
Happy reading....
Saat Naina dan juga Reno turun ke lantai bawah, Mereka melihat di sana ada Ivan, bu Santi dan juga bayi yang ada dalam gendongan pria tersebut.
Naina menatap ke arah Reno, dan pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka berjalan mendekat ke ruang tamu, lalu mencium tangan Bu Santi.
"Sudah lama menunggu ya, Bu?" tanya Naina pada Bu Santi.
"Tidak. Baru beberapa menit saja. Oh ya, Ini Ibu bawa sesuatu buat anak kamu. Selamat ya! Maaf Ibu kemarin tidak bisa datang, soalnya rada sibuk sebab mengurus Smbun." Bu Santi menyerahkan kado yang berada di tangannya kepada Naina.
"Terima kasih ya Bu, repot-repot, yuk duduk dulu!"
Kemudian mereka pun duduk bersama di sofa. Naina melihat ke arah bayi yang ada di pangkuan Ivan, dia merasa heran sebab pria itu masih menggendong bayi tersebut, lalu Naina ingat jika waktu itu Ivan mengatakan kalau dia akan melakukan tes DNA pada bayi itu.
"Oh iya, Kak Ivan. Bukankah waktu itu kakak mengatakan akan melakukan tes DNA? Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Nainq dengan wajah yang penasaran.
"Hasilnya memang benar, bahwa bayi ini bukanlah putriku. Tapi aku tidak peduli, mau Embun putriku atau tidak, aku sudah menyayangimu seperti darah dagingku," jawab Ivan sambil mengecup kening bayi tersebut.
Mendengar itu Reno menatap ke arah sang istri, sebab ia tidak mengingat tentang hal itu. Namun saat mendengar cengkrama dari kedua orang tersebut, akhirnya Reno sudah bisa ngambil kesimpulan apa yang terjadi kepada kehidupan Ivan.
"Berarti Kakak tidak jadi menceraikan Mbak Rere?" tanya Naina kembali
"Tidak. Aku ingat dengan kata-kata kamu waktu itu. Jujur saja, kata-katamu membuat pintu hatiku terbuka Nai. Kamu benar, semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan. Semua manusia itu pernah membuat kesalahan, dan aku pun tak luput dari hal tersebut. Jadi aku merasa tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua kepada Rere."
Mendengar penjelasan dari pria itu, Naina sangat bersyukur, karena Ivan mau memberikan kesempatan kedua kepada Rere. Dan yang lebih membuatnya senang adalah, jika kata-katanya mampu memotivasi pria tersebut.
Setelah bertamu lumayan lama, Ivan dan juga Bu Santi memutuskan untuk pulang, sebab hari juga sudah mulai sore. Tidak enak jika berlama-lama bertamu di rumah Naina. Ivan takut jika nanti Reno merasa tak nyaman dengannya.
Selepas menidurkan Davin di kamar, Naina saat ini tengah berbaring di samping putranya, tiba-tiba Reno datang lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang, memangnya kemarin kamu memberikan petuah apa pada Rere dan juga Ivan? Sampai kedua orang itu tobat?" tanya Reno.
__ADS_1
"Tidak memberikan yang gimana-gimana sih, Mas. Aku cuma memberi masukan aja, bahwa setiap manusia itu punya kekurangan. Ya aku bersyukur sih, sebab mereka berdua mau memperbaiki diri."
.
.
Acara yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, di mana saat ini semua orang sudah berkumpul, karena acara yang di gelar oleh para orang tua pun sedang di langsungkan.
Di sana banyak tamu yang datang, termasuk rekan bisnis dari Reno dan juga Arga, beserta keluarga dari Mayra.
Terlihat semua orang memberikan selamat atas kelahiran 3 twins boys tersebut. Setelah jam menunjukkan pukul 22.00 malam, Naina memutuskan untuk pulang karena dia juga sudah lelah.
Malam ini Ibu Linda menginap di rumah putrinya, beserta dengan Bu Sumarni, karena mereka akan bergantian menjaga Davin.
Reno melihat istrinya terlelap begitu pulas. Dia kasihan, sebab setiap malam Naina harus bangun untuk menyusui Putra mereka. Reno tak menyangka jika perjuangan seorang ibu yang telah melahirkan itu sangat berat. Dia jadi teringat dengan ibunya, sewaktu dirinya masih kecil pasti sangat susah seperti Naina.
'Entah kenapa, aku merasa heran? Laki-laki di luar sana banyak yang menyelingkuhi istrinya. Padahal mereka sudah berjuang dari hamil sampai melahirkan? Setidaknya untuk menghargai perjuangan istrinya.' batin Reno yang mengingat jika di luaran sana banyak laki-laki yang berselingkuh.
.
.
5 tahun telah berlalu, saat ini Davin sudah sangat besar. Dia juga sudah masuk sekolah PAUD, dan tahun depan akan masuk TK.
Saat ini Naina sedang berada di sekolah, mengantar Davin, dan di sana juga ada Mayra beserta dengan Karina. Sebab Putra mereka juga menimba ilmu di sekolah yang sama.
"Tumben nggak diantar kak Arga, May?" tanya Naina kepada sahabatnya.
"Mas Arga lagi ada kerjaan di luar kota untuk beberapa hari, jadi aku terpaksa deh kemana-mana harus sendiri. Lagi pula sudah ada sopir kan," jawab Mayra sambil duduk di kantin.
"Oh iya, satu minggu lagi kan acara ulang tahun putra kita. Gimana kalau kita adain acaranya bersama-sama? Kan biar rame," usul Karina.
__ADS_1
Mendengar itu Naina dan juga Mayra melirik satu sama lain. "Boleh Kak, kita adain acaranya nanti di restoran aja. Sekalian undang beberapa teman dari sekolahnya anak-anak kita juga, gimana?" timpal Naina.
Mayra dan juga Karina mengangguk, mereka akan membicarakannya dengan para suami. Dan setelah Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi bel tanda sekolah pun berbunyi, ketiga anak wanita itu pun keluar bersama-sama.
"Mah, tadi Gibran minjem pensilnya Davin, tapi malah dipatahin," adu Davin pada sang mama.
"Hei, aku tidak mematahkan ya. Tadi itu jatuh dan tidak sengaja diinjak sama yang lain, jadinya patah deh. Jangan menyalahkan aku dong!" Timpal Gibran tidak terima.
"Kan memang benar, Rehan juga melihatnya kok?"
"Sudah. Sudah. Nanti Mama belikan yang baru ya," ucapin Naina menengahi perdebatan 3 Bocil tersebut.
"Gibran, kamu minta maaf sama Davin ya," ucap Mayra kepada putranya.
"Tapi Bunda ...."
"Gibran, tidak baik sudah bersalah tapi tidak mau meminta maaf. Lagi pula, Davin kan juga sahabat kamu. Kalian ini tiga sahabat, tidak boleh bertengkar. Perselisihan itu boleh, tapi jangan sampai berlarut-larut." Mayra memberi pengertian kepada putranya.
Akhirnya Gibran pun mengangguk, lalu meminta maaf kepada Davin dan mengulurkan tangannya, kemudian disambut baik oleh Davin lalu mereka berpelukan.
"Bunda, satu minggu lagi kan ulang tahun aku. Aku maunya yang tema spider-man ya!" pinta Gibran kepada Mayra.
"Mah, kalau aku maunya Ultraman!" pinta Rehan kepada Karina.
"Kalau aku, maunya Batman!" pinta Davin kepada Naina.
Ketiga wanita itu pun saling melirik satu sama lain, saat mendengar permintaan dari putra-putra mereka,lalu terkekeh kecil.
"Baiklah, permintaan kalian akan kami kabulkan. Tapi sekarang kita pulang dulu yuk! Sekalian mampir ke restoran untuk makan siang," ucap Karina kepada ketiga anak kecil itu, lalu mereka pun pulang menaiki mobil masing-masing menuju restoran.
BERSAMBUNG......
__ADS_1