
Happy reading.......
Setelah menjebloskan Nabila ke dalam penjara, polisi kemudian menghubungi Reno dan mengatakan jika tersangka sudah ditahan.
Dan Reno yang mendengar itu pun merasa senang, kemudian dia bersiap-siap untuk ke kafe menjemput Naina, dan mengabarkan jika pelaku peneror tersebut sudah ditangkap dan berada di kantor polisi.
"Loh Mas, kamu ke sini kok nggak ngabarin aku dulu? 'Kan aku baru mau siap-siap?" tanya Naina saat Reno masuk ke dalam ruangan.
"Loh sayang, kamu lupa ya, kan kita mau makan siang bareng?"
Naina yang mendengar itu pun menepuk jidatnya, seketika dia lupa kalau mereka memang ada janji untuk makan siang bersama. Naina terlalu sibuk mengemban pekerjaannya, hingga dia pun tidak sadar dengan janjinya bersama dengan Reno.
"Maaf ya Mas, soalnya kerjaan lumayan banyak. Jadi aku lupa deh," jawab Naina sambil menggaruk kepalanya.
Reno yang mendengar itu pun seketika mengusap kepala Naina, lalu mengacak rambutnya. "Dasar, belum juga punya anak udah pikun? Ayo kita makan siang bersama! Nanti aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," ajak Reno.
*Memangnya kamu mau ngajak aku ke mana, Mas?" Naina beranjak dari duduknya sambil mengambil tas yang berada di kursi.
"Ada deh, rahasia. Nanti juga kamu akan tahu," ujar Reno. Kemudian dia menggandeng tangan Naina lalu keluar dari Cafe.
Naina hanya mengangkat kedua bahunya saja, dia tidak ingin memperpanjang masalah itu. Jadi Naina hanya diam saja. Toh pada akhirnya dia juga akan tahu kemana Reno akan membawa dirinya.
Di Resto.
Saat ini Reno dan juga Naina tengah menikmati makan siangnya, sesekali Reno juga menyuapi Naina. "Gimana Sayang, enak kan?" tanya Reno.
"Iya Mas, enak. Aku yakin deh, restoran ini pasti akan laris," jawab Naina sambil mengunyah.
__ADS_1
Setelah makan siang itu selesai, kemudian mereka pun keluar dari Resto tersebut. Lalu masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.
"Oh iya, tadi kamu bilang mau mengajakku ke suatu tempat setelah dari Resto? Memangnya kamu mau mengajakku ke mana, Mas?" tanya Naina sambil menghadap ke arah Reno.
"Ciee ... yang penasaran. Ada deh, nanti juga kamu akan tahu," jawab Reno sambil menoel hidung Naina dengan gemas.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Naina pun hanya diam saja sambil menganggukan kepalanya. Dia tidak ingin banyak protes kepada calon suaminya tersebut.
Hingga setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka pun sampai di depan kantor polisi. Dan Naina yang melihat itu pun merasa heran, mengerutkan dahinya lalu menatap ke arah Reno.
"Loh Mas! Kenapa kita ada di kantor polisi? Memangnya siapa yang mau kamu jenguk?" tanya Naina dengan bingung.
"Kita akan menjenguk seseorang, lebih tepatnya peneror yang selama ini membuat hidup kamu tidak nyaman," jelas Reno sambil membuka sabuk pengamannya.
"Ayo keluar! Kenapa diam saja, sayang?" ajak Reno.
"Tunggu! Mas, dia udah ditangkap? Memangnya siapa dia?" seru Naina dengan nada yang penasaran.
"Nanti di dalam kamu juga akan tahu, siapa peneror itu, ayo!" ajak Reno.
Naina yang penasaran pun menganggukan kepalanya, kemudian mereka berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam kantor polisi dan menunggu di ruang tunggu.
Setelah beberapa menit, mata Naina terbelalak kaget saat seorang wanita dengan baju tahanan berjalan ke arahnya dengan sorot mata yang tajam.
"Nabila!" kaget Naina, kemudian dia melirik ke arah Reno. "Mas, kenapa Nabila ada di sini?" tanya Naina.
"Dialah peneror itu sayang. Tebakan kita memang benar, selama ini yang neror kamu adalah Nabila. Dan dia harus dihukum dengan apa yang sudah diperbuatnya," jawab Reno sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Nabila yang sedang duduk di hadapannya.
__ADS_1
Sedangkan Nabila, kedua tangannya diborgol sehingga dia tidak bisa untuk melakukan hal yang tidak tidak kepada Naina..Dan di sana juga didampingi oleh sipir wanita.
"Lo dengar ya, Naina! Gue nggak akan pernah ngebiarin lo sama Mas Reno bahagia! Karena mas Reno hanya milik gue, paham!" bentak Nabila sambil menatap ke arah Naina dengan penuh kebencian.
Mendengar itu Naina menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak menyangka jika peneror tersebut memang Nabila. Dan yang tidak pernah dia sangka adalah, Nabila sudah masuk ke dalam penjara akan tetapi egonya masih tinggi.
"Kamu itu kenapa sih, terobsesi sekali dengan mas Reno? Dia saja tidak mencintai kamu. Seharusnya kamu bisa hidup bahagia, jangan pernah menyimpan dendam atau lagi kemarahan pada orang lain! Tidak seharusnya kamu memaksakan kehendak, .di mana garis itu bukanlah untukmu!" jelas Naina sambil menggelengkan kepalanya.
"Hahaha ... asal kamu tahu ya! Cewek gentong kayak kamu itu, nggak pantas buat Mas Reno! Yang pantas sama dia itu, cuma aku." Nabila tertawa dengan nada mengejek ke arah Naina.
Sedangkan Reno yang mendengar itu merasa tidak terima, kemudian dia menunjuk wajah Nabila.
"Apa kamu bilang? S?aya pantasnya dengan kamu Hei Nona! Apa kamu tidak mengaca? Apakah kamu pantas untuk saya? Bahkan melihat wajahmu saja, saya tidak tertarik sama sekali. Berani kamu menghina calon istri saya lagi, maka saya akan pastikan, kamu akan mendekam di sini lebih lama!" ancam Reno
"Sudah sayang, sebaiknya kita pergi dari sini! Tidak usah memperdulikan sampah seperti dia," ujar Reno pada Naina, lalu menggenggam tangannya. Kemudian mereka pun berdiri dan meninggalkan kantor itu.
Naina sebenarnya ingin berbicara lagi kepada Nabila_ tapi melihat ego wanita itu yang masih tinggi, tidak mau menyadari kesalahannya, maka Naina pun mengurungkan niatnya.
Selama di dalam mobil dia hanya termenung saja, memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Nabila. Naina merasa heran, kenapa manusia seperti Nabila selalu memaksakan kehendak, di mana sebenarnya tidak bisa dia miliki tapi dia memaksanya.
"Sayang?" panggil Reno, sambil menggenggam tangan Naina. "Kamu tidak usah memikirkan ucapan wanita itu! Jangan pernah kamu menemuinya lagi! Karena wanita seperti dia percuma saja, tidak akan pernah sadar sebelum keinginannya tercapai," jelas Reno.
Naina menyandarkan kepalanya di bahu kekar Reno. "Iya Mas, aku tahu kok. Hanya saja, aku menyayangkan kenapa sikapnya seperti itu? Padahal laki-laki di luaran sana banyak, tapi kenapa dia sangat terobsesi sekali denganmu?" Naina menghela nafasnya dengan berat.
Sedangkan Reno hanya mengusap pipinya dengan lembut, setelah itu tidak ada pembicaraan lagi hingga mobil pun sampai di Cafe, dan Naina kembali mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan di tempat lain, Mayra sedang duduk di kantin kantor, memakan makan siangnya. Karena hujan sedang turun deras, maka Mayra memutuskan untuk memesan bakso.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak Mayra, membuat wanita itu seketika menoleh ke arah belakang.
BERSAMBUNG....