Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Bertemu Mertua


__ADS_3

Happy reading.....


Mobil terparkir di sebuah halaman rumah yang begitu megah. Mayra sedikit menganga saat melihat itu, kemudian dia melirik ke arah suaminya.


"Pak, ini rumah siapa?" T?tanya Mayra.


Arga membuka sabuk pengamannya, kemudian dia menghadap ke arah Mayra lalu menggenggam tangannya. "Bisa tidak, kamu tak usah memanggilku dengan Bapak! Sekarang ini aku suamimu, bukan ayah dari ibumu?" kelakar Arga.


Mayra yang mendengar itu pun tersenyum kecut, kemudian dia pun mengangguk. "Maaf, aku masih belum terbiasa. Kemarin kamu masih menjadi bosku, lalu sekarang tiba-tiba menjadi suamiku?" kekeh Mayra.


"Karena aku sekarang sudah menjadi suamimu, jadi kamu harus terbiasa memanggilku dengan kata Mas. Aku rasa itu lebih intim dan lebih enak didengar," ujar Arga sambil mencubit hidung Mayra dengan gemas.


Melihat perlakuan pria yang ada di hadapannya, Mayra sedikit terpana. Dia tidak pernah melihat Arga seperti itu kepada seorang wanita, dan dia tidak menyangka jika Arga ternyata tipekal pria yang hangat, namun tertutup oleh sikap dinginnya.


"Ayo kita masuk!" ajak Arga, "Aku akan memperkenalkan kamu pada mama dan papa. Kebetulan dua hari yang lalu mereka baru pulang dari Inggris, dan aku juga sudah menceritakan semuanya sama mereka, jika aku akan melamarmu."


Namun, seketika Mayra terdiam. Dia seperti takut akan bertemu dengan orang tua Arga, sekaligus mertuanya. Mayra tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tua Arga saat mengetahui jika Putra kesayangannya telah menikah tanpa mereka sadari, dan tanpa meminta persetujuan ataupun diwakili oleh mereka berdua.


"Kenapa diam? Ayo masuk!" tanya Arga saat melihat istrinya hanya diam saja.


"Pak ... eh, maksudku Mas, apa orang tuanya Mas akan setuju denganku? Apa mereka akan menerimaku? Mereka pasti sangat syok saat mengetahui jika kita sudah menikah tanpa dihadiri oleh mereka berdua. Aku takut jika---"


Ucapan Mayra terhenti saat Arga menempelkan jari telunjuknya di bibir seksi wanita itu.


"Jangan khawatir! Mama dan Papa pasti merestui kamu kok. Sudah, kita masuk yuk! Mereka sudah menunggu kita," ujar Arga, kemudian dia keluar dari mobil lalu membuka pintu sebelah Mayra dan menggandeng tangan wanita itu masuk ke dalam rumah megah tersebut.


Dengan jantung berdebar Mayra melangkah mengikuti suaminya. Jujur saja, saat ini rasanya Mayra ingin tenggelam di dalam gentong, karena dia takut jika kedua mertuanya tidak merestui hubungan mereka.


Dan lagi, Mayra tidak mau jika nanti kisah rumah tangganya seperti yang ada di novel-novel harus bercerai sebelum 24 jam.

__ADS_1


"Jangan tegang begitu! Orang tuaku bukan Zombie, mereka juga bukan karnivora. Jadi kamu jangan takut!" Arga mencoba mencairkan suasana hati istrinya.


Mayra yang mendengar itu segera memukul lengan Arga, kemudian dia menatapnya dengan kesal. "Kamu ini, orang istri lagi tegang kok malah diledek?"


Mereka melangkah masuk saat pelayan membukakan pintu, lalu di ruang keluarga kedua orang tua Arga sedang menunggunya. Mereka sudah dikabarkan oleh Putra semata wayangnya, jika pria tersebut telah menikah.


"Malam Mah, Pah," ucap Arga menyapa mama dan Papanya.


Bukannya menjawab, tante Monica selaku Mama dari Arga, segera menjewer telinga pria tersebut hingga membuat Arga meringis kesakitan.


"Aduh Mah ... aduh ... ampun! Kok Arga malah dijewer sih? Datang-datang bukannya dipeluk, dicium, kok malah di tarik telinganya?" ringis Arga dengan wajah cemberut.


"Gimana Mama nggak menarik telinga kamu, hah? Kamu ini bagaimana? Menikah tapi dadakan tidak mengajak mama dan papa sebagai wali? aketerlaluan!" maki Tante Monica sambil menekuk wajahnya.


"Mah, sudahlah, lihat tuh ada menantu kita. Sebaiknya kita sambut dia," ujar Papa Ruben pada istrinya.


Tante Monica segera berjalan ke arah Mayra, lalu langsung memeluk tubuh wanita itu. Memang beberapa hari ini Arga sudah bercerita tentang wanita tersebut, dan tante Monica tentu saja sangat setuju jika putranya menikah dengan perempuan yang dia cintai.


Mendengar itu tentu saja membuat Mayra merasa terharu. Dia tidak menyangka jika akan diterima di keluarga Arga dengan tangan terbuka dan hangat. Tadinya Mayra pikir, semua berbanding balik dengan pikirannya. Tapi ternyata apa yang ada di dalam pikirannya tidak seperti yang terjadi pada kenyataan.


"Iya Tante, saya Mayra," jawab Mayra sambil mencium tangan Tante Monica dengan Om Ruben.


"Jangan Tante, dong! Mama, kan kami sudah menjadi orang tua kamu."


"Iya Mah, maaf," ucap Mayra yang merasa masih canggung.


"Arga, sebaiknya kamu ajak istrimu ke kamar! Kasihan kalian pasti sangat capek. Dan satu lagi, segera berikan Papa dan Mama cucu ya!" goda Papa Ruben sambil melirik ke arah putranya.


Sedangkan Mayra yang mendengar itu malah merasa malu, sementara Arga menganggukan kepalanya lalu dia menggandeng tangan Mayra untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


'Astaga! Apa sudah waktunya?' batin Mayra.


.


.


Naina baru saja selesai membersihkan diri dan dia membuka koper, akan tetapi isinya benar-benar tidak terduga. Wanita itu mendesah dengan pelan, karena dia sangat tahu itu pasti kerjaan Karina dan juga.sahabatnya.


"Benar-benar keterlaluan! Seharusnya dia juga memakai baju seperti ini? Kan malam ini juga malam pertamanya?" dumel Naina saat berada di kamar mandi dan memakai baju yang sangat transparan.


Jujur saja, wanita itu merasa malu dengan tubuhnya yang terawang di balik saringan tempe tersebut. Akan tetapi, Naina memejamkan matanya mencoba menetralisir degup jantungnya yang saat ini sedang berdetak dengan kencang.


"Tidak Naina, kamu harus menyerahkannya kepada suamimu. Walau bagaimanapun, sekarang dia sudah sah untuk memilikimu seutuhnya," gumam Naina pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


Wanita itu memoles sedikit make-up agar terlihat lebih fresh, karena dia ingin yang terbaik untuk suaminya. Setelah itu dia keluar dan melihat Reno sedang setengah berbaring di ranjang sambil bersender.


"Sayang, kenapa berdiri di situ terus? Ayo sini! Masa nggak capek dari pagi berdiri terus?" Reno melambaikan tangannya sambil menepuk kasur yang berada di sampingnya.


Naina berjalan mendekat, kemudian dia duduk di samping Reno, membuat pria itu menaruh ponselnya di atas nakas, kemudian dia menatap ke arah Naina.


"Kenapa masih pakai handuk?" tanya Reno saat melihat Naina masih memakai handuk.


"Aku malu," jawab Naina dengan lirih.


Reno yang mendengar itu pun seketika mengerti ada sesuatu di balik handuk tersebut, kemudian dia mulai menariknya secara perlahan, dan seketika matanya membulat saat melihat istrinya tengah mengenakan baju yang begitu sangat menggoda imannya.


"Sepertinya kamu sudah siap ya?" goda Reno sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Siap nggak siap, bukannya aku harus tetap siap? Kan semua sudah menjadi milik kamu, Mas," jawab Naina sambil tersenyum manis.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2