Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Jawaban Menohok


__ADS_3

Happy reading......


"Tapi, kenapa ada yang mengedit fotoku bersama dengan dia? Apa maksudnya ini?" ucap Reno dengan nada yang bingung.


"Kita akan bicarakan nanti, saat bertemu di Jakarta ya Mas. Tapi sebelum itu, kamu selesaikan dulu masalah wanita ini! Aku tidak ingin dia menjadi perusak dalam hubungan kita!" pinta Naina.


"Iya sayang, kamu tenang saja. Aku akan membereskannya. Kamu sudah sampai mana? Apa sudah di jalan?" tanya Reno kembali.


"Iya, aku udah di jalan. Ya sudah, aku tutup dulu ya teleponnya. Nanti saat sampai Jakarta aku kabari kamu." Setelah itu telepon pun terputus.


Reno menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia menatap lekat ke arah foto tersebut, dan jika diperhatikan secara seksama memang itu adalah sebuah editan, namun Reno tidak tahu motif apa dibalik foto itu?


Kenapa ada yang mengirimkannya kepada Naina? Dan apa maksudnya? Reno pun tidak tahu, tetapi satu hal, dia akan mengabulkan permintaan Naina, yaitu membereskan masalah ini dan Reno akan memecat Nabila.


.


.


Sesampainya Naina di Jakarta, dia langsung masuk ke dalam kamarnya beserta dengan Mayra. Mereka bergantian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, karena Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Naina dan juga Mayra langsung tertidur.


Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi, Naina segera membersihkan diri dan menunaikan salat wajib bersama dengan sahabatnya. Setelah itu mereka membantu memasak sarapan untuk keluarga.


"Hari ini lo berangkat kerja?" tanya Naina kepada Mayra.


"Iya, kalau gue nggak berangkat, bisa-bisa dipecat sama Pak Arga," kekeh Mayra.

__ADS_1


"Ya udah, hati-hati di jalan. Gue doain lo cepat ketemu sama jodoh lo deh," timpal Naina.


"Aamiin ... yang pasti, jodoh gue sifatnya tuh harus kayak calon suami lo, atau paling enggak kayak Pak Arga."


"Kenapa lo nggak sama Pak Arga aja? Dia kan jomblo, lo juga jomblo. Cocok tuh?" ledek Naina.


"Betul, Kak Karina setuju. Kenapa kamu nggak sama Pak Arga aja? Dia juga single, tampan, mapan, nggak ada yang kurang satu pun. Hanya kekurangannya dia, sepertinya tidak laku-laku," ujar Karina yang baru saja masuk ke dapur.


"Yeee ... Kak Karina jangan gitu! Banyak tahu yang tergila-gila sama ketampanannya Pak Arga, tapi entah kenapa, pria itu enggan membuka hatinya? Aku juga merasa aneh." Mayra mengangkat kedua bahunya.


Mendengar perkataan dari Mayra, Naina terdiam. Dia mengetahui kenapa Arga tidak pernah membuka hatinya untuk wanita lain, itu karena dirinya. Pria tersebut mencintainya, hingga dia menutup hati untuk wanita manapun.


'Aku berharap, Pak harga segera bertemu dengan jodohnya. Agar aku tidak terus-menerus merasa bersalah, karena menjadi penghalang jodoh dia,' batin Naina.


Dia memang merasa bersalah dan merasa jika dirinya penghalang jodoh Arga, sebab selama ini Arga menaruh perasaan kepadanya, tetapi Naina tidak. Sehingga Arga menutup hatinya untuk wanita manapun, dan kemungkinan besar itu menjadi penghalang Arga menemukan jodohnya. Karena pria tersebut terlalu berharap kepada Naina.


.


.


Naina juga tidak minta ditemani oleh Karina, sebab kakaknya sedang hamil, dan dia tidak ingin membuat Karina kecapean dan akan membahayakan kandungannya. Naina tidak mau kejadian kemarin terulang lagi, di mana dia harus kehilangan calon keponakan pertamanya.


Wanita itu masuk ke dalam toko baju, memilih dan memilah baju yang pas untuk acara lamaran nanti. Namun, tiba-tiba saja saat dia memilih baju, tubuhnya bersenggolan dengan seseorang, dan saat menengok ke samping ternyata wanita yang disenggol adalah Rere.


"Wow! Ternyata ada si gendut?" ledek Rere sambil menatap sinis ke arah Naina

__ADS_1


Wanita itu tidak peduli, dia kembali memilih bajunya tanpa menghiraukan ucapan Rere. Xan Rere yang merasa diacuhkan, menjadi geram, kemudian dia mencengkram lengan Naina.


"Hei gadis jelek! Gak usah sok sombong deh lo! Jelek aja belagu!" ketus Rere dengan sorot mata yang tajam.


"Maaf ya, saya tidak punya urusan dengan Anda. Jadi jangan pernah mengganggu saya!" jawab Naina dengan dingin, kemudian dia melepaskan paksa tangan Rere yang berada di lengannya.


"Halah ... belagu banget sih lo jadi orang! Oh, atau lo itu belum bisa move on ya dari Mas Ivan? Jangan-jangan ... lo sama pacar baru lo itu, udah putus? Dia ninggalin lo, karena jelek, gendut, iya? Ya wajar aja sih menurut gue, soalnya wanita kayak lo itu pantas untuk ditinggalin!" Rere berkata dengan ada yang sinis sambil mengangkat satu sudut bibirnya.


Naina yang mendengar itu mencoba untuk menahan emosinya, sebab itu adalah tempat umum. Kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dada, melihat Rere dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan mengejek.


Kemudian dia berdecak sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Kamu bilang apa tadi? Aku nggak bisa move on dari Kak Ivan? Are you serious? Rere ... Rere ... kamu itu pikirannya pendek sekali? Mana mungkin aku tidak bisa move on dari pria macam begitu? Dan satu lagi! Kamu itu seakan bangga mendapatkan barang bekas. Aku tidak menyangka, ternyata seleramu serendah itu? Merebut pria yang sudah menjadi calon suami dari wanita lain, dan lebih memalukannya lagi, kamu bahkan bangga telah hamil diluar nikah? Kalau aku jadi kamu sih, malu ya. Wanita itu derajatnya tinggi dibandingkan seorang pria. Nika hamil di luar nikah, tentu saja bukan hanya wajahnya yang malu, tetapi membuat keluarganya seperti disiram oleh kotoran. Kecuali ... kamu memang sudah tidak mempunyai malu!" tutur lainnya panjang lebar.


Dia berkata dengan nada yang tajam dan menohok hati Rere, membuat wanita itu mengepalkan tangannya. Bahkan saat ini perut Rere sudah terlihat buncit.


"Berani kamu berkata seperti itu, wanita jelek!" bentak Rere dan tangannya terangkat ingin menjambak rambut Naina, namun segera ditahan oleh wanita itu.


Kemudian Naina mencengkram tangan Rere dengan kuat, hingga membuat wanita hamil tersebut meringis kesakitan.


"Dulu mungkin aku akan diam saja, saat kamu menindasku. Tapi tidak sekarang. Orang sabar ada batasnya, paham! Dan jangan kamu pikir, karena kamu cantik, kamu menang dari segalanya? Tidak! Jangan salah Rere! Pria yang sudah pernah berselingkuh, kemungkinan besar akan melakukannya lagi. Apalagi yang kulihat, kak Ivan sebenarnya tidak 100% mencintai kamu. Mungkin saja, iya juga. Tapi hati-hati, sifatmu yang seperti ini bisa membuatnya berpaling pada wanita lain, paham!" Naina menghempaskan tangan Rere, hingga membuat wanita itu mundur satu langkah ke belakang.


Setelah berkata seperti itu, Naina pergi meninggalkan Rere. Dia tidak memperdulikan teriakan wanita itu, karena bagi Naina berdebat dengan wanita sepertinya hanya akan membuang waktunya saja.


"Keterlaluan! Berani sekali dia melawanku!" geram Rere dengan tangan terkepal.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2