Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Tunggu Nak!


__ADS_3

Happy reading....


pagi telah tiba


Saat ini Naina dan juga Reno sudah bersiap-siap akan pergi ke Jogja untuk menengok keadaan ibu Sumarni, mereka juga sudah izin kepada Bu Linda lewat telepon.


Selama di dalam perjalanan Reno terus aja dirundung rasa sedih dan juga khawatir tentang keadaan sang Ibu. Untungnya ada Naina yang selalu menguatkan dirinya, bahwa semua akan baik-baik saja.


Hingga setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka pun sampai di Jogja. Dan tanpa istirahat Reno langsung menuju rumah sakit di mana sang Ibu dirawat.


"Assalamualaikum," ucap Reno saat sudah sampai di sana.


"Waalaikumsalam," jawab Dewa yang saat ini tengah menjaga Ibu Sumarni bersama dengan Karina, tapi wanita itu sudah tertidur karena kelelahan.


Naina mencium tangan kakak iparnya, begitupun dengan Reno. Kemudian dia berjalan ke arah ranjang rumah sakit di mana saat ini sang Ibu tengah tertidur lelap dengan selang infus di tangannya.


Air mata Reno menetes saat melihat kondisi ibunya. Jujur saja dia merasa sedih, karena sebagai seorang anak tidak ada di saat Ibunya membutuhkan.


"Maafkan Reno, Bu. Reno meninggalkan ibu. Ibu pasti sangat kesepian? Maafkan Reno yang durhaka," ucapan Reno sambil menangis dan mencium tangan ibunya.


Dia merasakan sebuah tangan tengah mengusap kepalanya, dan saat Reno menengadahkan wajahnya dia melihat sang Ibu sudah terjaga dan menatap dirinya.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu, Nak! Ibu kemarin hanya kelelahan saja, tidak perlu khawatir sebentar lagi juga ibu akan pulang. Lagi pula, ada Nak dewa dan juga Nak Karina yang menjaga ibu," jawab Bu Sumarni dengan senyuman khasnya.


Naina mendekat ke arah Ibu mertuanya, kemudian dia mencium tangannya, "Maafkan kami ya Bu, jika kami tidak ada di saat Ibu membutuhkan. Maafkan kami, karena kami terlambat datang dan terlambat mengetahui keadaan ibu," ujar Nqina.


Bu Sumarni menggenggam tangan Naina, kemudian mengusapnya dengan lembut. "Jangan pernah menyalahkan diri kalian! Ibu seperti ini kan juga karena kehendak Allah. Jadi jangan pernah menyalahkan. Untung saja ada Nak Karina yang datang. Tidak usah khawatir Ibu tidak apa-apa kok," jelas bu Marni.


.


.


Tiga hari Bu Sumarni dirawat di ke rumah sakit dan saat ini beliau sudah diizinkan untuk pulang, karena keadaannya juga sudah mendingan.

__ADS_1


Reno dengan telaten membantu Ibunya dan mendorong kursi roda tersebut, padahal Bu Sumarni bisa jalan tapi Reno terlalu mengkhawatirkan keadaan sang ibu.


Sedangkan Naina bisa melihat bagaimana kasih sayang seorang anak kepada ibunya. Dia benar-benar beruntung memiliki Reno, karena pria itu bisa memuliakan ibunya juga memuliakan istrinya.


Setelah sampai di rumah, Bu Sumarni langsung beristirahat. Sementara itu Naina memasak untuk makan siang dibantu oleh Karina.


.


.


Beberapa hari sudah mereka berada di Jogja menemani Ibu Sumarni, namun Reno harus kembali ke Jakarta di mana rumahnya sudah ia tempati bersama dengan Naina.


"Ibu ikut aja yuk tinggal bersama kami!" ajak Reno.


Bu Sumarni menggeleng pelan, "Tidak Nak! Lagi pula, di sini banyak kenangan tentang ayah kamu. Ibu tidak bisa meninggalkannya. Kalian pergi saja! Nanti kan bisa sering-sering main ke Jogja. Lagi pula masih bisa dicapai dengan mobil kan?" jawab Bu Sumarni sambil tersenyum ke arah Putra dan juga menantunya.


"Tapi Bu--"


Memang setelah kejadian itu Reno mengusulkan agar Karina dan Dewa tinggal di rumah Bu Sumarni untuk menemani ibunya, dan kedua orang itu pun mau.


Getapi Dewa tetap menyewa, walaupun tinggal serumah. Karena dia merasa tak enak jika tinggal secara gratisan, padahal Bu Sumarni sudah melarang Dewa untuk membayar kontrakan.


"Ya sudah, kalau begitu Reno pamit pulang dulu ya Bu. Ibu hati-hati! Kak Karina, aku minta tolong jaga ibu ya ! Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk mengabari kami," ucap Reno pada Karina.


"Tenang saja. Kalian tidak usah khawatir! Aku akan menjaga Bu Sumarni kok. Kalau ada apa-apa pasti aku langsung kabarin kalian," jawab Karina kemudian dia memeluk sang adik.


Setelah berpamitan Reno pun pergi dari rumah tersebut dengan berat hati, walaupun sekarang di hatinya sudah ada kelegaan karena sang Ibu tidak tinggal sendiri.


.


.


Naina sedang berada di sebuah cafe untuk menunggu seseorang, tak lama orang yang ditunggu pun datang.

__ADS_1


"Hei! Sorry gue lama ya. Lo pasti lumutan nungguin gue?" kekeh seseorang yang ternyata adalah Mayra.


"Bukan lumutan lagi, tapi karatan. Lama banget sih pengantin baru? Mentang-mentang baru pulang honeymoon," ledek Naina sambil mencebikkan bibirnya.


Mayra menyenggol bahu wanita itu sambil tersenyum, menampilkan deretan giginya. "Yaelah, kayak lo nggak pernah honeymoon aja?"


Kemudian Mayra memberikan satu paper bag kepada Naina, " Ini oleh-oleh buat lo khas kota Filipina," ujar Mayra.


Naina yang melihat itu pun tentu saja sangat senang. Dia menerimanya dengan antusias. "Wah! Thank you. Lo emang best friend gue," tutur Naina dengan senyum sumringah.


"Yaelah ... dikasih hadiah aja baru nyengir. Tadi wajahnya ditekuk 7 lipatan?" Mayra menggelengkan kepalanya dengan tatapan meledek ke arah sahabatnya tersebut.


Memang saat ini Mayra baru saja pulang honeymoon bersama dengan Arga dari Filipina, dan mereka baru saja menghabiskan waktu sebagai pengantin baru.


Tak lama pesanan makanan pun datang.


"Oh iya, kemarin lo bilang ibu mertua lo sakit? Sekarang gimana keadaannya?" tanya Mayra.


Naina memang sempat cerita jika mertuanya masuk rumah sakit. Dia memang tak pernah menyembunyikan apapun dari Mayra, karena mereka sudah seperti adik dan kakak. Jika ada apa-apa selalu bercerita satu sama lain.


"Alhamdulillah, keadaan ibu sudah jauh lebih baik. Lagian di sana juga sekarang udah ada kak Karina sama Kak Dewa yang menemani. Jadi kami tidak terlalu cemas," jawab Naina sambil meminum jusnya.


Mereka pun mengobrol seputar bulan madu dan juga pengalaman Mayra selama di Filipina, dan Naina yang mendengarnya tentu saja sangat antusias. Dia juga ingin sekali ke sana, apalagi di Filipina ada beberapa aktor kesayangan Naina.


"Gue ke toilet bentar ya, kebelet banget nih," ujar Mayra, kemudian dia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju toilet.


Setelah selesai dengan hajatnya, Mayra keluar dan lagi-lagi dia berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang pernah ditabraknya di bandara. Namun Mayra tidak mengenali, tapi Ibu itu sangat mengenali wajah Mayra.


Wanita tersebut melewati ibu itu begitu saja, namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja ada orang yang memanggil dirinya.


"Tunggu dulu, Nak!" panggil ibu tersebut.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2