
Happy reading.....
Arga yang melihat istrinya kesakitan pun segera membopong tubuh Mayra untuk membawanya ke rumah sakit. Dan selama di perjalanan Mayra terus aja meringis, karena bagian bawah perutnya terasa begitu sakit.
"Aawwh! Mas, cepat Mas! Perutku sakit!" ringis Mayra.
Arga yang terlihat gugup pun menambah kecepatan, hingga setelah beberapa menit mereka pun sampai di rumah sakit, lalu langsung melarikan Mayra ke UGD.
Sementara itu Arga menunggu di depan dengan wajah yang harap-harap cemas. Tangannya meremas satu sama lain. Terlihat butiran keringat menetes di kening pria itu, karena saking gugup dan takutnya kehilangan sang istri apalagi calon buah hati mereka.
'Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak dan juga istriku,' batin Arga penuh harap.
Setelah beberapa saat dokter pun keluar, Arga yang melihat itu segera menghampiri dan juga bertanya, "Dok, bagaimana keadaan istri saya dan juga kandungannya? Mereka baik-baik saja kan? Tidak terjadi apa-apa dengan mereka kan, Dok?" tanyanya dengan wajah yang cemas.
"Tidak apa-apa, Pak. Nyonya dan juga kandungannya baik-baik saja, hanya tadi terjadi kontraksi, karena nyonya Mayra terlihat tegang dan tekanan darahnya juga lumayan tinggi. Sebaiknya jangan biarkan Nyonya Mayra untuk stres atau banyak pikiran, sebab akan berdampak buruk pada kandungannya. Tolong dijaga ya Pak!" jawab dokter tersebut.
"Baik Dok, terima kasih. Apa boleh saya melihat keadaan istri saya, Dok?"
"Silakan Pak." Dokter pun mempersilahkan Arga untuk masuk.
Saat sampai di dalam, Arga menggenggam tangan Mayra. Wajahnya nampak begitu sangat khawatir, kemudian dia mengecup lembut tangan sang istri.
"Maaf ya, aku sudah membuatmu seperti ini. Jangan membuatku cemas lagi sayang!" pinta Arga.
Mayra tersenyum sambil menatap ke arah Arga. "Aku tidak apa-apa, Mas. Mungkin tadi hanya syok saja," jawab Mayra.
Tak lama dokter dan suster memindahkan Mayra untuk dibawa ke ruang rawat inap, sebab dokter menyarankan agar Mayra dirawat sampai keadaannya stabil.
.
.
Di sel tahanan.
Rere merasakan sakit di perutnya, dia mencengkram besi tahan. Salah satu temannya yang berada di sana, melihat Rere yang sedang menahan sakit.
"Kamu kenapa, Re? Jangan-jangan kamu mau melahirkan?" seru teman Rere.
Kemudian dia pun berteriak memanggil pertolongan, dan tak lama penjaga sel itu pun datang dan melihat Rere sedang meringis. Lalu mereka pun membopong Rere dan membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu Ivan sedang duduk di kantor, dan menerima telepon dari kliennya. Tiba-tiba saja saat dia akan pergi untuk meeting, ponselnya berdering dan ternyata itu telepon dari sel tahanan.
"Ya Halo," ucap Ivan saat telepon tersambung.
"Apa! Istri saya mau melahirkan? Baik Pak, saya akan segera ke sana." Kemudian telepon pun terputus.
Ivan segera mengambil kunci mobilnya, berjalan ke luar kantor dan melajukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi untuk menuju rumah sakit, di mana saat ini Rere tengah dirawat.
Sesampainya di sana, dia menunggu di depan ruang bersalin ditemani oleh dua orang polisi yang mengawal Rere.
__ADS_1
Setelah dua jam menunggu terdengar suara tangisan bayi. Jujur saja, Ivan sebenarnya sangat senang, karena memang itu yang diinginkannya. Tapi sebenarnya dia juga merasa sedih, karena setelah ini Ivan akan melakukan tes DNA kepada bayi itu, untuk mengetahui apakah benar anak itu darah dagingnya atau bukan.
Dokter pun keluar dari ruangan bersalin. "Bagaimana Dok? Apakah istri dan juga anak saya selamat?" Tanya Ivan.
"Alhamdulillah anak dan ibunya selamat, dan anaknya berjenis kelamin perempuan. Maaf, apa Bapak ini suami pasien?" tanya dokter perempuan yang berusia 35 tahun.
"Iya, Dok."
Kemudian Ivan pun dipersilakan untuk masuk, dan mengadzani bayi tersebut. Setelah Itu bayinya diberikan kembali kepada Rere untuk diberikan ASI.
"Mas, anak kita sudah lahir. Aku mau kamu menjaganya sampai aku keluar dari tahanan! Dan kita bisa hidup bersama lagi!" pinta Rere dengan penuh harap.
Ivan hanya diam saja, tidak menjawab ucapan dari istrinya. Dia menatap ragu ke arah bayi tersebut, karena terlihat sekilas tidak mirip dengannya.
"Aku akan tetap melakukan tes DNA pada bayi ini, untuk membuktikan apakah dia memang benar anakku atau bukan," ujar Ivan.
Rere yang mendengar itu tentu saja sangat kaget, dia takut jika Ivan akan melakukan tes DNA, dan mengetahui jika bayi itu bukanlah darah dagingnya.
"Mas, aku mohon, jangan tes DNA, yah! Ini adalah anakmu, tidak mungkin aku membohongimu, Mas." pintar Rere.
Namun, Ivan tetap ngotot jika dia akan melakukan tes DNA. Lalu Ivan pun menemui dokter untuk berbicara tentang permintaannya.
"Apakah tidak bisa lebih cepat lagi Dok, hasilnya?" tanya Ivan saat sudah mengetahui jawaban dokter, jika tes DNA akan keluar setelah 2 minggu dan paling cepat 1 minggu.
"Maaf Pak, tidak bisa. Memang itu sudah peraturan Rumah Sakit," jawab dokter tersebut.
"Baik Pak."
Setelah berbicara dengan sang dokter, Ivan pun menuju ruang rawat inap, di mana saat ini Rere tengah dirawat untuk beberapa hari sebelum kembali ke sel tahanan.
Sementara bayinya nanti akan dibawa pulang, setelah keadaannya baik, dan dirawat sementara di rumah, sampai Ivan mengetahui apakah memang benar bayi itu putrinya atau bukan.
"Sebaiknya aku telepon ibu dulu deh," gumam Ivan sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Bu Santi, dan mengabarkan jika Rere telah melahirkan.
.
.
Naina saat ini tengah berada di sebuah rumah sakit untuk menebus obat karena kebetulan Karina sedang tidak enak badan, jadi dia yang pergi untuk menebus obat ibunya.
Saat Naina sudah membayar di kasir, dan dia akan pergi dari sana, tiba-tiba dirinya berpapasan dengan Bu Santi.
"Loh, Ibu ada di sini juga? Sedang sakit, atau bagaimana Bu?" tanya Naina sambil mencium tangan wanita paruh baya tersebut.
"Tidak. Ibu ke sini untuk menjenguk Rere dan juga cucu Ibu. Tadi Ivan menelpon, kalau Rere sudah lahiran," jawab Bu Santi.
Mendengar itu Naina pun merasa bahagia, kemudian dia meminta izin untuk ikut bersama dengan Bu Santi menjenguk keadaan Rere, dan tentu saja Bu Santi mengizinkan.
Lalu mereka pun berjalan masuk kembali ke rumah sakit, menuju ruangan rawat inap milik Rere. Xan setelah sampai di sana terlihat Ivan sedang menyuapi Rere makan siang.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Naina dan juga Bu Santi serempak.
"Waalaikumsalam," jawab Rere dan juga Ivan sambil menengok ke arah pintu.
Kedua netra milik Rere membulat kaget dengan tatapan tak suka, saat melihat kedatangan Naina. Dia memang belum menyadari semua kesalahannya, namun entah kenapa setiap melihat Naina, wanita itu sangat membencinya.
"Untuk apa kamu ke sini, hah?" tanya Rere dengan nada ketus.
"Kamu jangan berbicara seperti itu!" ujar Ivan.
"Tadi ibu tidak sengaja bertemu dengan Naina di depan. Dia habis membeli obat untuk ibunya, dan mendengar kamu sedang lahiran ya sudah, Ibu mengajaknya sekalian. Karena Naina juga ingin melihat keadaanmu," terang Bu Santi.
"Halaah! Bilang aja kamu mau meledek ku kan? Ngaku!" bentak Rere sambil menatap tajam ke arah Naina.
Tentu saja wanita itu menggelengkan kepalanya, dengan tuduhan yang tak masuk akal. Kemudian dia mendekat ke arah ranjang rumah sakit, di mana saat ini Rere tengah memalingkan wajahnya.
Ivan bangkit dari duduknya, memberikan ruang kepada Naina. Apalagi melihat wanita itu tengah hamil, dan dia mempersilahkan Naina untuk duduk.
"Jujur, aku tidak tahu kenapa kamu sangat membenciku? Aku dan juga Kak Ivan sudah tidak ada hubungan apapun. Dan di sini sejujurnya bukan akulah yang salah. Apa sebenarnya yang membuat kamu membenciku, Rere? Apa salahku kepadamu? Aku dan kak Ivan pun tidak pernah bertemu. Kamu sudah mendapatkannya, lalu apa yang menjadi alasanmu? Sekarang kita sudah mempunyai hidup masing-masing, kamu menikah, dan aku pun menikah dengan yang lain. Lalu, kenapa kita tidak bisa berdamai? Aku tidak pernah membencimu, walaupun kamu pernah menyakitiku. Karena ibuku selalu mengajarkan, agar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak bisakah kita berteman dan saling memaafkan satu sama lain?" pinta Naina dengan penjelasan panjang lebar.
Rere masih terdiam, dia enggan menatap ke arah wanita itu. Karena saat ini rasa tak suka masih saja menggerogoti hatinya.
Memang benar apa yang dikatakan Naina, di sini dia tidak salah, tapi dirinya lah yang salah yang telah merebut Ivan dari Naina dengan cara yang kotor. Tapi untuk mengucapkan sebuah kata maaf, entah kenapa Rere begitu sangat gengsi. Sehingga kata itu sangat mahal untuk terucap dari bibirnya.
Melihat tidak ada tanggapan dari Rere, Naina menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan wanita itu, membuat Rere seketika menatap ke arahnya dengan tajam.
"Kita tidak mungkin bukan bermusuh-musuhan seperti ini terus? Jujur, aku memang tidak pernah menyimpan dendam kepadamu. Jadi, bisakah kita saling memaafkan? Kamu dan juga Kak Ivan sudah menikah. Apapun yang terjadi di antara kita bertiga, itu adalah masa lalu. Dan apapun yang terjadi di antara kamu dan juga Kak Ivan, itu bukan masalahku dan tidak ada sangkut pautnya denganku. Dan kamu Kak Ivan, kamu juga harus bisa untuk memaafkan Rere. Apapun kesalahannya, dia adalah istrimu, apalagi sekarang kalian sudah mempunyai anak. Apa kalian akan tetap bertengkar? Lalu, bagaimana dengan kehidupan Putri kalian di masa depan?" Naina memberi masukan kepada pasangan suami istri tersebut.
Sedangkan Bu Linda hanya menetap kagum ke arah wanita itu. Wanita yang pernah dicintai oleh putranya, namun dikhianati. Dia benar-benar sangat menyayangkan, sebab Ivan membuang sebuah berlian hanya untuk batu kerikil.
Namun walau bagaimanapun, Rere sudah menjadi menantunya. Dan mau tidak mau dia harus menerima wanita itu, apalagi sekarang dia sudah mempunyai cucu dari Rere.
"Tapi aku tidak yakin, jika anak itu adalah darah dagingku. Aku sudah meminta dokter untuk melakukan tes DNA." Timpal Ivan dengan tegas.
Rere yang mendengar itu pun menitikan air mata, sementara Naina sedikit kaget dengan jawaban dari pria tersebut. Kemudian dia berdiri berjalan mendekat ke arah Ivan.
"Lalu, jika dia bukan keturunanmu, apa kamu akan membuangnya? Apa kamu setega itu Kak, sama bayi? Dia tidak berdosa. Walaupun jika nanti tes DNA itu keluar dan menyatakan dia bukan darah dagingmu, kamu tidak pantas untuk membuangnya. Apapun keburukan istrimu, dia adalah tulang rusukmu, makmum mu. Jadi, seharusnya kamu bisa menerimanya! Semua manusia itu punya kekurangan, tidak semua memiliki kelebihan. Kamu juga mempunyai kekurangan bukan? Dan seharusnya kalian saling melengkapi satu sama lain, memaafkan kesalahan dari diri kalian masing-masing, bukannya malah meninggikan ego." Naina menatap ke arah Ivan dan juga Rere bergantian.
Pasangan suami istri itu pun terdiam, saat mendengar peringatan dari Naina. Mereka mencerna setiap kata demi kata yang keluar dari bibir manis wanita hamil itu.
Rere tidak menduga jika Naina bisa berkata sedemikian rupa, dan membela dirinya. Padahal dia sudah sangat jahat, karena selama ini telah menyakiti Naina, tapi wanita itu malah tidak membencinya dengan semua kejahatan yang pernah ia lakukan.
"Apa yang dikatakan Naina itu memang benar, Ivan. Seharusnya kalian berdua jangan meninggikan ego! Bayi itu tidak bersalah. Kalaupun dia memang bukan darah dagingmu, ibu akan tetap menganggapnya cucu Ibu. Karena walau bagaimanapun, Rere itu menantu ibu. Iya, memang benar selama ini Ibu sangat keberatan menganggap Rere menantu ibu. Tapi seiring berjalannya waktu, Ibu bisa menerima itu semua. Dan Ibu berharap, selepas Rere keluar dari tahanan, kamu harus berubah! Merubah semua sikap jelek kamu!" pinta Bu Santi sambil menatap ke arah Rere.
Melihat Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 sore, Naina pun berpamitan, karena Ibunya sudah menunggu obat yang dia beli.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Kak Ivan, Ibu, Rere. Soalnya Ibu nungguin obatnya. Cepat sembuh ya, dan aku doakan rumah tangga kalian baik-baik aja," ucap Naina sambil menyalami tangan Bu Santi, setelah itu dia pun keluar dari sana. Namun, seketika ditahan oleh suara seseorang.
Bersambung....
__ADS_1