
Happy reading...
Pagi telah tiba.
Saat ini Naina tengah duduk di samping sang ibu, kebetulan tadi subuh Bu Linda sudah tersadar, dan saat ini Naina sedang menyuapi ibunya.
"Ibu harus makan banyak, biar cepat sembuh! Setelah ini ibu akan tinggal bersama Naina dulu, sampai keadaan ibu pulih ya," ucap Naina tanpa bisa dibantah
Bu Linda tersenyum, kemudian dia pun mengangguk. Karena membantah juga percuma, hanya akan membuat Naina merasa kecewa.
Sedangkan Reno pulang ke rumah untuk mengambil pakaian istrinya, sekaligus ada pekerjaan yang harus dia tinjau sebentar.
.
.
Di kediaman tante Renata.
Saat ini di ruang tengah sedang berkumpul tante Renata, suaminya dan juga putra pertamany. Di sana juga ada seorang pria yang tak lain adalah detektif yang disewa oleh Pak Gunawan untuk menyelidiki tentang Mayra.
"Ini data-datanya, Tuan. Saya sudah menyelidikinya," ucap pria itu sambil menyerahkan sebuah map yang cukup tebal.
Pak Gunawan menerimanya, kemudian dia membacanya bersama Sahrul dengan teliti. Dan selesai beberapa menit mereka membacanya, kedua pria itu saling menatap satu sama lain.
"Bagaimana, Pah, Sahrul? Apakah benar bahwa Mayra Itu keluarga kita?" tanya Tante Renata yang sudah tidak sabar.
Sahrul menatap ke arah mamanya dengan tatapan yang haru, begitu pula dengan Pak Gunawan. Dia benar-benar syok dengan kenyataan yang baru saja didapatkannya.
Kedua pria tersebut menganggukan kepalanya serempak, dan itu membuat tante Renata seketika menutup mulutnya. Dia benar-benar tak percaya jika feelingnya sebagai seorang perempuan sangatlah kuat, bahwa Mayra adalah putrinya.
"Jadi benar, kalau dia ..." Tante Renata menggantungkan ucapannya sambil menatap ke arah sang suami dengan linangan air mata.
__ADS_1
"Iya Mah, dia adalah Putri kita, Angelica," ujar Pak Gunawan sambil tersenyum bahagia.
Tante Renata langsung memeluk tubuh Sang suami. Hatinya sangat bahagia saat mendengar kenyataan yang ingin dia dengar.
Rasanya tante Renata ingin sekali loncat-loncat, bahkan berteriak mengungkapkan rasa bahagia yang saat ini tengah menyelimuti dirinya.
Bagaimana tidak? Mereka dipisahkan dari bayi, dan dipertemukan lagi setelah sekian lama. Wanita itu menatap ke arah suaminya dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Mama ingin bertemu sama dia, Pah! Mama ingin memeluknya. Mama ingin menciumnya. Mama tidak mau kehilangannya untuk kedua kali, Pah. Kita harus bertemu dengan Mayra!" pinta tante Renata yang sudah tidak sabar.
Pak Gunawan mengangguk, kemudian dia mengusap air mata yang membasahi kedua pipi istrinya.
"Iya Mah. Papa tahu kita memang harus bertemu dengan Mahyra, tapi kita juga harus membicarakannya secara pelan-pelan. Jangan sampai nanti malah membuat Mayra kaget dengan kenyataan yang kita sampaikan. Sudah pasti dia akan syok, sebab yang Mayra tahu nya dia mempunyai orang tua, dan mereka sudah meninggal," ujar Pak Gunawan
Terlihat raut wajah tante Renata kembali sendu. Yang dibicarakan oleh suaminya memang benar, dia harus menyampaikannya secara pelan-pelan kepada Mayra, agar wanita itu mengerti dan paham tentang kejadian yang sebenarnya.
"Mama tenang aja! Papa akan atur pertemuan kita bersama dengan Mayra," ujar Pak Gunawan yang sudah memiliki rencana untuk mengatur pertemuan mereka.
'Kakak janji sama kamu, Dek. Setelah kita bersama, kakak tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi. Kakak akan selalu ada dan menjagamu!' batin Sahrul sambil menatap foto Maira yang berada di tangannya.
.
.
Hari ini Bu Linda sudah diizinkan untuk pulang. Dia diboyong ke rumah Naina dulu, karena di sana wanita itu akan mengurus sang ibu.
Saat sampai di rumah Ibu Linda langsung dibawa ke kamar untuk istirahat, sementara Naina akan ke dapur untuk membuatkan wedang jahe kesukaan sang ibu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu panggilan masuk dari sang kakak. Dengan dada yang deg-degan Naina pun mengangkat telepon tersebut.
"Halo! Assalamualaikum Kak," ucap Naina saat telepon tersambung.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Nai, kamu ini apa-apaan? Kenapa tidak memberitahu Kakak tentang keadaan ibu? Kenapa kamu begitu tega sama kakak? Kenapa kamu tidak bilang, bahwa ibu masuk rumah sakit?!" Terdengar suara Karina yang begitu marah di seberang sana.
Naina lupa, memang dia tidak memberitahu kakaknya untuk beberapa hari ini, karena ini fokus untuk kesembuhan sang ibu.
"Maafkan aku, Kak. Bukan aku tidak mau bilang sama Kakak, tapi melihat kondisi kakak yang sedang hamil muda, bagaimana bisa aku mengatakan kabar yang tidak baik? Lagi pula, ibu sekarang sudah keluar dari rumah sakit, dan keadaannya juga sudah jauh lebih baik. Ibu berada di rumahku Kak, aku akan mengurusnya sampai Ibu pulih. Kakak tenang saja! Maaf aku tidak memberitahu kakak, karena aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan Kakak kembali. Dan aku harap kakak mengerti ya," jelas Naina.
Terdengar helaan nafas di seberang telepon sana, Naina tahu perasaan kakaknya pasti saat ini kecewa dan juga marah kepadanya, karena tidak memberitahukan tentang kondisi sang ibu.
Tapi apa yang bisa Naina lakukan? Dia juga tidak ingin jika terjadi apa-apa dengan kakaknya, apalagi wanita itu pernah keguguran karena mendengar tentang pernikahan Naina yang batal, dan Naina tidak ingin hal itu terjadi kembali.
"Ya sudah_ nanti kakak dan juga Mas Dewa akan pulang ke Jakarta. Kami ingin menengok keadaan Ibu seperti apa."
"Ya sudah_ aku tunggu. Ibu ada di rumahku, kalian langsung ke sini saja!" Setelah itu telepon pun terputus.
.
.
Mayra saat ini sedang berada di supermarket, karena dia sedang berbelanja bulanan. Tadinya Mayra ingin bersama dengan Arga, tapi pria itu tiba-tiba saja ada meeting dadakan. Jadi nanti akan menjemput Mayra, selepas wanita tersebut sudah selesai dengan belanjaannya.
"Bumbu-bumbu sudah, minyak juga sudah, sekarang aku tinggal beli buah sama beli ikan tuna," ucap Mayra dengan nada yang lirih.
Dia memang lebih suka belanja bulanan di lakukan olehnya, sebab ada kegiatan. Karena kalau di rumah terus Mayra merasa bosan, dia yang sudah terbiasa bekerja harus diam di rumah seperti nyonya besar.
Setelah semuanya selesai, Mayra pun berjalan ke arah tempat roti, karena di rumah sudah habis. Namun tiba-tiba saja, ada seseorang yang menepuk pundak wanita tersebut, sehingga membuat Mayra menengok ke arah belakang.
"Tante Renata!" kaget Mayra saat melihat wanita yang ia kenal.
Tanpa menjawab ucapan Mayra, tante Renata langsung memeluk tubuh wanita itu, membuat Mayra seketika mematung, terpaku dan dia merasakan kembali aliran yang aneh di dalam tubuhnya saat wanita tersebut memeluknya.
'Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa aku merasa ada getaran yang begitu hangat saat tante Renata memelukku? Dan kenapa tante Renata tiba-tiba memeluk diriku? Ada apa ini? Dan kenapa dia menangis?' batin Mayra bertanya-tanya saat merasakan tante Renata yang sedang menangis dalam dekapannya.
__ADS_1
bersambung