Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Kabar Buruk


__ADS_3

Happy reading...


Reno tiba di sebuah Cafe, kemudian matanya menjelajah ke seluruh sudut Cafe tersebut untuk mencari seseorang. Dan dia menemukan orang yang melambaikan tangan kepadanya, kemudian Reno berjalan menghampiri pria tersebut.


"Bagaimana? Kau sudah menemukannya?" tanya Reno dengan rasa tak sabar.


"Iya Tuan, ini semua data-datanya," jawab pria tersebut sambil menyerahkan sebuah map coklat kepada Reno.


Dengan dada berdebar dan rasa tidak sabar, Reno pun segera membuka map coklat tersebut. Dan dia membacanya dengan detail. Seketika matanya membulat dengan tatapan tak percaya saat melihat dalang di balik kecelakaan yang menimpa dirinya.


"Apa kau yakin ini akurat?" tanya Reno memastikan.


*Saya yakin Tuan. Saya sudah menyelidikinya dan orang itu memang benar pelaku sebenarnya. Dan dia yang menyuruh segerombolan orang-orang untuk mencegat Anda dan melukai Anda," jawab pria itu dengan tegas.


Tangan Reno terkepal dengan kuat, rahangnya mengeras dengan tatapan yang begitu tajam. "Berani dia melukai diriku! Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengannya! Ternyata hukuman yang didapatkan belum membuatnya jera!" geram Reno dengan gigi gemelutuk.


"Ini bayaranmu. Terima kasih sudah bekerja keras. Kalau begitu aku permisi dulu." Reno pun beranjak dari duduknya tanpa menyentuh kopi sama sekali, kemudian dia pergi menuju rumah sambil membawa map tersebut.


Di dalam mobil Reno terus saja merutuki orang tersebut yang sudah berani mencelakai dirinya.


"Ternyata penjara masih belum cukup membuatmu jera. Benar-benar keterlaluan!" geram Reno.


Sesampainya di rumah, Reno langsung masuk ke dalam kamar menyimpan berkas tersebut. Kemudian dia berjalan ke arah meja makan, di mana semua orang sudah menunggu dirinya.


"Maaf ya, aku lama," ucap Reno sambil mengecup kening Naina di hadapan Bu Linda dan juga bi Arum.


"Iya, nggak apa-apa," jawab Naina. "Ayo duduk!" Kemudian dia pun menyendokan nasi dan mengambil lauk pauk ke dalam piring tersebut, lalu menyerahkannya kepada Reno.


Selama makan Naina terus aja memperhatikan wajah suaminya yang terlihat begitu tegang dan menahan kekesalan. Namun dia tidak mau bertanya saat berada di meja makan, sebab di sana ada Bu Linda.

__ADS_1


.


.


Malam ini Naina dan juga Reno tengah terbaring di kasur, dan Naina ingat jika suaminya terlihat begitu aneh saat pulang dari luar tadi siang.


"Oh ya Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Naina.


"Apa itu, sayang?" jawab Reno sambil mengusap rambut Naina dengan lembut.


"Kamu sedang kesal sama siapa sih?"


Mendengar pertanyaan sang istri Reno menatapnya dengan heran. "Maksud kamu?"


"Aku tahu kamu sedang kesal. Entah kenapa, aku merasa seperti itu. Dari wajah kamu soalnya kelihatan banget. Memangnya kamu lagi marah sama siapa? Sama aku? Kayaknya nggak mungkin deh, soalnya aku nggak buat kesalahan apapun," ujar Naina dengan tatapan bingung.


Reno yang mendengar itu pun tentu saja terkekeh, kemudian dia mengecup pipi Naina sekilas. "Bagaimana mungkin bisa aku marah kepadamu? Kamu saja memberikan aku servisan yang membuatku ketagihan terus menerus." goda Reno.


"Iya maaf, maaf. Sebenarnya tadi siang tuh aku bertemu sama orang suruhan aku yang menyelidiki tentang kecelakaan aku waktu itu," jawab Reno.


Saat Reno akan menjelaskan siapa dalam dibalik kecelakaannya, tiba-tiba saja ponsel Naina berdering dan ternyata itu dari Karina.


"Ya Allah, banyak sekali panggilan dari Kak Karina!" bingung Naina dengan wajah yang kaget.


Dia memang seharian ini belum memegang ponselnya, karena Naina cukup sibuk untuk pindahan rumahnya. Dan saat dilihat ada 30 panggilan tak terjawab dari kakaknya.


"Ada apa sayang?" tanya Reno.


"Ini Mas, aku juga tidak tahu. Kak Karina nelpon sampai 30 kali? Sepertinya ada hal yang begitu penting," jawab Naina.

__ADS_1


Kemudian dia pun menelpon balik Karina, dan tak lama telepon pun tersambung.


"Halo Assalamualaikum Kak, maaf aku baru megang ponsel nih. Seharian sibuk banget pindahan. Ada apa? Apa ada hal penting, Kakak sampai nelpon 30 kali loh?" tanya Naina dengan penasaran.


"Iya Naina, ada hal penting yang ingin Kakak sampaikan kepada kamu dan Reno. Memang dari siang Kakak menelpon kalian berdua, tapi susah dihubungi. Mungkin memang kalian sangat sibuk karena pindah rumah, kakak mau bilang kalau saat ini Bu Sumarni sedang berada di rumah sakit."


"Apa! Rumah sakit? Ibu kenapa Kak?" kaget Naina saat mendengar jika Bu Sumarni tengah dirawat di rumah sakit.


"Tadi pagi kakak nganterin bubur kacang hijau ke rumahnya, karena Kakak masak lebih. Namun di sana tidak ada orang, dan saat Kakak melihat ternyata Bu Sumarni pingsan. Akhirnya Kakak bawa saja ke rumah sakit, dan Dokter bilang kalau tensi darahnya tinggi terus asam lambungnya juga naik," jawab Karina di seberang telepon.


Naina terlihat begitu cemas, kemudian dia melirik ke arah Reno. Sedangkan pria itu penasaran siapa yang masuk rumah sakit sehingga membuat istrinya begitu sangat terkejut.


"Baiklah Kak, aku akan membicarakannya dengan Mas Reno..Mungkin kami juga akan ke Jogja," jawaba Naina, kemudian telepon pun terputus.


"Ada apa, sayang?" tanya Reno yang sudah tidak sabar ingin segera mendengar apa yang kakak iparnya sampaikan kepada sang istri.


"Ini Mas, kata Kak Karina saat ini ibu berada di rumah sakit sedang dirawat. Karena Kak Karina menemukan Ibu pingsan di kamar. Mas, sepertinya kita harus pulang ke Jogja," ujar Naina dengan raut wajah yang khawatir.


"Apa! Ibu pingsan? Terus keadaan Ibu gimana? Dia nggak papa kan?" Reno bertanya dengan raut wajah yang panik.


"Kata Kak Karina sih sekarang ibu berada di Rumah Sakit dan sedang dirawat. Tensinya juga naik, tambah asam lambung juga. Kita besok ke sana ya Mas! Aku khawatir dengan keadaan ibu," pinta Naina.


Reno menganggukkan kepalanya. Terlihat raut wajah yang begitu sedih karena orang tua yang Reno punya hanyalah ibu Sumarni seorang. Dia sudah tidak mempunyai ayah sama sekali.


"Ya sudah, sekarang kita tidur yuk! Besok kita ke Jogja. Aku khawatir dengan keadaan ibu," jawab Reno kemudian dia memeluk sang istri.


Namun pikirannya kalut. Reno tidak bisa tidur dengan tenang, dia terlalu mengkhawatirkan keadaan sang ibu. Untung saja di sana ada Karina, kakak iparnya yang menjaga Ibu Sumarni, dan tepat jam 02.00 pagi Reno baru bisa memejamkan matanya.


Perasaan anak mana yang tidak akan sedih saat mendengar ibunya sedang sakit. Apalagi di sana tidak ada saudara sama sekali, dan ibunya sebatang kara.

__ADS_1


Bukan Reno tidak mau tinggal bersama sang Ibu setelah menikah, hanya saja dia ingin menjaga perasaan Naina. Takutnya nanti ada ketidakcocokan antara istri dan juga ibunya yang malah akan membuat tali ikatan menjadi rusak.


BERSAMBUNG....


__ADS_2