
Bi Imah menunggu Rangga sudah sangat lama.
"Aku gak bisa menunggu Mas Rangga, aku harus berusaha bawa Rina masuk ke dalam, kasian dia." ucap Bi Imah.
Bi Imah mencoba untuk membawa Rina menuju ruang tamu, dengan susah payah Bi Imah pun berhasil.
"Kenapa Rina bisa seperti ini? Anakku maafkan Ibu yang meninggalkanmu, sehingga kamu mengalami semua ini, Ibu baru sadar harta itu bukan segalanya dan harta tidak menjamin hidup kamu bahagia." lirih Bi Imah seraya melihat Rina yang tak sadarkan diri.
Di tengah kesedihan Bi Imah yang menyesali apa yang dia lakukan di masa lalu. Tak beberapa lama kemudian Rina tersadar, ia ketakutan. Rina nampak masih trauma ia terlihat depresi sekali, giginya gemetaran, ia pun menangis. Bi Imah yang melihat semua itu, berusaha menenangkannya, ia memeluk Rina.
"Mba sudah Mba, jangan takut lagi! Mba sudah di rumah, ini Bibi." ujar Bi Imah seraya mendekat dan membelai rambut Rina.
Rina terus meronta menangis teringat semua yang dilakukan Angga saat merampas kehormatannya, Rina berteriak melepas semua kesedihannya, tanpa Rina sadari suaranya membangunkan Vara yang sedang tertidur.
Terdengar suara Vara berlari.
"Kakak, Kakak kenapa?" tanya Vara yang panik menghampiri Rina.
Rina yang mendengar suara Vara berusaha untuk tenang, karena Rina tidak mau membuatnya khawatir.
"Kakak hanya takut Var, Kakak takut." ujar Rina menangis.
"Mba gak usah takut lagi, sekarang ada Bibi ada Neng Vara juga, sebentar lagi Mas Yoga datang tadi Bibi udah telepon Pak Adi ngabarin kalau Mba Rina udah pulang." ujar Bi Imah.
__ADS_1
"Iya Kakak, jangan takut lagi ya, ayo kita ke kamar Kakak, biar Kakak istirahat." ujar Vara seraya membopoh Rina yang dibantu Bi Imah.
Mereka pun menuju kamar Rina.
15 menit kemudian.
Setelah mengganti pakaian, Rina merebahkan tubuhnya di ranjang, di temani oleh Vara. Bi Imah dengan segera menyiapkan teh manis panas kesukaan Rina agar Rina lebih tenang. Saat Bi Imah sedang menyiapkan teh manis untuk Rina, telepon pun berbunyi.
Drrret-drrret-drrret
"Halo, dengan Bu Imah." ujar seorang laki-laki.
"Iya Pak benar ini dengan saya Imah, ada apa ya pak?" ujar Bi Imah.
"Begini saya mau menawarkan panci Bu, apa Ibu berminat, saya dapat nomor Ibu dari tetangga Ibu katanya Ibu sedang mencari panci ya." ujar seorang Pria.
Telepon pun ditutup dengan cepat oleh BI Imah. Namun tak lama handphone Bi Imah kembali berbunyi.
Drrret-drrret-drrret
"Halo Mas, kan saya udah bilang gak usah telepon-telepon lagi, anak saya tuh lagi sakit ini saya harus ngurusin anak saya dulu, Mas tuh ganggu aja ya." ujar Bi Imah.
Pak Adi dan Yoga ternyata sudah datang tanpa BI Imah sadari, mereka lumayan terkejut dengan ucapan Bi Imah. Namun karena rasa khawatir terhadap Rina, mereka pun berlalu begitu saja dengan memberikan kode kepada Bi Imah bahwa mereka telah sampai.
__ADS_1
"Maaf Bu saya baru menelpon Ibu sekarang, saya dari kepolisian Bu, saya menghubungi karena Ibu adalah kontak terakhir yang menghubungi saudara Rangga." ujar seorang Polisi.
"Eh iya pak, maaf saya pikir tukang panci yang barusan saya tutup teleponnya pak." ujar Bi Imah malu dan terkejut.
"Begini Bu, apa Ibu bisa datang ke Rumah Sakit Berlian? Karena saudara Rangga mengalami kecelakaan dan saat ini kondisinya sedang dalam keadaan kritis." ujar Polisi tersebut.
"Apa Pak! Rangga kecelakaan." ucap Bi Imah terkejut sekali.
Adi dan Yoga yang mendengarnya sampai menghentikan langkah mereka menaiki anak tangga untuk menuju kamar Rina, mereka di buat sangat terkejut dengan suara Bi Imah yang mereka dengar.
"Mas Rangga kecelakaan." ucap Yoga kaget.
Mereka bertiga pun saling melihat satu sama lain seolah tak percaya dan kaget dengan kabar ini.
"Baik gini aja, Papa yang akan ke rumah sakit, kamu Yoga di sini aja jagain Kakak kamu, kalau ada apa-apa, segera hubungi Papa ya." ucap Adi tetap tenang.
"Baik Pah, Papa hati-hati." ucap Yoga seraya melanjutkan langkahnya menuju kamar Rina.
Adi menghampiri Bi Imah dan seolah ingin menanyakan masalah yang dia dengar tadi.
"Apa yang Bi Imah maksud dengan anaknya tadi ya?" gumam Adi bertanya dalam hatinya.
Di tengah rasa penasarannya Adi memutuskan untuk menanyakan kepada Bi Imah, namun belum sempat Adi bertanya, Bi Imah meminta izin untuk mengantarkan teh manis ke kamar Rina. Adi pun menunda niatnya untuk bertanya dan ia segera menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rangga.
__ADS_1
*****
Bersambung✍️