Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Ngidam


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah sampai rumah, Mayra langsung menyimpan semua es krimnya di freezer. Kemudian mereka berjalan ke arah kamar, dan sesampainya di dalam Arga langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sebab ia sangat mengantuk.


Mayra menatap ke arah suaminya, dan dia merasa kasihan karena harus mengganggu tidur pria tersebut.


Namun Mayra pun tidak tahu kenapa ia sangat menginginkan es krim di pagi buta seperti itu, padahal biasanya Mayra tidak pernah bersikap demikian.


'Sebenarnya aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri, kenapa ya tiba-tiba saja aku menginginkan es krim di pagi hari? Bahkan matahari saja belum muncul, masih tertidur,' batin Mayra sambil menggelengkan kepalanya.


.


.


Pagi hari wanita itu bangun, dan dia merasa perutnya seperti dikocok-kocok. Kemudian Mayra langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Arga yang mendengar Mayra muntah-muntah seketika bangun, kemudian dia berjalan ke kamar mandi sambil mengucek matanya yang masih mengantuk, karena jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sedangkan ia semalam tidur jam 04.00 dini hari.


"Kamu kenapa, sayang? Tiba-tiba kok muntah-muntah?" tanya Arga dengan suara khas orang bangun tidur.


Satu tangannya memijat tengkuk Mayra, karena dia sangat khawatir saat melihat istrinya seperti itu.


"Tidak tahu Mas, perutku seperti dikocok-kocok, kayak lagunya Inul barista aja," jawab Mayra setelah mencuci mulutnya di wastafel.


"Ya sudah, kita kembali ke kamar. Aku akan minta Bibi untuk buatkan wedang jahe untuk kamu," ujar Arga.


Mayra mengangguk, kemudian dia duduk di ranjang. Sementara itu Arga mengambil ponselnya, lalu menelpon pelayan di lantai bawah untuk membuatkan wedang Jahe buat istrinya.


Namun lagi-lagi perut Mayra kembali dikocok, kemudian dia berlari ke kamar mandi dan kembali muntah.


"Sayang, kamu kenapa sih? Apa kamu salah makan?" tanya Arga dengan nada yang cemas.


"Aku tidak tahu, Mas, tiba-tiba saja aku ingin muntah-muntah. Perutku mual sekali," jawab Mayra dengan lemas kemudian tubuhnya limbung.


Untung saja Arga segera menangkapnya, kemudian di menggendong tubuh Mayra ke atas ranjang. "Aku akan telepon dokter dulu kemari, atau kita ke rumah sakit aja ya?" Arga menatap sang istri dengan khawatir.


"Tidak Mas. Aku tidak papa," jawab Mayra namun wajahnya terlihat pucat.


Kemudian Arga mengambil ponselnya kembali lalu menelpon dokter dari keluarganya untuk datang ke rumah, sebab Arga sangat khawatir dengan keadaan sang istri.


"Kamu yang kuat ya, sebentar lagi dokter akan datang," ujar Arga sambil mengecup kening Mayra. Dan tak lama pintu kamarnya terketuk, dan masuklah seorang pelayan yang membawakan wedang jahe untuk Mayra.


Dengan perlahan Arga membantu istrinya untuk duduk dan bersandar di ranjang, kemudian dia menyuapi wedang jahe itu dengan sendok.


"Jangan ditiup Mas! Kamu bau jigong, belum gosok gigi," ucap Mayra saat melihat Arga meniup wedang jahe tersebut saat akan menyuapinya.


"What! Sayang, walaupun aku belum gosok gigi tapi wangi. Kamu mau menciumnya," jawab Arga yang tidak terima karena dirinya disebut bau jigong.

__ADS_1


Mayra langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, kemudian dia menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah kamar mandi.


"Pergi ke kamar mandi, gosok gigi dulu! Aku nggak mau ya, kamu itu bau jigong. Sana!" Mayra mendorong tubuh Arga agar pria itu pergi untuk menggosok giginya.


"Tapi sayang---"


"Kalau kamu nggak mau gosok gigi, aku nggak mau dekat-dekat sama kamu!" ancam Mayra dengan wajah ketus.


Arga yang mendengar itu pun akhirnya menyerah, kemudian dia berjalan dengan gontai masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok giginya.


'Benar-benar aneh.' batin Arga sambil memutar bola matanya.


Sebab tidak biasanya Mayra seperti itu, karena setiap pagi walaupun dirinya mencium bibir Mayra sebelum gosok gigi pun, wanita itu tidak pernah protes. Bahkan Mayra mengatakan jika mulutnya wangi, tapi entah kenapa pagi ini terasa aneh.


"Kayaknya bener deh, istriku ini kesambet. Atau aku panggil Ustad aja ya ke rumah?" gumam Arga berfikir jika Mayra saat ini tengah ketempelan.


Tak lama dokter pun datang, dan saat masuk melihat Mayra sedang disuapi wedang jahe oleh Arga. Kemudian pria tersebut langsung menyingkir membiarkan sang dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.


"Arga, ada apa ini? Kenapa dokter datang? Apa Mayra sakit?" tanya Tante Evelyn yang sangat khawatir saat melihat dokter tengah memeriksa keadaan Mayra.


"Aku juga tidak tahu, Ma. Tapi dari pagi Mayra muntah-muntah terus, wajahnya juga sangat pucat. Aku khawatir kalau dia sakit, pasalnya tadi pagi jam 02.00 dia meminta aku untuk membelikan es krim. Dan kami muter-muter sampai jam 03.00 pagi untuk mencari es krim Mah," jelas Arga.


"Apa! Es krim di pagi buta?" kaget tante Evelyn.


Arga langsung menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun berbisik, "Mah, aku merasa Mayra sedikit aneh. Dia bahkan mengatakan jika aku bau jigong. Padahal setiap hari aku cium bibirnya saja tidak pernah protes, entah kenapa dari semalam dia terasa begitu sangat aneh? Atau jangan-jangan ... istriku kerasukan ya, Mah? Kita panggil Ustad aja yuk!"


"Kenapa Mama mukul aku?" protes Arga.


"Ya habisnya kamu. Orang istri lagi sakit, disangka kesurupan?" Tante Evelyn menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan cara pikir putranya.


Setelah dokter memeriksa keadaan Mayra, kemudian Arga pun bertanya, "Bagaimana keadaan istri saya? Dia sakit apa, Dok?"


"Dari dugaan saya, kalau Nona Mayra sedang mengandung. Tapi untuk lebih tepatnya, sebaiknya pergi ke rumah sakit. Karena di sana akan lebih jelas dan juga akurat. Tapi sebelum itu untuk memastikan beleh dicek pakai tespek dulu," jelas dokter tersebut.


"Apa! Hamil!" kaget Arga dan juga tante Evelyn bersamaan, kemudian mereka saling melirik satu sama lain lalu berpelukan dengan senang.


"Dokter serius kan, menantu saya sedang hamil?" tanya Tante Evelyn dengan raut wajah yang berbinar bahagia.


"Itu hanya perkiraan saya saja, untuk lebih tepatnya ini saya berikan tespek dan nanti di pakai ya. Saya juga sudah memberikan beberapa vitamin, nanti diminum," ujar dokter tersebut.


Arga berjalan ke arah istrinya, kemudian dia langsung memeluk tubuh Mayra. Begitupun dengan Mayra, dia juga sangat senang saat mendengar jawaban dari sang dokter.


"Iya dmDok, terima kasih ya," ucap tante Evelyn.


Kemudian dokter pun pergi dari sana, sementara itu Mayra dibantu oleh Arga menuju kamar mandi karena mereka akan mengecek pakai tespek.


.

__ADS_1


.


Sementara di kediamannya Naina, wanita itu saat ini tengah memakan brownies coklat yang dibuat oleh Karina tadi pagi.


Karena pagi-pagi sekali jam 06.00, Naina sudah menggedor pintu kamar Karina, dia ingin meminta kakaknya untuk membuatkan brownies coklat kesukaannya.


Karina yang tahu jika sang Adik sedang mengidam, menuruti keinginan Naina. "Dihabiskan ya browniesnya! Kalau tidak, nanti kakak marah loh," ucap Karina saat berada di meja makan.


Reno turun dan menuju ke ruang makan, dan dia melihat sang istri tengah memakan brownies dengan lahap. Pria itu pun masih menggunakan kolor dan juga baju oblong berwarna putih.


"Ya ampun sayang! Kamu pagi-pagi kok makannya brownies sih? Makan itu nasi. Ingat! Saat ini di dalam perut kamu sedang ada anak kita, jadi kamu harus makan yang sehat-sehat," ujar Reno sambil duduk di samping sang istri.


Karina yang mendengar penuturan dari adik iparnya tersebut pun menjadi sewot. "Oh! Jadi maksud kamu, brownies buatan Kakak itu tidak sehat dan membahayakan kandungannya Naina? iya!" marah Karina.


Reno yang melihat kemarahan sang kakak ipar menjadi gelagapan, "Tidak Kak! Bukan seperti itu. Jadi ini yang buat Kakak?" Reno pun menjadi salah tingkah.


Namun Karina malah melengos, membuang wajah ke arah lain. Sebab ia merasa kesal dengan ucapan adik iparnya yang mengatakan jika brownies itu tidak sehat, padahal Karina membuatnya dengan sangat higienis.


"Kamu jangan kayak gitu kalau bicara Mas! Ini buatannya Kak Karina. Tuh liat, ibu hamil marah kan? Kamu sih!" Naina malah memprovokasi keadaan, dan itu semakin membuat Karina marah kepada Reno.


"Iya, bukannya kayak gitu Sayang, tadi---"


"Sudahlah, percuma juga. Pria mana tahu susahnya menjadi wanita hamil itu seperti apa? Kami harus ngidam ini dan itu, apalagi kalau muntah-muntah, kalian pikir menjadi wanita hamil itu enak? Bahkan kami tidak bisa tidur, apalagi saat melahirkan nanti. Kalian pikir nggak sakitnya kayak itu kayak apa?" Karina berkata dengan nada yang ketus.


Sementara Reno hanya memejamkan matanya sambil menghela nafas. Dia mencoba untuk berdamai dengan keadaan, di mana ada dua wanita hamil di dekatnya.


'Ternyata benar ya, kalau perasaan ibu hamil itu sangat sensitif. Tidak bisa disenggol sedikit langsung mencak-mencak.' batin Reno.


Bu Linda dan juga Bu Sumarni baru saja masuk ke dalam ruang makan, dan mereka melihat suasana di sana tidak kondusif.


"Ada apa ini? Kenapa Karina terlihat kesal sekali?" tanya Bu Linda sambil menatap ke arah Putri pertamanya.


"Gimana aku nggak kesal Bu. Tuh si Reno, datang-datang bilang kalau brownies buatan aku tuh nggak higienis dan malah akan mencelakakan anak dalam kandungan Naina." Karina berkata dengan tatapan tajam ke arah Reno, sedangkan pria itu hanya menggaruk belakang lehernya saja yang tidak gatal.


"Tidak Bu. Bukan seperti itu. Kak Karina salah paham!" Reno mencoba untuk membela dirinya sendiri.


Bu Sumarni melihat ketidakberdayaan putranya, kemudian dia berjalan ke arah Reno lalu memegang bahunya. "Sabar ya. Memang perasaan ibu hamil itu sangat sensitif, jadi kamu sebagai seorang laki-laki harus mengerti. Menjadi ibu hamil itu tidak bisa jika perasaannya disenggol sedikit saja, jadi kamu harus banyak sabar," jelas bu Sumarni.


Reno mengangguk, kemudian dia berjalan ke kamar kembali untuk membersihkan diri, sebab sebentar lagi dia akan bekerja.


Sementara Dewa yang baru saja sampai di meja makan mendengar perdebatan antara Karina dan juga adik iparnya, dan itu membuat Dewa tersenyum simpulm


Dia memang sudah biasa menghadapi ke sensitifan sang istri, tapi bagi Dewa itu adalah keistimewaan di mana hanya terjadi dalam satu tahun sekali.


Pria tersebut menikmati setiap keluh kesah Karina, bahkan setiap permintaan yang tak lazim dari istrinya. Dan ernah malam-malam Karina meminta dibelikan rujak bebeuk, padahal mana ada yang jualan di tengah malam seperti itu. Namun Dewa tetap mencarinya hingga subuh, dan baru menemukan pedagang.


'Sepertinya aku akan menemukan teman yang bisa membagi penderitaan menghadapi ibu hamil.' batin Dewa sambil terkekeh di dalam hatinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2