Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Makan Malam


__ADS_3

Happy reading.....


"Nak, kamu kenapa?" tanya Bu Linda saat menghampiri Naina yang sedang muntah-muntah di wastafel.


Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia pun tidak tahu kenapa tiba-tiba saja perutnya terasa dikocok dan dia merasa mual.


"Entahlah Bu. Perut Naina serasa dikocok sampai nggak kuat muntah," jawab Naina dengan lemas.


Kemudian Bu Linda mengambilkan air hangat dan memberikannya pada putri tersayangnya. "Ini, diminum dulu Sayang!"


"Terima kasih, Bu."


Naina pun meminum air tersebut hingga habis setengah gelas, namun perutnya kembali mual hingga dia pun memuntahkan air yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan.


"Sepertinya kamu masuk angin, atau jangan-jangan ..." Bu Linda menggantung ucapannya. Dia memperkirakan apa yang saat ini ada dalam pikirannya.


"Jangan-jangan apa, Bu? Jangan buat Naina takut deh," ujar Naina dengan wajah yang sedikit pucat.


Bu Linda memegang tangan Naina dengan mata yang berbinar, "Nak, jangan-jangan kamu hamil!" ujar Bu Linda dengan antusias.


Naina yang mendengar itu tentu saja terdiam. Dia terpaku dan memikirkan kapan terakhir wanita itu datang bulan.


"Apakah iya, Bu? Tapi memang Nai harusnya seminggu yang lalu sudah datang bulan, tapi ini belum? Masa iya sih?" Naina seakan tidak percaya dengan ucapan ibunya.


"Coba aja kamu nanti beli tespek buat memastikannya! Kan kita tidak tahu, apakah benar kamu ngisi atau tidak? Kita hanya memastikan sesuatu tidak ada salahnya kan?" tutur Bu Linda.


Kemudian Naina memanggil Bi Arum, dan tak lama wanita tua itu pun datang. "Iya Bu, ada yang bisa bibi bantu?"


"Bi, apakah Naina boleh meminta tolong?" ucap Naina.


"Tentu saja Bu. Apa yang Ibu butuhkan?" jawab bi Arum dengan nada sopan.


"Bolehkah Naina meminta tolong Bibi, untuk Apotek membelikan tespek!" pinta Naina.


Terlihat wajah bi Arum kaget saat mendengar permintaan Naina. Kemudian dia pun mengangguk, "Tentu saja, Bu, akan Bibi belikan. Bibi juga berharap bahwa kabarnya akan bahagia," jawab bi Arum.


"Terima kasih Bi," ucap Naina.


Kemudian bi Arum pergi dari sana setelah diberikan uang oleh Naina. Dia pergi ke Apotek yang tak jauh dari Komplek ke Perumahan itu.


Saat sampai di apotek, bi Arum pun mengutarakan


keperluannya dan apa yang akan dia beli.


"Mbak, saya mau beli tespeknya ya. Yang paling bagus dan akurat," ucap bi Arum pada penjaga apotekm


Wanita yang berusia 21 tahun itu melongo saat mendengar ucapan di Arum, yang datang untuk membeli tespek. Kemudian dia menatap dari atas sampai bawah.


Bi Arum yang ditatap seperti itu pun merasa heran, kemudian dia pun berkata, "Mbak. Saya mau beli tespek, apa bisa dilayani sekarang!"


Wanita itu terkaget dari lamunannya, kemudian dia pun mengangguk, "Baik Bu, sebentar akan saya ambilkan," ucapan wanita itu sedikit gugup.


'Wanita yang sudah tua, masih bisa hamil?' batin penjaga Apotek tersebut.


"Ini Bu." Penjaga Apotek tersebut memberikan tespek kepada di Arum.


Setelah membayar bi Arum pun pulang, dan di perjalanan dia terus saja menggerutu saat melihat ekspresi dari gadis yang berusia 21 tahun itu.


"Dasar bocah zaman sekarang! Dia pikir, aku yang sedang hamil? Apa dia tidak bisa berpikir dengan logika, mana mungkin wanita setua diriku bisa hamil kembali? Umur saja sudah setengah abad." Bi Arum menggelengkan kepalanya.


Dia tahu apa yang dipikirkan oleh penjaga Apotek tersebut. Pastilah wanita itu berpikir jika dirinyalah yang hamil. Padahal jika dipikir secara logika, wanita seperti dia mana mungkin bisa hamil kembali? Sedangkan umurnya saja sudah tua kecuali memang ada keajaiban dari Allah.


"Suami aku saja sudah meninggal, dan tidak pernah bercocok tanam lagi. Gimana bisa benih tumbuh dalam rahimku?" kekeh Bi Arum yang masih lucu saat mengingat ekspresi dari penjaga Apotek tersebut.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, beliau langsung memberikan barang yang dipesan oleh Naina, kemudian gadis itu pun langsung menyimpannya di laci.


"Tidak langsung digunakan, Bu?" tanya Bi Arum pada Naina.


"Enggak deh Bi. Aku pakainya nanti pagi aja soalnya kan urine lebih bagus saat bangun tidur. Apalagi ini masih awal-awal, takutnya nanti malah kecewakan dan tidak akurat. Jadi aku nunggu besok pagi aja," jawab Naina.


.


.


Malam telah tiba.


Saat ini Mayra dan juga Arga tengah bersiap-siap untuk pergi ke kediamannya Tante Renata karena undangan makan malam.


"Jadi kalian tidak makan malam di rumah?" tanya Tante Monica.


"Enggak Mah. Soalnya nggak enak juga kan kalau nolak? Dan lagi, Mayra sudah mengatakan Iya masa kita tidak datang?" jawab Arga sambil mencium tangan sang mama.


"Ya sudah, nanti pulangnya jangan malam-malam ya! Hati-hati di jalan. Dan kamu juga Arga, bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut!" ucap tante Monica sambil menepuk pundak putranya.


"Siap Bu Bos." jawab Arga sambil mengangkat tangannya dan menempelkan di kening, membuat Mayra dan juga tante Monica terkekeh.


Setelah berpamitan kepada mamanya, Mayra dan Arga pun keluar dari rumah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman tersebut.


Selama di dalam perjalanan, Mayra merasakan hal yang aneh. Entah kenapa perasaannya menjadi gelisah, tidak menentu, hal yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


'Ada apa dengan perasaanku? Kenapa rasanya gelisah sekali? Ada apa ini Tuhan? Semoga saja tidak ada hal yang terjadi. Semoga semuanya baik-baik saja.' batin Mayra.


Kegelisahan sang istri tentu saja terlihat jelas di kedua mata Arga. Dia sudah sangat hafal dengan sifat dan juga karakter sang istri.


"Ada apa, sayang? Kamu kok kelihatannya gelisah sekali sih?" tanya Arga saat berada di lampu merah, kemudian dia menatap sang istri dengan tatapan yang begitu dalam.


Mayra menggelengkan kepalanya, "Aku juga nggak tahu. Aku merasa, perasaan gelisah yang entah, aku sendiri pun tidak bisa menjabarkannya. Tapi aku berharap semoga ini bukan firasat yang tidak baik ya, Mas," jelas Mayra.


"Kamu itu terlalu parno sayang. Tidak perlu ada yang kamu khawatirkan! Kita itu akan makan malam, bukannya akan berperang?" Arga mencoba untuk menenangkan perasaan Mayra.


Wanita itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Tapi tetap saja, Mayra merasa perasaannya tidak baik.


Namun ia tidak ingin menambah pikiran Arga, dan berusaha untuk membuang perasaan itu hingga mobil sudah sampai di kediaman tante Renata.


Mayra dan Arga pun memencet bel, dan tak lama pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Karena tante Renata bersama sang suami sudah menunggunya di dalam.


"Assalamualaikum Tante, Om," ucap Mayra sambil mencium tangan tante Renata dan juga Pak Gunawan bergantian.


"Selamat malam Mayra, Arga. Selamat datang di kediaman kami ya. Ayo duduk!" ajak Pak Gunawan. "Bi, tolong bikinkan minuman ya!" tintahnya pada pelayan.


"Baik Tuan besar," jawab pelayan tersebut.


Mayra melihat rumah itu sangat megah, dekorasinya yang mewah dan juga sangat unik. Ada perpaduan antara Eropa dan juga Jawa, desain rumah yang tidak pernah dia temukan di manapun.


"Wah! Rumah Tante unik sekali ya. Ada perpaduan Eropa dan juga Jawa. Kalau boleh tahu, kenapa bisa didesain seperti ini, Tante?" tanya Mayra sambil melihat seisi ruangan tersebut.


"Iya, kebetulan orang tua Tante ini kan asli Eropa, sedangkan suami tante asli Jawa. Karena orang tua tante sangat suka dengan desain Eropa, jadilah begini," jawab Tante Renata sambil tersenyum.


Mailyra dan Arga menganggukan kepalanya berbarengan, lalu tak lama seorang pria bersama dengan wanita dan anak kecil datang ke ruang tamu.


Pria tersebut terpana saat melihat Mayra. Jantungnya berdetak dengan kencang, karena dia begitu sangat merindukan wanita yang digadang-gadang sebagai adiknya yang hilang belasan tahun.


Arga menatap ke arah pria yang berdiri tak jauh darinya, namun tatapan pria itu mengarah ke arah Mayra dan itu membuat Arga tak suka.


'Ngapain sih tuh orang ngelihatin istri gue mulu? Mau gue colok apa pakai besi panas tuh mata! Nyari gara-gara dia. Belum tahu siapa gue!' batin Arga yang merasa geram.


"Sahrul. Kenapa kamu diam saja di situ? Sini!" ajak tante Renata pada putranya.

__ADS_1


"Oh ya Mayra, kenalin ini anak pertama tante, namanya Sahrul. Dan ini istrinya bernama Veronica , atau biasa disebut Vera, dan ini putrinya namanya Laila."


Mayra menjabat tangan Sahrul, kemudian memperkenalkan dirinya, "Mayra." Namun Sahrul diam saja sambil menatap lekat ke arah wanita itu.


Dan hal tersebut membuat Arga semakin tak suka, kemudian dia melepaskan paksa tangan Sahrul yang terus menggenggam tangan istrinya.


"Saya Arga, suaminya Mayra!" ucap Arga dengan nada tak suka. Namun tatapannya tajam ke arah pria tersebut.


"Maaf, saya Sahrul. Putra pertama dari Tante Renata." Sahrul memperkenalkan dirinya. "Dan ini istri saya, beserta anak saya."


Veronica juga menjabat tangan Mayra dan juga Arga. Kemudian mereka pun duduk bersama-sama, dan tak lama pelayan datang membawakan minuman.


'Sudah punya istri saja masih berani melirik cewek lain di hadapan istrinya? Benar-benar suami mata keranjang bakul sayur. Apa dia tidak takut, kalau nanti malam tidak dikasih jatah sama istrinya?' batin Arga sambil menggelengkan kepalanya dengan kecil, saat melihat tingkah Sahrul yang sedari tadi terus memperhatikan Mayra.


Jujur saja ia merasa tak nyaman, karena sang istri diperhatikan begitu dalam oleh pria lain.


'Benar-benar membuatku marah!' batin Arga sambil mengepalkan tangannya. Mayra yang bisa melihat kekesalan sang suami segera menggenggam tangan Arga, kemudian dia tersenyum.


"Baiklah, kalau gitu kita ke meja makan sekarang yuk! Sebelum semakin malam," ujar tante Renata setelah Arga dan juga Mayra meminum minuman yang dibawakan pelayan.


"Rasanya ingin ku tonjok pria itu! Berani-beraninya dia melirik kamu. Padahal di sana ada istrinya? Apa tidak takut kalau nanti malam tidak dikasih jatah?" bisik Arga saat mereka berjalan ke arah meja makan.


Mayra merasa lucu saat melihat sang suami sedang cemburu.


"Sudahlah sayang. Tidak enak kalau didengar. Aku juga merasa tak nyaman sih, tapi mau gimana lagi? Selagi dia tidak berbuat macam-macam. Sudahlah!" Mayra mencoba untuk menenangkan perasaan suaminya.


Sejujurnya saat Mayra menjabat tangan Sahrul, dia merasakan sesuatu yang aneh entah sulit untuk dijelaskan.


'Kenapa aku merasa, seperti sudah dekat lama ya sama anak pertama dari Tante Renata? Perasaan apa ini, Tuhan? Kenapa Rasanya begitu membuatku kebingungan?' batin Mayra.


Tak ada pembicaraan yang spesial saat berada di meja makan, hingga setelah makan malam selesai mereka kembali ke ruang tamu untuk berbincang.


Sementara sedari tadi Sahrul terus aja memperhatikan Mayra. 'Aku senang melihatmu sudah besar, Dek, dan kamu memang sangat mirip dengan Mama. Aku berharap kamu memang benar-benar adik ku. Bagaimana cara membuktikannya secara langsung?' batin Sahrul memikirkan cara agar tebakannya bersama dengan orang tuanya benar, jika Mayra adalah bagian dari keluarga mereka.


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam. Arga dan juga Mayra pun memutuskan untuk pulang, namun saat mereka berada di pintu utama, tante Renata lagi-lagi menghentikan langkah Mayra.


"Mayra. Apakah kamu yakin, jika orang tuamu yang sudah meninggal itu adalah orang tua kandungmu?" tanya Tante Renata.


Mayra mengerutkan keningnya, merasa heran dengan pertanyaan dari wanita tersebut. "Maksud Tante, apa?" bingung Mayra.


Begitu pula dengan Arga, dia juga merasa heran dengan pertanyaan dari wanita itu yang menanyakan perihal kedua orang tua Mayra yang sudah meninggal.


Arga merasa jika pertanyaan dari Tante Renata mengandung sesuatu yang begitu ambigu.


'Apa maksudnya dari pertanyaan tante Renata? Kenapa dia bertanya seperti itu?' batin Arga.


Sementara Pak Gunawan yang melihat dan juga mendengar istrinya berkata seperti itu kepada Mayra, segera memberikan kode menggenggam tangan sang istri.


Dia merasa itu bukan waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya. Namun tante Renata sudah tidak sabar lagi, dia ingin mengatakan semuanya kepada Mayra.


"Tante maaf, maksud pertanyaan Tante tadi apa ya?" Mayra mengulang pertanyaannya kembali, karena dia masih penasaran.


"Tidak usah didengarkan ucapan dari istri saya, Nak! Mungkin istri saya terlampau rindu kepada putri kami yang sudah lama menghilang," ujar Pak Gunawan.


"Pah! Kenapa kita tidak bilang yang sebenarnya saja sih?" Timpal tante Renata yang sudah tidak bisa lagi menahan rasa rindu di dalam hatinya.


Arga dan juga Mayra dibuat kebingungan, hingga mereka melirik satu sama lain.


"Maaf Tante, maksudnya mengatakan yang sebenarnya apa?" tanya Arga sambil melihat kedua orang yang berada di hadapannya dengan tatapan menyipit.


"Sebenarnya ...." Tante Renata menggantung ucapannya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2