
Happy reading...
Naina sudah kembali masuk bekerja, dan semua karyawan cafe yang ada di sana sudah mengetahui tentang hubungan mereka berdua.
Ada beberapa yang ikut bahagia, dan ada beberapa juga yang nyinyir, karena mereka berpikir, kok bisa Reno menikah dan juga terpikat pada wanita gendut seperti Naina?
Akan tetapi, seperti pepatah, cinta tulus itu tidak memandang secara fisik, tidak memandang harta dan Tahta. Cinta tulus itu semua berawal dari hati, menerima pasangan apa adanya tanpa melihat ada apanya.
Namun memang pada dasarnya zaman sekarang 98% semua melihat dari fisik, hanya saja 2% dari per-seratus pria seperti Reno sangat susah untuk dicari dan juga didapatkan.
"Sayang, nanti siang aku jemput ya. Kita makan siang di luar. Kebetulan temen aku baru aja buka restoran, jadi aku mau ngajak kamu ke sana," ucap Reno saat berada di ruangan Naina.
"Iya Mas," jawab Naina sambil tersenyum, namun raut kecemasan terlihat di kedua sorot matanya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah? Apa peneror itu lagi-lagi menghubungi kamu?" tanya Reno.
Naina mengangguk, kemudian dia memberikan ponselnya kepada Reno. Dan seketika pria itu mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras saat membaca isi pesan tersebut yang berbunyi.
[Jika kamu tidak mau meninggalkan Mas Reno> maka aku tidak akan pernah segan-segan menghabisimu dan juga keluargamu! Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia, karena mas Reno hanyalah milikku!]
"Jujur Mas, aku takut jika peneror itu akan mencelakai Ibu ataupun kak Karina dan juga Mayra," tutur Naina dengan wajah yang sendu.
Reno menggenggam tangan calon istrinya. "Kamu tidak usah khawatir ya, sayang! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Lagi pula, aku sudah melaporkannya ke polisi, dan mereka sedang menyelidiki dan melacak nomor tersebut. Jadi kamu tidak usah takut! Oh iya, untuk sementara ponsel kamu aku sita, tidak apa-apa ya? Agar kamu juga tidak terus-terusan merasa tegang, dan ini aku sudah membelikan kamu ponsel, dan juga nomor yang baru di sana juga aku sudah memasukkan nomor Mayra, ibu dan juga orang-orang penting. Tapi untuk sementara nomor-nomor yang seperlunya tidak harus disimpan aku tidak save dulu, untuk mencegah jika peneror itu bisa melacak," jelas Reno.
Naina manut dengan ucapan calon suaminya, dia tahu apa yang dikatakan Reno memang ada benarnya, dan itu untuk kebaikan Naina sendiri.
Awalnya dia pikir ancaman tersebut hanyalah ancaman biasa, yang tidak berfaedah. Tapi ternyata semakin hari ancaman itu semakin membuatnya resah. Untung saja Reno sigap, jadi dia bisa meng-handle nya.
Setelah itu Reno pun keluar dari Cafe masuk ke dalam mobil dan dia lagi-lagi membaca deretan pesan peneror itu yang terus saja berganti nomor. Tapi yang membuat Reno heran, apakah memang peneror tersebut adalah Nabila? Dan seketika ponselnya berbunyi.
__ADS_1
Ternyata itu adalah telepon dari seorang detektif yang disewa oleh Reno untuk menyelidiki kasus tersebut.
"Iya, bagaimana? Apa kau sudah menemukan orangnya?" tanya Reno tanpa berbasa-basi saat telepon tersambung.
"Sudah Tuan, kita janjian di sebuah cafe, nanti saya akan share alamatnya," jawab seorang pria di seberang telepon.
"Baik," jawab Reno kemudian telepon pun terputus.
Tak lama sebuah pesan masuk dan itu adalah share location dari detektif, Reno. Kemudian dia melajukan mobilnya menuju tempat tersebut, karena Reno sudah tidak sabar ingin segera tahu siapa dalang di balik peneror itu.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, dia pun sampai di sebuah cafe yang dishare oleh orang suruhannya, kemudian Reno langsung masuk dan mencari orang tersebut.
"Maaf lama. Tadi jalanan lumayan macet," ucap Reno saat duduk di hadapan seorang pria.
"Tidak apa-apa Tuan," jawab orang itu kemudian dia menyerahkan berkas yang ada di depannya kepada Reno.
Kemudian Reno mengambil berkas tersebut lalu membacanya. Terlihat sorot matanya yang begitu tajam dengan rahang mengeras, dia menahan amarah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sedangkan pria yang ada di hadapannya hanya diam saja melihat tuannya yang sedang menahan kekesalan.
"Di mana dia tinggal sekarang?" tanya Reno pada detektif tersebut.
"Alamatnya ada di bagian bawah, tuan. Sekarang dia tinggal di sana," Jawab orang tersebut.
Kemudian Reno membacanya lalu dia langsung menghubungi polisi untuk menangkap wanita itu. Reno tidak ingin berlama-lama membiarkan orang yang selama ini meneror dan juga membuat Naina merasa tidak tenang, menghirup udara segar.
Sebagai seseorang yang mencintai Naina, apalagi dia sebentar lagi akan menjadi suaminya, maka Reno harus menjaga Naina dengan jiwa dan raganya.
Setelah itu Reno kembali ke cafe, dan jam juga sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Dia hanya mempunyai waktu satu jam setengah untuk mengecek cafe yang lain, setelahnya Reno akan menjemput Naina untuk makan siang.
.
__ADS_1
.
Sedangkan di tempat lain, Nabila sedang tersenyum penuh kemenangan, karena dia berhasil membuat kegaduhan dalam hidup Naina. Dan Nabila sangat yakin, jika Naina pasti merasa tidak nyaman dan terancam, dan wanita itu berharap Naina akan meninggalkan Reno.
"Hahaha ... lihat saja kau wanita gentong! Aku akan membuat hidupmu tidak nyaman, dan aku akan merebut Mas Reno darimu! Aku yakin, kau justru tidak akan membiarkan keluargamu menderita. Tapi jika kau tidak meninggalkan Mas Reno, maka lihat saja, aku akan menghabisi keluargamu!" Nabila berkata dengan senyuman miring di bibirnya.
Dia bahkan tidak tahu jika kejahatannya sudah diketahui oleh Reno, dan Nabila pikir, Naina tidak akan berani berkata kepada Reno. Karena wanita itu terlalu pengecut, tapi ternyata perkiraan Nabila kali ini salah.
Terdengar pintu kontrakannya diketuk, membuat wanita itu mengerutkan dahinya. "Siapa yang bertamu siang-siang kayak gini? Perasaan gue lagi nggak mesen makanan deh?" gumam Nabila dengan heran.
Lalu dia pun berjalan membuka pintu, dan seketika matanya membulat kaget saat melihat dua polisi tengah berdiri di hadapannya.
"Dengan Mbak Nabila?" tanya polisi tersebut.
"Iy-a P-ak, maaf ada apa ya?" tanya Nabila dengan gugup sekaligus ketakutan.
"Kami membawa surat penangkapan untuk Anda. Dan Anda harus ikut kami ke kantor polisi!"
"Penangkapan? Maksudnya apa, Pak? Memangnya saya salah apa, Pak?"
"Anda bisa Jelaskan di kantor polisi. Ayo ikut kami!" Kemudian polisi itu membawa Nabila, akan tetapi wanita tersebut malah berontak.
"Tidak Pak! Lepaskan saya! Saya tidak salah! Apa-apa ini? Kenapa saya ditangkap, Pak? Lepaskan saya!" teriak Nabila yang tidak mau dibawa ke kantor polisi.
"Anda ditangkap atas tuduhan meneror saudari Naina, dan bisa dijelaskan di kantor polisi nanti! Ayo bawa dia ke dalam mobil!" titah polisi kepada anak buahnya.
"Tidak pak! Saya tidak bersalah. Ini semua fitnah Pak, lepaskan saya!" pinta Nabila sambil memberontak. Namun tenaganya kalah dibandingkan polisi tersebut, kemudian salah satu polisi memborgol tangan Nabila hingga wanita itu tidak bisa kabur.
'Awas kau Naina! Aku akan membuat perhitungan denganmu, jika sampai aku masuk ke dalam penjara. Aku tidak akan membuat hidupmu tidak nyaman!' batin Nabila penuh dendam.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....