Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Angga Bebas


__ADS_3

Dengan pertimbangan yang berat, akhirnya Rina membuat kesepakatan dengan Angga. Walau Rina agak ragu dengan keputusannya tapi ia tetap membebaskan Angga dan mencabut laporannya.


Angga melihat Rina bak seorang pahlawan.


"Akhirnya aku bebas, terima kasih ya adikku." gumam Angga lega.


Namun Rina yang enggan begitu saja percaya dengan cerita Angga, mencoba menjaga jaraknya, ia lebih memilih berjalan di samping Riansyah.


"Aku masih heran, jika dia memang Kakakku kenapa aku bisa menjebloskannya ke dalam penjara, walau dia hanya Kakak tiri sekalipun." gumam Rina.


"Laki-laki di sampingku ini ternyata Ayahku, tapi kenapa aku merasa baru melihatnya." imbuhnya dalam hati heran.


Walau hatinya masih resah dengan yang ia lakukan, namun Rina menaruh harapan yang sangat besar agar Angga dapat membantunya untuk mengembalikan ingatannya sesuai dengan kesepakatan mereka.


Sementara Riansyah tak punya pilihan lain selain diam, menutupi semua kenyataan tentang kejahatan yang Angga telah lakukan kepada Rina.


"Andai Angga bukan darah dagingku sudah pasti aku biarkan dia untuk mendekam dalam tahanan, tapi dia anakku, walau aku membencinya karena ia telah menodai putriku, tapi mau bagaimanapun dia tetaplah anakku." batin Riansyah kesal.


Riansyah mengajak Rina untuk menuju parkiran mobil, diikuti oleh Angga di belakangnya. Namun saat Rina hendak pergi keluar, di saat bersamaan Darren masuk ke dalam kantor polisi. Mereka tak saling melihat, Darren sangat terburu-buru hingga ia tak melihat Rina yang memang agak terhalang pandangannya oleh badan Riansyah.


Rina masuk ke dalam mobil, ia memilih untuk duduk di kursi depan, Riansyah pun melajukan mobilnya untuk meninggalkan kantor polisi. Mobil Riansyah sempat berpapasan dengan mobil Darren yang tampak terlihat Sherra keluar dari mobilnya, hendak menyusul Darren.


Setelah membuat laporan Darren diberitahukan oleh polisi bahwa wanita yang ia cari, sudah ditemukan oleh keluarganya yang baru saja pergi. Darren lega mendengarnya, namun di satu sisi hatinya tak rela jika ia tak bisa bertemu lagi dengan Rina.

__ADS_1


"Jika aku berjodoh, aku pasti akan bertemu lagi dengan Rina, tapi bila tidak berarti dia memang bukan jodohku." gumam Darren.


Sherra tak lama datang menghampirinya. Darren menceritakan apa yang baru saja polisi katakan padanya. Mereka berdua pun kembali ke mobil.


"Sudah Darren, tidak usah kamu cari lagi wanita itu, sekarang dia sudah bersama keluarganya." ucap Sherra ikut lega.


"Aku bersyukur wanita itu sudah ditemukan oleh keluarganya, semoga Darren tidak pernah bertemu dengan Rina lagi." gumam Sherra yang mulai tersenyum kecil.


Mobil Darren pergi meninggalkan kantor polisi untuk kembali ke mansion.


****


Rumah Rangga.


Terlihat nama Sherra tercantum di layar handphone Viona.


Sherra merupakan sahabat Viona di Australia, rumah yang bersebrangan membuat hubungan mereka semakin dekat. Namun Sherra lebih sering pulang ke Indonesia untuk menemui Darren. Satu kesamaan yang membuat mereka saling mengerti satu sama lainnya, adalah mencintai laki-laki yang tidak mencintainya.


Setelah lama berbicara dengan sahabatnya, Viona pun menutup teleponnya.


"Pasangan! Apa Rangga mau datang menemaniku ke pesta ulang tahun Sherra ya?" tanya Viona ragu.


Viona beranjak menunda waktu tidurnya, ia keluar kamar dan berusaha mencari Rangga.

__ADS_1


"Rangga gak ada di ruang tamu, pasti dia di kamar." ucap Viona seraya melangkah ke arah kamar Rangga.


Viona pun tiba di depan kamar Rangga. Tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu, namun karena ia melihat pintu sudah terbuka setengahnya. Viona mengurungkan niatnya dan langsung masuk ke dalam kamar. Viona melangkah dengan perlahan sambil melihat sekeliling kamar.


"Dasar Rangga, kamarnya berantakan banget." ucap Viona dengan suara yang pelan.


Saat Viona melangkah lebih dalam, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara Rangga yang ternyata sudah di belakangnya.



Maksud hati hanya ingin mengagetkan Viona, namun Viona sudah mengendus keberadaannya, ia berhasil menangkap tangan Rangga, hingga membuat tubuh mereka menjadi begitu dekat.


"Kenapa malah seperti ini? Sedekat ini dengan Viona membuatku jadi gugup." gumam Rangga.


"Rangga, semoga kenyamanan ini selalu bisa ku rasakan, aku berharap akulah yang kamu pilih untuk jadi labuhan hatimu." batin Viona berharap.


****


Terlihat tangan seorang laki-laki sedang memegang handphonenya. Laki-laki dengan suara berat ini terdengar sedang melakukan pembicaraan dengan serius.


"Baik Bu, saya akan habisi sesuai dengan perintah, Ibu." jawab laki-laki tersebut seraya mengakhiri teleponnya.


****

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2