
Happy reading....
Setelah acara makan malam itu selesai, Naina saat ini sedang duduk bersama dengan Bu Sumarni di samping rumah yang ada taman kecil, dengan air mancur dan kolam ikan.
Mereka mengobrol-ngobrol hangat, bertanya tentang pekerjaan Naina sebelum dia pergi ke Jogja. Bu Sumarni juga ingin mengenal Naina lebih dalam.
Dia tidak mempermasalahkan dengan siapa Reno akan bersanding. Akan tetapi, tetap saja, sebagai seorang ibu dia harus tahu seluk-beluk, bebet-bibit dan bobotnya. Apalagi perilaku dan juga Attitude dari gadis yang saat ini sudah memikat hati putranya.
Bu Sumarni tidak ingin kejadian dulu terulang lagi, di mana Reno mempunyai kekasih yaitu Rere, mempunyai Attitude yang tidak baik, bahkan terkesan sangat sombong dan angkuh.
"Jadi, kamu dulu bekerja sebagai desainer grafis? Lalu kenapa kamu berhenti dan malah pergi ke Jogja?" tanya Bu Sumarni dengan penasaran.
Naina yang mendengar pertanyaan itu pun hanya diam. Dia bingung, apakah harus jujur kepada bu Sumarni atau tidak tentang alasan Naina pergi ke Jogja.
"Kamu kenapa diam, Nak? Apa pertanyaan ibu ada yang salah? Jika Iya, maka Ibu minta maaf," ucap Bu Sumarni dengan nada tak enak, karena dia takut menyinggung perasaan gadis itu.
"Tidak Bu. Ya alasan Naina pergi ke Jogja, sejujurnya untuk melupakan seseorang," jawab Naina sambil tersenyum manis.
"Melupakan seseorang? Apakah itu mantan kekasih kamu?" tebak Bu Sumarni dan Naina menganggukan kepalanya.
"Bolehkah ibu tahu, kenapa kalian sampai berpisah?" tanya Bu Sumarni dengan penasaran.
Naina terlihat ragu harus menceritakan perihal masalahnya dengan Ivan, dan Bu Sumarni yang melihat itu pun mengerti.
__ADS_1
"Maaf jika Ibu terlalu penasaran, tapi jika kamu memang merasa tidak nyaman dan tidak ingin menceritakannya, maka tidak apa-apa Nak. Ibu tidak akan memaksa," jelas bu Sumarni sambil menggenggam tangan Naina.
Genggaman tangan wanita paruh baya itu mengingatkan Naina pada sang ibu, yang saat ini jauh dari genggamannya, dari pandangannya dan dari pelukannya.
"Tidak Bu! Naina tidak keberatan kok. Naina akan ceritakan kenapa sampai Naina dan juga dia berpisah," ujar Naina.
Tatapannya menerawang ke arah depan, menatap air mancur yang mengalir dengan begitu tenang.
"Dulu Naina mempunyai kekasih, kami sudah menjalin hubungan cukup lama. Awalnya Naina pikir dia adalah pria yang baik, yang menerima keadaan Naina apa adanya. Tapi ternyata salah. Memang semua pria melihat setiap wanita itu dari fisik, hingga Naina tidak menyadari itu. Zaat pernikahan kami dua pekan lagi akan dilaksanakan, tiba-tiba saja dia membatalkan acara pernikahan itu. Padahal catering, tenda dan juga yang lainnya sudah siap," jelas Naina sambil menundukkan kepalanya.
Entah kenapa, mengingat kejadian itu masih membuatnya sakit hati. Karena bagi Naina, itu adalah pengalaman terburuk, di mana dia sudah melabuhkan hatinya, cintanya kepada pria lain. Tetapi malah disia-siakan dan dikhianati dengan begitu sangat menyakitkan.
"Ya Naina sadar, jika Naina wanita jelek, gendut bahkan tidak cantik. Mungkin itu yang menjadi pemicu dia berselingkuh di belakang Naina, hingga menghamili wanita tersebut. Akhirnya mereka pun menikah, walaupun Naina sudah berusaha untuk melupakannya, melupakan rasa sakit itu, tapi tidak bisa. Kenangan bersamanya terus saja terngiang dikepala ini, sehingga Naina pun memutuskan untuk resign dari kantor dan pergi ke Jogja, tempat di mana Kak Dewa berada. Karena Naina ingin menenangkan pikiran, tapi ziapa yang menyangka, jika di sini ternyata Naina bertemu dengan Mas Reno. Pria yang tulus dan mau menerima Naina apa adanya," jelas gadis tersebut sambil tersenyum manis.
"Ternyata Reno dan juga kamu kasusnya tidak jauh berbeda, kalian diselingkuhi," ujar Bu Sumarni dengan helaan nafas yang berat.
"Tapi Ibu tahu tidak, selingkuhan dari mantan calon suaminya Naina itu siapa?" Timpal Reno yang ikut bergabung sambil membawa 3 cangkir bajigur dan menaruhnya di atas meja.
"Memangnya siapa?" tanya Bu Sumarni sambil mengambil cangkir tersebut, lalu meminumnya.
"Dia Rere, mantan kekasihku, yang ternyata dihamili oleh mantan calon suaminya Naina," ungkap Reno.
BYUUR!
__ADS_1
Bu Sumarni menyemburkan air di mulutnya, saat mendengar ucapan Reno. sehingga membuat semburan itu mengarah kepada wajah Putra tampannya tersebut.
"Astaghfirullahaladzim, Ibu! Kalau mau nyembur Reno itu yang waktu bayi, biar tampan. Ini udah tampan di sembur lagi," ujar Reno dengan kesal sambil mengelap wajahnya yang basah.
"Maaf, maafkan Ibu Nak. Ibu tidak sengaja. Lagi pula Ibu kaget saat mendengar penuturan kamu. Apa kamu serius? Rere menikah dengan mantan calon suaminya Naina?!" kaget Bu Sumarni dengan tatapan membulat.
Reno menggangguk, "Iya Bu, memang Mas Ivan menikah dengan mbak Rere, mantannya Mas Reno," Timpal Naina.
"Ya ampun dunia ini sempit sekali ya. Tapi Ibu bersyukur kalian dipertemukan dan disatukan, setidaknya kalian sudah tahu rasanya dikhianati seperti apa? Jadi saat kalian menjalin hubungan, apalagi ke jenjang yang lebih serius, maka jangan pernah mempermainkan sebuah hubungan! Karena menyakiti pasangan kalian tahu rasanya seperti apa bukan?" jelas bu Sumarni sambil menatap kedua anak remaja yang ada di hadapannya.
"Iya, Ibu tenang aja. Reno nggak akan menyakiti Naina. Karena bagi Reno, dia adalah belahan jiwa." Reno mengedipkan sebelah matanya ke arah Naina, membuat wanita itu tersipu malu.
"Rupa-rupanya, ada yang mau jadi buaya darat?" Sindir Bu Sumarni sambil melirik ke arah putranya.
"Tunggu Bu! Apa Ibu habis makan jengkol? Waduh, kenapa muka Reno jadi bau jengkol begini?" ujar Reno sambil mengendus wajahnya sendiri yang terasa begitu menyengat dari makanan yang khas satu itu.
Bu Sumarni menggaruk belakang lehernya, "Iya, maaf tadi sore Ibu makan goreng jengkol. Habis enak banget, apalagi cocol dengan sambal terasi. Padahal tadinya ada pete, tapi Ibu cuma makan jengkolnya aja."
"Astaga Ibu! Nggak gosok gigi apa? Bau banget iiih ..." Setelah mengatakan itu, Reno langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terasa bau.
"Anggap aja itu dari semburan termanjur ibunya, agar ketampanan kamu makin Paripurna!" teriak Bu Sumarni sambil terkekeh kecil, begitu pula dengan Naina.
'Aku tidak menyangka, ternyata Bu Sumarni orangnya sangat hangat. Dia juga menerima kehadiranku dengan tangan terbuka. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik ya Allah,' batin Naina.
__ADS_1
BERSAMBUNG......