Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Buku Catatan


__ADS_3

Rina kini sudah berada di kamarnya. Memang suasana kamar ini sangat tak asing dengannya, hanya saja ia tetap tak bisa mengingat apapun tentang kehidupannya. Saat Rina melihat sekeliling kamarnya, ia melihat ada sebuah buku yang berada di atas bantal berbulu, bantal yang dulu selalu Rina peluk saat ia tertidur. Ketika Rina ingin mengambil buku itu,



tiba-tiba terdengar suara Vara memanggilnya, mendengar itu, Rina pun mengurungkan niatnya untuk mengambil bukunya. Rina segera membukakan pintu kamarnya.


"Kakak, aku boleh masuk gak?" tanya Vara meminta.


Rina yang mendengar permintaan Vara dengan senang hati mengizinkannya.


Rina dan Vara menuju tempat tidur, mereka pun merebahkan tubuhnya di sana.


"Kakak, seandainya Kakak ingat, dulu kita di tempat tidur ini selalu seperti ini sama Mama, kita selalu cerita apa saja yang kita lalui hari itu, hingga tak jarang kita jadi ketiduran di pelukan Mama." ujar Vara yang perlahan mulai menitikkan air mata.


Rina yang tak ingat apapun, hanya mampu terdiam, ia mencoba ingin mengingat apa yang Vara katakan, namun baru sedikit saja Rina mencoba, kepalanya kembali terasa sakit hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Au sakit banget, kepalaku." ujar Rina sambil memegangi kepalanya.


Vara sangat cemas melihat Rina kesakitan.


"Kakak, sudah jangan mengingat apapun! Aku tidak masalah Kakak tidak ingat apa-apa, asalkan Kakak tidak kesakitan seperti ini." ujar Vara menangis.

__ADS_1


Mendengar tangisan Vara, Rina menghentikan niatnya untuk mengingat jauh ke belakang, ia pun mencoba tenang. Rina langsung memeluk Vara, menjadi sandaran atas kesedihan yang Vara curahkan.


"Var, Kakak minta maaf sampai sekarang Kakak belum bisa mengingat apa-apa, tapi Kakak janji Var, Kakak akan mencoba berkali-kali untuk bisa sembuh, walau rasa sakitnya begitu meremukkan kepala Kakak sekalipun, Kakak tak mengapa asal ingatan Kakak bisa kembali." gumam Rina dengan penuh tekad hingga membuat sudut matanya di basahi oleh buliran air matanya.


Di ruang tamu.


Rangga masih menunggu Rina keluar dari kamarnya. Ia berencana ingin membahas pernikahan yang sudah sejak lama ia rencanakan. Walau Rangga bingung untuk memulainya, namun ia harus mengatakan kepada Rina.


"Yoga nanti kalau Kakak kamu turun, tinggalin Kak Rangga berdua sama Kak Rina dulu ya, ada yang ingin Kakak bicarakan berdua dengan Kak Rina." ujar Rangga meminta.


"Oke Kak, tenang aja, aku paham." jawab Yoga tanpa menoleh, yang masih asyik menonton film kartun kesukaannya.


Hari semakin sore, di luar rintik hujan mulai terdengar gaduh. Rangga yang masih resah memikirkan Rina, semakin tak nyaman menunggu.


Rangga memberikan kode kepada Yoga, dengan mengedipkan matanya Yoga mengiyakan isyarat dari Rangga. Sementara Bi Imah sedang istirahat di kamarnya, karena beberapa hari di rumah sakit ia tidak tidur untuk menjaga Rina.


"Vara temenin Kak Yoga yuk! Kakak mau nunjukin kamu sesuatu." titah Yoga mencari alasan sembari menuntun Vara untuk mengikutinya, meninggalkan Rina dan Rangga berdua di ruang tamu.


Rina duduk sambil menghadap televisi, sementara pandangan Rangga hanya menatap wajah Rina penuh keraguan dari celah kedua mata topeng yang dipakainya.


"Aku bingung darimana aku mulai pembicaraan ini?" tanya Rangga dalam hatinya.

__ADS_1


"Laki-laki ini sepertinya ingin mengatakan sesuatu tapi sepertinya ia ragu." gumam Rina sambil melirik Rangga.


Sudah beberapa menit, mereka hanya diam tanpa satu kata pun, Rina yang asyik menonton televisi seakan tak menggubris keberadaan Rangga.


"Begini rasanya di acuhkan olehmu Rin, ini lebih sakit daripada kamu marah waktu aku tidak masuk kuliah untuk keluar kota tanpa memberitahu kamu." sambung Rangga dalam hatinya, mengingat saat kuliah dulu.


"Apa lebih baik aku batalkan saja, lagipula Rina menganggap aku seperti orang asing, tak sedikitpun ia mengingatku." lanjut Rangga bergumam dalam hatinya.


Rangga menghela nafas, matanya mulai memerah menahan perih hatinya, Rangga memutuskan untuk pamit kepada Rina.


"Aku pamit pulang ya, Rin." ujar Rangga.


"Ya sudah hati-hati." ketus Rina yang makin asyik menonton drama Korea di televisi.


Sebelum pulang Rangga mengatakan sesuatu yang tidak terduga bahkan oleh dirinya sendiri.


"Rin, mungkin semua yang sudah kita rencanakan dulu akan aku batalkan, pernikahan yang aku impikan bersama kamu, kini hanya akan tinggal kenangan, mulai sekarang kita menempuh jalan kita masing-masing. Aku berharap kamu bisa bahagia tanpa aku." ujar Rangga dengan lirih.


Rina terhenyak mendengarnya, hingga drama Korea yang sedang ia tonton, ia abaikan. Rina pun menoleh ke arah Rangga, Rina beranjak pindah ke sofa yang sama dengan yang Rangga duduki, dengan cepat Rina melepaskan topeng yang Rangga pakai, lalu Rina mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas Rangga terasa olehnya, mereka saling bertatapan sangat dalam, saling mengunci pandangan satu sama lainnya, tanpa aba-aba Rina mengecup bibir Rangga.


*****

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2