Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Hasil Penyelidikan Mail


__ADS_3

Happy reading....


Mayra keluar sambil membawa hasil tespek, sementara Arga dan juga tante Evelyn tengah berdiri dengan harap-harap cemas, menunggu apakah benar jika saat ini Mayra sedang mengandung.


"Bagaimana sayang, hasilnya?" tanya Arga yang sudah tidak sabar.


Tanpa menjawab, Mayra langsung memeluk tubuh pria tersebut. Dia menangis dalam dekapan suaminya, membuat Arga dan juga tante Evelyn merasa bingung.


"Sayang, kenapa menangis? Jika hasilnya memang belum sesuai dengan apa yang kita harapkan, tidak masalah. Kita bisa terus mengadonnya setiap malam," ujar Arga.


Tante Evelyn seketika mencubit pinggang pria tersebut, menatap tajam ke arah putranya. Karena selalu saja berbicara sompral tanpa dipikir dahulu.


"Kamu ini Mas, kalau bicara menyeletuk aja," ucap Mayra sambil mengusap air matanya.


"Ya kan bener apa yang aku katakan sayang, kalau kita gagal, kita bisa mencobanya terus. Jadi jangan menangis, oke. Jadi, bagaimana hasilnya?" tanya Arga kembali.


Wanita itu menyerahkan hasil tespek kepada Arga dan pria tersebut hanya mengerutkan keningnya, karena dia tidak mengerti. Lalu tante Evelyn menatap ke arah tespek yang berada di tangan putranya.


Seketika matanya berbinar saat melihat dua garis merah, namun satu garisnya terlihat samar.


"Sayang! Kamu hamil? Ya Allah! Jadi benar? Asik! Sebentar lagi mama punya cucu!" seru tante Evelyn dengan bahagia sambil melompat-lompat.


"Jadi ... ini ..." Arga menggantung ucapannya, dan Mayra langsung menganggukan kepala.


Melihat dan mengetahui jika saat ini istrinya tengah mengandung, Arga segera mengangkat tubuh Mayra, membawanya berputar-putar sehingga membuat wanita itu pusing dan menepuk pundak Arga.


"Hehe ... maaf sayang, aku terlampau bahagia," ujar Arga sambil mengecup kening Mayra dan seluruh wajahnya.


"Mas! Di sini masih ada Mama." Mayra merengut dengan kesal.


"Ya sudah, kalau gitu kalian sarapan terus siap-siap mau ke rumah sakit buat cek kandungannya! Kita pastikan berapa minggu saat ini Mayra tengah mengandung cucu mama," tutur tante Evelyn.


Mayra dan Arga mengangguk, kemudian mereka membersihkan diri, dan setelah selesai, mereka berjalan ke lantai bawah menuju meja makan.


Namun, saat sampai di sana lagi-lagi Mayra muntah-muntah saat mencium bau makanan perutnya serasa dikocok kembali.


"Aku nggak mau sarapan, Mas. Baunya nggak enak banget, bikin aku mual," ucap Mayra yang menjauh dari meja makan.


"Sayang, ini nasi goreng seafood kesukaan kamu?" bingung Arga.


Namun tante Evelyn mengetahui jika memang itu adalah bawaannya ibu hamil. Berarti Mayra termasuk ibu hamil yang sangat sensitif, dari segi penciuman.


"Biarkan saja Arga. Ibu hamil memang seperti itu penciumannya, sangat sensitif. Terkadang bau menyengat sedikit saja akan membuatnya mual, memang kebanyakan ibu hamil seperti itu," jelas tante Evelyn.


"Lalu, kamu mau makan apa?" tanya Arga.

__ADS_1


Mayra menunjuk kulkas, "Aku mau makan es krim aja Mas, yang semalam aku beli!" pintanya.


Arga segera menggeleng dengan cepat. Dia tidak membiarkan Mayra memakan es krim di pagi hari, apalagi perut kosong belum terisi makanan apapun.


"No! Kamu itu belum makan nasi, masa udah mau makan es krim aja? Nanti kalau sakit gimana? Nggak! Aku nggak ijinin!" tolak keras Arga.


Mendengar penolakan dari sang suami, seketika kedua mata Mayra mengembun. Air matanya sudah kembali akan menetes, dan Arga yang melihat itu pun segera mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar bingung dengan sikap istrinya yang cengeng.


Biasanya Mayra tidak secengeng itu, tapi entah kenapa saat mengetahui istrinya sedang hamil, bahkan Mayra tidak bisa ditolak sedikit saja.


"Kamu ini kenapa sih sayang, sekarang jadi sensitif? Masa aku bilang nggak boleh aja kamu langsung nangis? Biasanya nggak kayak gitu?" bingung Arga.


Tante Evelyn mendekat ke arah putranya, lalu dia memegang pundak Arga dan menjelaskan, "Wajar saja, jika Mayra cengeng. Itu bawaan bayi dan memang perasaan ibu hamil itu sangat sensitif. Kamu sebagai seorang suami harus bisa menjaga perasaan istrimu! Jangan sampai membuatnya menangis, ataupun membuatnya bersedih seperti tadi. Penolakan terkadang membuat hatinya sangat kecewa dan akan menangis."


"Apa semua ibu hamil seperti itu, Mah?" tanya Arga dengan lesu.


Tante Evelyn tersenyum, "Tidak semua. Tqpi sebagian besar. Sudahlah, turuti saja yang penting ada asupan yang masuk ke dalam perut istrimu, jangan sampai nanti dia malah muntah. Karena dokter juga menganjurkan kalau ibu hamil untuk makan yang lembut-lembut, dan langsung masuk ke dalam tubuh, tidak dicerna seperti es krim," jelas tante Evelyn.


.


.


Di kantor Arga.


Arga sudah tidak sabar ingin segera mengetahui tentang hasilnya. Apakah memang benar ada sesuatu diantara Mayra dan juga keluarga itu atau tidak?


"Ke mana sih temannya Upin Ipin? Lama banget deh. Udah tau gue udah nggak sabar, pengen tahu hasilnya!" gerutu Arga sambil mengetuk-ketuk jarinya di atas meja dengan rasa tak sabar.


Setelah menunggu beberapa menit, pintu ruangannya pun terbuka, dan masuklah orang yang sejak tadi ia tunggu. Dan melihat itu Arga langsung bangkit dari duduknya dan menatap kesal ke arah Mail.


"Eh, penjual ayam panggang! Lo dari mana aja sih, lama banget? Gue udah nunggu dari tadi sampai lumutan, ya jangan sampai entar gue karatan!" geram Arga.


"Eh kodok! Enak aja lo ya kalau ngomong. Sejak kapan gue jadi penjual ayam panggang? Gue ini pengusaha kelapa sawit dan batu bara, enak aja kalau ngomong. Mau gue kasih nggak nih hasilnya? Kalau nggak, ya udah gua balik lagi!" ancam Mail yang kadung kesal, karena disebut penjual ayam panggang.


"Yaelah kembarannya Tukul Nirwana. Gitu aja ngambek. Lagian kan Mail di dalam filmnya Upin Ipin penjual ayam panggang, jadi nggak ada salahnya dong kalau gue nyebut lo kayak gitu? Udah duduk dulu di sofa!"


Mail semakin dibuat kesal saat mendengar penuturan dari Arga, apalagi dia disamakan dengan salah satu artis yang bernama Tukul Nirwana.


Jelas-jelas wajahnya 10 kali lipat lebih tampan dari artis tersebut, kemudian dia pun duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk kesal.


Sementara Arga hanya terkekeh saja, saat melihat sahabatnya yang sedang menahan kekesalan kepada dirinya.


"Udah jangan kesel-kesal begitu, jelek tau nggak sih. Mana sini hasilnya! Gue mau lihat." Arga menyodorkan tangannya.


Mail mengeluarkan sebuah amplop di balik jas kemudian dia menyerahkannya kepada Arga. "Tuh! Udah gue selidikin, dan lo bisa baca sendiri tanpa gue jelasin!" jawab Mail dengan nada sedikit ketus.

__ADS_1


Arga tidak memperdulikan nada bicara dari sahabatnya, karena mereka sudah terbiasa berdebat dan berselisih selagi itu hanya candaan saja.


Kemudian dengan perlahan Arga membuka tali dari amplop coklat tersebut, lalu dia mengeluarkan beberapa lembar kertas putih, di mana data-data dan juga hasil penyelidikan Mail.


Dia membaca dengan teliti dari hasil tersebut, dan seketika matanya membulat menatap ke arah Mail. Sedangkan pria itu hanya dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap datar ke arah Arga.


"Apa ini? Lo yakin sama hasilnya?" tanya Arga yang seakan tak percaya.


"Lo pikir, gue maemanipulasi hasil tersebut, gitu? Ya ... kalau saran gue sih, sebaiknya lo tes DNA deh Istri lo sama keluarga itu! Buat memastikan secara pasti aja, apakah memang benar atau tidak," ujar Mail.


Arga terdiam, dia benar-benar syok saat melihat dan juga mengetahui tentang kebenaran dari keluarga tante Renata.


Pria itu merasa seperti mimpi, namun dia juga bingung kenapa hal itu bisa terjadi. Sedangkan orang tua Mayra sendiri sudah meninggal.


"Tapi bagaimana mungkin bisa? Kedua orang tua istriku sudah meninggal?" ucap Arga dengan bingung.


"Kalau itu aku masih menyelidikinya. 2 hari itu tidak cukup untuk menyelidiki semuanya, dan kau harus bersabar! Apalagi kedua orang tua istrimu sudah meninggal, jadi aku harus mencari saksi yang akurat," jelas Mail.


Arga memijit pelipisnya, dia merasa pusing dengan masalahnya sekarang. Tepatnya yang Arga takutkan adalah, saat Mayra mengetahui semuanya, tentu saja istrinya akan sangat syok. Karena mengetahui sebuah kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu kau cari secepatnya! Aku tunggu."


"Jangan terlalu dipikirkan! Kalau saranku sih, sebaiknya kau rahasiakan dulu dari istrimu, karena dari yang aku selidiki adalah, mereka juga akan mencari waktu yang pas untuk mengungkapkan semuanya. Tapi saat itu terjadi, kau pastikan berada di sisi istrimu. Karena pasti dia sangat membutuhkanmu!" Mail beranjak dari duduknya sambil merapikan jas, kemudian dia keluar dari ruangan Arga.


Mendengar penjelasan dan juga saran dari sahabatnya, Arga terdiam. Karena apa yang dibilang oleh Mail memang benar.


Tapi maupun dari keluarga tante Renata ataupun dari dia sendiri yang mengungkapkan semuanya tetap saja Mayra pasti akan sangat syok. Apalagi saat ini wanita itu tengah hamil, dan dia takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dan ternyata itu panggilan dari sang istri. Sebelum mengangkat telepon tersebut, Arga menghela nafasnya dulu dengan dalam, kemudian dia menghembuskannya dengan pelan.


"Iya halo sayang, kenapa?" tanya Arga saat telepon tersambung.


"Kenapa? Mas! Kamu kapan pulang? Kan kita mau ke rumah sakit, gimana sih? Ini udah jam berapa!" Jawab Mayra di seberang telepon yang terdengar begitu kesal.


Arga melihat jam yang melingkar di tangannya dan seketika dua menepuk jidat. "Astaga sayang! Maafkan aku, tadi ada klien jadinya agak terlambat. Ya udah, aku pulang sekarang ya," ujar Arga.


Dia sampai lupa jika ada janji dengan Mayra akan ke rumah sakit untuk mengecek kandungan wanita itu, karena terlalu fokus pada hasil penyelidikan dari Mail.


Arga bangkit dari duduknya, tapi sebelum itu dia menyimpan amplop di laci kerjanya dulu. Pria itu tidak mau membawanya ke rumah, takut ketahuan oleh Mayra.


Kemudian pria tersebut melajukan mobil meninggalkan kantor menuju rumah. Selama dalam perjalanan, pikirannya terus saja menerawang ke hasil dari penyelidikan Mail.


'Ternyata dugaanku benar. Tapi bagaimana reaksinya jika nanti Mayra mengetahui semuanya? Pasti dia bukan hanya akan kaget, tapi yang aku takutkan adalah dia tidak bisa menerima kenyataan. Semoga saja Mail segera mendapatkan hasilnya, bagaimana bisa kedua orang tua Mayra membesarkannya?' batin Arga penuh harap.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2