
Happy reading....
Pagi telah menyapa.
Saat ini Maira dan Arga sedang bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Sebab mereka akan langsung melakukan bulan madu ke Filipina.
Sejujurnya Mayra ingin sekali ke Capadokia. Negara yang berada di Turki, namun Arga tidak mau jika bulan madu mereka sama dengan Reno.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Mayra saat mereka berada di bandara.
Aga tersenyum, kemudian dia pun mengangguk. "Apa mau aku antar?" tawar Arga.
"Nggak usah! Mau ngapain kamu? Mau ngintipin cewek-cewek?" ketus Mayra, kemudian dia beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Arga menuju toilet.
Sedangkan pria itu hanya tersenyum saja saat melihat kekesalan di wajah sang istri.
Setelah Mayra menunaikan hajat kecilnya, dia pun mencuci tangan di wastafel, dan saat akan berbalik tiba-tiba tubuhnya menabrak seorang wanita dan menyebabkan tas wanita itu pun jatuh.
"Maafkan saya Bu saya benar-benar tidak sengaja," ucap Mayra sambil berjongkok mengambil tas tersebut.
Namun tatapan sang ibu malah terarah pada leher Mayra, di mana rambut wanita itu terjatuh ke samping sehingga menampilkan leher jenjangnya.
'Tanda itu ... kenapa bisa sama? Apakah dia ...' Ibu itu membatin dan menggantung ucapannya sambil menatap ke arah Mayra.
"Maaf Bu, ini tasnya. Sekali lagi saya minta maaf ya, karena saya benar-benar tidak sengaja," ucap Mayra meminta maaf karena dia tahu dia salah.
"Iya tidak apa-apa Nak," jawab ibu tersebut dengan nada yang gugup, namun tatapannya terus lekat ke arah Mayra.
"Kalau gitu saya permisi dulu," ucap Mayra, kemudian dia keluar dari toilet.
__ADS_1
Wanita tersebut masih terdiam, terpaku dengan apa yang baru saja dia lihat. 'Apakah dia ...' Wanita itu pun tidak bisa berkata-kata, kemudian dia keluar dari toilet untuk menyusul Mayra.
Namun saat keluar dari sana, wanita itu sudah kehilangan jejak Mayra. "Aku kehilangannya. Bodoh! Seharusnya aku tadi tanyakan namanya. Seharusnya aku juga menanyakan tanda itu," ucap wanita tersebut dengan wajah yang tiba-tiba menjadi sedih.
Mayra duduk kembali di samping sang suami, "Maaf ya aku lama," ucap Mayra.
"Tidak apa-apa sayang. Ya sudah, yuk pesawatnya udah mau berangkat tuh," jawab Arga. Kemudian mereka pun masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi akan lepas landing.
.
.
Sementara itu di tempat lain, Reno sedang duduk bersama dengan Naina dan juga Bu Linda. Mereka membicarakan tentang kepindahan Reno dan juga Naina ke rumah baru yang sudah dibelikan Reno sebagai mahar untuk istrinya.
"Tapi memang Ibu tidak bisa ikut Nak," ucap Bu Linda.
"Tapi Bu. Kalau Ibu tidak ikut, Ibu mau tinggal di sini sendirian? Naina tidak bisa meninggalkan ibu," ujar Naina dengan wajah yang sedih.
"Kamu ini sudah menikah, sudah sepatutnya ikut suami. Ibu kan masih sehat. Lagi pula, rumah yang dibelikan Nak Reno juga masih di Jakarta bukan? Tidak jauh. Jadi kamu bisa setiap hari atau setiap minggu main ke sini melihat ibu. Nak, kamu itu sudah menjadi seorang istri, tugas istri adalah mematuhi setiap ucapan suaminya. Dan ke mana suami pergi, maka istrinya harus ikut. Ibu di sini pasti akan baik-baik saja kok. Bukannya ibu tidak ingin tinggal bersama dengan kalian, hanya saja, Ibu tidak bisa. Sebab di sini banyak kenangan ibu bersama dengan ayah, dan ibu tidak bisa untuk meninggalkannya," jelas Bu Linda dengan tatapan sendu ke arah putrinya.
"Nain janji Bu, nanti Nai akan sering main ke sini menengok keadaan ibu," ujar Naina sambil memeluk tubuh ibunya.
"Iya, Ibu tahu kok. Sudah jangan nangis ah! Kayak ditinggal jauh aja? Orang masih satu Jakarta," kekeh Bu Linda kemudian dia menatap ke arah Reno.
"Nak Reno, Ibu titip Naina ya! Jaga dia dan sayangi dia! Jangan pernah menyakitinya! Ibu berharap dan ibu selalu berdoa untuk kebahagiaan keluarga kalian. Ibu juga selalu mendoakan agar Naina cepat diberi keturunan, supaya Ibu bisa menimbang cucu sebelum Ibu tiada," tutur Bu Linda.
"Ibu ini bicara apa sih? Kok ngomongnya kayak gitu? Naina nggak suka ya!" kesal Naina dengan tatapan tak suka saat mendengar ibunya berbicara soal umur.
"Bukannya seperti itu Nak, ibu ini kan sudah tua. Ibu sudah--"
__ADS_1
"Cukup ya Bu! Aku nggak suka mendengar Ibu berbicara seperti itu! Umur, rezeki dan jodoh itu kan di tangan Allah. Kita nggak bisa mendahuluinya. Sekali lagi Ibu bicara kayak gitu, Naina nggak mau bicara lagi sama ibu!" Lalu meninggalkan Ibu Linda dan masuk ke dalam kamarnya.
Setiap mendengar kata-kata umur, Naina menjadi kesal. Dia sedih sebab Naina teringat dengan sang ayah.
Reno yang melihat kekesalan sang istri pun akhirnya meminta maaf kepada mertuanya. "Maafkan Naina, ya Bu. Mungkin dia hanya sedih saja saat mendengar perkataan Ibu. Sebab dia teringat dengan ayahnya. Ibu kan tahu, Naina pernah kehilangan, jadi dia tidak ingin itu terjadi lagi. Karena hanya ibu yang dia punya satu-satunya," ujar Reno.
"Iya Nak, ibu paham. Sebentar, biar Ibu berbicara dengan Naina ya." Bu Linda pun beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar putrinya.
Dia melihat Naina tengah duduk dengan wajah ditekuk. Melihat sang ibu masuk, Naina memalingkan wajahnya karena dia masih kesal saat mengingat ucapan ibunya.
"Nak?" panggil Bu Linda akan tetapi Naina tidak menjawab.
"Maaf jika perkataan ibu membuat kamu terluka. Maaf juga jika Ibu sudah membuat kamu sedih. Tapi setiap manusia yang bernyawa, setiap makhluk hidup, pasti akan kembali kepadaNya. Kita memang tidak tahu umur sampai kapan. Ibu hanya ingin menimang cucu sebelum pada akhirnya Ibu tiada," jelas Bu Linda sambil menggenggam tangan putrinya.
Naina yang mendengar itu pun langsung memeluk tubuh ibunya. "Aku tidak mau Ibu berbicara seperti itu! Ibu kan tahu rasanya kehilangan seperti apa? Hanya ibu yang Naina punya saat ini, jangan berbicara seperti itu lagi ya! Nai tidak suka," ucap Naina dengan air mata yang sudah mengalir deras, kemudian dia memeluk tubuh ibunya.
"Iya Sayang, maafkan Ibu."
"Naina nggak bisa membayangkan hidup tanpa Ibu seperti apa?" ujar Naina dengan suara yang purau.
Saat ini memang hanya Bu Linda yang Naina punya. Jadi jika dia kehilangan ibunya setelah kehilangan ayahnya, bagaimana mungkin bisa Naina menjadi kuat? Karena selama ini kekuatannya hanyalah Bu Linda.
Naina tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia kehilangan sang ibu yang menjadi kekuatannya selama ini. Yang menjadikan Nai kuat dan selalu tegar dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan yang silih berganti terus saja datang menerpa dirinya.
Bagi Naina, Bu Linda sudah seperti separuh jiwanya. Walaupun dia tahu apa yang dikatakan Bu Linda itu benar, setiap makhluk hidup pasti akan kembali kepada Sang Pencipta, tapi Naina belum siap. Dia masih ingin melihat ibunya sehat walafiat.
"Jangan berbicara seperti itu lagi! Naina tidak mau. Jangan membuat sebuah ucapan itu adalah doa! Jangan membuat sebuah ucapan itu adalah firasat, Bu! Naina tidak suka!" pinta Naina sambil menatap sang ibu dengan mata sembabnya.
"Iya sayang, Ibu tidak akan berbicara seperti itu lagi. Maafkan Ibu ya," jawab Bu Linda sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipi mulus milik putrinya, kemudian dia pun mengecup kening Naina dengan lembut.
__ADS_1
BERSBUNG.....