
Happy reading.....
"Pak Arga! Bapak sedang apa di sini?" tanya Naina saat melihat Arga di sana.
"Saya tadi habis mencari tempat makan yang kira-kiranya enak, dan pemandangannya juga bagus di kota Jogja. Dan langkah saya malah ke sini, dan ternyata ada kamu," jawab Arga dengan berbohong sambil menatap ke arah Reno dengan tatapan mengejek.
Sedangkan Reno hanya berdecih kesal. Dia tahu apa yang dikatakan Arga itu bohong, dan Reno sangat yakin jika pria itu sengaja datang ke sana.
"Wah ... kebetulan sekali ya Pak," ucap Naina yang percaya begitu saja.
"Iya, mungkin saja memang kita jodoh, sebab selalu dipertemukan?" kekeh Arga.
Naina yang mendapatkan ucapan seperti itu hanya tersenyum simpul saja, tidak menanggapi ucapan Arga.
"Halaah ... ngomong aja ngikutin. Sok-sokan nyari tempat makan?" sindir Reno
"Oh ya, Naina, apa aku boleh gabung di sini?" tanya Arga.
Naina nampak ragu, kemudian dia menoleh ke arah Reno. "Tidak! Kau tidak boleh! Ini adalah dinner ku bersama dengan Naina, sebaiknya kau cari tempat lain saja!" usir Reno yang merasa tak suka dengan kehadiran Arga.
"Oh, kalian lagi dinner. Maaf deh kalau mengganggu, tapi sepertinya Naina tidak keberatan, ya kan Naina?" tanya Arga sambil melirik ke arah Naina.
Gadis itu nampak terdiam, dia tidak enak menolak permintaan Arga. Tapi dia juga tidak enak kepada Reno jika harus menerima Arga di sana.
"Bagaimana Naina? Apa kamu keberatan?" tanya Arga kembali, sedangkan Reno hanya memalingkan wajahnya saja dengan tatapan tak suka.
Melihat wajah Reno yang masam, Naina pun merasa tak enak. "Maafkan saya Pak, apa yang dikatakan oleh Mas Reno memang benar. Saya juga tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Naina pada akhirnya
"Oh oke, maaf kalau begitu. Biar aku cari tempat lain saja," Jawab Arga dengan nada kecewa. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu dengan berat hati.
Sementara itu Reno tersenyum, dia menatap ke arah Naina, tidak menyangka jika gadis itu akan menolak kehadiran Arga. Padahal tadinya Reno pikir, Naina akan mengatakan iya, saat pria itu menginginkan gabung bersama dengan mereka.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menerima dia untuk gabung sama kita? Aku pikir, tadi kamu akan setuju kalau dia bergabung di sini?" tanya Reno sambil menatap ke arah Naina.
"Mana mungkin bisa aku menerimanya, sedangkan di sini Mas Reno lah yang mengajak untuk makan. Jadi aku menghargai Mas Reno," jawab Naina.
Kemudian mereka pun melanjutkan makan malamnya, setelah itu ditutup oleh hidangan penutup dessert yang ada di restoran tersebut.
Saat Maina tengah menikmati dessertnya, tiba-tiba saja tangannya digenggam oleh Reno, membuat wanita itu seketika menatap ke arahnya.
"Naina, aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Tapi yang ku tahu adalah, bahwa aku sangat mencintaimu. Aku bukanlah pria yang romantis. Jadi ... maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Reno seketika membuat Naina terdiam.
Mulutnya wanita itu membulat kaget, dengan sorot mata yang memancarkan ketidakpercayaan, saat Reno mengungkapkan perasaannya . Dia tidak pernah menyangka jika Reno akan mengucapkan hal itu.
"Ma-s Reno, mak-sudnya apa ya? Ke-napa Mas Reno bicara seperti itu?" tanya Naina dengan sedikit gugup.
"Aku serius, Naina. Aku mencintaimu, dan aku mau kamu menjadi kekasih. Jika tidak, aku akan marah!" ancam Reno sambil memalingkan wajahnya.
Naina yang mendengar itu pun terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Dan Reno hanya menatapnya dengan heran, "Kenapa kamu malah ketawa? Memangnya ucapanku ada yang salah?" tanya Reno.
Reno yang mendengar itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, makanya kamu jawab, mau tidak jadi kekasihku?" tanya Reno dengan datar.
Naina mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagu, sambil menatap ke arah atas, memikirkan apakah dia harus menerima untuk menjadi kekasih Reno atau tidak?
"Bagaimana ya? Apa aku harus terima. Tapi ..." Naina menggantungkan ucapannya sambil menatap ke arah Reno, membuat pria itu seketika menahan nafasnya.
Dia benar-benar tegang, apakah memang Naina akan menerimanya atau tidak? "Bagaimana Naina?" tanya Reno kembali saat melihat Naina hanya diam saja.
"Sebelum aku jawab, aku mau tanya sesuatu sama Mas Reno? Kenapa Mas Reno mencintai aku? Apa karena fisikku?" tanya Naina dengan tatapan memicing.
Mendengar pertanyaan Naina, Reno menggelengkan kepalanya. "Tidak Naina! Bukan karena fisikmu yang membuatku jatuh cinta, tapi karena hatimu. Dan karena ketulusanmu," jujur Reno.
Dia memang mencintai Naina, bukan karena fisik wanita itu, bukan karena kecantikan ataupun body goals milik Naina saat ini. Tapi yang Reno lihat dari wanita itu adalah ketulusan hatinya.
__ADS_1
Kenyamanan yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Rere dulu, dan pengertian yang selalu Naina berikan kepadanya, membuat hati Reno yang setelah bertahun-tahun beku kini mencair.
"Aku tidak peduli. Mau kamu jelek seperti apapun, atau kamu kembali seperti awal kita bertemu, bagiku tidak masalah! Karena fisik itu bisa dirubah, tetapi hati yang tidak bisa dirubah, Naina," jelas Reno.
"Tapi---"
"Mencintai karena fisik itu hanya sementara, tapi mencintai karena hati itu, adalah abadi." Reno memotong ucapan Naina.
Mendengar penuturan pria itu, Naina benar-benar terharu. Mata-kata Reno begitu menyejukkan di hatinya, tidak pernah dia dengar dari siapapun, termasuk Ivan.
"Jadi bagaimana, Naina? Apakah kamu mau menjadi kekasihku? Jika kamu mau, aku akan membicarakan ini bersama dengan ibu, dan aku akan segera melamar mu," jelas Reno.
"Secepat itu?" tanya Naina dengan wajah yang kaget.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau? Jujur Naina, aku sama sekali tidak ingin berpacaran lama-lama. Mengenalmu hampir 2 bulan ini, sudah cukup mengetahui karaktermu seperti apa. Jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak menjalin hubungan yang lebih serius denganmu. Karena yang kucari bukanlah kekasih, tetapi calon istri."
Naina semakin dibuat kagum dengan untaian setiap kata yang keluar dari mulut Reno. Di mana pria itu mampu meluluhlantahkan hatinya. Jantung Naina berdetak dengan kencang, aliran darahnya seperti terhenti, nafasnya memburu saat menatap kedua manik milik pria tampan tersebut.
Terkadang Naina berpikir, kenapa Rere sangat bodoh meninggalkan pria sebaik dan juga setampan Reno?
"Aku ..." Naina menggantung ucapannya, membuat Reno semakin berdebar dengan kencang, menunggu jawaban yang keluar dari mulut manis wanita tersebut.
"Mas bicarakan dulu dengan ibunya, Mas. Kalau memang beliau merestui, maka aku mau. Sebab Restu orang tua, apalagi seorang ibu itu yang utama. Dan Mas juga anak laki-laki, maka surganya anak seorang laki-laki itu adalah ibunya. Apapun yang dikatakan ibunya, jika itu untuk kebaikan, maka Mas harus setuju. Harus mau. Walaupun beliau tidak menginginkan kebersamaan kita, maka emas harus ikhlas. Insya Allah, jika jodoh tidak akan kemana. Setelah Mas berbicara dengan ibunya, Mas, maka aku akan memberikan jawaban," jelas Naina sambil tersenyum manis ke arah Reno.
"Masya Allah! Baiklah, kalau begitu aku akan berbicara pada ibu, dan aku sudah tidak sabar mendengar jawabanmu Naina. Aku juga berharap jawabanmu adalah iya." Reno Berkata sambil menatap manik indah milik gadis tersebut dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh cinta.
Tak jauh dari tempat mereka duduk, Arga menatapnya dengan tangan terkepal, rahang mengeras dan sorot mata yang tajam. Dia tidak terima dirinya didahului oleh Reno.
'Lagi-lagi aku harus didahului oleh pria lain? Tapi kali ini Naina belum menjawab, aku harus bergerak cepat. Aku juga harus menyatakan perasaan kepada Naina, biar dia memilih antara aku atau Reno.' batin Arga sambil menatap ke arah dua insan yang saat ini tengah melempar tatapan satu sama lain.
BERSAMBUNG......
__ADS_1