Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Di Tangkap Polisi


__ADS_3

Happy reading....


Selesai membersihkan diri, Ivan turun ke lantai bawah sambil tersenyum menyeringai. Sepertinya dia sudah merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh Rere.


"Sayang sini duduk!" ajak Rere saat melihat Ivan masuk ke dalam ruang makan.


Ivan duduk di salah satu kursi, kemudian Rere memberikan kopi kepadanya.


"Ini kopi apa? Tumben sekali kamu membuatkanku kopi?" tanya Ivan dengan mata menyipit.


"Loh, katanya tadi kamu yang ingin dibuatkan kopi? Gimana sih, Mas?" rajuk Rere sambil duduk di sebelah Ivan. "Ya sudah, sekarang kamu minum kopinya gih, mumpung masih hangat!"


Ivan tersenyum, kemudian dia mulai mengambil cangkir tersebut, akan tetapi baru saja gelas itu akan menyentuh bibir tiba-tiba Ivan menaruhnya kembali di meja, membuat Rere yang tadinya menatap lekat seketika menjadi kesal.


"Oh ya, bagaimana dengan kandungan kamu?" tanya Ivan.


"Kandungan aku baik kok, Mas. Sudah kamu minum dulu kopinya, setelah itu sarapan." Rere terus mendesak ke arah Ivan agar meminum kopi tersebut.


Ivan mengangguk, kemudian dia mengambil cangkir itu dan menempelkannya di bibir, namun lagi-lagi pria itu menaruhnya di meja, membuat Rere mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Kamu masih berhubungan dengan pria itu?" tanya Ivan.


Pria itu sengaja mempermainkan Rere, karena dia tahu rencana apa yang sudah disusun oleh istrinya. Ivan juga sudah mengetahui jika di dalam kopi tersebut ada racun yang siap menghabisi nyawanya beberapa detik kemudian, itu kenapa dia terus saja mengulur waktu.


"Hubungan sama siapa sih, Mas? Aku kan udah bilang, kamu itu salah paham." bantah Rere. "Sudah, sebaiknya diminum kopinya ya! Daripada nanti keburu dingin, 'kan nggak enak." Rere seperti tidak sabar ingin segera melihat Ivan meminum kopi tersebut.


"Kamu itu kenapa sih, kayaknya Ingin sekali aku cepat-cepat meminum kopi ini? Apa ada yang kamu taruh di sini? Atau ada yang kamu campurkan?" Ivan menatap Rere dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


Melihat tatapan Ivan kepadanya, Rere mengalihkan pandangan. Dia menjadi gelagapan dan sedikit gugup. "A-apaan sih M-mas, kamu itu terlalu menduga-duga. Bisa nggak sih, kamu tuh nggak usah suudzon sama istri sendiri! Mana mungkin aku mencampurkan sesuatu di dalam minuman kamu?"


"Kalau memang kamu tidak mencampurkan sesuatu, coba kamu minum duluan!" tantang Ivan.


Mendengar itu Rere menjadi salah tingkah. "Maksud kamu? Aku kan tidak suka kopi, Mas?" bantah Rere dengan suara yang gugup. Terlihat jika wajahnya ketakutan saat Ivan menyodorkan kopi tersebut ke hadapannya.


"Kenapa wajah kamu ketakutan seperti itu? Apa ada yang kamu sembunyikan?" desak Ivan.


Rere merasa jika Ivan tengah mempermainkan dirinya, kemudian dia pun bangkit dari duduk sambil menggebrak meja dengan kesal, sehingga membuat setengah kopi itu jatuh berserakan.


BRAK!


"Bisa nggak sih, kamu itu nggak usah suudzon sama istri sendiri! Bisa nggak, kamu nggak usah nuduh aku yang tidak-tidak! Aku ini udah capek-capek loh buatin kamu kopi, bukannya bilang makasih, bukannya menghargai, tapi kamu malah nuduh aku yang ingin mencelakaimu?! Apakah seperti ini tindakan seorang suami? Di sini aku adalah istrimu loh, Mas. Tapi kamu selalu saja menuduhku selingkuh dan juga ingin menghabisimu!" teriak Rere dengan tatapan yang begitu tajam.


Dadanya naik turun menahan amarah, walaupun kenyataannya memang benar apa yang dikatakan Ivan, jika dia selingkuh dan ingin menghabisi pria itu untuk menguasai hartanya.


"Kenapa harus malu mengakui jika kamu selingkuh? Aku tahu kok, kamu menikah denganku itu bukan karena cinta, tapi karena harta. Apa kamu pikir selama ini aku itu bodoh? Gampang untuk kamu kelabui? Tidak Rere. Dan aku sangat yakin, anak yang ada di dalam kandungan kamu itu bukanlah darah dagingku, paham!" Ivan berkata dengan nada yang dingin dan datar, bahkan sorot matanya mengisyaratkan sebuah rasa kekecewaan yang begitu dalam.


Tak lama pelayan datang, "Maaf Pak, di depan ada polisi," ucap pelayan tersebut saat berada di meja makan sambil menundukkan kepalanya.


"Biarkan mereka masuk!" jawab Ivan.


Pelayan tersebut mengangguk, dan tak lama dia kembali sambil membawa dua orang polisi. Rere yang melihat itu pun sedikit gemetaran dan juga panik, dia tidak tahu kenapa di rumah itu ada polisi.


"Mas, kenapa ini ada polisi?" tanya Rere yang mulai ketakutan.


"Pak, bawa istri saya ke kantor polisi! Tangkap dia dengan tuduhan perencanaan pembunuhan!" perintah Ivan kepada polisi tersebut.

__ADS_1


Rere yang mendengar itu pun sangat terkejut, dia membulatkan matanya dengan tatapan tak percaya. Dan polisi saat ini memegang kedua tangan Rere tapi wanita itu berontak.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menjebloskan kuku penjara? Apa salahku Padamu, Mas?!" teriak Rere yang tidak terima jika dia dipenjara.


Ivan berdiri kemudian dia pun tersenyum miring ke arah Rere, lalu mencengkram rahang wanita itu dan menatapnya dengan tajam.


"Jelas-jelas, kamu ingin menghabisiku dengan kopi itu. Dan kamu masih bilang kenapa?" Ivan menghempaskan wajah Rere, hingga membuat wanita itu sedikit meringis. "Bawa dia ke penjara Pak! Berikan dia hukuman yang setimpal! Dan jadikan coffee ini sebagai buktinya, karena saya sangat yakin, jika di dalam kopi tersebut ada racun."


Rere menggelengkan kepalanya dengan kuat, dia berontak saat polisi membawa dirinya. "Tidak Pak! Jangan bawa saya! Saya tidak bersalah. Mas! Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa malah menjebloskan istri sendiri ke penjara?! Tarik kembali ucapan kamu, Mas! MAS IVAN!" teriak Rere, tetapi Ivan tidak perduli.


"Kita akan bertemu di kantor polisi Rere, dan kamu akan tahu semuanya," jawab Ivan dengan senyum seringai di wajah tampannya.


Rere terus aja berontak, akan tetapi tenaganya kalah dengan dua orang polisi yang membawanya, sehingga dia pun pasrah untuk dibawa ke kantor polisi.


'Awas kamu Mas Ivan. Aku tidak akan membiarkanmu hidup! Lihat saja! Aku akan membalas semuanya. Aku tidak mau dipenjara, tidak! Aku tidak mau!' batin Rere dengan penuh amarah.


Sedangkan Ivan terduduk di kursi, kopinya bahkan sudah di bawa sebagai barang bukti. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar, memikirkan rumah tangganya yang kacau balau.


Ivan benar-benar tidak menyangka, jika rumah tangganya dan juga Rere akan seperti ini pada akhirnya. Dia menikahi Rere karena wanita itu sangat cantik, berbeda dengan Naina. Tapi ternyata Rere malah mau menghabisi dirinya.


Cintanya dibalas dengan dusta, dan cintanya juga dibalas dengan penghianatan.


Saat Ivan tengah memikirkan tentang prahara rumah tangganya, tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk ke dalam sambil meneriaki namanya.


"Ivan, di mana kamu?!" teriak seseorang membuat Ivan seketika menoleh ke arah samping.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2