tante Renata, ada di sini juga?" Tanya Arga saat mereka sudah sampai di meja lalu duduk di kursi.


"Eh, Nak Arga. Iya, tadi kebetulan lagi belanja, eh nggak sengaja ngeliat Mayra sama Naina di sini pas Tante mau makan siang. Kalau gitu Tante pamit dulu ya, nggak enak. Kalian pasti lagi double date kan?" ujar tante Renata sambil bangkit dari duduknya.


Namun, ditahan oleh Mayra. Dia menggenggam tangannya, dan itu membuat tante Renata seketika menatap ke arah wanita itu.


"Tante jangan pergi, di sini aja gabung sama kita! Kita lagi nggak double date Tante, santai aja," jawab Mayra.


Akhirnya tante Renata pun kembali duduk, lalu mereka memesan makanan. Dan selama makan siang itu berlangsung, tante Renata selalu saja melirik dan menatap teduh ke arah Mayra.


Hal itu dapat dilihat oleh Arga. Sebetulnya dia juga ingin keluarga itu bersatu, tapi sayang, karena keadaan Mayra yang tengah mengandung menjadi hambatan sebuah rahasia besar akan terkuak.


"Oh ya_ Tante permisi ke toilet sebentar ya," ujar tante Renata.


Semua mengangguk, dan tak lama setelah kepergian tante Renata, Arga pun pamit untuk ke toilet juga.


Dia sengaja izin untuk beralasan ke toilet, padahal sebenarnya Arga ingin menemui tante Renata dan membicarakan perihal Mayra.


Sedangkan Mayra sendiri merasa aneh, karena Arga dan juga tante Renata ke toilet secara bersamaan, dan itu membuatnya sedikit curiga.


.


.


"Pah, mau sampai kapan sih kita tidak memberitahukan Mayra tentang kebenaran ini?" tanya Sahrul saat dia sudah sampai di kantor Papanya.


"Sabarlah! Adikmu itu tengah hamil muda, nanti kalau terjadi apa-apa dengan calon keponakanmu, memangnya kamu mau? Kita juga harus bersabar Rul, karena semuanya juga butuh proses. Kamu pikir, mama dan papa kuat menahan rasa rindu ini kepada Mayra? Kamu pikir, Papa dan Mama tidak ingin kita bersama-sama? Tapi semuanya tidak segampang yang dipikirkan Rul. Apalagi dengan kondisi Mayra saat ini," terang Pak Gunawan.


Sahrul mahela nafasnya dengan kasar, dia membantingkan tubuhnya di sofa sambil menyugar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


Rasanya Sahrul ingin sekali segera memeluk sang adik, dan mengatakan jika ia adalah kakaknya. Tapi mereka harus menunggu sampai waktunya tiba, dan entah itu kapan.


"Lalu, mau sampai kapan Pah? Mau sampai Mayra lahiran baru kita akan mengatakan semuanya, begitu Pah? Pada akhirnya Mayra pun akan sakit, dan pada akhirnya dia juga akan terluka, Pah."


"Papa tahu, Nak. Tapi lihatlah! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan calon keponakanmu, dan calon cucu Papa, bagaimana? Apa kamu mau bertanggung jawab?"


Sahrul terdiam, karena memang apa yang dikatakan Papanya benar. Tapi entah sampai kapan dia harus menunggu, karena Sahrul tidak sabar ingin segera memeluk tubuh Mayra dan mengatakan jika selama ini dia juga merindukan Mayra, bahkan mencarinya selama hampir 25 tahun.


"Baiklah, aku harap semuanya akan cepat terbongkar. Karena aku mau kita kumpul bersama-sama, apa sebelum aku kembali untuk tugas kembali. Karena Papa tahu kan, dua bulan lagi aku harus pergi ke Turki, mengurus pekerjaan di sana. Dan entah sampai kapan aku akan tinggal di sana. Tapi setidaknya jika Mayra sudah mengetahui semuanya, Papa dan Mama tidak kesepian lagi," jelas Sahrul.


Saat dia bangkit dari duduknya, ada seseorang yang menelpon, dan ternyata itu dari sopir pribadinya.


"Ya halo! Kenapa, Pak Joko?" tanya Sahrul saat telepon tersambung.


"Apa! Kecelakaan? Bagaimana bisa?!" kaget Sahrul saat mendengar jika anak dan juga istrinya kecelakaan.


Pak Gunawan yang mendengar hal tersebut pun seketika menatap ke arah Sahrul, saat mendengar kata kecelakaan.


"Ada apa, Rul?" tanya Pak Gunawan saat pria itu selesai.


"Aku harus ke rumah sakit sekarang, Pah! Veronica dan juga Laila kecelakaan, Pah!" panik Sahrul.


"Apa! Kecelakaan? Bagaimana bisa?" tanya Pak Gunawan, namun Sahrul segera menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang dan pikirkan itu nanti. Saat ini aku hanya ingin Veronica dan juga Laila tidak papa," jelas Sahrul dengan tatapan khawatir.


Pak Gunawan mengangguk, kemudian mereka pun berjalan keluar ruangan untuk menuju rumah sakit, di mana Veronica dan juga Laila dirawat dan dilarikan.


.


.


Saat tante Renata selesai mencuci tangannya dan menunaikan hajatnya, dia pun keluar dari toilet. Namun, ternyata di sana sudah ada harga yang menunggunya.


"Nak Arga!" kaget tante Renata.


"Tante, saya mau bicara sama Tante!"


"Bicara apa itu, Nak?" Menatap dengan heran.


"Ini soal Mayra."


Mendengar itu tante Renata terdiam. Dia memang sudah mengetahui dari suaminya, jika Arga juga sudah tahu semua tentang Mayra dan juga keluarganya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan soal Mayra? Bukankah kamu sudah mengetahui semuanya, Nak?"


Arga menghela nafas, kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Iya, Tante benar. Aku memang sudah mengetahui semuanya, tapi Tante, aku mohon jangan memberitahukan Mayra dulu sampai dia lahiran. Karena jujur, aku takut jika terjadi apa-apa dengan anak kami, jadi aku mohon pengertian Tante dan juga Om!" pinta Arga


Tante Renata terdiam.


"Iya, aku tahu perasaan Tante dan juga Om. Kalian pasti ingin bersatu kan dengan Mayra? Tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat, buat mengungkap semuanya. Kalau sampai Mayra tahu jika dia adalah anak om dan Tante, pasti dia akan sangat syok dan akan berdampak buruk pada kandungannya," jelas Arga kembali.


Tante Renata menatap ke arah pria tersebut, kemudian dia memegang pundak Arga, lalu saat beliau akan mengatakan sesuatu tiba-tiba saja terhenti oleh ucapan seseorang.

__ADS_1


"APA!"


BERSAMBUNG.....


__ADS_2