
Happy reading...
Mayra menatap ke arah belakang, di mana seseorang menepuk pundaknya. Dan saat dia lihat ternyata yang datang adalah Rendy teman kantornya.
"Hai Ren, gue kira tadi lu makan di luar," ucap Mayra saat Rendy duduk di hadapannya.
"Enggak! Gue tadi masih ngerjain tugas. Oh ya, gue boleh kan gabung di sini makan siang sama lo?" Rendy menatap ke arah Mayra dengan tatapan yang sulit diartikan.
Akan tetapi yang Mayra lihat, itu adalah tatapan seorang teman. Kemudian dia pun mengangguk, "Tentu saja, kenapa tidak?" jawab Mayra sambil kembali fokus pada makanannya.
Tak lama pesanan makanan dari Rendy pun datang, kemudian dia mulai menyantap makanan tersebut. Tapi kali ini Rendi tidak Memakan bakso, dia mau makan nasi padang dengan ayam bakar.
Tidak ada pembicaraan antara mereka. Mayra juga fokus pada makanannya begitupun dengan Rendy akan tetapi ada yang salah. Tatapan Rendy seperti mengisyaratkan sesuatu kepada Mayra.
Akan tetapi, tidak bisa ditangkap oleh Mayra. Sebab dia tidak pernah berpikir macam-macam kepada Rendy.
'Bagaimana bisa ya?' batin Rendy sambil menatap ke arah Mayra.
Tidak mereka sadari, ada seseorang yang tengah memperhatikan interaksi antara kedua manusia tersebut. Dan tatapannya tajam seperti elang yang sedang menatap ke arah mangsanya.
'Kenapa hatiku rasanya tidak rela, melihat Mayra duduk bersama dengan pria lain? Kenapa rasanya aku ingin marah?' batin pria itu.
Kemudian dia berjalan ke arah Mayra lalu memanggilnya. "Mayra?" Wanita itu pun menengok dan dia cukup kaget saat melihat Arga di sana.
"Pak Arga! Bapak mau makan?" tanya Mayra.
"Iya, tapi saya bingung mau makan apa. Wow ... kayaknya bakso yang kamu makan enak sekali ya? Kalau begitu saya akan pesan bakso deh. Apa saya boleh gabung di sini?" tanya Arga sambil melihat ke arah Rendy.
Tanpa meminta persetujuan dari Mayra dan juga Rendy, Arga pun duduk di samping gadis itu, membuat Mayra sedikit kaget. Namun dia mencoba untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
Sementara itu Rendy merasa canggung, karena saat ini dia sedang makan bersama bosnya, ditambah tatapan Arga seperti menguliti Rendy.
'Kenapa Pak Arga seperti tidak suka ya dengan kehadiran saya? Atau jangan-jangan dia ...' Rendy menatap ke arah Mayra dan juga Arga bergantian, namun seketika tatapannya menunduk saat melihat Arga menatapnya dengan tajam.
"Loh, kamu mau ke mana?" tanya Mayra saat melihat Rendy beranjak dari duduknya sambil membawa makan siangnya.
"Aku lupa ada yang mau kau bicarakan soal pekerjaan sama Bobby. Aku ke sana dulu ya," jawab Arga sambil menunjuk ke arah Bobby yang sedang makan sendirian.
Mayra hanya membulatkan mulutnya, kemudian dia pun mengangguk. Sementara itu Arga tersenyum miring. Dia tahu itu hanyalah alibi dari Rendy, karena tadi Arga menatapnya dengan tajam, dan pria itu rasa Rendy mengetahui apa maksud dari tatapan Arga.
'Ternyata tanpa ku usir lalat itu sudah pergi,' batin Arga.
Tak lama makanan pun datang, tapi Arga bingung karena dia tidak terbiasa makan bakso. Arga juga tidak tahu bumbu apa saja yang harus dicampurkan.
Mayra yang melihat Arga hanya diam saja pun merasa heran, kemudian dia menatap ke arah pria yang ada di sampingnya.
"Kenapa diam saja, Pak? Kenapa tidak dimakan?" tanya Mayra dengan bingung.
Mayra yang mendengar itu pun melongo, dia menatap ke arah Arga dengan tatapan tak percaya. "Tunggu dulu! Bapak apa belum pernah makan bakso?" tanya Mayra dengan heran.
"Sering sih, tapi di rumah Bibi selalu membuatkan tapi yang sudah jadi, saya tinggal makan. Tapi kenapa kuahnya beda sama punya kamu ya?" bingung Arga.
Mayra menggelengkan kepalanya, dia terkekeh kecil membuat Arga semakin heran dan menatap ke arah dirinya, kemudian Mayra mengambil cuka, kecap dan juga saus serta sambal, lalu menuangkannya satu persatu. Akan tetapi saat dia akan menuangkan sambal, Mayra pun bertanya.
"Apa Bapak suka pedas?" tanya Mayra.
"Suka, tapi tidak terlalu pedas, yang sedang saja."
Gadis itu mengangguk_ kemudian dia menuangkan setengah sendok sambal lalu mengaduknya, kemudian meminta Arga untuk memakan bakso tersebut.
__ADS_1
Pria itu hanya diam saja, menurut ucapan dari Mayra. Dia tidak tahu jika bakso harus dicampur dengan berbagai banyak bahan.
"Bagaimana rasanya, Pak?"
"Enak, seger, pedes, aku suka. Tapi tidak kusangka ternyata kalau bakso seperti ini harus dicampur dengan banyak bahan ya? Ada kecap, saus, sambal terus itu apa?" tunjuk Arga pada botol kecil berwarna putih.
"Ini namanya cuka, Pak, buat bikin kuah bakso asam. Jadi agak seger gimana gitu. Biasanya pakai irisan jeruk nipis juga bisa," jelas Mayra.
Kemudian mereka pun melanjutkan makannya, sementara Rendy hanya menatap ke arah Mayra. Dia menghela nafasnya dengan berat sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Entah kenapa seleranya seketika menjadi hilang.
"Yaelah Bro, harusnya lo itu ngungkapin perasaan lo sama Mayra. Kenapa sih,lo nggak pernah bisa untuk ngungkapin itu? Kalau sampai dia direbut sama Pak Arga, gimana? Mayra itu kan jomblo, siapa cepat dia yang dapat," ujar Bobby sambil meminum es campurnya.
Terlihat Rendymenghela nafasnya, kemudian dia pun menggeleng. "Aku belum berani Bob, entah kenapa bersaing dengan Pak Arga membuatku menciut. Lihat saja, sainganku itu seorang CEO, sedangkan aku hanya karyawan biasa," ujar Rendy sambil menundukkan kepalanya.
.
.
Hari yang ditunggu pun telah tiba, di mana saat ini Naina akan bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. Sebab satu minggu lagi acara pernikahannya dengan Reno akan dilangsungkan.
Baju pengantin, catering dan juga semua sudah siap, tapi selama di dalam mobil terlihat wajah Naina begitu tegang. Karina yang melihat itu pun menggenggam tangan sang adik.
"Kamu kenapa?" tanya Karina
"Entah kenapa, aku takut kak. Aku takut jika nanti pernikahanku batal kembali, padahal semuanya sudah siap," jawab Naina dengan raut wajah yang sedih.
Reno yang sedang menyetir mobil bersama dengan Dewa yang ada di sampingnya menengok ke arah belakang. "Kamu tidak usah khawatir! Aku tidak akan pernah menyakitimu, atau membatalkan pernikahan ini! Pilihanku sudah tepat, dan aku bukanlah Ivan," jawab Reno memastikan Naina.
"Iya Mas, aku percaya kalau kamu tidak seperti Kak Ivan. Semoga saja acara kita akan berlangsung langgeng dan tidak ada kendala apapun," jawab Naina.
__ADS_1
"Aamiin ... kamu tidak usah khawatir! Jika Reno berani macam-macam dan berani menyakiti kamu, maka kakak yang akan turun tangan secara langsung." Timpal Dewa yang berada di jok depan.
Naina menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap ke arah luar. Sejujurnya memang Naina sangat takut jika pernikahannya akan gagal kembali. Akan tetapi hatinya yakin jika Reno tidak seperti Ivan yang lepas akan tanggung jawab dan juga janji-janjinya