
Lobi kantor.
Mereka pun tiba di kantor, namun Ryan yang masih harus mengurus hal lain melanjutkan perjalanannya.
Setelah meeting yang sangat mendebarkan, Rina juga dikejutkan karena pertemuannya dengan Siska. Rina kini dihadapkan dengan persyaratan yang membuatnya harus mengambil keputusan penting dalam hidupnya.
"Aku harus pikirkan ini semua, tidak boleh gegabah, ini menentukan untuk karir dan hidupku." gumam Rina penuh resah.
Viska yang melihat Rina merasa risau dengan keadaannya, ia akhirnya bertanya kepada Rina, sehingga Rina menceritakan semua kepada Viska.
"Kasian Rina dia pasti bingung harus bagaimana." gumam Viska.
Viska memegang pundak Rina, memberi isyarat bahwa ia tidak sendiri menghadapinya. Rina pun tersadar dari lamunannya.
"Aku sudah pikirkan baik-baik, aku akan menolak persyaratan yang di ajukan Angga." ujar Rina kepada Viska.
"Kalau itu sudah jadi keputusan kamu, aku dukung Rin, kalau pada akhirnya kamu di pecat oleh Bu Inggrid, aku pun akan mundur dari perusahaan ini." ucap Viska mendukung Rina.
"Hanya saja aku bingung dengan Angga, dia tidak profesional, harusnya dia bisa membedakan antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya, kalau memang dia suka sama kamu, itu kan bisa di bicarakan tidak usah mengajukan syarat aneh begitu."' ujar Viska.
"Kalau pun dia suka denganku aku tidak mungkin menerimanya, dia sudah mempunyai istri dan anak. Aku pun tidak mau menjadi simpanannya." ketus Rina menjawab.
__ADS_1
"Ya sudah apapun hasilnya kita hadapi bersama ya Rin." ucap Viska seraya memeluk Rina.
"Makasih ya." sahut Rina.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat, tak terasa penghujung jam kerja telah tiba. Rina terlihat sedang membenahi ruangannya, karena Rina sadar penolakan yang ia lakukan pasti akan berimbas langsung kepada pekerjaannya ini, ia ingat apa yang di sampaikan Bu Inggrid sebelum ia meeting tadi. Tak lama handphone Rina berbunyi tanda pesan masuk.
Drrret-drrret-drrret
"Baik kalau kamu menolak permintaanku apa boleh buat aku tidak bisa menanda tangani kontrak kerjasama ini". ujar Angga di pesannya.
"Baik Pak, tidak apa-apa." jawab Rina singkat.
Tak berapa lama kemudian Bu Inggrid pun memanggil, sesuatu yang sudah Rina duga sebelumnya, Rina melangkah dengan ragu.
"Masuk." ujar Bu Inggrid.
Rina masuk dengan jantung berdebar, namun ia sudah siap dengan apapun yang akan ia terima.
"Rina, seperti yang saya bilang, maaf Rin setelah ini kamu bisa ke HRD untuk mengambil gaji kamu, untuk gaji kamu tidak saya potong walau ini belum sebulan full, ini sebagai apresiasi dari saya, karena saya puas dengan kinerja kamu, namun sangat di sayangkan syarat dari Pak Angga tidak bisa kamu penuhi, saya sebenarnya menyayangkan keputusan kamu, tapi saya hargai itu." tegas Bu Inggrid menyayangkan keputusan yang Rina ambil.
"Tidak apa - apa Bu, saya ucapkan juga terima kasih karena Ibu selama ini sudah sangat baik selama saya kerja di sini, maaf saya tidak bisa membuat proyek ini berhasil, saya permisi dulu Bu." Ujar Rina seraya pamit kepada Bu Inggrid.
__ADS_1
Rina akhirnya keluar dari ruangan Bu Inggrid, di depan ruangan Viska sudah menunggunya. Rina berusaha tegar walau tak bisa di bohongi ia menangis. Namun Viska memeluknya ia membuat Rina tenang, setelah itu Viska masuk ke dalam ruangan Bu Inggrid, walau beberapa kali Rina sudah menahannya untuk tidak mengundurkan diri, namun tetap saja ia mengabaikannya. Viska tetap menghadap Bu Inggrid.
15 menit berlalu.
Viska keluar dari ruangan Bu Inggrid dengan raut wajah yang kesal. Viska coba untuk menjelaskan kepada Bu Inggrid tapi ia tidak mendengarkan apa yang Viska katakan untuk merubah keputusannya. Viska berusaha menenangkan Rina dan ia mengajak Rina ke suatu tempat untuk bisa melupakan pekerjaan mereka. Setelah berpamitan dengan karyawan lain di kantor, mereka segera menuju parkiran mobil untuk pergi ke tempat yang Viska inginkan.
Di dalam mobil Viska berulang kali selalu meyakinkan Rina bahwa semua keputusan yang ia ambil itu sangat tepat.
"Harga diri seorang wanita itu lebih berharga di banding pekerjaan dan uang, Rin." ucap Viska
Tak perlu waktu lama mereka pun tiba di sebuah cafe. Mereka memesan makanan dan berfoto selfie, seolah tidak ada hal berat yang mereka sudah lewati.
Raut wajah sedih juga tidak tampak terlihat di wajah mereka, walau sekarang mereka sudah tidak memiliki pekerjaan.
Rina sendiri percaya, ini sebuah awal untuknya, Rina berencana akan membuka toko kue dan kembali menjadi Fotografer. Viska pun sangat mendukung dengan semua rencananya, karena ia tahu Rina sangat pintar dalam membuat kue, bakat dari Ibunya.
******
Bersambung✍️
__ADS_1
Beri like dan tinggalkan koment ya.. makasih