
Happy reading...
Tante Renata menatap ke arah pria tersebut, kemudian dia memegang pundak Arga, lalu saat beliau akan mengatakan sesuatu tiba-tiba saja terhenti oleh ucapan seseorang.
"APA!"
Tante renata dan juga Arga menatap kearah belakang, dan ternyata di sana ada Naina. Kebetulan dia tadi ingin ke toilet juga.
Akan tetapi, saat Naina sampai di sana, dia melihat Arga dan juga tante Renata sedang mengobrol. Wanita itu pun menjadi penasaran, kemudian dia berjalan mengendap untuk mengiluping pembicaraan 2 orang tersebut.
Dan alangkah terkejutnya Naina, saat dia mendengar sebuah kenyataan yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
"Tante, Arga, katakan sama aku! Apa benar yang kalian bicarakan tadi? Mahra itu anaknya Tante Renata? Bagaimana bisa?" tanya Naina dengan wajah yang kaget.
Arga dan juga tante Renata terlihat begitu gugup, saat rahasia yang mereka simpan rapat-rapat terbongkar dan diketahui oleh Naina.
"Nai, tolong pelankan suaramu!" pinta Arga.
"Bagaimana bisa? Sekarang katakan! Apakah itu benar? Apa yang aku dengar itu, semuanya kebenaran?" desak Naina sambil melihat dengan tatapan memicing ke arah kedua orang yang berada di hadapannya.
Tante renata memegang tangannya. Dia menatap sendu ke arah wanita yang tengah mengandung tersebut.
"Iya Nak, Mayra adalah anak kandung tante. Dan ceritanya panjang sekali, tante tidak bisa memberitahukannya kepadamu sekarang, karena situasinya juga tidak mendukung. Ditambah kondisi Mayra juga sedang hamil, dan tante tidak ingin terjadi apa-apa dengannya. Jtu kenapa kami sampai saat ini masih merahasiakannya, dan melihat dari sikon dulu, apakah baik atau tidak untuk mengungkap sebuah kebenaran ini," jelas tante Renata.
Kaget, tentu saja Naina merasa kaget. Karena tidak pernah ia bayangkan jika selama ini Mayra mempunyai kedua orang tua kandung. Dan ternyata almarhum kedua orang tuanya bukanlah orang tua kandungnya.
Dan yang membuat Naina semakin kaget adalah, ternyata tante Renata beserta keluarganya bukan orang sembarangan. Namun dia juga merasakan sedih, mengingat bagaimana jika Mayra mengetahui semuanya.
"Tante benar. Jangan ungkapkan semuanya sekarang! Kondisi Mayra saat ini sedang hamil muda, kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungannya, bagaimana? Apalagi itu adalah anak pertamanya bersama dengan Kak Arga. Carilah kondisi yang baik, tapi ..." Naina menggantungkan ucapannya.
"Tapi kenapa, Nak?" tanya Tante Renata.
"Tapi Tante, Kak Arga. Sepandai dan sarapat apapun kalian menyembunyikan kebenaran itu, pada akhirnya Mayra akan mengetahui semuanya bukan? Dan seperti itu apapun itu yang terjadi di masa lalu, kalian harus membicarakannya kepada Magra secara perlahan. Aku takut, sebelum Mayra lahiran dia malah nanti akan mengetahui semuanya dari orang lain, atau mungkin seperti diriku yang tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian," jelas Naina.
Arga dan juga tante Renata melirik satu sama lain. Apa yang dikatakan Naina itu benar, Mayra bisa saja mengetahui semuanya dengan cara apa yang Naina bicarakan, yaitu sebuah kebetulan.
"Kalau gitu, kita kembali ke meja yuk! Yang ada kalau kelamaan nanti Mayra malah curiga!" ajak Naina.
Kemudian mereka bertiga pun berjalan meninggalkan toilet menuju meja, dan Mayra melihatnya dengan heran, sebab kenapa bisa mereka bertiga bersamaan.
'Kok bisa bersamaan seperti itu ya? Aneh?' batin Mayra.
.
.
Saat ini Mayra sedang berada di lantai bawah untuk membuat susu hamil, karena biasanya sebelum tidur dia pasti membuat susu untuk dirinya dan kesehatan kandungannya.
__ADS_1
Sementara itu Arga berdiri di balkon, sedang menerima telepon dari seseorang yang tak lain adalah Mail.
Dia mengatakan jika Mayra diculik oleh musuh dari Pak Gunawan, musuh yang tak lain adalah saingan bisnisnya.
"Baiklah, kita bicarakan nanti saat di kantor. Dan apakah dia masih mencelakai atau berniat jahat kepada keluarga Om Gunawan?" tanya Arga.
"Tidak. Hanya dulu saja," jawab Mail di seberang telepon.
"Oke, kita bertemu besok di kantor!" Setelah itu telepon pun terputus.
Arga menghela nafasnya sambil menatap lurus ke arah depan, di mana gelapnya malam dengan hembusan angin yang mulai dingin menusuk tulang.
"Siapa yang berbuat jahat kepada keluarga tante Renata, Mas?" tanya Mayra, yang ternyata sudah berada di belakang Arga dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Tentu saja Arga sangat kaget saat melihat Mayra yang sudah berada di sana, kemudian dia mendekat dan memegang kedua bahu wanita itu.
"Tidak ada apa-apa, sayang, hanya biasalah saingan bisnis." bohong Arga. Dia tidak ingin membuat istrinya banyak pikiran, karena bisa berdampak buruk pada kandungannya.
"Beneran?" tanya Mayra memastikan.
"Bener dong, masa aku bohong. Udah yuk masuk! Anginnya nggak bagus buat kesehatan. Kasihan juga nanti anak kita kedinginan," jawab Arga sambil mengusap perut Mayra, kemudian mereka masuk ke dalam kamar menutup pintu kaca itu dan berbaring di atas ranjang
Kepala Arga saat ini tengah berada di atas pangkuan Mayra, dan pria itu mencium perut Mayra yang mulai membuncit. Tangannya ditaruh di atas perut itu, karena dia sering merasakan gerakan calon anaknya.
"Lihat sayang! Kamu merasakannya kan? Dia bergerak!" kata Arga dengan wajah bahagia.
Mayra hanya diam saja menatap lekat ke arah wajah suaminya, lebih tepatnya mencari sebuah kebenaran dari kedua sorot mata milik Arga.
Biasanya lelucon seperti itu mampu membuat Mayra menjadi kesal dan langsung mencubitnya, tapi kali ini wajah wanita itu datar, tidak berekspresi sama sekali. Dia terus saja menatap ke arah Arga dan itu membuatnya sedikit khawatir.
Memudian Arga bangkit dari tidurnya, lalu dia duduk di samping Mayra, mengangkat dagu wanita itu agar menatap ke arahnya.
"Kamu kenapa sih, sayang? Aneh banget. Jangan bilang, kalau kamu kesambet?" tanya Arga dan langsung mendapat pukulan di lengannya dari Mayra.
PLAK!
"Mbok y, jalau ngomong itu disaring dulu Mas. Istri lagi hamil, ngomongnya kok main nyeletuk aja? Kalau ngomong tuh yang baik-baik," jawab Mayra dengan nada yang begitu ketus, kemudian diam melengos ke arah lain.
"Ya sudah, maaf. Terus kenapa?" tanya Arga.
Mayra menatap sejenak ke arah pria tersebut, kemudian dia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, menatap lurus ke arah televisi yang sedang menayangkan film drakor. Tapi entah kenapa sekarang Mayra merasa tidak tertarik.
Dia mengambil remote dan malah menayangkan film India, karena semenjak hamil entahlah, dia sama sekali tidak suka drakor malah lebih ke serial India.
"Sayang?" Panggil Arga yang merasa dicuekin oleh sang istri
"Tidurlah Mas, sudah malam! Aku masih belum mengantuk," jawab Mayra yang tidak ingin menyatakan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Arga semakin dibuat aneh oleh tingkah Mayra, dia yakin ada yang disembunyikan oleh wanita itu.
.
.
Sementara di tempat lain, Naina saat ini tengah duduk dengan gelisah di pinggir ranjang. Dia mengingat tentang pembicaraan tante Renata dan juga Arga saat berada di toilet.
Dirinya masih saja tidak menyangka, jika ternyata Mayra adalah anak kandung dari keluarga tante Renata. Dia mengenal Mayra cukup lama, dan mereka bersahabat juga bukan satu atau dua tahun saja. Tentu saja kabar seperti itu membuatnya sedikit syok.
Reno yang baru saja masuk ke dalam kamar menatap heran ke arah sang istri yang tengah melamun, kemudian dia memberikan susu hamil yang dibuatnya.
"Minum dulu, sayang, biar kandungan kamu semakin sehat," ucap Reno.
Naina mengangguk, kemudian menghabiskan susu itu hingga habis setengah gelas, lalu menaruhnya di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
Biasanya Naina menghabiskan susunya, tapi hari ini dia seperti tidak berselera. Mabar yang membuatnya sangat terkejut membuat wanita itu masih bertanya-tanya.
"Sayang, are you okay? Ada masalah apa? Kok sepertinya dari tadi aku perhatikan kamu seperti memendam sesuatu?" tanya Reno sambil mengusap pundak Naina dengan lembut.
Wanita itu duduk menghadap ke arah Reno, menatap kedua manik milik suaminya, kemudian dia pun berkata, "Mas, tadi saat kita makan siang di restoran. Dan kamu ingatkan aku pergi ke toilet, dan di sana aku memergoki tante Renata dan juga Arga,Mas," ujar Naina.
Dahi Reno mengkerut saat mendengar kata memergoki. "Apa! Kamu mergokin mereka? Memangnya mereka sedang apa? Berciuman atau---"
BUGH!
Ucapan Reno terhenti saat Naina memukul lengan pria itu dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu ini bicara apa sih, Mas? Kalau ngomong asal aja. Siapa juga yang ciuman? Memergoki mereka, bukan berarti mereka sedang berbuat mesuum. Aku kan belum menyelesaikan ucapanku," jawab Naina dengan ketus.
Reno menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, "Ya maaf sayang, aku kan tidak tahu. Memangnya kamu memergoki mereka sedang apa?" tanya Reno yang mulai penasaran.
Sejenak Naina menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian dia menatap lekat ke arah suaminya.
"Saat aku sampai di sana, aku melihat mereka sedang mengobrol. Entah kenapa jiwa penasaran aku berontak, kemudian aku berjalan mengendap dan menguping pembicaraan mereka. Dan kamu tahu tidak, apa yang mereka bicarakan?" tanya Naina.
Reno mengangkat kedua bahunya, "Iya meneketehe, sayang. Aku kan nggak denger pembicaraan mereka, kamu malah nanya seperti itu sama aku? Memangnya apa yang mereka bicarakan?" tanya Reno pada akhirnya.
Naina memutar bola matanya dengan malas tidak dia sangka ternyata suaminya juga termasuk orang yang super kepo Padahal tadinya terlihat cuek Namun ternyata penasaran juga
"Yakin kamu mau tahu, kabar mengejutkan apa yang baru aku ketahui?" ujar Naina sambil mengangkat kedua alisnya.
Mendengar dan melihat ekspresi serta ucapan istrinya, membuat Reno seketika menjadi penasaran. Kemudian dia pun mengangguk dengan pasti.
"Iya. Aku mau tahu, apa itu?" tanya Reno.
"Mas, aku baru mengetahui kalau ternyata Mayra adalah anak kandung dari Tante Renata dan juga Om Gunawan. Ya ... awalnya juga aku nggak percaya, tapi saat aku mendengar secara langsung pembicaraan Arga dan juga tante Renata di toilet, kamu bisa bayangin lah betapa kagetnya aku Mas," ujar Naina.
__ADS_1
"Apa! Anaknya tante Renata dan juga Om Gunawan?" kaget Reno. Namun beberapa detik kemudian dia malah tertawa, dan itu membuat Naina semakin kesal.
BERSAMBUNG.....