Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Tidak Ada Alasan


__ADS_3

Happy reading....


Melihat Mayra dan juga Arga masuk ke dalam rumah, tante Renata langsung memeluk tubuh Mayra. Akan tetapi wanita itu hanya mematung saja.


Rasanya Mayra masih tak percaya dengan keadaan dan kenyataan yang ia hadapi dan alami sekarang, di mana ternyata tante Renata beserta keluarganya adalah orang tua kandungnya.


Setelah melepaskan pelukannya, saat ini Tante Renata menangkup kedua pipi Mayra. "Mama senang, kamu akhirnya mau ke sini sayang. Maafkan Mama yang telah menyembunyikan ini semua dari kamu," ucap tante Renata sambil berlinangan air mata.


Mayra masih bergeming, kemudian Om Gunawan mempersilakan mereka untuk duduk.


"Kami tahu, mungkin ini sangat mengejutkan kamu Nak. Kenyataan ini mungkin mengguncang jiwa kamu, tapi pada akhirnya semua akan terungkap bukan? Om juga Tante, tadinya sudah putus asa, apakah bisa menemukanmu atau tidak. Saat kami sudah akan menyerah, Tuhan memberikan jalan dan memberikan petunjuk jika ternyata kamu masih ada. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian kamu dan mengetahui seluk beluk tentang kamu," jelas Om Gunawan.


Mayra terdiam, dia menatap ke arah Arga dan pria itu menganggukkan kepalanya, memberikan kode agar Mayra mengangkat bicara.


"Jujur saja, Om, Tante, saya masih tidak percaya sebab kedua orang tua saya amat sangat menyayangi saya sedari kecil. Kasih sayang mereka tidak pernah luntur sama sekali, jadi saat mengetahui kenyataan ini tentu saja saya sangat syok," jawab Mayra sambil memejamkan matanya, sehingga buliran bening pun jatuh membasahi pipi.


"Kami tahu Nak, itu kenapa kami ingin merahasiakannya sampai kamu lahiran. Tapi ternyata harus kebongkar sekarang," timpal tante Renata sambil menggenggam kedua tangan Mayra.


"Kalau kamu masih belum menerima kami sebagai orang tuamu, tidak apa-apa Nak. Semua butuh waktu. Kami paham kok, apa yang kamu rasakan, tapi kami juga berharap jika suatu hari nanti kamu bisa menerima kami Nak. Sejujurnya kami juga tidak ingin kehilangan kamu, tapi takdir berkata lain. Dan kita dipertemukan kembali setelah kamu sudah dewasa," jelas tante Renata dengan tatapan sedih.


"Iya, ini memang berat bagiku. Tapi apakah alasanku untuk tidak menganggap kalian di sini? Kalian tidak bersalah, beda lagi mungkin jika kalian membuangku atau kalian tidak berusaha mencariku. Jadi alasan apa yang harus aku buat untuk membenci kalian? Untuk tidak menerima kalian sebagai orang tuaku?" tutur Mayra sambil menatap ke arah tante Renata dan juga Om Gunawan.


Mendengar itu om Gunawan dan juga tante Renata tak tentu saja sangat bahagia, begitupun dengan Sahrul langsung memeluk istrinya dengan haru.


Tante Renata mengecup kedua tangan Mayra, kemudian dia memeluk tubuh wanita hamil itu dengan erat, menangis tersedu-sedu dalam pelukannya, begitu pula dengan Mayra.


"Mama senang sekali, kamu mau menerima kami Nak. Maafkan Mama yang telah lalai menjaga kamu. Maafkan Mama Nak," ucap tante Renata dengan suara yang tersendat-sendat.


Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bertemu dengan Mayra dan bersatu kembali dengan putrinya yang hilang 25 tahun yang lalu, membuat tante Renata merasakan kebahagiaan yang hilang selama bertahun-tahun lamanya.


"Apakah Papa boleh memeluk kamu, Nak?" pinta Om Gunawan sambil menatap ke arah Mayra saat sudah berada di sampingnya. Sementara Arga menggeser duduknya memberikan ruang kepada keluarga itu.


Mayra menganggukkan kepalanya, dan melihat itu tentu saja Om Gunawan langsung memeluk tubuh Mayra dengan erat. "Terima kasih, Papa sangat bahagia sekali, karena kita bisa bersatu kembali Nak. Semoga setelah ini tidak akan pernah ada kata berpisah lagi ya. Papa tidak bisa menahan rindu yang begitu dalam kepada putri papa." Om Gunawan mengecup kening Mayra.


Mendapat pelukan dari kedua orang tua kandungnya, Mayra merasa sangat bahagia. Kehangatan seketika menjalar ke hatinya, rasa bahagia tentu saja ia rasakan saat ia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.


Sedangkan Arga hanya menatap ke arah Mayra dengan tersenyum. Dia bahagia, sebab istrinya sudah bisa kembali bersanding dengan keluarganya.

__ADS_1


"Masa kalian aja yang meluk? Aku tidak? Aku kan juga kakaknya, aku juga mencarinya bertahun-tahun." kesal Sahrul sambil memanyunkan bibirnya.


Mendengar itu tante Renata dan juga Om Gunawan terkekeh sambil menghapus air matanya, kemudian Sahrul maju langsung memeluk tubuh Mayra.


"Jangan pergi lagi ya Dek dari kami. Sebab kalau kamu pergi lagi, kakak akan memberikan gembok di kaki kamu, supaya kamu nggak bisa lari!" ancam Sahrul dan itu malah membuat Mayra terkekeh kecil.


Kemudian mereka pun berpelukan, rasanya Sahrul begitu amat sangat bahagia. Sebab ia bisa memeluk adik yang selama ini ia cari, yang selama ini rindukan dan yang selama ini dia nantikan kehadirannya.


"Akhirnya Kakak bisa memeluk kamu Dek. Setelah sekian lama," ujar Sahrul sambil menghapus air matanya.


"Jangan memeluk istriku lama-lama!" ketus Arga.


Mendengar itu, semua pasang mata langsung menatap ke arah Arga. Sedangkan Mayra terkekeh saat melihat suaminya cemburu.


Entah kenapa walaupun Arga sudah mengetahui jika Sahrul adalah kakaknya Mayra, dia masih tidak ikhlas melihat Mayra dipeluk olehnya.


"Kenapa memangnya? Dia kan adikku. Jadi Boleh dong aku berlama-lama memeluknya. Kau ini kalau mau cemburu lihat dulu sasaranmu. Kakaknya sendiri kau cemburui, aneh!" gerutu Sahrul sambil menatap dengan senyuman licik di bibirnya.


Kemudian dia langsung memeluk tubuh Mayra lagi, pria itu sengaja ingin memanas-manasi Arga. Dan benar saja, Arga langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri Sahrul dan memaksa untuk melepaskan pelukannya.


"Lepaskan! Apa kau tidak mendengar ucapan ku tadi!" geram Arga.


Mendengar ucapan seperti itu, Sahrul langsung mendapatkan tatapan tajam dari Arga. Dan semua orang yang ada di sana tertawa saat melihat kecemburuan suami pada istrinya.


"Ya sudah, sebaiknya kita ke ruang makan yuk! Mama sudah buatkan makanan spesial untuk kamu," ucap tante Renata sambil menggandeng tangan Mayra untuk berjalan ke ruang makan.


Benar saja, sesampainya di sana banyak sekali aneka makanan yang dihidangkan, karena tante Renata sendiri yang memasaknya bersama dengan Veronica


"Waah! anyak banget Mah makanannya," ucap Mayra sambil menatap dengan lapar ke arah makanan yang berada di atas meja makan.


"Iya dong, kan ini Mama buat spesial untuk kamu," jawab Tante Renata sambil mengusap rambut Mayra dengan lembut.


Kemudian mereka pun mulai makan malam diselingi canda dan tawa. Mayra menatap ke seluruh orang yang berada di sana, dan dia sangat bahagia karena akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya.


.


.

__ADS_1


Satu minggu telah berlalu, di mana saat ini Mayra sedang berada di jalan diantarkan oleh sopir karena dia kan makan siang bersama dengan Naina.


Kebetulan wanita itu kemarin baru pulang dari Jogja. Jadi setelah kebahagiaan yang dirasakan oleh Mayra beberapa hari yang lalu, tidak sempat ia ungkapkan secara langsung kepada Naina, dan saat ini mereka akan bertemu.


Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit, Ivan sedang berada di ruangan dokter untuk menanyakan perihal tes DNA itu. Karena dokter mengabarkan jika hasilnya sudah keluar.


"Jadi bagaimana, Dok? Apakah hasilnya sudah keluar?"


"Iya Pak, ini silakan dibaca," jawab dokter tersebut sambil menyerahkan amplop berwarna putih kepada Ivan.


Dengan tangan sedikit bergetar dan dada yang berdegup kencang, pria itu pun mengambil amplop tersebut. Dan saat membukanya, dia menarik nafas terlebih dahulu berharap apa yang ia takutkan tidak terjadi.


Namun saat kertas itu dibuka dan ia membacanya, seketika lutut Ivan menjadi lemas, saat mengetahui jika memang putrinya bukan darah dagingnya.


Setelah mendapatkan kenyataan itu, Ivan langsung pulang ke rumah, karena sedari tadi ibunya juga sudah menunggu hasil dari dokter.


'Ternyata benar Embun bukanlah anakku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah memang aku harus menitipkannya di Panti Asuhan sesuai permintaan dari Rere?' batin Ivan bertanya-tanya, dan merasa bimbang saat berada di dalam mobil.


Setelah sampai di rumah, Ivan langsung masuk dengan wajah lesunya. Kebetulan Bu Santi baru saja menidurkan Embun di kamar, lalu dia berjalan ke arah sofa di mana saat ini Ivan tengah duduk dengan raut wajah yang entah tidak bisa digambarkan.


"Bagaimana, Van? Apakah benar Embun Itu anakmu atau tidak?" tanya Bu Santi sambil menatap ke arah putranya.


Ivan menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan nafas dengan kasar. "Benar, dia bukan putriku," jawab Ivan dengan wajah yang lesu.


Mendengar itu Bu Santi juga sedikit kecewa, namun dia sudah menyiapkan kemungkinan tersebut. Kemudian wanita itu mengusap bahu Ivan, memberikan kekuatan kepada putranya tentang kenyataan pahit yang dia hadapi.


"Sekarang begini, keputusan ada di kamu Nak.


Kamu mau menceraikan Rere, tapi kamu harus menitipkan Embun ke panti asuhan. Atau kamu mau bertahan sama Rere, dan merawat Embun sampai Rere keluar dari tahanan. Karena walau bagaimanapun, Rere itu sudah berubah kan? Jika nanti Rere berulah lagi, keputusan ada di tangan kamu. Tapi Ibu yakin sih, kalau Rere itu pasti berubah," ujar Bu Santi.


"Ivan tidak tahu Bu. Ivan butuh waktu." Setelah mengatakan itu Ivan pun keluar untuk menjernihkan pikirannya.


Dia ingin ke suatu tempat yang sunyi untuk menenangkan pikiran yang saat ini benar-benar sangat kacau. Pria itu bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih sebab masalahnya begitu pelik.


Di satu sisi ia ingin menceraikan Rere, tapi di sisi lain Ia juga amat sangat menyayangi Embun, walaupun mengetahui jika bayi itu bukanlah darah dagingnya.


Setelah lama termenung di dalam mobil sambil memikirkan keputusan apa yang tepat untuk dia ambil. Akhirnya Ivan pun memutuskan, bahwa dia akan mempertahankan Rere, memberikan kesempatan kepada wanita itu. Dan menganggap Embun sebagai putrinya. Walaupun ia tahu itu sangat berat, tapi kasih sayangnya kepada Embun sudah sangat dalam.

__ADS_1


"Benar kata Naina, seseorang itu pasti pernah melakukan kesalahan. Seseorang juga mempunyai kekurangan, tidak melulu mempunyai kelebihan. Kata-kata Naina benar-benar menyentil hatiku, sekaligus menyadarkanku," gumam Ivan saat mengingat kata-kata Naina beberapa hari yang lalu di rumah sakit.


BERSAMBUNG......


__ADS_2