Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Happy reading....


Hari telah berganti malam, saat ini Mayra, Naina dan juga keluarganya tengah bersiap-siap karena mereka akan makan malam di luar bersama dengan Reno dan juga ibunya.


Setelah semuanya siap, Naina dan juga mereka pun segera keluar dari kontrakan dan menaiki mobil yang telah dipesan oleh Dewa menuju tempat, di mana saat ini Reno dan juga ibunya sudah menunggu di salah satu restoran.


"Oh iya, Karina, apa ibu boleh tahu karakternya ibunya Reno seperti apa? Ya ... siapa tahu nanti Ibu salah ngomong atau gimana, yang menyinggung perasaannya? Karena kan ini pertemuan pertama ibu dengan calon besan?" tanya Bu Hilda sambil menatap ke arah putrinya.


"Kalau yang Karina tahu dan Karina kenal, Ibu Sumarni itu baik. Dia orangnya ramah tamah dan gak neko-neko sih, Bu. Pokoknya orangnya asik diajak bicara, kurang lebih sifatnya seperti Ibu, ke ibuan," jawab Karina sambil memeluk tubuh ibunya dari samping.


"Syukurlah, jadi ibu tidak perlu merasa sungkan ya." Karina mengangguk


Tidak terasa mobil pun sudah sampai di tempat tujuan, kemudian mereka turun setelah membayar ongkos lalu menuju salah satu meja yang sudah disediakan oleh Reno.


"Assalamualaikum, Mas Reno, Ibu," ucapin Naina saat sampai ini sana.


"Waalaikumsalam, eh kamu udah datang Dek. Sini duduk!" Reno menyalami tangan Bu Hilda, Karina dan juga Dewa, kemudian mempersilahkan mereka semua untuk duduk.


Tidak lupa Bu Hilda juga menyalami ibunya Reno, begitupun dengan Karina, Dewa dan juga Mayra, dan tak lama makanan pun datang.


"Perkenalkan, nama saya Ibu Linda, saya adalah ibunya Naina," ucap Bu Linda memperkenalkan diri.


"Saya adalah ibu Sumarni, ibunya Reno. Senang bisa bertemu dengan Anda."


Kemudian mereka pun mengobrol panjang lebar, bercanda dia. Dan terlihat sangat akrab, walaupun baru pertama kali mereka bertemu.


Naina dan juga Reno melirik satu sama lain. Mereka sangat bahagia karena Ibu mereka terlihat sangat akrab dan bisa menerima satu sama lain, tidak ada kebahagiaan bagi dua insan di saat dua keluarga menjalin hubungan yang baik, dan bisa menghargai satu sama lain.


Makan malam itu pun diselingi dengan kebahagiaan, canda dan tawa, bahkan sangat terlihat jelas senyuman yang terukir di wajah Naina. Senyuman yang selalu membuat Reno klepek-klepek.


"Baiklah, sekarang kita bicarakan tentang pernikahan Naina dan juga Reno. Karena di sini Naina dan Reno sudah tidak mempunyai ayah, jadi Dewa sebagai kakak ipar Naina, bisa memutuskan," ujar Bu Sumarni sambil menatap ke arah Dewa.


"Kalau Dewa sih terserah kepada mereka saja enaknya seperti apa. Kalau tanggal pernikahan kan bisa dicari dengan baik, tapi sebelum itu, ada bagusnya lamaran terlebih dahulu untuk mengikat satu sama lain," jelas Dewa.

__ADS_1


Kemudian mereka pun membicarakan tentang acara lamaran yang akan dilangsungkan dua minggu lagi, di kediaman Naina yang ada di Jakarta.


Setelah acara makan malam itu selesai, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi, saat mereka beranjak dari duduknya tiba-tiba saja Karina merasa mual, kemudian dia segera berlari ke toilet yang ada di restoran tersebut.


"Kak Karina kenapa?" tanya Mayra kepada Bu Linda.


"Ibu juga tidak tahu, kita tunggu saja. Sepertinya dia lagi sakit. Tadi wajahnya juga sedikit pucat," jawab Bu Linda sambil menatap ke arah Mayra.


Tak lama Karina datang bersama dengan Dewa, wajahnya terlihat begitu pucat dan sangat lemas. Makanan yang tadi dimakannya pun sudah dimuntahkan kembali.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu lagi sakit? Kenapa tidak istirahat aja di rumah?" Bu Linda mengusap punggung Karina dengan lembut.


"Nggak apa-apa Bu, sepertinya Karina hanya masuk angin aja. Kalau begitu kita pulang yuk! Rasanya karena sudah tidak kuat ingin muntah lagi," jelas Karina.


Kemudian mereka pun pulang ke rumah, tetapi di dalam mobil Karina lagi-lagi ingin muntah. Rasanya mobil yang dia naiki terasa begitu mual, hingga mengocok perutnya.


"Kayaknya Kak Karina ini bukannya masuk angin deh," ucap Mayra sambil menatap ke arah Karina, sedangkan Naina pulang bersama dengan Dewa dan juga Bu Sumarni.


"Bisa jadi kan, kalau Kak Karina itu sedang isi lagi, alias hamil?" Mayra menatap ke arah Karina dengan tatapan yang begitu dalam.


Karina yang mendengar itu pun seketika terdiam, dia mengingat kapan terakhir kali dirinya datang bulan, dan seketika matanya membulat dengan wajah yang kaget. Lalu menatap ke arah Dewa dan juga sang Ibu bergantian.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu terlihat begitu sangat syok?" tanya Dewa saat melihat ekspresi dari wajah istrinya.


"Sepertinya dugaan Mayra benar Mas. Seharusnya aku sudah datang bulan 2 minggu yang lalu, tapi ini belum sama sekali. Biasanya telat-telatnya cuma dua atau tiga hari saja!" ujar Karina dengan wajah yang sumringah.


"Kalau begitu kita mampir ke Apotek dulu, kita beli tespek biar memastikannya," ujar Dewa dan Karina langsung menganggukkan kepalanya.


Kemudian mobil pun berhenti di depan sebuah Apotek, lalu Dewa tanpa malu membelikan tespek untuk istrinya. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan para karyawan Apotek yang menetapnya dengan aneh.


Terkadang Dewa merasa heran, pada karyawan apotek itu. Selalu menatap aneh ke arah pria yang membelikan keperluan wanita, seperti tespek ataupun yang lainnya. Padahal jika dipikir secara logika, seharusnya pria yang memberikan kebutuhan wanita itu sangat gentle dan luar biasa.


Mereka mau menurunkan egonya hanya untuk membelikan keperluan wanita yang dicintainya. Padahal rasanya tidak aneh membelikan tespek untuk seorang wanita, karena sudah pasti tespek itu untuk seorang istri yang tengah hamil.

__ADS_1


Akan tetapi, tatapan dari pegawai Apotek tersebut seperti ingin menguliti dan mengintimidasi Dewa.


Mobil pun telah sampai di depan kontrakan Karina, dan di sana sudah terlihat mobil Reno yang sudah terparkir lebih dulu. Kemudian mereka pun masuk dan terlihat Naina sedang duduk bersama dengan Reno di teras depan.


"Kak, Kakak nggak papa kan? Gimana masih mual nggak?" tanya Naina saat melihat Karina berjalan sambil dibantu oleh suaminya.


"Nggak papa, Dek, Kakak harus ngecek sesuatu dulu ya," jawab Karina. Kemudian dia segera masuk ke dalam kontrakan dan menuju kamar mandi.


"Bu, Kak Karina kenapa sih? Kok wajahnya kayak tegang gitu?" tanya Naina sambil menatap ke arah sang ibu.


"Sudah, kita tunggu saja yuk di ruang tengah! Nanti juga kamu akan tahu jawabannya," ajak Bu Linda.


Kemudian mereka pun duduk di ruang tengah, dan di sana masih ada Reno. Setelah beberapa saat menunggu, Karina keluar dengan wajah yang sembab Dewa yang melihat itu pun menjadi panik.


"Sayang, kamu kenapa kok nangis?" tanya Dewa.


Karina tidak mampu menjawab, karena saat ini dia benar-benar sangat bahagia. Kemudian tangannya memberikan alat yang dibeli oleh Dewa beberapa saat yang lalu, dan di sana menunjukkan garis dua berwarna merah.


"Sayang ini ..." Dewa menggantung ucapannya sambil menatap ke arah Karina.


Wanita itu mengangguk dengan wajah yang bahagia, kemudian Dewa langsung memeluk tubuh Karina dengan erat. Dia berapa kali mengucap syukur karena begitu sangat bahagia, sebab saat ini karena tengah mengandung benihnya kembali.


Ibu Linda, Mayra, Naina dan juga Reno yang melihat itu pun turut bahagia. Mereka dapat melihat kebahagiaan di raut wajah pasutri tersebut.


"Rasanya aku juga tidak sabar ingin segera menanam benih ku, dan memiliki anak-anak bersamamu," bisik Reno di telinga Naina.


Mendengar itu tiba-tiba saja kedua pipi Naina bersamu merah, kemudian dia menatap ke arah Reno dengan tajam, lalu mencubit pinggang pria tersebut hingga membuat Reno terkekeh kecil.


"Dasar mesuum!" kesal Naina dengan wajah yang merona malu.


"Tapi mau kan?" goda Reno kembali dan semakin membuat wajah Naina merah seperti kepiting rebus.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2