
Pagi itu Rina terbangun dengan keadaan yang sangat baik. Lelah yang ia rasakan kemarin seperti sirna. Setelah mandi dan berganti pakaian, Rina segera keluar dari kamar dan menuju ke bawah. Rina menuruni anak tangga, dari tempatnya ia sudah melihat suasana di meja makan seperti sudah ramai terisi oleh beberapa orang.
Rina yang bingung tetap melangkah untuk menghampirinya.
"Hai, anakku sudah bangun." sapa Riansyah.
Seorang wanita melirik Rina dengan tatapan tidak suka, ia hanya diam dan mulai menatap Rina.
"Kamu tidur lelap sekali Rina, aku sampai tidak tega membangunkan." ucap Angga.
Di sini Angga sudah terlihat berubah, bukan Angga yang dulu lagi. Angga yang sekarang adalah seorang Kakak yang ingin menebus segala dosa-dosanya yang pernah ia lakukan terhadap adik perempuannya.
"Iya nih, aku lelah sekali, banyak hal yang terjadi kemarin." keluh Rina menghela nafas yang sudah duduk di kursi meja makan, berhadapan dengan wanita yang menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
Riansyah melihat istrinya bersikap demikian, beranjak dari meja makan dan mengajak istrinya untuk berbicara dengannya terlebih dahulu.
"Mama, ikut Papa sebentar Mah." pinta Riansyah seraya beranjak dari kursinya dan menjauh dari Rina diikuti oleh istirnya.
Rina hanya melihatnya biasa saja tidak ada kecurigaan bahwa mereka ingin membicarakannya.
"Mah, aku sudah bilang sama kamu, bersikap yang baik terhadap Rina." tegas Riansyah.
"Aku ingin Mas, tapi hati aku tidak bisa." ketus Dian kesal.
"Aku tidak mau tahu, apapun yang terjadi kamu harus bersikap baik terhadap Rina, karena ini waktunya kita menebus segala dosa kita kepada Rina, ingat mah karena kamu aku meninggalkannya sewaktu dalam kandungan Ibunya." tutur Riansyah yang mulai mempertegas suaranya.
Dian yang mulai ketakutan jika melihat suaminya marah, berusaha menuruti kemauan Riansyah.
"Iya Mas, kamu itu memang licik ya, saat ini aku tidak bisa seperti dulu yang leluasa mengatur semua yang aku inginkan, sekarang aku harus mengikuti semua yang kamu mau." geram Dian mengingat kejadian waktu Riansyah membohonginya soal tanda tangan surat kuasa pengalihan harta dan semua aset yang Dian miliki.
"Saat ini aku hanya bisa menuruti semua keinginan kamu Mas, tapi nanti lihat ada saatnya kamu akan seperti dulu mengikuti apa yang aku mau!" gumam Dian geram dalam hatinya.
"Dulu kamu perlakukan aku seperti bidak catur kamu, padahal aku suami kamu, lama-lama aku berpikir, aku yang seharusnya kamu turuti tapi apa, aku tidak sekaya raya kamu dengan segala harta dan kekuasaan yang kamu miliki, maka itu terbesit suatu ide agar aku bisa merebut dan mengambil alih semua yang kamu miliki, lewat surat yang kamu tanda tangani itu." tutur Riansyah mengingat masa kelamnya atas perlakuan istrinya.
Dian hanya dapat diam, tak dapat menjawab curahan hati suaminya. Walau hanya diam ia sebenarnya mencari cara untuk mengambil alih kembali apa yang sudah direbut oleh Riansyah.
Mereka berdua pun kembali ke meja makan. Tidak terlihat di raut wajah mereka bahwa mereka habis berdebat membicarakan Rina.
__ADS_1
"Rina, makan yang banyak nak." sapa Dian pertama kalinya kepada Rina.
Rina terhenyak mendengar ucapan Dian.
"Wanita ini dari awal aku datang melihatku dengan sinis sekali, sekarang begitu kembali ia terlihat begitu baik." gumam Rina curiga.
"Pasti Papa sudah menegur Mama tadi, sampai Mama berubah begini." gumam Angga sambil melirik ke arah Riansyah.
Dengan mengedipkan matanya Riansyah memberi kode kepada Angga. Angga hanya dapat tersenyum kecil.
"Dasar Papa, pantas saja Mama berubah begini ternyata betul dugaan ku." batin Angga.
Setelah selesai makan, Angga mengajak Rina untuk mulai mencari kembali puing-puing ingatannya yang hilang.
Di ruang tamu.
"Ikut aku, aku ingin pertemukan kamu dengan seseorang, wanita itu kangen banget sama kamu." ucap Angga.
Rina yang masih ragu dengan Angga berpikir sejenak.
"Gak usah takut Rina, aku itu Kakakmu tidak mungkin aku menyakitimu." ujar Angga memotong.
3 Jam kemudian.
Tepat jam 10 pagi, waktu yang Angga tentukan untuk bertemu dengan wanita itu. Angga terlihat sudah menunggu Rina di mobil, tak lama Rina datang membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Rina kali ini duduk di kursi depan.
"Wow cantik banget Rina, sayang banget kenyataannya aku gak bisa menikahi kamu karena kamu adik aku." gumam Angga kecewa dengan menghela nafasnya.
Mobil Angga berjalan keluar dari rumahnya. Tanpa Angga sadari seseorang telah membuntutinya. Seorang laki-laki misterius dengan menggunakan motor racing.
****
Di rumah Rangga.
Viona terlihat sedang merajuk Rangga untuk menemaninya pergi ke mall untuk membeli pakaian yang akan dikenakan pada pesta ulang tahun Sherra. Reza yang mendengar hal tersebut jadi ikut campur dalam perbincangan mereka.
__ADS_1
"Temenin Viona, Rangga! Lagipula Viona itu adalah tamu kita, jadi sudah kewajiban kita untuk memberikan yang terbaik untuk tamu kita." tutur Reza dengan sorot mata tajam melihat Rangga.
Rangga yang kaget mendengar ucapan Ayahnya, mau tak mau mengikutinya. Apalagi Rangga melihat Reza yang memandangnya begitu tajam, ia tak mau memancing kemarahan Ayahnya. Rangga pada akhirnya mengiyakan ajakan Viona, Viona yang mendengarnya menjadi sangat senang dibuatnya.
"Makasih ya Om." ucap Viona bahagia.
Viona bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Ingat Rangga waktu kamu tinggal 6 hari lagi, jika dalam waktu 6 hari Rina tidak kamu temukan, Papa akan nikahin kamu dengan Viona sesuai kesepakatan kita." ancam Reza mengingatkan.
"Iya Pah, aku belum dapat kabar dari polisi soal Rina." ucap Rangga pasrah walau ia sangat geram tentang perjodohan itu.
20 menit kemudian.
Saat Rangga dan Reza kembali ke ruang tamu, Viona sudah duduk di sana menunggu Rangga, Viona terlihat begitu cantik dengan apa yang dikenakannya. Penampilan yang membuat Reza sangat terpukau.
"Wanita secantik ini kamu masa mikir 2x untuk menikah dengannya." sindir Reza dengan suara pelan sambil menyenggol bahu Rangga dengan sikunya.
Rangga hanya diam menatap Viona.
"Andai aku mencintainya Pah, semua pasti tidak akan serumit ini, karena cinta tidak seperti cermin yang melihat seseorang dari penampilannya, tapi cinta itu alami tak bisa kita paksakan untuk tumbuh dalam hati kita." gumam Rangga menghela nafas melepaskan kegundahan dalam pikirannya.
"Om aku pamit dulu ya, pinjam Rangga sebentar ya Om." goda Viona sambil menggandeng tangan Rangga.
"Aku jalan dulu Pah." ucap Rangga pamit.
"Kalian hati-hati, oh ya nanti sore Mama dan Adik kamu pulang dari Surabaya, jadi jangan pulang terlalu malam." tutur Reza memberitahu kepada Rangga.
"Iya Pah." jawab Rangga.
"Siap Om, sore kita udah di rumah." sahut Viona.
Mereka keluar dari rumah dan memasuki mobil. Mobil pun berlalu meninggalkan parkiran rumah.
****
__ADS_1
Bersambung✍️
Beri like jika sudah membaca ya. Tinggalin jejak kalian sebagai masukan untuk author. Jika kalian berkenan sumbangin vote kalian ya. Terima Kasih. 🤗😊😍🙏