Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Maaf Aku Tak Bisa


__ADS_3

Happy reading....


Mendengar jawaban dari Arga, membuat Reno tersenyum sinis dan menetap ke arahnya. Kemudian dia berjalan ke arah Arga dan berjarak beberapa senti saja dari pria itu.


Tatapannya tajam mengarah kepada pria tampan tersebut. Sedangkan tangannya masih mengapit pinggang Naina. Dia tidak melepaskan wanita cantik itu sedikitpun.


Reno ingin membuktikan kepada Arga, bahwa Naina hanyalah miliknya. Walaupun dia belum memberikan jawaban kepadanya, akan tetapi Reno yakin jika mereka memang berjodoh.


"Naina memang belum memberikan jawaban kepadaku, akan tetapi, malam ini dia kan memberikan jawabannya. Dan kupastikan tidak akan ada tempat untukmu di hati Naina, dan sebaiknya kamu mencari wanita lain saja yang tidak dimiliki oleh pria!" jelas Reno sambil menujuk dada Arga.


"Naina, sekarang kamu jawab! Pilih aku atau Reno!" Arga memberikan pilihan kepada Naina, membuat wanita itu mendelik tajam dengan tatapan bingung.


"Tunggu! Kenapa aku harus milih? Memangnya di antara kalian sudah ada yang kupilih, sudah ada yang kuterima cintanya? 'Kan belum? Jadi kenapa aku harus memilih?" tanya Naina dengan bingung.


"Iya, kamu benar, memang di antara kami belum ada yang kamu pilih. Tapi Naina, ku sangat mencintaimu dari dulu. Aku begitu sangat mencintaimu. Tapi aku tidak berani mengungkapkan perasaan itu kepadamu. Jadi sekarang, kamu mau ya untuk menerima cintaku?" Arga berkata dengan nada yang sedikit memaksa.


Reno yang mendengar itu pun mendorong bahu Arga sedikit, karena melihat pria itu mendekat ke arah Naina, dan itu membuatnya tidak suka.


"Hey boy, harusnya jangan memaksa jika memang Naina tidak ingin! Cinta itu tidak bisa dipaksakan," jelas Reno. "Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini Naina. Ibu sudah menunggu," sambungnya kembali sambil menarik tangan Naina.


Namun saat mereka akan melangkah keluar dari kontrakan, tiba-tiba saja tangan Naina yang satu ditarik oleh Arga, hingga membuat kedua pria itu saling menarik satu sama lain.


"Aduh, kalian ini bisa nggak sih nggak usah tarik-menarik! Aku ini bukan tali tambang? Pak Arga, sebaiknya Anda pulang saja! Malam ini memang saya ada acara dengan ibunya Mas Reno, karena kami akan ada acara makan malam. Dan maaf, saya tidak bisa menerima cinta Bapak. Karena saya menganggap Bapak tidak lebih dari sekedar teman dan juga atasan. Maaf jika ini menyakiti, tapi itulah kenyataannya," jelas Naina.


Dia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada pria manapun, termasuk Arga. Naina memang selama ini dekat dengan pria itu tidak lebih hanya sekedar teman dan juga atasan saja.

__ADS_1


Naina memang tidak pernah memiliki perasaan apapun kepada Arga, walaupun selama ini pria tersebut selalu perhatian, pengertian bahkan ada untuknya. Tapi memang Naina tidak bisa membuka hati untuk Arga, terlebih saat itu dia sudah bersama dengan Ivan. Sehingga menutup hatinya untuk siapapun. Tapi saat Ivan selingkuh, dan Arga baru menyatakan perasaannya, maka Naina tidak bisa. Sebab dia sudah merasa nyaman dengan Reno.


Mendengar jawaban Naina, Arga terdiam, dia menatap ke arah gadis tersebut dengan tatapan sendu. "Naina, apa tidak bisa kau membuka hatimu Sedikit saja untukku?" tanya Arga.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak ingin memberikan harapan kepada siapapun, termasuk Bapak! Selama ini saya menganggap Bapak sebagai atasan dan juga teman, tidak pernah lebih. Dan saat Bapak mengatakan jika mempunyai perasaan kepada saya, maaf, saya tidak bisa membalasnya. Walaupun saya mencoba memaksa, tetapi rasanya tidak mungkin. Saya sudah menganggap Bapak sebagai sahabat," jelas Naina.


Reno yang mendengar itu tersenyum sinis. "Anda dengar sendiri bukan? Naina hanya menganggap anda sebagai teman, dan juga atasan saja. Jadi semuanya sudah jelas." Setelah mengatakan itu, Reno menarik tangan Naina berjalan menuju rumah sang ibu untuk makan malam.


Sejujurnya Naina merasa tak enak karena sudah menolak cinta Arga, tapi keputusan memang harus diambil. Naina tidak ingin membuat siapapun berharap kepadanya, termasuk juga Arga. Xia tidak ingin memberikan harapan palsu.


Setelah mendapatkan jawaban dari Naina, Arga pun pergi dengan hati yang hancur dan juga kecewa. Dia berpikir, tadinya Naina mau membuka hati untuknya tetapi ternyata Arga salah.


Cintanya memang selama ini selalu bertepuk sebelah tangan.


Dia melajukan mobilnya menyusuri jalanan, mencari tempat yang bisa untuk meluapkan rasa sakit dan juga kecewa di dalam hatinya. Akan tetapi bukan ke sebuah tempat hiburan, karena Arga tidak terbiasa masuk ke dalam tempat seperti itu.


.


.


Naina dan juga Reno masuk ke dalam rumah, dan di sana dia disambut oleh Bu Sumarni dengan senyuman hangatnya. Gadis itu pun mencium tangan bu Sumarni dengan takzim.


"Maaf ya Bu, kami lama," ucap Reno.


"Iya, tidak apa-apa. Ya sudah, kita langsung menuju meja makan aja yuk!" ajak Bu Sumarni, kemudian mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan.

__ADS_1


Naina mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Dia melihat foto seorang Perwira tentara yang begitu gagah, dan di samping foto tersebut ada Bu Sumarni yang menggunakan pakaian Persit.


"Maaf Bu, apa itu suami ibu?" tanya Naina dengan hati-hati sambil menunjuk foto yang terpajang di dinding.


"Iya, itu suami saya, ayahnya Reno. Dia sudah lama meninggal," ujar Bu Sumarni sambil menatap foto suaminya.


"Oh begitu, maaf ya, Naina tidak bermaksud untuk membuat Ibu sedih," ucap Naina merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, Ibu memang masih belum bisa melupakannya. Itu kenapa sampai sekarang Ibu masih sendiri dan mengurus Reno seorang diri. Beliau adalah orang yang hebat, berjuang demi negaranya," jelas bu Sumarni sambil menatap foto suaminya dengan kagum.


"Kalau Ayahnya Mas Reno jadi tentara, kenapa Mas Reno sendiri tidak jadi? Biasanya jika orang tuanya abdi negara, maka putranya pun akan mengikuti jejaknya?" bingung Naina sambil menatap ke arah Reno.


"Dia memang seperti itu, keras kepala. Padahal sedari dulu disuruh untuk ngambil sekolah kepolisian, tapi tidak mau!" Bu Sumarni berkata sambil menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah Reno.


Sedangkan yang ditatap hanya memanyunkan bibirnya saja, membuat Naina terkekeh kecil karena wajah Reno begitu sangat lucu.


"Kan Reno sudah bilang Bu, cita-cita kan tidak bisa dipaksa. Kalau Ayah memang Abdi Negara, apa Reno harus Abdi Negara juga? Kan tidak. Reno juga punya cita-cita sendiri. Lagi pula, tanpa harus menjadi abdi negara tetap sukses bukan?" jawab Reno sambil menuangkan nasi ke piringnya.


"Kamu ini, kalau dibilangin orang tua ngeyel," ujar Bu Sumarni.


Naina tidak menyangka, jika Bu Sumarni adalah pribadi yang hangat. Dan dia juga bisa melihat sisi lain dari Reno yang manja, apalagi saat ini pria itu ingin diambilkan beberapa lauk ke piringnya.


Makan malam pun berjalan dengan hangat, apalagi Bu Sumarni terus mengajak ngobrol Naina, hingga membuat gadis itu tidak canggung lagi. Padahal tadinya Naina fikir, Bu Sumarni akan menolaknya, bahkan menentang tentang rencana Reno yang akan menjalin hubungan dengannya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2