
Happy reading....
Mayra menoleh ke arah belakang, melihat ibu-ibu yang memanggil dirinya dan berjalan ke arahnya. Wanita itu mengerutkan kening saat melihat wajah Ibu tersebut yang seperti familiar.
"Maaf, Ibu memanggil saya?" tanya Mayra sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Ibu memanggil kamu," jawab ibu tersebut sambil menatap Mayra dengan lekat.
'Hidungnya, matanya. Dia benar-benar sangat mirip denganku waktu gadis? Apakah dia benar-benar ...' Ucapan wanita itu menggantung di dalam batin.
Mayra menatap ke arah Ibu tersebut dengan tatapan heran, karena wanita itu terus saja menatap dirinya dari ujung rambut sampai ujung kepala, dan itu membuatnya tak nyaman.
"Maaf, Ibu ada urusan apa ya? Apakah kita saling mengenal?" tanya Mayra yang belum mengingat siapa ibu tersebut.
Lamunannya tersadar saat mendengar ucapan Mayra, kemudian dia mengulurkan tangannya. "Nama saya Renata. Kita pernah bertemu saat berada di bandara, kamu menabrak saya hingga tas saya jatuh. Apa kamu ingat?" ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
Mayra terdiam, kemudian dia membulatkan matanya. "Oalah! Iya Bu, saya ingat. Maaf kejadiannya lumayan lama, jadi saya juga sudah lupa. Nama saya Mayra, Bu," jawab Mayra.
"Apa kamu di sini sedang makan?" tanya Bu Renata.
"Iya, kebetulan saya di sini sedang makan bersama teman saya," jawab Mayra yang sedikit aneh dengan pertanyaan wanita itu.
Dia rasa, di cafe jika tidak makan memangnya sedang apa? Entah kenapa Mayra merasa pertanyaan wanita tersebut terasa begitu ambigu di telinganya.
"Ya sudah Bu, kalau begitu saya duluan ya," ucap Mayra. Kemudian dia membalikkan badannya namun tangannya ditahan oleh ibu tersebut.
Wanita itu tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Mayra, membuatnya menegang dan terpaku saat mendapatkan perlakuan tersebut dari orang yang tak dikenalnya.
"Ibu sangat merindukanmu Nak," ucap wanita itu.
__ADS_1
Dahi Mayra mangkerut heran, kemudian dia berkata, "Maaf Bu, maksudnya?" tanya Mayra.
Bu Renata langsung melepaskan pelukannya, kemudian dia menghapus air matanya. "Maaf, saya reflek tadi meluk Mayra. Pasalnya wajah Nak Mayra begitu sangat mirip dengan putri saya yang hilang," jelas Bu Renata.
Mendengar penjelasan dari Bu Renata, Mayra merasa Iba. Dia bisa membayangkan bagaimana rasa sakit kehilangan seorang anak.
"Iya bu, tidak apa-apa. Saya mengerti kok," jawab Mayra. "Kalau begitu saya duluan ya." Setelahnya dia pergi tanpa dihalangi lagi oleh Bu Renata.
Wanita itu terus menatap lekat ke arah Mayra yang meninggalkannya dan semakin jauh. "Aku yakin dia adalah putriku. Aku sangat yakin itu. Tanda lahir yang berada di lehernya begitu sangat persis, tidak mungkin ada dua ataupun tiga di dunia ini tanda lahir yang sama?" gumam Bu Renata dengan sangat yakin.
Mayra kembali duduk di kursinya di hadapan Naina, wajahnya masih terlihat begitu bingung. Namun dia juga penasaran dengan Bu Renata. Entah kenapa saat wanita itu tadi memeluknya ada desiran aneh di dalam diri Mayra yang dia rasakan.
Akan tetapi Mayra tidak tahu apa itu? Dan Naina yang melihat kebingungan Mayra pun merasa heran.
"Hei, lo kenapa sih kayak orang kebingungan gitu?" tanya Naina sambil memakan makan siangnya.
"Apa dia orang gila?" tanya Naina kembali.
"Hush! Kalau ngomong sembarangan. Dia orang biasa, normal, bukan orang gila. Aku pernah bertemu dengannya di bandara dan tidak sengaja menabrak dirinya. Awalnya aku tidak tahu siapa dia, tapi setelah dia mengatakan kalau dia orang yang ku tabrak aku pun ingat. Memang benar, tapi yang membuatku aneh adalah ... saat dia memelukku. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuh. Entah, aku pun tidak tahu Naina."
Mendengar penjelasan dari Mayra, Naina terdiam. Kemudian dia menatap lekat ke arah sahabatnya. "Apa yang membuat lo merasa aneh?" tanya Naina dengan tatapan menyipit.
Mayra mengangkat kedua bahunya. "Entah, aku pun tidak tahu. Tapi rasanya begitu aneh," ujar Mayra. "Aah ... sudahlah jangan terlalu dipikirkan! Hanya akan membuat otakku buyar saja."
Kemudian tidak ada pembicaraan lagi, namun tetap saja sekuat apapun Mayra melupakan kejadian tadi tetap saja terngiang di kepalanya.
Kemudian mereka pun berpisah, karena Mayra harus pergi ke kantor untuk ketemu dengan suaminya. Sementara itu Naina akan ke rumah sang ibu.
Nanti malam juga Ibu Linda mengundang Mayra, Arga, Reno dan juga Naina untuk makan malam di rumahnya.
__ADS_1
.
.
Ibu Renata saat ini sedang mondar-mandir di ruang tengah menunggu seseorang yang tak lain adalah suaminya.
Dan tak lama orang yang ditunggu pun datang. "Ada apa sih, Mah? Papa sampai harus menunda meeting loh," ucap seorang pria yang bernama Pak Gunawan.
Bu Renata menatap lekat ke arah suaminya, "Pah, aku menemukan wanita itu lagi. Wanita yang pernah aku temui saat berada di bandara, dia yang memiliki tanda lahir yang sama dengan Putri kita!" seru Bu Renata dengan wajah yang antusias.
Mendengar ucapan sang istri Pak Gunawan menatap lekat ke arah Bu Renata, "Apa Mama yakin?"
Bu Renata mengangguk dengan pasti, "Iya Pah, mama sangat yakin. Mungkin saja memang dia Putri kita yang telah hilang 24 tahun yang lalu. Dan mama tidak bisa melupakan tanda lahir itu, Pah, benar-benar sangat mirip. Wajahnya juga sangat mirip dengan mama sewaktu muda. Kalau Papa melihatnya, pasti Papa juga akan berpikiran yang sama," jelas Bu Renata dengan yakin.
Pak Gunawan mengusap wajahnya sambil duduk di sofa. Dia memikirkan ucapan sang istri. "Baiklah, kalau begitu papa akan menyelidikinya. Apa Mama tahu siapa namanya?"
"Mayra, Pah. Namanya adalah Mayra. Tadi Mama bertemu di cafe dan mama berkenalan dengannya."
Kemudian Pak Gunawan menghubungi orang suruhannya untuk memerintahkan mencari tahu tentang Mayra.
Pak Gunawan dan juga Ibu Renata adalah pasangan suami istri. Mereka memiliki satu orang Putra yang bernama Sahrul, namun saat ini pria itu sudah menikah dan tinggal di luar kota.
Mereka juga mempunyai seorang putri, namun saat Bu Renata mengajak putrinya jalan-jalan di taman tiba-tiba saja ada yang menculiknya, karena waktu itu dia meninggalkan bayinya sebentar untuk membeli mainan yang tak jauh darinya.
Dan pertemuannya dengan Mayra membuat tante Renata sangat yakin jika Putri yang selama ini dicari selama 24 tahun itu adalah Mayra. Bahkan dia sangat yakin tidak ada tanda lahir yang begitu mirip.
'Kita pasti akan kembali bersama Nak!' batin bu Renata.
BERSAMBUNG...
__ADS_1