
Happy reading....
Betapa kagetnya Mayra dan juga Arga, saat melihat yang datang ternyata adalah pak Gunawan. Mereka melirik satu sama lain, merasa heran dengan kedatangan pria itu.
"Om Gunawan!" kaget Mayra dan juga Arga serempak.
Pria tersebut tersenyum, kemudian dia mendekat ke arah Arga lalu mengulurkan tangannya. "Selamat siang pak Arga. Maaf jika saya mengganggu waktu Anda, ternyata di sini juga ada Mayra," ucapnya yang tidak menyangka jika Mayra juga berada di sana.
"Selamat siang juga, Pak. Ayo duduk!" ajak Arga sambil menunjuk ke arah sofa, mempersilahkan Pak Gunawan untuk duduk.
"Maaf Pak, ada urusan apa ya ke sini?" tanya Arga dengan tatapan yang heran. Sebab dia merasa tidak ada pekerjaan yang harus dibicarakan, sebab kerjasama mereka juga lancar.
Sebenarnya kedatangan Pak Gunawan ke sana adalah, untuk berbicara dengan Arga mengenai Mayra. Tapi karena di sana dia melihat adanya Mayra, pria itu pun mengurungkan niatnya. Dia merasa ragu untuk menceritakan kepada pria yang berada di hadapannya.
Sebab Pak Gunawan takut jika Mayra mendengar apa yang mereka bicarakan, karena jika nanti Mayra mengetahui semuanya sekarang, pastilah wanita itu bukan hanya syok, tapi dia bahkan tidak ingin bertemu lagi dengan Pak Gunawan. Itu yang ditakutkannya.
"Maaf Pak, ada perlu apa ya?" tanya Arga sekali lagi, karena dia masih belum juga mendapatkan jawaban dari Pak Gunawan yang dari tadi hanya diam saja.
Pria itu tersadar dari lamunannya, kemudian dia menatap ke arah Arga, "Sebenarnya, saya ke sini ingin membicarakan perihal kerjaan. Tapi sepertinya Anda sedang sibuk, jadi nanti saja kita bicarakan." Pak Gunawan beranjak dari duduknya sambil merapikan jas.
Mayra yang merasa jika dirinya harus pergi dari sana, akhirnya dia pun berkata, "Mas, kalau gitu aku pulang dulu ya. Soalnya ini juga sudah siang, aku mau istirahat, capek. Di sini juga tidak ada kasur, jadi aku tidak bisa tidur," ujar Mayra.
"Loh, sayang. Katanya mau pulang nanti sore?" tanya Arga dengan heran.
"Nggak ah Mas. Aku udah capek. Aku pulang dulu ya," ujar Mayra. "Pak Gunawan, kalau gitu saya pulang dulu." Mayra pun mencium tangan suaminya kemudian bergantian dengan Pak Gunawan, setelah itu dia pergi dari sana diantara oleh Silvia atas perintah Arga.
Sejujurnya Mayra ingin sekali mendengar tentang apa yang akan di bicarakan oleh Pak Gunawan dan juga suaminya. Namun, wanita itu sadar jika dia tidak mungkin mengetahui tentang pekerjaan Arga, akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang.
"Jadi bagaimana, Pak? Apa bisa kita lanjutkan pembicaraan ini? Dan soal apa ya? Saya rasa kerjasama kita tidak ada masalah sama sekali," ujar Arga mempersilahkan Pak Gunawan untuk duduk kembali.
Pria itu nampak ragu. Dari sorot matanya dia terlihat bimbang, dan Arga bisa melihat hal tersebut.
'Kenapa aku merasa ada yang ingin dibicarakan oleh Pak Gunawan? Tapi kenapa dia merasa ragu? Apakah ini ada hubungan dan juga kaitannya dengan Mayra?' batin Arga bertanya-tanya.
"Sebenarnya ... saya ke sini, karena ..." Pak Gunawan menggantung ucapannya, dan itu semakin membuat Arga menjadi penasaran.
"Sebenarnya apa, Pak?" tanya Arga.
Terlihat pria tersebut menarik nafasnya dengan dalam, kemudian menghembuskan dengan pelan-pelan.
"Begini. Sebenarnya saya ke sini ingin membicarakan perihal Mayra," jelas Pak Gunawan.
Arga mengangguk paham, ternyata memang benar dugaannya, Pak Gunawan datang ke sana karena ada hal yang ingin dibicarakan seputar dengan istrinya. Dan Arga semakin yakin, jika ini ada kaitannya dengan masa lalu Mayra.
"Apa ini, tentang masa lalu Mayra? Apakah kalian ingin membongkarnya sekarang?" tanya Arga to the point.
__ADS_1
Pak Gunawan terperanjat kaget saat mendengar penuturan dari Arga, tatapannya menyipit dengan raut wajah yang tak percaya, saat mendengar jika Arga mengetahui semuanya.
"Jadi ... Pak Arga sudah mengetahuinya!" kaget Pak Gunawan.
Arga menganggukan kepalanya dengan mantap. "Ya, saya sudah mengetahuinya. Saya juga sudah menyelidiki semuanya tentang siapa Mayra, bagaimana dia diculik dan oleh siapa dia diurus sampai besar. Saya sudah mengetahui semuanya," jelas Arga.
Pak Gunawan sungguh sangat kagum saat mengetahui jika Arga dengan cepat mengetahui tentang semua yang terjadi. Dia tak pernah menyangka jika Arga sepandai itu.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa bersyukur karena memiliki menantu yang begitu pandai seperti Arga.
"Jadi bagaimana, Pak? Apakah Anda akan mengatakan semuanya kepada Mayra sekarang?" tanya Arga sambil menyandarkan tubuhnya di sofa dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Pria itu terdiam, dia tak mampu menjawab pertanyaan Arga.
"Saya rasa sih sebaiknya jangan dulu ya, Pak! Melihat dari situasinya sekarang. Apalagi Mayra sedang mengandung, saya takut jika terjadi apa-apa dengan kandungannya. Tapi walau bagaimanapun, cepat atau lambat Mayra akan mengetahuinya. Namun, seperti yang Bapak rencanakan, harus memiliki waktu dan kondisi yang tepat, karena semuanya tidak mudah. Dia mungkin bisa menerima kalian sebagai orang tuanya, tapi tentu saja Mayra pasti akan terluka. Itu tidak menutup kemungkinan," jelas Arga.
Pak Gunawan menyerap semua ucapan dari pria yang berada di hadapannya. Yang dikatakan Arga memang benar, Mayra akan terluka. Walaupun wanita itu bisa menerimanya, tapi yang membuatnya kaget adalah saat mengetahui jika Mayra sedang mengandung.
"Jadi, Mayra sedang hamil?" tanya Pak Gunawan dengan tatapan berbinar.
"Iya, dia tengah hamil muda. Dan tentunya Bapak juga tahu, wanita yang sedang hamil muda itu rawan untuk keguguran, dan mereka tidak boleh stress. Jadi ... saya meminta, untuk sekarang jangan dulu!elihat karena kondisi Mayra yang belum stabil, apalagi emosinya yang terkadang naik turun, takutnya berpengaruh kepada kandungannya. Jadi saya mohon pengertian dari Bapak sekeluarga!" terang Arga.
Pak Gunawan pun menyetujui untuk tidak memberitahukannya kepada Mayra, karena dia juga sangat mengkhawatirkan kandungan wanita itu. Sebab walau bagaimanapun, anak yang dikandung oleh Mayra adalah darah dagingnya.
"Baiklah, saya tidak akan membicarakan dulu kepada Mayra. Kita lihat kondisinya baik dulu, barulah kita akan bicara. Tapi saya juga tidak bisa menjanjikan,.saya akan berusaha menutupnya dulu dari Mayra."
Setelah berbicara dengan Arga, Pak Gunawan pun memutuskan untuk pulang dia akan kembali ke kantornya.
.
.
Mayra memutuskan untuk ke rumah Naina. Sebab ia ingin membicarakan perihal apa yang mengganjal di dalam hatinya saat ini.
Sesampainya di sana, Mayra langsung di antar oleh pelayan menuju taman belakang, di mana Naina saat ini tengah duduk sambil memakan camilannya.
"Hai!" ucap Mayra sambil duduk di samping.
"Eh, elo May. Tumben ke sini? Tadi lo bilang lagi di kantornya kak Arga?" tanya Naina dengan heran.
"Iya, tapi tadi ada Pak Gunawan," jawab Mayra sambil terdengar menghela nafas dengan lesu.
"Pak Gunawan? Yang kata lo, suami dari Tante Renata itu? Memangnya ke kantor suami lo, mau ngapain?"
"Katanya sih mau ngomongin soal kerjaan, tapi May ..." Mayra menggantung ucapannya, dan itu membuat Naina merasa penasaran.
__ADS_1
"Kumat. Suka banget ngegantungin omongan. Kalau mau ngomong itu langsung semua, jangan digantung-gantung kayak jemuran basah!" gerutu Naina.
Sedangkan Mayra enggan untuk menanggapi kekonyolan dari sahabatnya. Dia bangkit dari duduk lalu berjalan menghadap ke arah kolam ikan
"Entahlah, Nay! Aku merasa, Mas Arga menyembunyikan sesuatu. Dan saat aku melihat kedua netra Pak Gunawan, dntah kenapa aku merasa ada sesuatu hal yang tak seharusnya aku tahu," ujar Mayra.
Naina mendekat ke arah sahabatnya, kemudian dia menepuk pundak wanita itu. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saja memang soal kerjaan. Lagi pula, kau ini sedang hamil jangan terlalu stress! Mungkin itu hormon dari kehamilanmu, jadi selalu saja berpikir yang negatif. Tahu tidak! Kadang aku juga begitu sama Mas Reno, berpikir yang tidak-tidak, padahal kenyataannya tidak seperti yang kau pikirkan," jelas Naina sambil terkekeh kecil.
Dia mengingat tentang sikapnya kepada Reno saat tengah mengandung, di mana emosionalnya selalu naik turun, tidak terkendali. Bahkan acap kali Naina selalu merasa dan berpikiran negatif tentang suaminya.
Untung saja Reno memahami perasaan Naina, dan untung juga Reno memaklumi jika saat ini hormon istrinya sedang tidak baik, dan kadang naik turun seperti rolling coaster.
"Yah ... mungkin kau benar, Nay. Itu hanya pikiranku saja, semoga ya! Entah kenapa, aku berpikiran seperti itu?" Mayra mengangkat kedua bahunya.
"Ya sudah, sebaiknya kita masuk yuk! Kebetulan aku tadi nyuruh di Arum untuk beli buah-buahan, kayak mangga muda, bengkuang dan juga lain-lain, untuk rujakan. Aku kepengen rujakan, tapi dua hari ini mang Cece yang biasa jualan rujak depan rumah nggak lewat," ajak Naina.
Mayra mengangguk, kemudian mereka pun masuk ke dalam, dan ternyata bi Arum sudah mencuci buah-buahan tersebut dan mengupasnya.
Lalu Naina beserta Mayra pun mulai memotong-motong buah-buahan tersebut sedangkan di Arum membuat sambal rujak.
.
.
Saat ini Mayra dan juga Arga baru saja selesai makan malam, dan keduanya sedang berada di kamar. Magra berdiri di balkon, sementara Arga sedang memangku laptop menyelesaikan pekerjaannya.
Entah kenapa Mayra merasa akhir-akhir ini perasaannya tidak enak, tak karuan. Padahal Mayra sudah mencoba untuk menghilangkan rasa tersebut, akan tetapi tetap saja seperti mengganjal.
Arga menatap ke arah istrinya yang sedang berdiri di balkon sendirian, kemudian dia menaruh laptop di atas meja, lalu berjalan mendekat ke arah Mayra dan memeluknya dari belakang.
"Apa sih yang istriku ini pikirkan, sampai-sampai suaminya dicuekin?" tanya Arga sambil memeluk dan mengusap perut Mayra.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya ingin menikmati gelapnya malam saja. Entah kenapa, aku merasa kegelapan yang sering datang di malam hari seperti mewakili perasaanku saat ini," jawab Mayra dengan ambigu.
Arga melepaskan pelukannya, kemudian dia menatap ke arah sang istri, "Maksudnya?"
"Entahlah, Mas. Aku merasa seperti ada sesuatu hal yang membuatku sangat sedih, tapi aku pun tidak tahu itu apa? Rasanya bimbang dan juga sakit, tapi aku tidak tahu Mas, entah kenapa rasa itu tiba-tiba saja muncul? Sedangkan hari-hariku berasa bahagia," jawab Mayra sambil menatap ke arah Arga.
"Mas ... kenapa ya, saat aku melihat tante Renata dan juga Om gunawan, aku merasakan sesuatu hal yang tak bisa ku ungkapkan? Seperti sebuah ikatan rasa rindu, tapi aku ragu Mas. Sebenarnya ada apa ya?" tanya Mayra menatap dalam ke arah pria tersebut.
'Karena mereka adalah orang tuamu, sayang,' batin Arga hanya bisa menjawab di dalam hati.
"Sebaiknya kita masuk yuk! Ini sudah malam, lagi pula angin pun sedikit kencang, tak bagus untuk kesehatan kamu dan juga calon anak kita ," ajak Arga sambil merangkul pundak Mayra.
Akan tetapi wanita itu menolak, dia menggelengkan kepalanya dengan tegas sambil menatap tajam ke arah Arga. Entah Mayra pun tidak tahu, apakah itu memang hanya perasaannya atau memang itu feeling seorang Istri.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa, kamu sedang menyembunyikan sesuatu ya, Mas? Sekarang kamu jujur deh sama aku! Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku? Ada hal apa, Mas? Kamu kan tahu, aku tidak suka dibohongi. Dan kamu juga bilang dari awal, tidak ada yang boleh kita tutupi satu sama lain, tapi sikapmu,.sorot matamu dan juga tingkahmu, menunjukkan jika ada sesuatu hal yang kamu tidak ingin aku ketahu," tutur Mayra dengan tatapan mengintimidasi.
BERSAMBUNG.....