
Happy reading....
"Sebenarnya ...." Tante Renata menggantung ucapannya.
"Tidak ada apa-apa Nak Mayra, Nak Arga. Istri saya ini hanya terlampau rindu dengan anaknya. Maklumlah, putri kami masih belum ditemukan sudah belasan tahun, dan saat melihat wajah Mayra, istri saya teringat dengan putri kami. Jadi dia berpikir kalau Mayra memang putri kami yang hilang." Pak Gunawan memotong ucapan istrinya.
Dia tidak ingin membuat Mayra syok, karena semua harus dibicarakan secara baik-baik. Dan Pak Gunawan harus menemukan waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya.
Mayra yang mendengar penjelasan dari pria tersebut segera memeluk tubuh tante Renata, dan wanita itu kembali menangis.
Sungguh dia benar-benar tak sanggup menahan rasa rindu di dalam hatinya. Tante Renata ingin mengatakan dan berteriak kepada Mayra jika dia putrinya yang hilang selama ini.
"Mayra tahu perasaan Tante seperti apa. Tidak mudah bagi seorang ibu kehilangan putrinya, apalagi dipisahkan selama belasan tahun. Sebagai seorang anak, Mayra sangat paham perasaan Tante saat ini. Tapi Mayra berdoa, semoga Allah mempertemukan Tante kembali dengan Putri Tante dan juga Om," ujar Mayra dengan tatapan yang sendu.
'Tapi kamu sudah ada di depan Mama, Nak. Kamu sudah ada di sini. Untuk apa mama mencarimu lagi?' batin tante Renata.
Sementara Arga melihat adanya kebohongan pada tatapan Pak Gunawan,namun dia juga merasa ragu.
"Ya sudah, Om, Tante. Malau begitu kami pamit pulang dulu ya, soalnya sudah malam. Nanti mama dan papa nyariin kalau kami pulang kemalaman," ucap Arga berpamitan.
Setelah itu mereka berdua mencium tangan Pak Gunawan juga Tante Renata bergantian, lalu pergi dari rumah mewah tersebut.
Setelah kepergian Mayra dan juga Arga, tante Renata langsung memeluk sang suami dan menangis tersedu-sedu. Lututnya terasa lemas, dadanya sesak seakan tertimpa batu yang begitu besar, sehingga membuat pasokan oksigen di dalam paru-parunya menipis.
"Ma-ma ma-ma sa-ngat merindukannya, Pa. Ke-na-pa Pa-pa ma-lah memotong ucapan ma-ma, dan melarang ma-ma untuk mengatakannya kepada Ma-yra?" Tante Renata berkata dengan suara yang tersendat-sendat, karena Isak tangisnya.
Rasa sesak di dalam dadanya membuat suaranya tercekat di tenggorokan, sehingga ia tidak bisa berkata-kata. Rasa sakit di dalam hati yang tak bisa ia ungkapkan sebagai seorang ibu yang telah gagal menjaga putrinya, sehingga mereka harus berpisah belasan tahun.
Pak Gunawan membawa tante Renata masuk ke dalam rumah dan mendudukkannya di kursi di ruang tamu, sementara Veronica menidurkan Laila di dalam kamar.
"Mah, bukannya Papah ingin melarang Mama untuk berbicara kepada Mayra tentang siapa dia sebenarnya. Tapi ini bukan timing yang pas, Mah. Kita harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkap semua kebenaran ini. Bisa Mama bayangkan nggak, kalau kita tadi memberitahukannya kepada Mahra! Bagaimana reaksinya? Sudah pasti dia akan syok berat saat mendengar kenyataan yang tak pernah dia sangka sebelumnya," jelas Pak Gunawan.
Tante Renata memukul dadanya yang kian sakit. Sebagai seorang ibu yang melahirkan, menyusui saat anaknya pertama dilahirkan. Bagaimana mungkin bisa ia rela? Tidak tersiksa saat menemukan putrinya yang belasan tahun menghilang?
Sahrul segera memeluk tubuh Sang Mama. Dia pun merasakan apa yang dirasakan mamanya, karena Sahrul juga ingin sekali mengungkapkan semua kepada Mayra, tapi benar apa yang dikatakan sang Papa jika itu bukan waktu yang tepat.
"Kita harus mencari waktu yang pas, Mah. Sahrul juga merasakan apa yang Mama rasakan saat ini, tapi kita harus menahan diri dulu. Jangan sampai kenyataan yang kita bilang nanti kepada Mayra, akan menyakiti hatinya, dan dia malah tidak bisa menerima keadaan dan malah membenci kita, Mah. Apa Mama mau itu terjadi?" ujar Sahrul.
Tante Renata terdiam sambil terus menangis sesegukan, kemudian Pak Gunawan langsung memberikan air putih agar istrinya jauh lebih tenang. Namun tetap saja, itu tidak memberikan ketenangan atau meredakan rasa sakit di dalam hatinya saat ini.
"Sampai kapan Rul, Pah? Sampai kapan kita akan memendam semua rahasia Ini dari Mayra? Mama ingin dia mengetahui semuanya. Walaupun kita mencari time yang tepat, tapi tetap saja saat Mayra mengetahui semua kebenaran ini, sudah pasti dia akan tetap terluka."
"Dia memang pasti akan tetap terluka, tapi setidaknya lukanya tidak dalam. Walaupun kita tahu pasti akan ada rasa kecewa, dan pastinya Mayra juga butuh waktu untuk menerima semua keadaan yang dia dapati," jelas Pak Gunawan.
__ADS_1
"Papa akan cari waktu yang pas, agar kita bisa membicarakannya dengan Mayra. Tapi Mama juga harus bersabar ya, kita sama-sama menyiksa Ma. Papa juga tersiksa, hati Papah juga sakit saat tak bisa memeluk Putri Papah sendiri." Pak Gunawan meneteskan air matanya.
Dia mencoba kuat di hadapan sang istri. Siapa yang mengetahui jika di dalam lubuk hatinya dia pun ingin sekali memeluk Mayra, mengatakan jika dia adalah Papanya. Tapi apa yang bisa Pak Gunawan lakukan? Dia tidak mau membuat putrinya sampai kaget dan malah tidak bisa menerima dirinya.
.
.
Sedangkan Arga masih terdiam sambil menyetir mobil. Dia memikirkan ekspresi Pak Gunawan saat istrinya akan mengungkapkan sesuatu kepada Mayra dan juga dirinya.
Dan tidak jauh dari Arga, Mayra pun memikirkan hal yang sama. Dia sebenarnya sangat penasaran tentang apa yang akan diucapkan oleh tante Renata beberapa waktu yang lalu.
"Mas, sebenarnya apa ya yang akan diucapkan oleh tante Renata? Kenapa aku merasa Om Gunawan sepertinya menyembunyikan sesuatu, dan melarang tante Renata untuk mengatakan hal tersebut? Apa mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi entah kenapa, aku merasa bahwa Om Gunawan itu tidak ingin ada satu hal yang terbongkar," ucap Mayra sambil menghadap ke arah Arga.
"Iya sayang, kamu benar. Aku juga merasakan hal itu. Entah kenapa, dari ucapannya Pak Gunawan tadi, aku tidak percaya sama sekali. Aku merasa memang ada yang disembunyikan, tapi entah itu apa? Apa kamu mau aku mencari tahunya?" tanya Arga.
Mayra menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Mas! Mungkin memang tante Renata hanya kepikiran dengan putrinya saja. Kasihan sih, selama belasan tahun dia tidak bertemu dengan putrinya. Dan mungkin memang setelah melihat aku, dia berpikir kalau aku ini putrinya." Mayra mengangkat kedua bahunya.
Dia mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut, walaupun sebenarnya itu mengganggu pikirannya, namun Mayra mencoba untuk bersikap enjoy.
.
.
Naina saat ini tengah berdiam di kamar mandi dengan sesuatu yang ada di tangannya, yaitu yang tak lain adalah urine nya sendiri. Dan di sana ada tespek yang sedang dia celupkan untuk melihat apakah benar dia positif atau negatif.
Kedua mata wanita itu terpejam, karena Naina takut dengan hasilnya sejujurnya dia takut kecewa.
Dan setelah beberapa menit, Naina membuka matanya secara perlahan. Dia mengintip namun tidak terlalu jelas, akhirnya dengan berani dan dengan mengucapkan kata basmalah, Naina pun membuka matanya.
Seketika kedua netra Indah itu membulat sempurna, saat melihat dua garis merah yang begitu jelas terpampang di hadapannya.
Tangan Naina bergetar, matanya tidak bisa lagi menahan linangan air yang siap meluncur membasahi pipi. Bibirnya bergetar mengucapkan syukur atas rezeki yang Allah berikan kepadanya.
"Alhamdulillah ya Allah, jadi aku hamil," ucap Naina dengan lirih.
Satu tangannya menutup mulut, sedangkan tangan yang lain memegang tespek. Kemudian dia menghapus air matanya, namun tetap saja terus mengalir hingga dia masuk kembali ke dalam kamar dan melihat Reno baru saja bangun dari tidurnya.
"Sayang, kamu kenapa kok nangis?" tanya Reno dengan cemas saat melihat Naina menangis.
Dia bangkit dari duduknya, lalu berdiri dan memegang kedua bahu Naina. "Sayang, are you oke? Kenapa?" tanya Reno dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.
Dia takut terjadi apa-apa dengan sang istri, sementara Naina menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus saja mengalir, kemudian dia langsung memeluk tubuh Reno dan menangis dalam dekapan pria itu.
__ADS_1
"Aku senang Mas. Aku senang!" ucap Naina dengan suara yang sedikit bergetar.
"Kalau kamu senang, kenapa malah menangis. Seharusnya kamu senang itu tersenyum, sayang?" heran Reno saat pelukannya terlepas.
Kemudian Naina memegang tangan Reno, lalu menaruh sesuatu di telapak tangannya. Reno menatap heran ke arah Naina, dan melihat jika benda itu adalah yang biasa digunakan oleh ibu hamil.
Reno tidak bodoh saat dia melihat dua garis merah yang terpampang jelas di benda tersebut, kemudian dia menatap ke arah Naina dengan tetapan yang begitu kaget.
"Sayang, ini ..." Reno menggantung ucapannya, sedangkan Naina hanya menganggukan kepalanya sambil terus menangis.
Melihat itu Reno langsung mengangkat tubuh Naina, memeluknya lalu berputar-putar hingga beberapa detik. Setelah itu Reno menurunkan tubuh Naina lagi lalu mengusap perutnya.
"Sayang, ini serius kan? Kamu sedang hamil?" tanya Reno dengan wajah yang begitu sangat bahagia.
"Iya Mas, kita nanti USG ya untuk menentukan sudah berapa minggu!" jawab Naina dengan suara yang purau.
Reno langsung mengangguk, kemudian dia memegang kedua pipi Naina lalu mengecup seluruh wajah wanita itu, hingga membuat Naina merona malu atas perlakuan Reno.
"Terima kasih sayang, akhirnya benih ku tumbuh juga. Tidak sia-sia kita berolahraga setiap malam," ujar Reno dan langsung mendapatkan cubitan di perut dari Naina.
"Kita berikan kabar bahagia ini yuk, kepada Ibu!" ajak Naina sambil menarik tangan Reno keluar dari kamar.
Namun Reno menggeleng, menahan tangan sang istri dan itu membuat Naina merasa heran.
"Kenapa Sayang? Ini kan kabar bahagia. Ibu sudah pasti harus mengetahui dong, kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek," ujar Naina.
"Aku tahu. Tapi sebaiknya kita memberikan surprise kepada ibu dan juga ibuku. Mereka juga harus mengetahuinya bukan? Jadi sebaiknya kita persiapkan dulu semuanya untuk memberikan surprise kepada mereka," jelas Reno.
Naina terdiam, kemudian dia mengangguk dengan semangat. Lalu Reno pun membisikkan rencananya agar membuat Ibu Sumarni datang ke Jakarta, vdan mereka akan memberikan surprise kepada dua wanita yang sudah menjadi ibunya tersebut.
"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera memberitahukan ibu tentang kehamilanku," ucap Naina sambil menyenderkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Tapi aku lebih bahagia sayang, karena sebentar lagi aku akan dipanggil sebagai papa. Dan rasanya aku semakin bersemangat untuk membuat adonan, karena siapa tahu kan jika setiap hari dipompa, si Dede di dalam perut bisa semakin besar dan cepat lahiran," tutur Reno.
Naina yang mendengar itu segera mencubit pinggang sang suami, sehingga membuat Reno mengaduh kesakitan.
"Kamu pikir balon, semakin dipompa semakin melembung? Ini perut Mas, sudah ada tafsirannya akan melahirkan di bulan ke-9. Bukan balon yang beberapa detik dipompa langsung penuh, lalu meledak!" kesal Naina sambil menekuk wajahnya.
Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian dia terkekeh kecil, "Ya ... kan siapa tahu sayang, kalau aku terus menanamkan benihku di dalamnya bayi kita bisa semakin besar?"
Naina yang kadung kesal segera meninggalkan Reno keluar kamar..Moodnya yang tadinya bahagia tiba-tiba menjadi hancur, karena ucapan sang suami yang begitu ambsrud.
BERSAMBUNG......
__ADS_1