Di Tinggal Nikah Karena Jelek

Di Tinggal Nikah Karena Jelek
Membandingkan


__ADS_3

Happy reading.....


Kebahagiaan dirasakan oleh Naina,karena mereka sudah mendapatkan restu dari ibu Sumarni. Dan saat ini Naina bersama dengan Reno tengah duduk berdua di taman, sedangkan Bu Sumarni masuk ke dalam.


"Jadi bagaimana Naina, apa jawabanmu?" tanya Reno sambil menggenggam tangan Gadis itu dan menatapnya dengan lekat.


"Memangnya Mas mau jawaban apa?" tanya Naina balik.


Reno yang mendengar itu pun malah menjawil hidung Naina, membuat gadis tersebut merengut kesal. "Aku bertanya Naina, kenapa kamu malah bertanya balik?"


Naina terkekeh, hal itu yang membuatnya senang, karena dia sering sekali menjahili Reno. Dan pria itu tidak pernah marah, bahkan ketika Naina menjahilinya, Reno hanya mencubit hidungnya atau pipinya saja.


"Jika ibunya Mas Reno sudah menyetujui. Bukankah itu adalah kabar yang baik? Jadi apa alasanku untuk menolak?" ucap Naina pada akhirnya dengan kepala menunduk dan wajah malu-malu.


"Jadi, artinya kamu menerima cintaku?" tanya Reno dengan antusias.


Naina mengangguk pelan, pipinya sudah bersemu merah. Dia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang berdebar.


Reno yang bahagia pun ingin memeluk Naina, tapi satu tangan gadis itu menahan dada Reno. "Jangan dulu! Kita belum nikah," ucap Naina dengan wajah yang malu-malu.


"Tapi hanya peluk saja, aku janji tidak akan ngapa-ngapain," jawab Reno.


Akan tetapi, Naina segera menggeleng dengan cepat, kemudian Reno mengalah. Setelah mengobrol beberapa saat dan jam juga sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, Reno akhirnya mengantar Naina pulang ke kontrakan.


.


.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, tempatnya di kota Jakarta, saat ini Ivan sedang bertengkar dengan Rere, karena wanita itu baru saja pulang.


"Udahlah Mas, aku ini baru pulang, capek. Nggak usah lah kamu tanya yang aneh-aneh! Emangnya kamu nggak lihat nih, barang belanjaan aku tuh banyak?!" ujar Rere dengan nada yang ketus.


"Kamu itu lagi hamil Rere. Kamu itu sudah mempunyai suami, bukan lajang lagi! Seharusnya kamu itu ada saat suami pulang, bukan hanya tahunya malah belanja terus ngabisin uang suami!" geram Ivan.


"Aduh Mas, sudah deh, nggak usah lebay! Ssal kamu tahu ya, belanja itu udah kebutuhannya wanita, dan itu sudah biasa."


"Oh ya, tapi Naina tidak seperti itu? Dia bahkan tidak suka menghambur-hamburkan uang!"


Rere yang mendengar Ivan membanding-bandingkan dia dengan Naina pun merasa geram. "Sekarang kamu berani ya, membanding-bandingkan aku dengan cewek gendut dan jelek itu?!" kesal Rere.


"Aku tidak membandingkan, tapi memang itu faktanya. Kamu dan Naina sangat berbeda," jawab Ivan sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap istrinya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Owh, kamu mau sana balik sama dia? Cewek gendut kayak gitu aja bangga!" ketus Rere sambil membanting barang belanjaannya.


Saat ini dia perlu mendinginkan kepalanya yang terasa panas. Setiap hari hanya ada perdebatan dan perdebatan saja antara dirinya dengan Rere.


Jauh di dalam lubuk hatinya, Ivan merasa menyesal karena telah meninggalkan Naina, dengan wanita seperti Rere. Kecantikan fisik memang belum tentu mempunyai kecantikan hati. Naina memang tidak cantik dalam fisik, tetapi hatinya jauh lebih cantik dari fisik.


Rere yang mendengar itu pun menjadi panik, dia tidak ingin jika Ivan meninggalkannya. "Gawat! Jika aku sampai bercerai dengan Mas Ivan, kebutuhanku bagaimana?" gumam Rere, kemudian dia menyusul Ivan keluar dari kamar.


"Sayang, kamu kok gitu sih? Seharusnya kalau istri lagi marah itu, kamu manja, jangan malah membentak. Apalagi membandingkan aku sama wanita udik itu?" manja Rere sambil mengapit lengan Ivan.


Tetapi pria itu malah menepisnya dengan kasar. "Sudahlah, aku tuh lagi males ribut," ujar Ivan, kemudian dia pergi meninggalkan meja makan namun tangannya ditahan oleh Rere.


"Please lah sayang, aku tidak benar-benar serius dengan ucapanku tadi. Aku kebawa emosi. Kamu kan tahu, aku lagi hamil? Orang hamil itu, emosinya tidak terkontrol. Jadi harusnya kamu itu paham, bukannya malah manjain istri kamu malah membentak? Kamu mau terjadi apa-apa sama anak kita?" Rere berkata dengan nada yang sedih air matanya sudah menetes.

__ADS_1


Ivan yang mendengar itu pun mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia melihat Rere yang sudah menangis dengan sesegukan. Mau tidak mau, Ivan pun memeluk tubuhnya.


"Sudah jangan menangis, aku minta maaf! Lagi pula, kamu memang sangat keterlaluan. Seharusnya wanita hamil tidak sering-sering keluar, apalagi sampai larut malam. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak kita, bagaimana? Apa kamu mau tanggung jawab? Pada akhirnya kamu akan menyalahkan aku. Padahal di sini kamulah yang salah," jelas Ivan panjang lebar.


"Iya Mas, aku minta maaf. Aku janji nggak akan keluar sampai malam lagi, tapi aku bosen di dalam rumah terus. Sku butuh hiburan_," tutur Rere dengan wajah memelas.


"Sebaiknya kamu kurangi kegiatan untuk keluar rumah! Karena sebentar lagi acara 4 bulanan bukan? Kita harus mengadakan syukuran. Ingat kata Mama, kamu harus menjaga kesehatan, menjaga imun tubuh, menjaga bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Menjaga anak kita," jelas Ivan kembali sambil memegang kedua bahu Rere.


"Iya sayang, aku nanti jarang keluar rumah deh," jawab Rere dengan wajah cemberut.


"Ya sudah, aku mau kerja lagi. Masih banyak kerjaan." Setelah mengatakan itu, Ivan meninggalkan Rere di meja makan, melangkah ke ruang kerjanya.


Rere menghapus air matanya dengan kasar, kemudian dia menghentakkan kakinya dengan kesal. "Dasar suami tidak tahu diri! Emangnya di rumah terus nggak bosen apa?" kesal Rere sambil menatap ke arah Ivan dengan sorot mata yang tajam.


Ivan mendudukan tubuhnya di kursi, dia menyugar rambutnya ke belakang. Pria itu benar-benar frustasi dengan rumah tangganya dan juga Rere. Dia pikir dengan menikahi Rere, Ivan akan merasa bahagia.


Memang iya, setiap dia bertemu dengan rekan kerjanya, semua memuji kecantikan Rere. Karena Ivan tidak malu membawa Rere sebagai istrinya.


"Ternyata benar, kecantikan fisik belum tentu mempunyai kecantikan hati," gumam Ivan sambil menatap langit-langit ruang kerjanya.


Seketika bayangannya mengarah kepada Naina, masa-masa di mana mereka masih bersama menikmati kebahagiaan.


Bukannya Ivan ingin membandingkan Rere dengan Naina, tapi memang mereka jauh sangat berbeda. Secara fisik, mungkin Rere pemenangnya, tapi secara keseluruhan dari etitude, sikap dan juga kebaikan semua dimiliki oleh Naina.


"Rasanya aku ingin sekali kembali kepada Naina lagi. Apa dia masih mencintaiku ya? Melihat sekarang Naina juga sudah berubah, tidak seburuk waktu itu?" gumam Ivan sambil menatap foto Naina yang masih tersimpan di ponselnya.


Foto yang masih banyak Jerawat, kusam, gendut. Akan tetapi senyuman Naina yang manis membuat Ivan luluh. Namun tetap saja, kebaikan hati mengalahkan nafsu Ivan, sehingga dia jatuh ke dalam pelukan Rere.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2