
Happy reading...
"Tunggu!"
Semua mata memandang ke arah pintu, di mana saat ini seorang wanita tengah berdiri sambil menatap kearah Naina dan Reno bergantian.
Naina yang melihat itu pun tersenyum miring, sedangkan Reno dan juga Mayra menatap kaget ke arah wanita itu yang tak lain adalah Nabila.
"Tunggu ... tunggu! Kamu bukannya wanita yang ada di foto itu kan?" tanya Mayra yang sudah beranjak dari duduknya.
Nabila tidak menjawab ucapan Mayra, dia melewati gadis tersebut, kemudian berdiri di samping Reno lalu langsung mengapit lengan pria itu.
"Mas, aku selama ini mencintai kamu, tapi kenapa kamu tidak pernah melirik ku? Dan kamu malah memilih wanita gentong itu? Jelas-jelas di sini akulah yang lebih cantik, aku yakin kamu tidak mencintainya? Dia hanya menjadi pelampiasanmu saja kan?" tanya Nabila sambil bergelayut manja di lengan kekar Reno.
Reno yang melihat perlakuan Nabila kepadanya segera menepis kasar tangan wanita itu, kemudian dia menatap tajam ke arah Nabila.
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu? Memangnya kamu siapanya aku, hah? Kenapa kamu bisa ada di sini?!" bentak Reno.
Dia tidak mengerti kenapa Nabila bisa ada di sana, dan kenapa wanita itu bisa berbicara seperti itu kepadanya? Padahal sama sekali Reno tidak pernah dekat dengan Nabila, hanya beberapa kali bertukar sapa seputar pekerjaan saja di cafe.
"Mas, aku selama ini mencintai kamu, dan aku tidak rela kalau kamu bersanding dengan wanita gentong itu!" bujuk Nabila yang sudah tidak tahu malu.
Bu Sumarni yang melihat perlakuan Nabila kepada Reno pun menjadi bingung. "Reno, dia ini siapa?" tanya Bu Sumarni pada putranya.
"Gak tau, Mah. Dia itu karyawan aku di cafe, tapi nggak tahu kenapa dia ada di sini dan malah berkata seperti itu? Benar-benar tidak punya malu!" jawab Reno dengan nada yang sinis.
Sementara itu Naina hanya diam saja. Mayra yang melihat perlakuan Nabila pun menjadi sangat geram, tapi dia khawatir jika Naina akan salah paham. Akan tetapi Mayra merasa heran, saat melihat raut wajah Naina yang begitu tenang.
"Nai---"
__ADS_1
"I'm fine, May, gue gak apa-apa kok. Kita lihat saja pertunjukan nya!" potong Naina.
"Maaf ya, kita ini tidak saling mengenal tiba-tiba saja kamu datang ke sini dan berkata seperti itu? Memangnya kamu siapa saya? Kamu itu hanya mantan karyawan di cafe saya, dan berani kamu berbicara seperti itu di hari yang penting bagi saya!" Reno terlihat begitu marah.
"Sebaiknya kamu pergi sekarang dari sini! Jangan merusak acara penting saya, paham!" marah Reno sambil menunjuk pintu keluar.
Dia tidak habis pikir dengan Nabila, wanita itu seperti sudah kehilangan urat malunya sama sekali, tidak menghiraukan ucapan Reno.
"Mas_ sekarang kamu pilih dia atau aku?" tunjuk Nabila pada Naina.
Reno, Mayra dan semua orang yang ada di sana melongo saat mendengar ucapan Nabila, karena hal itu terlihat sangat gila.
Mendengar hal tersebut Reno malah tertawa terbahak-bahak, karena merasa orang yang ada di hadapannya ini sudah kehabisan obat.
"Hei Nona! Apa kau sudah gila atau kau baru saja keluar dari rumah sakit jiwa? Kita ini tidak saling mengenal,tiba-tiba saja kau memintaku untuk memilih antara dirimu dan juga Naina? Tentu saja aku akan memilih Naina, sebab dia adalah calon istriku! Sedangkan kau siapa? Dasar gadis tidak waras!" geram Reno.
"Jadi kamu lebih memilih dia daripada aku, Mas?" tanya Nabila kembali.
Mendengar itu, Nabila mendekat ke arah Naina dan menatapnya dengan marah, kemudian tangannya terangkat handak menuju menjambak rambut wanita tersebut. Akan tetapi segera di tepis kasar oleh Mayra.
"Benar-benar tidak tahu malu!" geram Mayra, lalu dia menarik tangan Nabila dan menyeretnya keluar, kemudian mendorong wanita itu hingga tersungkur di lantai.
"Pergi dari sini! Dasar orang gila! Jelas-jelas Reno tidak mengenalmu, tapi kau malah memintanya untuk memilih? Tidak tahu malu! Pergi sana! Apa kau sudah tidak punya malu, Hah! Mengemis cinta pada orang yang sama sekali tidak mengenalmu?" ucapkan Mayra.
"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan mereka bahagia! Karena Mas Reno hanya milikku, paham!" teriak Nabila dengan penuh amarah, kemudian dia pergi dari sana membawa kekesalan dan juga kekecewaan.
Suasana yang tadinya terlihat tegang kini sudah mencair. "Maafkan atas kejadian tadi ya, Ibu, Naina. Aku benar-benar tidak tahu wanita gila itu akan ke sini? Padahal sama sekali aku tidak mengenalnya, dia hanyalah mantan karyawan dari cafe ku," ujar Reno menjelaskan.
Kemudian pria tersebut mendekat ke arah Naina, dan menggenggam tangannya lalu menatapnya dengan dalam.
__ADS_1
"Dek, Mas mohon jangan salah paham! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak tahu kenapa wanita itu sampai nekat ke sini, dan dia berkata seperti tadi? Tolong jangan marah kepadaku!" pinta Reno dengan tatapan penuh permohonan.
Jujur di dalam hatinya dia takut sekali jika Naina akan marah dengan kehadiran Nabila tadi. Dan Naina akan salah paham, namun seketika kekhawatiran itu luntur saat melihat wajah cantik di hadapannya tengah tersenyum.
Melihat kekhawatiran di wajah Reno, Naina malah tertawa dan itu membuat semua orang yang ada di sana merasa heran.
"Naina, kenapa kamu malah ketawa? Calon suamimu itu sedang merasa resah, dia takut kalau kamu salah paham? Kamu malah ketawa?" heran Karina sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sang adik.
"Maaf ... maaf. Bukannya seperti itu, tapi sebenarnya Nabila ke sini karena atas permintaanku," ujar Naina.
"Apa!" kaget semua orang yang ada di sana secara serempak.
Naina mengangguk, "Iya, aku yang menyuruhnya ke sini, sebab kemarin dia menelponku." Lalu Naina pun menjelaskan tentang pembicaraan dia dan Nabila ditelepon beberapa hari yang lalu.
Akhirnya Semua menjadi paham kenapa Nabila ke sana dan tahu alamat rumah Naina.
"Jangan lagi-lagi ya Dek! Mas nggak suka. Lagi pula, itu wanita kurang obat apa? Kenal juga nggak, tapi main nanya-nanya aja?" Reno menggelengkan kepalanya merasa heran dengan sikap Nabila yang bisa dibilang terobsesi kepadanya.
"Sudah, sudah. Sebaiknya kita langsungkan kembali acaranya yang sempat tertunda," ujar Dewa menengahi.
Kemudian mereka pun melanjutkan kembali acara tersebut, di mana Reno memasangkan cincin kepada Naina, dan tentu saja tidak luput dari potretan Mayra lalu dia memajangnya di sosmed.
Mayra tidak sadar, jika postingannya dilihat oleh Arga. Dan pria itu hanya menghela nafasnya dengan berat.
"Tidak Arga! Kamu harus bisa ikhlas. Ingat kata Mayra, ikhlas," gumam Arga pada dirinya sendiri.
Kemudian dia mengirimkan pesan kepada Mayra.
(Mayra, aku titip ucapan selamat ya untuk Naina dan juga Reno. Aku doakan semoga mereka langgeng sampai jenjang yang lebih serius. Dan semoga saja Reno tidak pernah menyakiti Naina. Aku turut bahagia melihat semuanya berjalan lancar).
__ADS_1
BERSAMBUNG.....