Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Aku Sudah Memaafkanmu, Kak


__ADS_3

Happy reading...


Setelah acara lamaran selesai, Reno dan juga bu Sumarni kembali ke Jogja. Sementara itu Naina baru akan kembali ke sana setelah 3 hari.


Saat ini, Nina dan juga Mayra sedang duduk di ruang tamu sambil menonton tv. Sedangkan Naina sedang berbalas chat dengan Reno, begitupun dengan Mayra, dia juga fokus pada ponsel-nya.


"May, lo masa sampai sekarang belum punya pacar ya?" tanya Naina.


"Belum ada, mungkin nanti," jawab Mayra sambil fokus menatap kearah layar ponsel.


Naina merasa heran, sebab sedari tadi terlihat Mayra senyum-senyum sendiri seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Eh, mpok Iyem, lo lagi chat-an sama siapa sih? Dari tadi kok serius banget?" tanya Naina dengan heran.


"Ini, gua lagi chat-an sama pak Arga," jawab Mayra.


Naina yang mendengar itu merasa heran, kemudian dia menoleh ke arah Mayra. "Tunggu! Lo chat-an sama Pak Arga? Kalian dekat atau kalian sudah jadian?" tanya Naina dengan wajah yang antusias.


Mayra mengambil bantal lalu melemparnya ke arah Naina. "Sembarangan kalau ngomong! Siapa juga yang jadian sama Pak Arga? Gue chat-an sama dia itu karena dia mengucapkan selamat untuk acara Lo dan juga Reno. Nih kalau nggak percaya, baca aja!* tunjuk Mayra sambil menunjukkan ponselnya ke arah Naina.


"Yaelah ... kalaupun benar juga nggak papa kali. Gue malah dukung. Lagian, Pak Arga jomblo, terus lu juga jomblo nggak laku-laku? Ya udah, kenapa kalian gak jadian aja?" tutur Naina.


"Gue jadian sama pak Arga? Jangan ngaco! Dia itu Bos, mana mau sama karyawan rendahan kayak gue?" Mayra menggelengkan kepalanya.


"Jangan terlalu merendah Bestie. Kita nggak tahu kan jodoh kita itu siapa?"


Saat Mayra akan menjawab ucapan Naina, tiba-tiba saja Ibu Linda memanggilnya dan meminta Mayra untuk membantunya membuat cemilan di dapur.


.


.

__ADS_1


Saat ini Naina tengah berada di salah satu Cafe, karena dia sudah lama sekali tidak jalan-jalan di kota itu. Tinggal di Jogja, walau baru beberapa bulan saja seperti sudah beberapa tahun.


Namun saat Naina tengah duduk, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya, ternyata dia adalah Ivan.


Melihat itu, Naina cukup kaget, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja. "Kak Ivan," sapa Naina, "Apa kabar?"


"Baik, kamu apa kabar Naina?" tanya Ivan balik.


"Alhamdulillah aku baik. Kakak di sini lagi makan? Rere nya di mana?" tanya Naina sambil melihat ke arah belakang.


"Iya, tadi habis meeting. Rere tidak ada di sini, dia mungkin sedang berbelanja," jawab Ivan, "Apakah aku boleh gabung?"


Mendengar ucapan Ivan, Naina terdiam, dia seperti enggan untuk duduk bersama dengan pria itu. Namun Naina tidak ingin mencari musuh, kemudian dia pun mengangguk.


Melihat anggukan dari Naina, Ivan merasa senang, hatinya tertawan bahagia. Kemudian dia duduk di hadapan Naina dengan semburat penuh kerinduan di kedua matanya.


Ingin sekali rasanya pria itu memeluk tubuh Naina, akan tetapi, dia merasa sungkan takut ditolak dan Naina marah kepada dirinya.


"Iya, aku sekarang tinggal di Jogja. Aku kerja di sana," jawab Naina dengan cuek sambil meminum jusnya.


"Naina, aku tahu mungkin kesalahanku kepadamu sangat fatal. Aku minta maaf jika---"


"Aku sudah memaafkanmu, Kak. Tidak perlu meminta maaf lagi! Lagi pula, aku sudah melupakan semuanya. Aku juga sudah ikhlas, jadi tidak usah lagi meminta maaf!" Naina memotong ucapan Ivan.


"Tapi Naina, aku masih sangat mencintaimu. Aku--"


"Cukup Kak! Jangan berbicara seperti itu! Apakah kau tidak memikirkan perasaannya Rere seperti apa? Saat ini dia tengah mengandung dan menjadi istrimu. Apakah wajar seorang pria yang sudah menjadi suami, mengatakan cinta kepada wanita lain? Apalagi wanita itu adalah mantan pacarnya?" Naina berkata dengan tatapan menyipit ke arah Ivan.


"Iya aku tahu, tapi memang itulah faktanya."


"Dan fakta dari aku adalah ... aku sudah memaafkan dan juga melupakan perasaan itu kepadamu, Kak. Lagi pula, kamu itu hanya masa lalu, aku juga sudah menemukan masa depanku. Jadi untuk apa lagi? Kakak itu sudah mau menjadi seorang ayah, jadi jangan pernah menyakiti Rere! Kasihan dia. Apa Kakak tidak kasihan pada anak Kakak nanti? Itu bukanlah cinta, tapi hanya obsesi, dan hanya nafsu. Jadi cukup! Aku tidak ingin membuat Rere salah paham, jadi jangan pernah menggangguku atau mengusik hidupku lagi! Aku sudah bahagia Kak. Lagi pula, aku sebentar lagi akan menikah." Naina bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Namun seketika tangannya ditahan oleh Ivan, "Apa! Kamu akan menikah? Apakah dengan pria yang datang ke pesta pernikahanku dan Rere?" Tanya Ivan dengan penasaran.


"Itu kakak sudah tahu, kenapa masih bertanya? Sudah ya, aku mau pulang, dan jangan pernah mengatakan hal seperti tadi lagi! Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah kembali pada lubang yang sama, dan pada pria yang pernah menyakitiku! Kakak berkata seperti itu setelah melihatku sekarang. Tapi dulu mana? Tidak ada. Jadi itu bukanlah cinta, hanya nafsu." skak Naina.


Ivan yang mendengar penuturan Naina terdiam, dia merasa kalah dan tidak bisa menjawab, karena apa yang dikatakan Naina mungkin ada benarnya.


Ada segelimpir rasa sakit di hati Ivan saat mendengar ucapan dari wanita yang pernah menjadi kekasihnya. Bahkan sampai saat ini mungkin perasaan itu masih ada.


Sedangkan Naina pergi meninggalkan Cafe itu. Dia pikir Ivan duduk dengannya hanya ingin mengobrol biasa, tapi ternyata pria itu malah mengatakan apa yang tidak ingin Naina dengar.


'Kamu terlambat Kak. Seharusnya kata-kata seperti itu kamu ucapkan saat kita baru berpisah, mungkin aku masih bisa menerimamu. Tapi sekarang hatiku sudah terpaut pada mas Reno, pria yang lebih baik darimu.' batin Naina.


Wanita itu menyetop taksi, kemudian pergi dari sana meninggalkan Ivan yang masih terdiam, termenung memikirkan ucapan Naina. Karena jujur saja, pria itu selama ini memikirkan perasaannya kepada Naina.


Ivan merasa bodoh, karena dia baru menyadarinya sekarang, setelah Naina berubah..Namun yang dikatakan Naina memang benar.


'Aku mungkin saja memang mencintai dia bukan karena tulus, tapi karena fisik?' batin Ivan.


Dulu saat dia bersama dengan Naina, Ivan tidak pernah mengatakan kata-kata cinta yang begitu romantis kepada Naina. Tapi sekarang, saat dia dan juga wanita itu sudah berpisah, apalagi Naina sudah berubah, Ivan mamikirkan berbagai cara untuk mendapatkan Naina kembali. Tapi sayang, semua sudah terlambat, tidak bisa diulang lagi seperti dulu.


.


.


Hari terus berganti, saat ini Naina sudah siap akan pergi ke Jogja bersama dengan Karina dan Dewa. Karena masa cuti pekerjaan Dewa juga sudah usai, jadi dia harus kembali bekerja.


Akan tetapi, ada yang mengganggu pikiran Naina, sebab beberapa hari ini ada yang menerornya dengan nomor yang baru. Namun bukan nomor yang mengirimkan foto kemesraan Reno kembali.


Kali ini foto yang dikirimkan adalah sebuah bangkai tikus, bahkan ancaman kematian. Akan tetapi Naina tidak gentar, dia sama sekali tidak peduli dengan itu semua. Sebab ia tau itu ulah siapa.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2