Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Perasaan Yang Aneh


__ADS_3

Happy reading.....


Setelah pelukan itu terlepas, Mayra menatap ke arah tante Renata dengan bingung. Apalagi wajah wanita itu sangat sembab.


Entah kenapa Mayra juga merasakan kesedihan yang begitu dalam, saat melihat wanita yang berada di hadapannya tengah menangis. Tapi entah Mayra pun tidak tahu perasaan apa itu? Dan kenapa bisa dia sedih seperti itu dan merasakan apa yang dirasakan oleh tante Renata.


"Maaf Tante, kenapa Tante menangis? Dan kenapa Tante tiba-tiba memeluk saya?" tanya Mayra dengan raut wajah kebingungan.


Tante Renata menatap ke arah Mayra dengan dalam. Ingin rasanya Bibir dia mengatakan jika dia adalah ibu kandungnya, tapi Tante Renata harus menahan itu semua.


"Maaf, jika tante lancang. Hanya saja, setiap melihat kamu Tante selalu teringat dengan anak tante yang hilang. Maafkan tante ya, Mayra," ucap tante Renata yang kembali meneteskan air matanya.


'Tapi sekarang kamu sudah kembali Nak. Kamu sudah berdiri di hadapan mama, dan rasanya Mama ingin sekali mengatakan jika kamu adalah Putri kesayangan Mama. Kamu adalah Putri kandung Mama, Nak!' jerit tante Renata di dalam hati yang masih menangis.


Mayra yang mendengar itu pun kemudian memegang tangan tante Renata. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu, pasti sangat hancur saat kehilangan anak yang sangat dicintainya.


"Aku ikut berduka ya, Tante. Semoga anak Tante cepat ditemukan," ujar Mayra sambil mengusap tangan tante Renata dengan lembut.


Wanita itu tidak bisa berkata-kata, dia hanya menganggukkan kepalanya saja, karena di dalam hatinya dia benar-benar begitu amat merindukan Mayra.


Sedari dulu dia ingin sekali memeluk putrinya kembali, tapi ternyata Allah mengabulkan doa-doanya.


Tadinya tante Renata pikir, dia tidak akan pernah bertemu dengan Mayra lagi. Apalagi setelah sekian tahun mencari Mayra namun tidak ada yang bisa ditemukan, karena bukti pun sangat minim. Xan akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doanya mempertemukan mereka kembali.


"Ya sudah Tante, kalau begitu Mayra duluan ya. Soalnya Mayra juga harus masak buat Mas Arga," ujar Maira dengan nada yang lembut.


Saat wanita itu akan pergi dari hadapan tante Renata, tiba-tiba tangannya ditahan, membuat Mayra seketika menatap ke arah tante Renata dengan bingung.


"Bolehkah tante memeluk kamu sekali lagi? Please!" pinta tante Renata dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Matra yang mendengar itu pun akhirnya mengangguk, kemudian tante Renata langsung memeluk tubuh Mayra dengan erat dan kembali menangis. Walaupun dia sudah berusaha kuat agar tidak meneteskan air mata, namun tetap saja rasa haru dan bahagia bercampur di dalam hatinya saat ini.


"Oh iya, nanti malam kamu datang ya ke rumahnya tante! Kebetulan anaknya Tante baru pulang dari luar kota, dan tante mengundang kamu serta suami kamu untuk makan malam di rumah," ucap tante Renata.


Mayra terdiam, memikirkan apakah dia akan menerima tawaran dari Tante Renata atau tidak? Tapi melihat raut wajah wanita itu yang begitu memohon, akhirnya Mayra pun.


"Baiklah Tante, saya dan juga suami saya akan datang. Tapi sebelum itu saya akan membicarakannya dulu, apakah Mas Arga sedang ada acara atau tidak," jelas Mayra.


.


.


Selama dalam perjalanan, Mayra terdiam. Pikirannya masih kalut karena tertuju pada tante Renata terus, mengingat bagaimana pertemuannya dengan wanita itu.


Sebenarnya yang membuat Mayra bertanya-tanya adalah, tentang perasaannya kepada tante Renata. Entah kenapa saat melihat wanita itu menangis, Mayra pun ikut merasakan kesedihan.


Sebelumnya dia tidak pernah merasakan hal itu, tapi entah kenapa setiap tante Renata memeluk tubuhnya, seperti ada sesuatu yang aneh yang dirasakan oleh Mayra. Tapi entahlah, dia pun sulit untuk menjelaskannya.


"Nggak papa kok, Mas. Oh ya, tadi aku bertemu sama tante Renata di supermarket, dan dia mengundang kita untuk makan malam. Apakah kamu mau?" tanya Mayra sambil menatap ke arah sang suami.


"Kenapa kamu selalu bertemu dengannya ya? Seperti kebetulan, tapi tidak kebetulan?" bingung Arga yang sulit mendeskripsikan.


Jujur saja dia merasa aneh, karena biasanya orang kebetulan itu hanya satu atau dua kali saja, tapi Mayra sering sekali bertemu dengan tante Renata. Dan Arga merasa itu bukanlah sebuah kebetulan.


Mayra mengangkat kedua bahunya. "Entahlah Mas, aku juga bingung. Jadi bagaimana? Aku sih sudah mengiyakan, soalnya saat melihat tatapan tante Renata tadi yang begitu memohon, aku jadi tidak tega. Tapi ..." Mayra menggantung ucapannya.


Dia seakan ragu untuk mengatakan kepada Arga, apa yang dirasakannya. Dan Arga yang melihat keraguan di wajah sang istri membuatnya merasa heran sekaligus bertanya-tanya.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu seperti ragu untuk mengatakan sesuatu kepadaku?"

__ADS_1


Terlihat Mayra menghela nafasnya, "Entahlah Mas. Sebenarnya aku merasa heran, kenapa aku bisa merasakan apa yang tante Renata rasakan," jelas Mayra.


Alis Arga bertaut heran saat mendengar ucapan ambigu sang istri. Kemudian dia menetap ke arah Mayra, "Maksudnya?" tanya Arga.


"Tadi tante Renata tiba-tiba saja memelukku, lalu dia menangis tersedu-sedu. Tapi yang membuatku heran adalah, kenapa ya ... aku merasa seperti kalau aku bisa merasakan apa yang ia rasakan? Seperti kesedihannya sampai ke hatiku. Entah kenapa Mas, setiap dia memeluk diriku, aku seperti merasa ada getaran yang aneh? Entah, aku pun tidak tahu itu apa? Tapi rasanya begitu sesak di dalam dada," tutur Mayra dengan tatapan lurus ke arah depan.


Arga terdiam saat mendengar ucapan sang istri, dia mencoba memahami dan mencari alasannya, tapi pria itu pun tidak menemukan jawabannya.


"Mungkin karena kamu sesama wanita, jadi bisa merasakan apa yang tante Renata rasakan," jelas Arga sambil mengangkat kedua bahunya.


"Mungkin juga Mas. Tapi entah, sepertinya bukan." Mayra menarik nafas dengan dalam, dan Arga yang melihat itu segera menggenggam tangan sang istri..


"Jangan terlalu dipikirkan! Sudahlah, kita nanti malam ke sana saja ya. Tidak enak kan sudah diundang tapi tidak datang. Apalagi kamu juga sudah mengatakan iya," jelas Arga dan Maira hanya mengangguk.


.


.


Sementara itu di kediamannya Naina, wanita tersebut sedang duduk di ruang Tv sambil memakan rujak yang kebetulan dibeli saat ada yang berjualan di depan rumah.


Tiba-tiba Bu Linda datang lalu duduk di sebelah putrinya.


"Loh! Ibu udah sembuh? Kenapa nggak istirahat aja di kamar?" tanya Naina saat melihat ibunya.


"Ibu bosen terus-terusan tidur, yang ada badan ibu pegel-pegel," jawab Bu Linda. "Kamu tumben makan rujak?" Menatap dengan heran ke arah Naina.


"Iya nih, nggak tahu Bu tadi lihat orang jualan rujak depan rumah, kayaknya enakx seger gimana gitu. Jadi nanya pesan deh, hehe ..." Wanita itu terkekeh.


"Ibu mau?" tawar Naina, dan Bu Linda langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja Naina merasa ingin muntah, kemudian dia menaruh rujaknya lalu berlari ke arah dapur untuk memuntahkan isi perutnya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2