
Happy reading...
"Kasus penculikan siapa yang kalian maksud?" tanya seseorang di balik punggung Mail dan juga Arga.
Kedua pria itu menengok ke arah belakang, dan ternyata yang datang adalah Mayra. Wanita itu terbangun saat dia mendengar pintu ruangan suaminya tertutup.
"Jawab! Kenapa kalian diam saja? Kasus penculikan apa yang kalian maksud? Siapa yang diculik?" desak Mayra sambil melangkah maju mendekat ke arah Arga dan juga Mail.
Kedua pria itu menjadi gugup, mereka melirik satu sama lain, memberikan kode siapa yang pada akhirnya akan menjawab pertanyaan Mayra.
Mail menyenggol bahu Arga, begitupun dengan pria tersebut, dia juga menyenggol bahunya dan Mayra yang melihat hal itu pun menjadi kesal.
"Kalian ini kenapa sih, malah saling senggol menyenggol? Udah kayak lagu aja. Sekarang jawab pertanyaan aku! Siapa yang diculik, Mas!" tegas Mayra sambil menatap tajam ke arah Arga.
Pria tersebut meneguk ludahnya dengan kasarx dia belum siap untuk mengatakan kepada Mayra jika sebenarnya yang mereka bicarakan adalah tentang kasus penculikannya sewaktu bayi.
"Itu sayang, kasus penculikan sahabatnya Mail. Iya sahabatnya Mail." Arga mengulang kata-katanya.
Akan tetapi, Mayra melihat kebohongan di kedua netra milik suaminya, dan ia pun tidak mudah percaya.
"Jadi kamu tidak mau jujur sama aku? Baiklah kalau kamu tidak mau jujur sama aku maka libur satu minggu untuk menengok lubang belut!" ancam Mayra sambil menunjuk wajah Arga, kemudian dia pergi dari sana menuju ruangan suaminya.
Arga yang mendengar itu pun tentu saja sangat syok. "Sayang, ya nggak bisa gitu dong! Nanti malam kan aku mau dapat jatah!" teriak Arga tidak terima.
Sementara itu Mail hanya terkekeh kecil saat mendengar ancaman dari istri sahabatnya tersebut. Dia tidak menyangka jika Arga takut dengan ancaman konyol itu.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Arga dengan ketus saat melihat sahabatnya telah mentertawakan dirinya.
"Sepertinya aku salah datang ke sini. Seharusnya kita bicara di cafe saja. Ya sudah, aku mau ke kantor dulu." Kemudian Mail pun pergi dari sana, namun baru 2 langkah dia kembali menatap ke arah Arga.
"Aku tidak menyangka, pria seperti dirimu ternyata takut dengan hal konyol seperti itu?" Mail menggelengkan kepalanya, kemudian dia pergi sambil terkekeh kecil.
Sementara Arga merasa kesal, "Hei! Kau belum merasakan surga dunia itu seperti apa nikmatnya. Kau bisa berkata seperti itu, karena kau tidak pernah mencoblos pemilihan dari lembah di tengah hutan! Kalau kau sudah memilih satu di antara mereka, pasti kau akan ketagihan!" teriak Arga yang tidak terima.
Sementara itu Mail hanya mengangkat tangannya saja sambil menggelengkan kepala, lalu dia masuk ke dalam lift. Mail merasa ucapan Arga itu begitu sangat konyol.
Mana mungkin bisa dia ketagihan dengan hal seperti itu? Walaupun pada akhirnya Mail tahu, kebutuhan seperti itu adalah hal yang manusiawi, tapi Mail sama sekali tidak tertarik.
Dia memang belum pernah berpacaran ataupun menyentuh seorang wanita selain ibunya, karena menurut Mail wanita itu hanya makhluk yang begitu ribet dan juga banyak maunya.
Sifat wanita yang terlalu susah ditebak membuat Mail sama sekali tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan, apalagi tentang ikatan pernikahan.
Arga masuk ke dalam ruangan dan dia melihat Mayra tengah melipat kedua tangannya, sambil duduk di sofa dengan wajah cemberut.
Pria itu mendekat ke arah sang istri, kemudian duduk di sebelahnya. Namun Mayra menggeser tubuhnya hingga di ujung sofa.
"Kamu marah sama aku?" tanya Arga dengan ada yang lembut
"Kamu pikir?"
Mendengar jawaban dari sang istri, Arga menghela nafasnya dengan kasar. "Bukannya aku tidak ingin jujur kepadamu, tapi pada akhirnya nanti kamu akan tahu sayang. Hanya saja untuk sekarang belum saatnya," jawab Arga dengan ambigu.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Mayra menatap ke arah Arga dengan tajam. "Maksud kamu?" tanyanya dengan nada yang heran.
"Kamu bilang tadi penculikan tentang sahabat dari Mail? Lalu sekarang, kamu bilang ada hubungannya denganku? Dan belum saatnya aku mengetahui itu semua? Memangnya apa yang kamu sembunyikan dariku, Mas?" desak Mayra.
Arga menutupi kebodohannya, karena sudah keceplosan. Tapi memang belum saatnya Mayra mengetahui tentang masa lalunya dan masa kecilnya.
Mayra yang melihat keterdiaman suaminya pun menjadi semakin kesal, kemudian dia mendesak Arga untuk mengatakan semuanya. Karena jujur saja, saat mendengar ucapan pria itu Mayra merasa jika ada sesuatu hal besar yang disembunyikan oleh Arga.
"Mas! Katakan sama aku, apa yang kamu sembunyikan!" desak Mayra.
Saat Arga akan mengatakan dan menjawab pertanyaan dari Mayra, tiba-tiba saja pintu ruangannya diketuk.
TOK! TOK! TOK!
"Maaf Pak, di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap Silvia asisten dari Arga.
"Bawa dia masuk!" titah Arga pada wanita itu.
"Baik Pak!"
Pintu ruangan itu kembali tertutup, sedangkan Mayra hanya diam sambil merenggut dengan kesal. Dan tak lama pintu ruangan tersebut kembali terbuka, Silvia masuk dan mempersilahkan seseorang yang berada di belakangnya.
"Silakan Tuan," ucap Silvia mempersilahkan tamu Arga.
Saat Arga menengok beserta dengan Mayra, kedua orang itu kaget saat melihat Siapa yang datang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....
MAAF YA HARI INI UP SEDIKIT🙏🏻AUTHOR HARI INI LMYAN SIBUK🙏🏻INSYAALLAH BESOK UP BANYAK🤗