
Happy reading....
Selama 3 hari Mayra mendiamkan Arga. Entah memang karena perasaannya sangat sensitif saat hamil, atau karena memang Mayra sangat kecewa kepada suaminya.
Dan saat ini wanita hamil itu tengah memakan rujak di samping rumah, kemudian tante Evelyn datang dan duduk di sampingnya.
"Kamu masih marahan Nak, sama Arga?" tanya Tante Evelyn.
Mayra yang mendengar itu pun menghentikan makanannya, kemudian dia meminum jus yang dibuatnya tadi di dapur.
"Sebenarnya Mayra nggak marah sih Mah, sama Mas Arga. Cuma lebih ke kecewa aja, karena Mas Arga menyembunyikan sesuatu dari Mayra. Dia yang berkomitmen sedari awal agar kita terbuka satu sama lain, tapi Mas Arga malah mengingkarinya," jawab Mayra sambil tersenyum tipis.
Tante Evelyn terdiam, dia memang dapat melihat raut wajah kekecewaan yang begitu dalam dari menantunya. Sebagai perempuan tentu saja tante Evelyn juga mengerti tentang perasaan Mayra.
Istri akan terluka dan merasa tak dihargai, jika kehadirannya tidak dibutuhkan. Bahkan suaminya selalu menyembunyikan sesuatu darinya. Bisa saja kan, pemikiran istri itu malah melenceng ke hal yang negatif.
"Yah, mungkin memang sesuatu yang besar, sampai Arga bimbang dan juga ragu untuk mengungkapkan semuanya. Kalau dari yang Mamah tangkap sih, sepertinya Arga ingin mengatakannya sama kamu, Nak l, tapi dia takut terjadi apa-apa dengan kandunganmu. Mungkin saja sesuatu hal itu bakal berdampak pada kesehatan kamu," ujar tante Evelyn
Mayra terdiam, apa yang dikatakan mertuanya memang benar. Mungkin saja memang seperti itu, tapi apapun itu seharusnya Arga berbicara dengan pelan-pelan dan hati-hati.
"Iya, mungkin memang Mama benar. Tapi kan Mas Arga bisa berbicara dengan baik-baik dari hati ke hati, tidak langsung ujug-ujug, Mayra, aku begini dan begitu. Semuanya kan perlu dibicarakan juga Mah, tapi ya sudahlah. Aku juga tidak mau mendesak dia, karena percuma, setiap didesak hanya akan ada kebohongan yang terlontar dari mulutnya. Jadi ya sudah, buat apa lagi." Mayra mengangkat kedua bahunya, menandakan jika dia sudah pasrah dan angkat tangan.
Siang ini Mayra memutuskan untuk bertemu dengan Naina, dia akan pergi ke rumah wanita itu karena saat ini Mayra butuh teman untuk curhat dan menumpahkan segala unek-unek di dalam hati dan juga pikirannya.
Saat Mayra sampai di sana, dia pun turun dari mobil. Setelah itu memencet bel, pelayan membukakan pintua, lali ia masuk ke dalam rumah.
"Nona Naina ada di dalam kamarnya, Mbak Mayra," jawab di Arum.
"Iya Bi, kalau gitu aku ke kamar dulu, makasih ya." Mayra pun berjalan menuju kamar Naina.
Dia melihat pintu kamar itu tidak tertutup rapat, dan saat Mayra akan mengetuknya tiba-tiba dia mendengar suara Naina yang sedang teleponan dengan seseorang yang dia yakini adalah Reno.
"Iya Mas, aku tahu. Tapi mau sampai kapan? Rasanya aku tidak bisa mas menyembunyikan semua darinya," ucap Naina yang terdengar begitu bingung.
Mayra mengerutkan dahinya saat mendengar percakapan Naina di telepon bersama dengan Reno, namun dia tidak bisa mendengar suara Reno.
"Ya sudahz kita bicarakan nanti saja ya di rumah." Naina pun memutuskan teleponnya.
Wanita itu menghembuskan nafas dengan kasar, kemudian dia duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya.
"Kamu habis telponan sama Reno?" ucap Mayra yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Naina terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, dan ternyata itu adalah Mayra. Dia gelagapan, wajahnya gugup, karena takut jika Mayra mendengar pembicaraannya tadi bersama dengan Reno.
"Hei! Kenapa wajahmu gugup seperti itu? Kamu nelpon suamimu?" tanya Mayra dengan tatapan memicing.
"Iya, aku habis nelpon Mas Reno. Kamu kok ke sini nggak bilang-bilang sih? Sampai kaget aku, untung nggak punya riwayat jantung," ujar Naina sambil mengusap dadanyam
Mayra terkekeh, kemudian dia duduk di samping Naina. "Aku hanya bosan saja di rumah, aku ke sini karena butuh teman curhat."
"Huuuh! Bagian kamu lagi ada masalah, larinya ke aku. Bagian senang, temannya dilupakan." Naina menekuk wajahnya.
Dia bersyukur karena Mayra tidak mendengar pembicaraannya tadi, sebab dari raut wajah Mayra, sepertinya wanita itu memang tidak marah bahkan tidak kepo dengan ucapannya.
'Sepertinya memang Mayra tidak mendengar pembicaraanku bersama dengan mas Reno. Syukurlah!' batin Naina yang merasa lega.
Sementara Mayra sebenarnya ingin menanyakan tentang perihal ucapan Nayna tadi bersama dengan Reno, tapi dia tidak mau. Sebab itu adalah hal yang terlalu pribadi, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Jadi Mayra tidak mau untuk ikut campur.
"Kenapa sih wajah lo, kok ditekuk kayak gitu? Ada masalah apa?" tanya Naina menatap dalam ke arah sahabatnya.
Mayra berjalan ke arah balkon. Entah kenapa dia senang sekali berdiri di balkon, merasakan hembusan angin yang menerpa kulitnya. Karena saat angin itu menembus pori-pori dari kulit Mayra, membuat ketenangan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Gue cuma bingung aja, dengan rumah tangga gue," jawab Mayra.
"Emangnya kenapa dengan rumah tangga lo? Ada masalah atau lo berantem sama Kak Arga?" tebak Naina.
"Sebenarnya ada masalah atau enggak? Kenapa jawaban lo enggak, tapi iya?" Naina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dibilang tidak, ya Iya. Dibilang iya, juga tidak. Sebenarnya lebih ke kesal sih sama Mas Arga."
"Kesalnya?"
"Entah kenapa ya Nai, aku merasa Mas Arga itu menyembunyikan sesuatu dariku. Setiap aku mendesaknya untuk berbicara, dia pasti selalu ngeles kayak bajaj. Selalu saja mencari alasan dengan kebohongan, seperti halnya kemarin," tutur Mayra.
"Kemarin? Maksudnya?"
Mayra menghadap ke arah Naina, kemudian dia menatap lekat ke arah sahabatnya, dan Naina yang ditatap seperti itu pun menjadi salah tingkah, karena tidak biasanya Mayra menatapnya seperti itu.
"akenapa lo natap gue seperti itu? Kayak natap tersangka aja?" tanya Naina dengan heran, sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Sebenarnya gue ke sini juga karena ingin menanyakan sesuatu hal sama lo, Nai. Lo kemarin makan siang kan bersama tante Renata dan juga suami gue di restoran ya? Jujur sih, gue bingung, tumbenan kalian makan siang. Tapi nggak ngajak gue, tapi ..." Mayra menggantung ucapannya.
Sedangkan Naina yang mendengar hal tersebut pun menjadi kaget. Dia tidak menyangka jika Mayra kemarin ada di restoran tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Mayra sendiri merasa bimbang untuk mengatakan unek-unek di dalam pikirannya, karena dia takut jika Naina akan tersinggung oleh ucapannya. Sebab, Mayra juga tidak bermaksud untuk menuduh Naina, hannya ingin menanyakan lebih dalam saja.
"Tapi kenapa?"
"Tapi saat gue tanya Mas Arga, dia hanya bilang makan siang biasa saja, tidak sengaja bertemu. Tapi Masa iya sih Nai, secara kebetulan seperti itu? Gue mau lo jujur sama gue! Kemarin kalian sengaja makan siang bareng, atau memang kalian tidak sengaja bertemu?" tanya Mayra denga tatapan menyipit.
Naina yang ditanya seperti itu pun menjadi bingung, wajahnya terlihat gugup dan itu nampak oleh Mayra, tapi wanita itu hanya diam saja.
"Sebenarnya Mas Reno dan juga Kak Arga mengadakan makan siang, sebab untuk pekerjaan. Tapi karena lo tahu sendiri lah, gue hamil itu nggak bisa jauh-jauh dari misua. Terus juga Tante Renata kemarin mau makan siang sama suaminya, ya udah akhirnya kita makan siang bareng deh," jawab Naina sambil tersenyum canggung.
'Maafkan gue May, gue belum bisa mengungkapkan semuanya tanpa izin dari Tante Renata ataupun Om Gunawan. Karena merekalah yang mempunyai wewenang,' batin Naina yang merasa bersalah karena tidak jujur kepada sahabatnya.
Mayra menganggukkan kepalanya. Sejujurnya dia sedikit ragu dengan jawaban Naina, tapi Mayra yakin jika Naina memang tidak berbohong sama sekali.
"Oke. Oh ya, tadi lo bicara sama--" Ucapan Mayra terhenti saat ponselnya berdering. "Sebentar ya, gue angkat telepon dulu," sambungnya dan langsung dibalas sanggupan oleh Naina.
Ternyata telepon itu dari Arga. Sejujurnya Mayra merasa enggan untuk mengangkat telepon tersebut, namun juga dia tidak bisa egois.
"Iya, kenapa mas?" tanya Mayra saat telepon tersambung.
"Sayang, kamu ada di mana?"
"Ada di rumahnya Naina, kenapa?"
Arga yang mendengar jika Mayra sedang berada di rumahnya Naina pun sangat kaget. Dia takut jika Mayra nanti akan berbicara dan bertanya yang tidak tidak kepada Naina, dan dia juga takut jika nanti Naina keceplosan.
"Sayang l, kita makan siang bareng yuk! Aku akan jemput kamu ke sana ya."
"Tidak usah Mas. Biar aku saja yang ke sana. Lagi pula aku bawa sopir kok, tinggal kirim saja alamatnya!"
"Oke, aku kirim alamatnya ya."
Tanpa menunggu jawaban, Mayra pun langsung memutuskan telepon secara sepihak. Entah kenapa sekarang dia berbicara dengan Arga menjadi malas, karena pria itu terus saja membohonginya.
Naina merasa heran dengan nada bicara Mayra kepada Arga yang terkesan dingin. Kemudian dia pun bertanya, "Lo kenapa? Lagi marahan sama suami lo?"
Mendengar itu Mayra menggeleng, "Marah sih tidak, hanya kecewa saja. Dia terus membohongiku. Aku merasa sebagai istri tidak dihargai. Lo kan tahu Nai, dalam sebuah pernikahan itu kejujuran lebih penting. Apapun yang terjadi, rahasia apapun itu, mau berat mau ringan, seharusnya pasangan saling melengkapi bukan? Harus jujur dan terbuka satu sama lain. Tapi ini Mas Arga malah tidak mau berbicara. Jadi ta sudah, aku pun malas untuk debat dengan dia. Jadi aku mendiamkannya sampai dia berbicara tentang apa yang dia sembunyikan dariku. Lagi pula, mungkin aku juga akan menyembunyikan apapun yang aku rasakan atau apapun yang aku alami, karena dia juga yang memulainya," jawab Mayra sambil tersenyum.
Naina yang mendengar hal itu menjadi sedih. Dia tidak menyangka jika wanita yang berada di hadapannya begitu amat sangat kecewa kepada Arga.
'Aku harus berbicara dengan Kak Arga, kasihan kalau rumah tangga mereka terus aja seperti itu.' batin Naina.
__ADS_1
Kemudian Mayra pun pamit kepada Naina, sebab dia akan pergi makan siang bersama dengan suaminya. Walaupun sebenarnya Mayra sangat malas entah mungkin karena dia sedang hamil dan bawaannya selalu kesal, tapi kali ini Mayra yakin, jika memang karena sikap Argalah yang membuatnya bersikap dingin.
BERSAMBUNG.....