
Happy reading.....
saat sampai di rumah, Mayra sudah menunggunya dengan wajah cemberut duduk di ruang tamu. Dan tanpa menjawab atau menyapa sang suami, Mayra langsung berjalan meninggalkan Arga ke teras dan masuk ke dalam mobil.
'Benar kata Mama. Aku harus banyak sabar menghadapi orang hamil, dan sepertinya memang Istriku itu sangat sensitif,' batin Arga sambil mengusap dadanya.
Mobil meninggalkan kediaman Arga dan selama perjalanan Mayra terus saja menekuk wajahnya, karena dia merasa kesal sebab Arga terlambat menjemputnya.
Entah kenapa Mayra pun tidak tahu. Akhir-akhir ini perasaannya sangat sensitif, dia gampang marah, gampang sedih, padahal hanya hal sepele saja. Dan biasanya Mayra masa bodo, tapi kali ini dia malah sangat amat sensitif, membuat semua orang yang berada di sampingnya merasa elus dodo.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan dokter, karena memang Arga sudah membuat janji
Mayra langsung berbaring di atas ranjang Rumah Sakit, kemudian dokter menuangkan sebuah gel yang begitu dingin, lalu di tangannya ada sebuah alat dan segera menempelkannya di perut Mayra.
Arga dan juga Mayra hanya terdiam saja, menunggu apa yang akan diucapkan oleh dokter tersebut.
"Jadi bagaimana, Dok? Apa benar Istri saya sedang hamil? Jika benar, berapa usia kandungannya, Dok?" tanya Arga yang sudah tidak sabar dan dia sangat penasaran.
"Benar. Nyonya Mayra sedang hamil, dan saat ini usia kandungannya sudah menginjak Minggu ke-4," jawab dokter tersebut.
Arga menggenggam tangan Mayra, dan wanita itu menatap haru ke arah suaminya. Dia tidak pernah menyangka jika saat ini dirinya tengah mengandung, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Selepas dari rumah sakit, Mayra meminta Arga untuk mengantarnya ke rumah Naina, sebab Ia sangat merindukan sahabatnya. Apalagi mendengar kabar bahagia itu, Mayra ingin membaginya bersama dengan Naina.
Karena dia juga tahu jika sahabatnya saat ini tengah mengandung juga.
Selama di dalam perjalanan, Mayra terus saja mengelus perutnya yang masih rata. Rasa bahagia tentu saja tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Sebagai seorang wanita, menjadi sempurna adalah saat ia bisa mengandung, karena bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
Dan wanita akan merasa gagal sebagai seorang istri, jika dia tidak bisa hamil. Dan tak bisa memberikan keturunan untuk suami dan juga keluarganya.
Sebab dalam rumah tangga anak itu adalah hal yang paling penting, walaupun itu adalah rezeki dari Allah. Tetapi tetap saja, anak menjadi senjata dan juga kebahagiaan.
.
.
Naina sedang membuat salad buah, karena tiba-tiba saja dia menginginkan makanan itu. Dan tentunya ditemani oleh Karina sang kakak.
"Maaf Bu, di depan ada Mbak Mayra sama suaminya. Katanya mau bertemu dengan ibu," ucap di Arum pada Naina.
"Wah! Kebetulan sekali. Sebentar ya Kak, aku mau nyamperin Mayra dulu." Naina berpamitan pada sang kakak.
Naina berjalan ke arah ruang tamu, di mana pasangan suami istri tersebut sedang menunggu. Dan saat sampai di sana, Naina langsung memeluk tubuh Mayra.
"Tumben lo ke sini? Lagi kangen sama gue?" tanya Naina saat pelukannya terlepas.
"Nggak kangen sih, cuma sedikit," jawab Mayra sambil terkekeh. "Oh iya, lo lagi apa? Kok pakai celemek?" Wanita itu menatap heran ke arah Naina
"Ini, gue lagi bikin salad buah sama kak Karina," jawab Naina
"Oh. Kak Karina masih di sini sama kedua Ibu, lo?" Naina menganggukan kepalanya.
Kemudian dia mengajak Mayra untuk membuat salad buah, sementara Arga harus kembali ke kantor karena sebentar lagi ada meeting yang harus dihadiri.
Saat sampai di dapur, Mayra mengupas buah, sementara Naina menyediakan mayones dan lain-lain.
Tak lama, bu Linda dan juga bu Sumarni datang ke dapur, dan mereka membantu ketiga wanita itu untuk membuat salad. Namun ditolak oleh Naina, karena dia tidak ingin ibunya dan juga Ibu mertuanya kecapean.
__ADS_1
"Oh ya. Lo dari mana? Dan sengaja mau ke sini atau bagaimana?" tanya Naina tanpa menatap ke arah sahabatnya.
"Gue tadi habis dari rumah sakit," jawab Mayra.
Kening Naina, Bu Linda, Bu Sumarni dan juga Karina mengkerut heran, saat mendengar jawaban dari wanita itu.
"Tunggu dulu! Dari rumah sakit? Siapa yang sakit?Lo?" tanya Naina langsung menatap ke arah Mayra.
Mayra tersenyum ke arah Naina, kemudian dia mengambil sesuatu di dalam tas lalu memberikannya pada sahabatnya tersebut.
Naina membuka surat itu, dan seketika matanya membulat sambil menatap ke arah Mayra dengan tak percaya. "Lo hamil!" seru Naina, dan Mayra langsung menganggukan kepalanya dengan mantap.
Naina yang sangat bahagia pun segera memeluk tubuh sahabatnya. "Wah! Congratulation ya. Nggak nyangka, ternyata gue ada temennya buat ngidam?" kekeh Naina.
"Selamat ya, May! Akhirnya kamu juga akan menjadi seorang ibu, seperti Naina," ujar Karina sambil memeluk tubuh Mayra.
"Berarti di sini ada tiga ibu hamil," timpal Bu Linda.
Kemudian setelah salad buah jadi, mereka pun berjalan ke arah ruang tv sambil menikmati salad buah tersebut. Namun yang membuat Mayra heran adalah, dia sama sekali tidak mual.
Padahal sedari pagi Mayra terus saja muntah-muntah, bahkan tidak bisa mencium bau makanan. Tapi anehnya salad buah buatan Naina dan juga Karina malah masuk ke dalam perutnya.
"Aneh," gumam Mayra.
Naina yang sedang mengunyah salad sambil menonton drakor seketika menatap ke arah sahabatnya. "Aneh kenapa? Maksud lo salad buah buatan gue sama Kak Karina rasanya aneh?" tanya Naina.
Mayra menggelengkan kepalanya, "No! Bukan itu maksudku. Hanya saja aneh, dari pagi aku tuh muntah-muntah terus, bahkan nyium makanan aja mual. Tapi anehnya, kenapa salad buah buatan kamu sama Kak Karina malah cocok ya di lidahku?" Mayra melipat bibirnya ke dalam sambil memikirkan hal tersebut.
Bu Sumarni datang sambil membawakan wedang jahe, dan memberikan kepada tiga wanita hamil tersebut. Karena wedang jahe mampu untuk mengatasi rasa mual.
"Itu adalah hal yang biasa. Memang sebagian besar dari ibu hamil akan mual-mual jika mencium bau yang menyengat, karena indra penciumannya itu sangat sensitif. Beda dengan orang normal, itulah nikmatnya orang hamil. Tapi kalau yang ibu lihat, Naina itu malah cenderung doyan makan mungkin perasaannya saja yang agak sensitif," jelas bu Sumarni.
"Hei! Kenapa melamun?" tanya Naina saat melihat Mayra seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
"Gue tuh aneh tau nggak sih. Dari kemarin perasaan gue tuh sensitif banget, bahkan Mas Arga menolak untuk membelikan es krim aja, gue langsung nangis. Biasanya kan lo tau sendiri lah gue ini orangnya bodo amat, cuek sama hal-hal seperti itu. Tapi entah kenapa hal sepele malah membuat gue jadi cengeng? Perasaan gue tuh gampang sedih gitu loh?" bingung Mayra.
"Itu hal yang biasa. Namanya juga ibu hamil, wajar saja karena kan perubahan hormon," jelas Bu Linda.
Lalu mereka pun mengobrol seputar kehamilan, dan Bu Linda beserta Bu Sumarni memberikan tips ala-ala orang tua zaman dulu, namun tentunya demi kesehatan kandungan ketiga wanita itu.
Hingga akhirnya Bu Sumarni memutuskan untuk mengajak makan siang bareng antara Arga dan juga Reno, sekalian mereka bersilaturahmi dan berkumpul bersama.
Saat mereka akan memasak makan siang, Mayra segera menjauh dari dapur, karena bau masakan membuat dia sangat mual. Dan Naina mengerti akan hal itu, kemudian dia membawa Mayra untuk duduk bersama di taman.
.
.
Jam makan siang telah tiba.
Saat ini Arga, Reno dan juga Dewa sudah berkumpul di meja makan. Tapi sedari tadi Mayra menutup mulut dan juga hidungnya. Dia benar-benar tidak kuat dengan aroma yang keluar dari makanan yang berada di atas meja.
Hingga ia yang sudah tak tahan pun segera ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Arga yang melihat itu segera berjalan mendekat ke arah sang istri, kemudian dia memijit tengkuk Mayra.
"aini dioles dulu sama minyak angin, biar lebih enakan. Terus ini wedang jahe nya diminum," ujar Bu Linda menyerahkan minyak angin dan juga wedang jahe.
"Terima kasih Bu," ucap Arga.
"Nay, Ibu, kayaknya aku nggak bisa deh buat ikut makan siang. Aku di taman aja ya," ucap Mayra dengan wajah yang sedikit pucat.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin makan sesuatu, Nak? m
Misalnya rujak?" tanya Bu Sumarni yang sudah sangat pengalaman.
Mayra berpikir, "Sebenarnya aku ingin sekali makan rujak kedondong."
"Nah, dengarkan! Sebaiknya Arga, kamu cari kedondong gih di luar. Nanti biar di Arum yang membuatkan rujaknya. Nggak jauh kok dari sini ada tempat buah, cari aja di situ! Siapa tahu ada kedondong. Kalau tidak ada, ya cari di tukang rujak keliling. Biasanya sih ada," timpal Dewa.
"Sayang, apa tidak ada permintaan yang lain?" Arga mencoba menawar, namun Mayra menggeleng dengan mantap.
Pria itu pun akhirnya berjalan gontai keluar dari rumah Naina, namun dihentikan oleh bi Arum. "Tunggu dulu Den! Biasanya sebentar lagi akan ada tukang rujak lewat depan rumah," ujar di Arum.
Arga yang mendengar itu pun tentu saja sangat bahagia. Dia mengusap dadanya, 'Terima kasih Tuhan, sudah menolongku.' batin Arga.
Tak lama memang ada sebuah tukang rujak yang lewat, kemudian bi Arum langsung memesankan rujak kedondong yang diinginkan oleh Mayra.
Melihat makanan yang dibawa oleh Bi Arum, tentu saja Maira langsung menelan ludahnya, kemudian dia langsung membawa rujak itu menuju Taman karena di sana ada kursi dan juga meja kecil.
"Kamu makan aja Mas, aku di sini tidak apa-apa makan rujak," usir Mayra.
"Kamu mengusirku, sayang?" tanya Arga sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, soalnya kamu bau banget sih. Udah sana! Ntar udah makan, kamu mandi dulu. Soalnya keringat kamu bau. Aku nggak mau deket-deket kalau kamu belum mandi!" jelas Mayra sambil terus mengunyah rujak yang saat ini berada di hadapannya.
Arga terbangong saat mendengar penuturan dari sang istri. Dia ingin protes tapi ingat dengan kata-kata sang Mama, jika perasaan Mayra sangat sensitif. Jadi apa yang dia mau harus dituruti.
Pria itu pun masuk ke dalam ruang makan dengan langkah yang gontai, dan terlihat wajahnya begitu lesu.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Reno saat melihat Arga duduk di kursi.
"Itu, istriku semenjak hamil perasaannya sensitif sekali. Orang aku wangi kayak gini, dibilangnya bau. Mana disuruh mandi, kalau belum mandi nggak boleh deket deket." Arga menghela nafasnya dengan kasar sambil mengaduk makanan yang berada di piringnya.
Sementara Dewa dan juga Reno malah terkekeh saat mendengar penuturan dari pria tersebut, dan itu semakin membuat Arga kesal.
"Jangan menertawakanku seperti itu! Kalian juga mempunyai istri yang sedang hamil. Ingat, perasaan istri hamil itu sensitif. Malau sampai nanti berbalik, baru tahu kalian! Mungkin sekarang kalian bisa tertawa, tapi nanti pasti akan mengalami keluh kesah seperti diriku!" ketus Arga.
"Tidak akan," jawab Reno dan Dewa sambil mencebikkan bibirnya.
Tak lama setelah Arga mengatakan itu,ntiba-tiba Naina pun berkata, "Mas, kok tiba-tiba aku ingin sempolan? Setelah makan, kamu cariin aku sempolan ya! Jangan lupa yang pedas. Oh, sama satu lagi, tolong cariin cilok juga ya!" pinta Naina.
Reno yang sedang memakan makan siangnya seketika menyemburkan makanan yang berada di mulutnya, kemudian dia menatap ke arah Naina dengan tatapan tak percaya.
"Sayang, aku masih makan. Terus suruh nyari apa tadi? Gempolan? Cilok?"
"Sempolan Mas, bukan gempolan. Sempolan itu jajanan jalanan, nanti kamu cari ya! Banyak kok di pinggir jalan. Kalau nggak ketemu, kamu nggak boleh pulang!"
Reno yang mendengar ancaman dari sang istri seketika meneguk ludahnya dengan kasar. Sementara Dewa dan juga Arga malah tertawa terbahak-bahak, karena mereka berdua merasa puas.
"akamu juga Mas. Jangan ketawa aja, nanti setelah makan aku mau kamu cariin aku kue cucur sama tekwan ya!" Timpal Karina pada suaminya.
Dan kali ini yang tertawa bukan hanya Arga, tapi juga Reno. Dan itu malah membuat Dewa merengut dengan kesal.
"Sayang, come on! Siang-siang kayak gini nyari kue cucur sama tekwan di mana?" tanya Dewa, namun Karina hanya mengangkat kedua bahunya saja.
"Aku tidak tahu Mas. Tapi kamu harus mendapatkannya. Kalau kamu belum mendapatkannya, kamu tidak boleh kembali ke sini. Dan aku nggak mau tidur seranjang sama kamu!" ancam Karina.
Arga, Reno dan juga Dewa menepuk jidatnya serempak. Dan itu malah membuat Bu Linda, bi Arum dan juga Bu Sumarni terkekeh.
"Nasib badan, kasihan kalian. Ini sih judulnya alamat penderitaan tiga suami?" kekeh bu Linda, dan langsung di balas anggukan bi Arum dan bu Sumarni.
__ADS_1
BERSAMBUNG....