
Happy reading....
"Tunggu Nai!" cegah Rere saat Naina akan membuka pintu.
Wanita itu pun berbalik dan menatap ke arah Rere. "Iya, kenapa?" tanya Naina.
"Aku mau berbicara sebentar." Rere melambaikan tangannya, dan melihat itu Naina pun berjalan mendekat kembali ke arah Rere.
Sedangkan Bu Santi dan juga Ivan hanya diam sambil menatap Rere dengan heran. Jujur saja, Ivan takut jika nanti Rere akan berbuat macam-macam kepada Naina, makanya dia siap siaga.
"Kamu benar. Aku telah jahat kepadamu. Kamu tidak salah apapun, tapi aku yang salah. Aku sudah merebut Mas Ivan darimu. Dan aku juga sudah membuat pernikahan kalian batal. Maafkan semua kesalahanku, Naina. Dan aku sadar, jika memang dosaku terlalu banyak kepadamu. Entah mungkin bisa dimaafkan atau tidak, tapi aku mau kita berteman. Aku menyadari jika semua yang telah aku lakukan itu salah, kamu memang benar Nai, kita ini sudah menikah dan mempunyai kehidupan masing-masing." Sejenak Rere menghentikan ucapannya, kemudian dia menatap ke arah Ivan.
"Aku juga pasrah, jika nanti Mas Ivan menceraikanku. Karena aku pun tidak mau memaksa. Ucapanmu barusan, membuka hatiku, bahwa semua yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan pernah berujung baik. Aku akan ikhlas, jika suatu hari nanti setelah tes DNA itu keluar, jika Mas Ivan mau meninggalkanku, aku tidak akan pernah memaksanya untuk bertahan di sisiku. Hanya satu permintaanku, jika memang bayi itu bukanlah darah dagingmu, Mas, titipkan saja di Panti Asuhan. Setelah aku keluar dari sel tahanan, aku akan membawanya pergi. Aku akan mengurusnya sampai besar, karena bagiku dia adalah hartaku satu-satunya," jelas Rere dengan raut wajah yang sedih.
Memang perkataan Naina tadi menusuk relung hatinya yang paling dalam. Dia sadar, bahwa selama ini dirinya sudah menjadi orang yang jahat, karena sudah menghancurkan kebahagiaan Naina.
Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak membencinya. Bahkan tidak memiliki dendam secuil pun kepada dirinya. Itu membuat Rere tersentil. Dia pikir, Naina akan membalas kejahatannya dengan kejahatan, tetapi wanita itu malah memaafkan segala kesalahannya.
Mendengar ucapan dari Rere, Naina tersenyum. Dia sangat bersyukur jika Rere bisa sadar. "Aku sangat senang sekali, akhirnya kamu bisa menyadari kesalahanmu. Dan aku berdoa serta berharap, agar kamu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi," ujar Naina.
Sedangkan Ivan hanya diam saja. Dia mencerna setiap perkataan dari istrinya. Jauh dalam lubuk hati Ivan, dia juga tersentil dengan ucapan Naina, apalagi melihat raut wajah Rere yang penuh rasa sesal.
"Maafkan aku ya, Mas, gara-gara aku kamu harus membuang wanita sebaik Naina. Dia adalah wanita yang bukan hanya cantik luar, tapi cantik dalam juga. Ternyata memang benar, fisik tidak selamanya abadi. Kecantikan dari luar belum tentu mendeskripsikan kecantikan dari dalam hatinya." Rere menatap ke arah Ivan dan juga Naina bergantian.
"Sekali lagi aku minta maaf ya, Nai," ucap Rere sambil menggenggam tangan Naina.
"Iya sama-sama, aku sudah memaafkanmu kok. Malau gitu aku pulang dulu ya. Dan kamu Kak Ivan, ingat pesanku baik-baik ya!"
.
.
Naina sampai di rumah dan langsung memberikan obat itu kepada ibunya, kemudian dia pamit untuk pulang, karena Naina harus memasak sebelum Reno sampai di rumah.
"Kamu kenapa lama banget, Dek?" tanya Karina.
__ADS_1
"Tadi aku menjenguk Rere dulu Kak," Jawab Naina.
"Rere? Tunggu! Tunggu! Maksud kamu ... Rere istrinya Ivan?" Karina menatap ke arah Naina dengan tatapan menyipit.
"Iya Kak, tadi pas aku mau balik, tiba-tiba ketemu sama Bu Santi dan dia mengatakan jika Rere sudah lahiran. Ya sudah, sekalian saja deh aku menjenguknya, dan sekalian juga aku memberikan nasehat untuk rumah tangga mereka. Karena ..." Naina menggantung ucapannya, membuat Karina merasa kesal. Sebab dia sangat penasaran dengan kelanjutan ucapan wanita hamil itu.
"Karena apa? Kebiasaan banget, suka menggantung ucapan! Kalau ngomong itu yang cepet!"
"Karena Kak Ivan mengatakan, jika ia akan melakukan tes DNA kepada bayi yang baru lahir tersebut," terang Naina.
Mendengar hal itu, Karina tentu saja sangat terkejut. Dia tidak menyangka jika Ivan akan meragukan darah dagingnya sendiri.
"Maksud kamu, Ivan meragukan bayi itu? b
Bagaimana bisa? Mereka kan melakukannya sebelum menikah, dan sudah dipastikan jika Itu bayinya Ivan? Kenapa dia harus meragukan itu semua?" tanya Karina yang tak habis pikir.
Naina mengangkat kedua bahunya. "Entahlah Kak, biarkan saja, itu bukan urusan kita juga. Yang penting aku sudah memberi masukan kepada mereka, dan untuk keputusan kedepannya itu tergantung dari Kak Ivan sendiri. Kalau gitu aku pulang dulu ya Kak, jeburu sore," ujar Naina sambil mencium tangan kakaknya.
.
.
Mayra meminta kepada Arga, agar tidak memberitahukan tentang kondisinya kepada tante Renata maupun Om Gunawan. Sebab Ia tidak siap untuk bertemu dengan mereka.
Selama dua hari itu, Mayra menyiapkan mental untuk makan malam nanti. Jujur saja, hatinya merasa bahagia dan juga sedih, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
"Sayang, jangan melamun! Kita makan dulu yuk!" ajak Arga sambil mendorong kursi roda Mayra.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum, kemudian mereka pun berjalan ke arah ruang makan, di mana saat ini Tante Monica sudah memasak makanan yang spesial untuk menantu tercintanya.
"Apa nanti malam kalian jadi pergi ke rumahnya tante Renata?" tanya Tante Monica saat sudah berada di meja makan.
"Insya Allah, jadi Mah. Doain ya, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mayra," jawab Arga sambil mengusap tangan sang istri dengan lembut.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka bertiga, sampai makan siang pun selesai. Lalu tante Monica mengajak Mayra dan juga Arga untuk duduk di ruang tengah, karena ada beberapa hal yang ingin dia bahas bersama kedua orang itu.
__ADS_1
"Mama tahu, mungkin ini berat bagi kamu, Mayra. Tapi walau bagaimanapun, itu bukanlah kesalahan dari kedua orang tuamu. Mereka juga sudah mencarimu bukan? Jadi, kamu harus menerima mereka Nak. Mereka juga sudah sangat merindukanmu. Apakah kamu juga merindukannya?" tanya Tante Monica sambil menatap lengkap ke arah Mayra.
Wanita itu terdiam. Dia sangat bingung, apakah memang harus menerima kedua orang tuanya atau tidak. Sebab kejadian yang beberapa hari ini Mayra dapati, benar-benar mengguncang jiwa dan juga mentalnya.
Tidak pernah ia sangka sebelumnya, jika ia mempunyai orang tua kandung. Apalagi kasih sayang kedua orang tuanya yang telah meninggal begitu tulus. Itu kenapa Mayra masih tidak menyangka, jika ternyata mereka bukan orang tua kandungnya.
"Jujur Mah, aku mungkin saja bisa menerima. Tapi ... rasanya aku masih tidak percaya saja, semua rasa itu bercampur aduk. Entah aku memang harus bahagia atau bersedih? Aku pun tidak tahu?" jawab Mayra sambil menundukkan pandangannya.
Setelah berbicara dengan mertuanya, Mayra pun masuk ke dalam kamar, duduk di balkon menatap ke arah depan dengan pikiran yang menerawang.
Kehidupan yang sekarang tak pernah ia duga, apalagi pertemuannya dengan tante Renata yang begitu singkat. Namun ternyata, menyimpan banyak rahasia.
.
.
Waktu yang ditunggu pun telah tiba, saat ini Mayra sudah bersiap dengan Arga, karena mereka akan berangkat ke rumahnya tante Renata untuk acara makan malam.
Namun jantung Mayra sudah berdetak dengan kencang, memikirkan apa yang akan terjadi beberapa jam kemudian. Rasanya dia tidak ingin pergi, namun mengingat jika yang akan ditemuinya adalah orang tua kandungnya, membuat Mayra harus pergi ke sana.
"Kenapa sayang? Wajah kamu terlihat ragu begitu?" tanya Arga saat sudah berada di dalam mobil.
"Tidak apa-apa, Mas," Bohong Mayra.
Padahal saat ini dirinya sedang bimbang dan gelisah, namun ia tidak mau menunjukkannya di hadapan Arga.
Sementara itu, Arga memang sudah sangat paham dengan sifat Mayra. Dan dia tahu, apa yang dirasakan oleh istrinya. Memudian pria itu pun menggenggam tangan Mayra.
"Jangan gugup. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus bisa menerimanya." Mayra menganggukkan kepalanya.
Hingga setelah menempuh perjalanan 45 menit, mereka pun sampai di kediaman tante Renata dan juga Om Gunawan. Keduanya langsung turun, tapi sebelum itu Mayra menarik nafasnya dengan dalam.
'Bismillah.' batin Mayra.
Dia menggandeng tangan Arga dengan sangat erat dan Arga menyadari kegugupan sang istri. Kemudian mereka pun masuk, di mana saat ini tante Renata, Om Gunawan, Sahrul beserta anak dan juga istrinya tengah menunggu kedatangan pasangan suami istri tersebut dengan wajah berbinar.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Mayra dan juga Arga bersamaan.
bersambung