
Happy reading....
"Halo Assalamualaikum, Bu, gimana kabar Ibu hari ini? Baik kan?" tanya Naina saat telepon tersambung dan menampilkan wajah keriput sang ibu.
"Alhamdulillah baik," jawab ibu Naina di seberang telepon.
"Oh iya, Ibu sama Mayra jadi kan besok lusa ke sini?" tanya Naina kembali.
"Jadi, kamu kenapa sih kayak nggak sabaran banget ibu sama Mayra ke sana?"
"Nggak apa-apa bu, ya memangnya nggak boleh, kalau Naina pengen cepet ketemu sama ibu?" Naina memanyunkan bibirnya, membuat sang Ibu terkekeh.
"Bohong itu, Bu. Naina ingin ibu dan Mayra cepat ke sini, karena ada yang ingin berkenalan dengan ibu. Calon suaminya Naina," timpal Karina dengan heboh.
Naina yang mendengar ucapan sang kakak segera melotot, membuat Karina semakin terkekeh. Smedangkan ibu menatap Naina dengan tatapan yang begitu dalam, juga raut wajah yang kaget.
"Benarkah itu sayang? Kamu sudah memiliki calon suami? Ya ampun, kalau begitu ibu akan mempercepat keberangkatan bersama dengan Mayra ke sana. Rasanya Ibu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan calon suamimu."
"Iya Bu, itu kenapa Naina menanyakan apakah Ibu ke sini lebih cepat atau tidak. Soalnya dia mau bertemu sama ibu," ujar Naina.
Mereka pun mengobrol cukup panjang tentang calon suami Naina. Akan tetapi, wanita itu tidak memberitahukan bahwa Reno lah calon suaminya. Naina ingin memberi surprise kepada ibunya, termasuk juga Mayra, karena dia yakin mereka berdua pasti akan sangat kaget saat mengetahui jika Reno calon suami Naina.
.
.
Arga masuk ke apartemennya dengan langkah yang gontai. Entah kenapa, dia merasa semangatnya hilang begitu saja, saat mengetahui tentang Naina yang menerima cinta Reno.
Pria itu berjalan ke salah satu ruangan, di mana di sana terdapat foto Naina, banyak sekali . Karena selama ini Arga selalu mengoleksinya, namun sekarang rasanya Arga tidak bisa mempunyai kesempatan lagi.
"Sepertinya aku memang harus melupakanmu Naina. Walaupun pada akhirnya kamu tetap akan menjadi orang yang spesial dalam hatiku, namun aku tidak ingin berlarut-larut dalam cinta ini," gumam Arga dengan lirih, sambil mengambil foto Naina yang terpajang di dinding.
__ADS_1
Pria tersebut mengambil semua foto Naina, kemudian memasukkannya ke dalam kardus, lalu membawanya ke atap, setelah itu Arga membakarnya.
Bukan tidak sakit, dia menghilangkan kenangan Naina di dalam dirinya. Namun Arga rasa, tidak ada lagi kesempatan untuk dia mendapatkan Naina. Jadi untuk apa Arga masih menyimpan foto-foto Naina, yang pastinya akan membuat hatinya semakin sakit.
'Selamat tinggal Naina! Cinta ini akan selalu ada untukmu, di sudut hatiku yang paling dalam. Entah aku bisa membuka hati ini untuk wanita lain atau tidak. Tapi satu hal, aku sangat mencintaimu!' batin Arga sambil menatap kobaran api yang ada di hadapannya.
.
.
Hari yang ditunggu pun tiba, di mana saat ini Mayra dan juga Ibu Linda sampai di Jogjakarta, tepatnya di kontrakan Dewa dan juga Karina.
"Assalamualaikum," ucap Bu Linda dan juga Maira serempak.
"Waalaikumsalam, eh, Bu masuk! Alhamdulillah ... aku senang banget ngelihat Ibu akhirnya sampai sini dengan selamat," ucap Karina sambil mencium tangan ibunya.
Kemudian dia beranjak ke dapur untuk membuatkan minum, setelah itu menaruhnya di hadapan sang Ibu dan juga Mayra.
"Oh Naina, sebentar lagi pulang kok Bu. Dia masih bekerja, paling nanti juga pulang sama calon suaminya," jawab Karina sambil tersenyum ke arah sang ibu.
"Aku jadi penasaran deh Kak, siapa calon suaminya Naina? Kasih tahu dong!" desak Mayra sambil memegang tangan Karina dengan tatapan memohon.
"Nanti juga kamu akan tahu. Dan sebenarnya ibu dan juga kamu sudah tahu siapa pria tersebut. Kalian pernah bertemu dengannya," kekeh Karina.
Setelah 1 jam mereka menunggu, terdengar suara motor di depan kontrakan Karina, dan saat melihat dari jendela, ternyata yang datang adalah Naina. Namun yang lebih mengejutkan Mayra dan juga Bu Linda, saat pria yang membonceng Naina membuka helm, dan ternyata pria itu adalah Reno.
"Loh, Itu kan Mas Reno? Pria yang mengantar Naina ke Jakarta kemarin!" kaget Mayra.
"Iya, Ibu masih ingat sekali kalau itu nak Reno. Karina, apa nak Reno itu ..." Ibu menggantung ucapannya sambil menatap ke arah Putri pertamanya tersebut.
"Iya Bu," jawab Karina dengan singkat.
__ADS_1
Kemudian Naina dan juga Reno masuk ke dalam, "Assalamualaikum," ucapan mereka berdua serempak.
"Waalaikumsalam."
Naina dan juga Reno langsung mencium tangan Ibu Linda, kemudian mereka duduk di hadapan wanita paruh baya tersebut.
"Naina, jadi benar Nak Reno ini adalah calon suami kamu?" tanya Bu Linda kembali.
"Iya Bu, Mas Reno adalah calon suami Naina," jawab Naina dengan wajah yang tersipu malu.
Reno mengangguk, kemudian dia menatap ke arah Bu Linda. "Bu, sejujurnya Reno ingin sekali meminta restu dari ibu untuk kelanggengan hubungan kami jika Ibu sudah merestui maka Reno akan langsung mengadakan acara lamaran untuk Naina karena Reno tidak ingin lama-lama menjalin hubungan dengan Naina Reno ingin langsung menuju jenjang yang lebih serius ujar pria tersebut
Bu Linda nampak tersenyum, dia memandang ke arah dua insan yang berada di hadapanya itu. Terlihat raut wajah kebahagiaan dari wajah cantik putrinya.
Dia tidak pernah melihat Naina sebahagia itu, wajahnya terlihat berseri saat berada di dekat Reno, dan Ibu Linda yakin, jika Reno mampu membahagiakan Naina, tidak seperti Ivan yang menyakitinya secara batin.
"Ibu merestui dengan siapapun itu pilihan Naina. Karena ibu sangat yakin, jika pilihan Naina itu adalah yang terbaik, sebab yang akan mengarungi rumah tangga itu adalah dia sendiri. Akan tetapi, ibu hanya berpesan, tolong jaga Putri Ibu! Jangan pernah menyakitinya! Jangan seperti mantannya, dua pekan sebelum pernikahan dia membatalkan, karena Naina gendut, Naina jelek. Tapi sebelum kalian menikah, Ibu hanya ingin menegaskan kepada Nak Reno, jika memang Nak Reno mencintai Naina karena fisik, maka sebaiknya tinggalkan saja! Ibu tidak ingin melihatnya menangis lagi. Tapi jika Nak Reno mencintai Naina dengan tulus, maka ibu akan sangat berterima kasih. Dan tolong jaga Naina!" jelas Ibu Linda dengan panjang lebar.
Karena sejatinya seorang ibu tidak ingin anaknya menangis dan bersedih, karena seorang pria. Dia tidak ingin melihat Naina kembali terpuruk, di mana pernikahan yang didambakan setiap wanita harus kandas di tengah jalan. Apalagi hari pernikahan itu akan segera tiba.
"Insya Allah Bu, Reno mencintai Naina bukan karena fisik. Reno tidak perduli, mau Naina jelek ataupun Naina gendut. Bagi Reno fisik tidaklah penting, ketimbang dengan hati," jawab Reno sambil menatap ke arah Naina dengan tatapan penuh cinta.
Ibu Linda tersenyum, dia dapat melihat tatapan yang tulus dari kedua mata Reno saat menatap putrinya. "Ibu merestui kalian," ucap Bu Linda pada akhirnya.
Semua yang ada di sana mengucap syukur, Mayra juga langsung memeluk tubuh Naina. "Congratulation my friends, semoga lo bahagia sampai jenjang pernikahan ya. Dan jangan lupa nanti buket bunganya kasih ke gue, biar gue cepet nyusul," kekeh Mayra.
"Tenang aja, gue yakin kok jodoh lo juga sudah menanti. Hanya belum diketemukan saja," Jawab Naina.
Setelah mengobrol cukup lama dengan Ibu Linda, Reno pun pamit pulang. Dia juga akan mengutarakan niatnya kepada sang ibu untuk mengajak mereka makan malam di luar, demi mempererat hubungan kekeluargaan dengan keluarga Naina.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1