
Darren tertawa geli mendengar jawaban Andrean, karena sebenarnya ia hanya melontarkan candaan untuk mencairkan suasana yang sempat tidak enak, karena Darren merasa pandangan Andrean begitu tajam saat melihat Rina begitu dekat dengannya.
Pandangan mata Andrean membuat nyali Darren sedikit ciut, hingga ia tidak berani membalas pandangan Andrean.
"Jangan serius-serius Andrean, aku hanya bergurau tadi." ucap Darren sambil memukul perut Andrean dengan pukulan yang ringan.
Namun pukulan Darren tidak membuat Andrean bergeming sedikit pun.
"Iya aku juga tidak serius menjawab leluconmu tadi." ketus Andrean menimpali seraya membalas pukulan Darren ke arah perut, sama seperti yang Darren lakukan.
Berbeda dengan Andrean yang tidak merasakan sakit apapun, pukulan Andrean yang terlihat pelan, namun bagi Darren sangat menyesakkan hingga membuatnya harus melangkah mundur dan duduk di kursi yang berada di belakangnya.
Darren terlihat mengendus menahan nafasnya karena rasa sesak akibat pukulan di perutnya, Andrean yang melihat reaksi Darren merasa heran.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Andrean penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Darren.
Darren menutupinya dengan bersikap seolah ia tidak merasakan apapun, ia lalu berdiri menegapkan tubuhnya.
"Tidak, tidak apa-apa, hanya saja tadi perutku terasa seperti diremas, soalnya aku punya penyakit lambung, maklumlah kebiasaan makan selalu di tunda." sanggah Darren yang masih merasakan sakit di perutnya, namun dengan sekuat tenaga ia menahannya.
"Oke, kalau begitu aku akan mendekat menuju depan pintu untuk berjaga-jaga." ucap Andrean seraya berlalu meninggalkan Darren yang baginya terlihat sangat aneh.
Setelah Andrean pergi, Darren pun melangkah menjauhi Andrean, ke sisi koridor yang berbeda. Setelah dirasa aman dari pendengaran Andrean, Darren langsung mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Tenaganya berbeda sekali denganku, padahal dia kelihatan pelan memukulku sama seperti aku saat memukulnya, ternyata memang benar kata Rina, dia seorang Bodyguard yang berkelas dan tidak bisa dipandang sebelah mata." tutur Darren yang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Di dalam ruang rawat Viona.
Saat Rina masuk keadaan sempat menjadi canggung, ketika Rina melihat Rangga sedang menyuapi Viona. Viona juga merasa tidak enak terhadap Rina, namun ia cepat mengacuhkan perasaannya itu dengan kembali bersikap manja kepada Rangga.
"Maaf ya Rina, selama ini aku selalu cemburu saat Rangga menceritakan kamu ke aku, tapi sekarang aku tidak akan melepas saat-saat seperti ini saat aku bisa bermanja-manjaan dengan Rangga." gumam Viona.
__ADS_1
"Viona gimana keadaan kamu, apa sudah lebih baik?" tanya Rina yang merasa tidak enak mengganggu waktu Viona dan Rangga.
"Aku sudah baikan Rin, kamu tidak usah cemas, malah aku mencemaskanmu, apa pembunuh itu sudah tertangkap?" tutur Viona sekaligus bertanya balik kepada Rina.
"Betul begitu Rin, ada yang ingin ngebunuh kamu, jadi yang tadi berdiri terus mengamati kita itu manusia ya, bukan robot, aku pikir dia robot." ucap Sherra memotong obrolan Viona dan Rina dengan wajah yang kaget mendengarnya.
"Kamu tidak perlu mencemaskan aku Vio, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan kamu, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Rangga." ucap Rina mengingatkan Viona di depan Rangga.
Rangga hanya terdiam, tidak berani menatap wajah Rina dalam keadaan sedang menyuapi Viona makan, ditambah sikap Viona yang semakin manja sejak kedatangan Sherra bersama Rina.
"Ini aku bawakan sedikit buah-buahan untuk kamu makan." ujar Rina seraya meletakkan bingkisan buah di atas nakas yang berada di samping ranjang yang Viona tiduri.
"Terima kasih ya Rina." ucap Viona dengan senyuman manisnya.
Tiba-tiba Rina merasakan suhu tubuhnya naik 3 derajat Celcius, yang tadinya 37° mungkin sudah menjadi 40°, ketika melihat Rangga mengusap bibir Viona dengan tisu.
"Kamu pelan-pelan dong nyuapinnya." keluh Viona manja seusai meminta Rangga mengusap bibirnya yang kotor oleh bercak kecap.
"Dasar kamu Vio, manja banget udah kaya anak SD." sindir Sherra melihat Viona yang bersikap berlebihan.
Rina masih mematung diam tanpa kata, menatap pemandangan yang baginya sangat membuat matanya perih hingga ke hatinya, tiba-tiba segala kenangan bersama Rangga terlintas dalam benaknya.
Kenangan sewaktu Rina menggoda Rangga di dalam mobil, saat Rangga membawa Rina ke sekolah SMA mereka.
Waktu Rangga mengantar Rina pulang dari rumah sakit, Rangga menutupi wajahnya dengan topeng, itu hal yang terlucu hingga membuat Rina tertawa.
Saat Rina mencium bibir Rangga tapi Rangga hanya terdiam tanpa membalas.
Semua kenangan yang membuat batin Rina menangis, ia coba untuk kuat, namun air matanya sudah mulai menganak di kelopak matanya, beberapa kali Rina memalingkan wajahnya agar Rangga maupun Viona tidak melihatnya.
Sampai akhirnya Rina merasa tak kuat menahan perih yang ia rasakan, Rina pun dengan tergesa-gesa pamit kepada Viona dan Rangga.
__ADS_1
"Vio, Rangga, aku pamit pulang ya, ingat Vio kamu mesti semangat untuk sembuh ya, karena hari pernikahan kalian sudah dekat." tutur Rina dengan mata yang berkaca-kaca, seraya beranjak keluar dari ruangan.
Melihat Rina keluar dengan langkah yang terburu-buru, membuatnya dapat membaca apa yang Rina rasakan.
"Sekarang aku tahu, ternyata Rina cemburu dengan kedekatan Viona dan Rangga." gumam Sherra yang menyimpulkan atas apa yang dilihatnya.
****
Sepasang kaki terlihat memasuki lift, ia menekan angka 5 dan pintu lift pun menutup. Seorang wanita terlihat sedang menggenggam handphonenya dan menghubungi seseorang.
"Aku sudah naik ke atas, jangan sampai gagal lagi, oke!" ucap wanita itu seraya menutup teleponnya.
****
Tak lama Rina menghampiri Andrean mengajaknya untuk pulang, Andrean lalu mengikuti langkah Rina yang terlihat begitu terburu-buru. Sampailah mereka di depan pintu lift. Tiba-tiba lorong rumah sakit menjadi penuh dengan desakan orang yang banyak sekitar 20 orang lebih yang kini telah berdiri di depan lift di antara Rina dan Andrean. Andrean mulai merasakan keanehan yang terjadi di depan matanya, pandangannya langsung tertuju kepada Rina yang berada beberapa langkah di depannya.
Pintu lift terbuka, Rina sudah melangkah masuk ke dalam lift terlebih dahulu, saat Andrean ingin mengikuti Rina, tiba-tiba semua orang di sana menutupi jalan Andrean untuk dapat masuk ke dalam lift.
Andrean akhirnya tertahan, Rina yang ingin maju menekan tombol untuk membukakan pintu lift agar Andrean tidak tertinggal pun tertahan langkahnya oleh kepadatan orang-orang di dalam lift. Lift akhirnya mulai bergerak turun.
"Sial, kenapa orang-orang ini seakan menghalangi jalanku ya." gumam Andrean yang langsung berlari menuju tangga darurat.
Namun saat Andrean berlari dengan kencang menyusuri lorong rumah sakit, tiba-tiba muncul seorang wanita yang membuat tabrakan di antara kedua tidak bisa dielakkan.
bruk
Wanita itu terjatuh, membuat langkah Andrean terhenti.
"Au sakit banget, kamu di rumah sakit kenapa lari-lari sih?" ucap Mega yang mengaduh kesakitan.
****
__ADS_1
Bersambung✍️
Tekan like dan berikan komentar kalian ya. 🤗😊😍😁