
Happy reading....
Arga berencana untuk membuat resepsi bulan itu juga, tapi mungkin dia harus mempersiapkan semuanya, karena untuk melangsungkan sebuah resepsi itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Saat Naina dan juga Reno berada di atas pelaminan, sedangkan Arga dan juga Mayra duduk di salah satu meja untuk para tamu undangan, tiba-tiba saja ada sesosok pria yang datang sambil membawa sebuah kado.
"Kak Ivan," lirih Naina.
Dia merasa kaget saat melihat Ivan datang bersama dengan Rere, kemudian wanita itu menggenggam tangan Reno.
Melihat istrinya merasa tak nyaman, Reno segera mengusap lembut tangan istrinya. "Semua akan baik-baik saja. Tenang saja sayang," ucap Reno dengan lirih sambil berbisik di telinga Naina.
"Aku akan baik-baik saja, selama kanmu masih berada di sisiku," jawab Naina dengan tatapan lembut.
''Naina, Reno?" panggil Ivan saat sudah berada di hadapan dua pengantin tersebut. "Ini kado untuk kalian. Selamat ya untuk pernikahan kalian, semoga langgeng sampai kakek nenek," kata Ivan sambil menyodorkan kado itu kepada Naina.
"Terima kasih Kak," jawab Naina sambil menerima kado tersebut.
Sementara itu Rere hanya tersenyum sinis saja, kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Naina.
"Selamat ya, sudah menikah dengan pria kere ini. Semoga hidup kalian itu bahagia," ujar Rere.
"Tentu saja sangat bahagia. Mas Reno memberikanku mahar yang sangat fantastis, bukan hanya uang saja yang bernilai ratusan juta, tapi dia juga membelikanku rumah," jawab Naina sambil tersenyum penuh kemenangan ke arah Rere.
Wanita yang pernah menjadi mantan kekasih dari suaminya tersebut tertawa, kemudian dia menatap ke arah Naina dan juga Reno bergantian dengan tatapan mengejek.
"Apa kau bilang? Mahar ratusan juta dan juga sebuah rumah? Mana mungkin! Pria ini tuh pria yang kere, tidak mempunyai apa-apa!" Rere berkata setengah berteriak agar semua orang mendengarnya.
"Rere! Apa yang kamu katakan? Membuat malu saja! Kita ini ke sini untuk memberikan selamat bukan? Kamu seharusnya bisa untuk menjaga lisanmu!" gertak Ivan yang merasa malu dengan tingkah laku istrinya.
"Apaan sih Mas! Yang aku katakan emang benar kan? Dia ini pria yang kere. Mana mungkin bisa memberikan mahar sebanyak itu?"
__ADS_1
Mayra yang mendengar pertikaian mereka pun merasa geram, kemudian dia pun berdiri dan hendak menuju pelaminan. Namun Arga mencegahnya sambil menggelengkan kepala.
"Hai Nona!" teriak Mayra sambil menunjuk ke arah Rere. "Apa yang dikatakan Naina itu memang benar, kami semua yang ada di sini adalah saksinya. Jika memang Reno sudah memberikan mahar sebesar itu. Jika tidak percaya, tunjukkan saja mahar yang tadi Reno berikan," ucap lantang Mayra.
Dewa yang mengerti pun segera membawakan satu buah koper uang cash 200 juta, beserta mahar rumah yang diberikan oleh Reno kepada Naina.
Melihat itu Rere terdiam, mulutnya bungkam seakan tidak percaya jika Reno bisa memberikan uang sebanyak itu. Padahal pernikahannya dan Ivan saja maharnya tidak sebanyak itu, hanya satu buah mobil saja beserta uang 50 juta.
'Apa Reno sekarang sudah sukses?' batin Marere sambil melirik ke arah Reno.
"Maaf, jika istrimu di sini hanya akan membuat keributan, sebaiknya kamu bawa pulang saja. Karena ini adalah hari bahagiaku bersama dengan Naina. Dan aku rasa kamu mengerti, jangan sampai mengusir kalian dari sini!" ancam Reno sambil menunjuk pintu keluar tapi tatapannya mengarah pada dua manik-milik Ivan.
Mendengar ucapan dari pria tersebut yang sekarang sudah bergelar menjadi suami dari mantan calon istrinya, Ivan pun paham, kemudian dia menarik tangan Rere untuk keluar dari sana.
"Memalukan!" maki Ivan, sementara itu Rere mencoba berontak tetapi Ivan tidak melepaskannya. Dia terus menyeret Rere keluar dari sana hingga mereka pun sampai di dalam mobil.
Rere duduk sambil mengerucutkan bibirnya dengan wajah ditekuk. Dia benar-benar kesal karena Ivan menariknya keluar dari pesta tersebut, dan yang membuat Rere semakin kesal adalah, Reno bisa memberikan mahar sebanyak itu kepada Naina.
"Kita ke sana kan mau mengucapkan selamat, bukan mau mencari keributan atau membuat kekacauan di sana? Kau itu bukan hanya membuat dirimu malu, tapi membuatku malu juga, ngerti apa tidak Rere!" bentak Ivan saat berada di dalam mobil sambil melihat ke arah Rere dengan tajam.
"Sudah cukup! Aku lelah dengan sikapmu seperti ini. Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang! Buat malu saja!" geram Ivan, kemudian menyalakan mesin mobilnya melaju meninggalkan rumah Naina.
Sementara itu Reno mengusap pundak Naina dengan lembut sambil berbisik di telinganya, "Tidak usah khawatir! Dia tidak akan bisa ngapa-ngapain kok. Wanita seperti itu hanya melihat seseorang dari hartanya saja."
.
.
Setelah mengantarkan Rere pulang ke rumah, Ivan langsung melajukan mobilnya menuju kantor, sebab ada pekerjaan dari Arga yang harus dilaksanakannya. Dia harus mengecek tentang kantornya juga, karena beberapa hari ini ada masalah.
Namun, seketika ponselnya berdering, dan saat dilihat ternyata itu telepon dari selingkuhannya Rere. Kemudian Arga menggeser tombol hijau dan mendengarkan pembicaraan Rere beserta dengan Damar.
__ADS_1
Dia memang sudah menyadap telepon Rere untuk mengetahui semua rencananya saat wanita itu tengah tertidur, karena Ivan tidak ingin kecolongan dan dibuat celaka oleh wanita itu.
"Oh, jadi rencana itu yang akan kamu jalankan. Kita lihat saja nanti malam, aku atau kamu yang akan mendapatkan karmanya," gumam Ivan sambil tersenyum menyeringai.
.
.
Malam telah tiba, saat ini acara resepsi juga sudah hampir selesai, karena Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 tengah malam.
Saat ini Naina sedang berada di kamarnya, membuka gaun pengantin dibantu oleh Mayra dan juga Karina.
"Oh ya, terus mandinya mau gue bantuin juga nggak?" ledek Mayra.
"Semprul! Emangnya gue bayi. Gue bisa sendiri kali," jawab Naina dengan ketus. Sedangkan Mayra dan juga Karina hanya terkekeh saja.
"Oh iya, sebelum pertempuran sebaiknya lo ingetin tuh Reno supaya minum obat kuat," ledek Mayra kembali.
"Eh Juminten, daripada lo ngingetin gue. Mending lo pikirin juga nasib lo malam ini deh. Kan lo juga sama mau di unboxing? Sok-sokan yang ngingetin?" ledek Naina balik.
Mayra yang mendengar itu pun baru sadar Jika dia sudah menikah dan mempunyai suami. Kemudian wanita itu menepuk jidatnya. "Astaga! Gue lupa. Iya juga ya, kan gue udah dinikahin? Kenapa gue bisa lupa?"
Karina dan juga Naina hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat tingkah gadis itu. "Dasar Onyon! Belum ada sehari dah lupa sama suami sendiri? Entar kayak di novel-novel yang lo baca lagi, suamiku dilupakan saat malam pertama." Naina tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan hal tersebut.
"Nggak akan ya. Enak aja. Suami tertampan gue nggak akan pernah gue bisa lupain. Ya udah, kalau gitu gue keluar dulu, ayo Kak!" ajak Mayra pada Karina, dan kedua wanita itu pun keluar meninggalkan Naina yang mau membersihkan dirinya.
Saat sampai di lantai bawah, Mayra disambut oleh Arga yang mengajaknya untuk langsung pulang ke rumah, karena mulai saat ini Mayra akan tinggal di rumahnya.
Arga juga sudah minta izin kepada Bu Linda, selaku Ibu dari Naina yang sudah Maira anggap sebagai ibunya sendiri. Karena kebetulan wanita itu sudah tidak mempunyai orang tua.
Dada Mayra deg-degan saat dia diajak pulang oleh Arga. Tiidak menyangka jika pernikahan sahabatnya juga akan terjadi kepada dirinya, bahkan di dalam mobil Mayra masih saja terdiam, dia merasa gugup saat berada di dekat Arga.
__ADS_1
'Apa iya, malam ini aku akan di unboxing? Tapi mau tidak mau, tetap harus kukasih kan? Sekarang Pak Arga sudah menjadi suamiku,' batin Mayra.
BERSAMBUNG....