
Di dalam mobil Darren.
Sherra baru saja menutup teleponnya, ia memberitahu sahabat-sahabatnya yang berada di Indonesia, untuk hadir dalam acara ulang tahunnya yang bertepatan dengan ulang tahun Darren. Darren hanya terdiam mendengar rencana Sherra, pikirannya masih terkait pada Rina.
"Darren, ulang tahun kita tinggal 1 Minggu lagi, kita rayain di mansion kamu ya." tutur Sherra.
"Aku males, tapi terserah kamu saja. Pokoknya aku gak mau ikutan ribet ya ngurusin semuanya." jawab Darren sambil menghela nafas.
****
Rumah Rina.
Tampak terlihat sepasang kaki berusaha masuk lewat pintu belakang rumah Rina. Laki-laki itu terlihat sudah berhasil menjebol pintu lalu ia pun masuk ke dalam. Ia masuk di saat keadaan rumah seperti sedang sepi, ia menaiki anak tangga dengan perlahan. Sesampainya di depan kamar Rina, ia langsung membuka pintu kamar.
"Kosong, tidak ada siapa-siapa di rumah ini." ucap laki-laki misterius.
Laki-laki itu segera keluar dan pergi meninggalkan rumah Rina. Setelah cukup jauh ia pun mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan terlihat menghubungi seseorang.
"Halo Bu." ucap laki-laki itu.
"Tidak ada siapa-siapa Bu di dalam rumah itu." ucapnya melanjutkan.
"Baik Bu, saya akan cari tahu informasinya, begitu saya temui, saya langsung habisi sesuai perintah Ibu." tuturnya sambil menutup teleponnya.
Laki-laki itu menaiki motornya dan melaju dengan cepat.
****
Rumah Riansyah.
Mobil Riansyah sudah terparkir di garasi rumahnya. Ia pun meminta Rina untuk masuk.
"Akhirnya kamu pulang sekarang Rin? Inilah rumah kamu." tutur Riansyah menunjukan megahnya rumah yang ia miliki.
Rina melangkah memasuki halaman rumah, sementara Angga langsung menuju mini coopernya yang sudah lama ia tak jumpai.
"Aku tidak menyangka saat ini aku mempunyai 2 orang Ayah, sedangkan rumah ini adalah rumah Ayah kandungku." ucap Rina.
__ADS_1
Riansyah langsung mengantar Rina menuju kamarnya.
Rina teringat dengan kamar yang Darren tunjukan padanya, karena itulah Rina jadi teringat satu momen, saat dirinya hampir terjatuh di tangga dan Darren menangkapnya.
"Kenapa tiba-tiba aku mengingat Darren? Apa karena perlakuannya padaku ya? Ia memperlakukan aku layaknya ratu." gumam Rina yang tersenyum kecil.
"Kalau kamu perlu apa-apa ada Mbok Darmi yang akan membantumu." ucap Riansyah seraya pergi meninggalkan Rina.
Rina terlihat sangat lelah dengan apa yang sudah dilaluinya. Rina merebahkan tubuhnya di ranjang, sejenak ia pejamkan matanya untuk tidur.
****
Rumah Rangga.
Terlihat suasana sore di meja makan. Tampak Reza dan Rangga sudah duduk siap menyantap makanan yang disediakan Mbok Darmi. Namun tak terlihat Viona di sana.
"Rangga, kapan terakhir kamu ketemu Viona? Apa Viona belum keluar kamar sejak siang?" tanya Reza.
"Tadi sih ketemu Pah, sejam yang lalu, terus gak tahu lagi." tutur Rangga.
"Coba kamu panggilkan Viona, ajak dia makan bersama kita!" titah Reza.
Sampai di depan kamar Viona, Rangga mendapati pintu kamar Viona yang tertutup rapat, ia coba mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari Viona. Rangga mencoba membuka pintunya.
"Gak di kunci nih." ucap Rangga seraya masuk ke dalam.
Setelah masuk ke dalam kamar Viona, ia melihat Viona sedang tertidur lelap.
"Kasihan Viona tampak lelah kelihatannya." tutur Rangga sambil memandang wajah Viona.
Viona tidur agak ke pinggir ranjang. Rangga mencoba membangunkannya dengan duduk dekat dengan Viona di tepi ranjang, namun Viona tetap belum bergeming dari tidurnya, ia mendekati wajah Viona melihat apa Viona sudah bangun atau belum, namun saat ia semakin dekat tiba-tiba Viona mengejutkannya dengan membuka mata tiba-tiba dan memberi kecupan pada bibir Rangga.
Rangga terhenyak, tak menyangka kejutan yang diberikan Viona akan seperti ini.
"Kamu ini Viona, kenapa dari kecil isengnya kamu gak pernah hilang sih!" seru Rangga terlihat kesal.
Melihat wajah Rangga, Viona merasa tak enak.
__ADS_1
"Maafin aku ya Rangga, kamu marah apa malu sih sebenarnya?" tanya Viona menggoda.
"Aku marah," ucap Rangga kesal membuang wajahnya memalingkannya dari Viona.
Viona langsung membujuk Rangga dengan merayunya, ia memutar tubuh Rangga untuk menghadapnya kembali. Setelah mereka saling berhadapan, Viona menatap mata Rangga penuh cinta.
"Aku mencintaimu Rangga, tak peduli apakah kamu mencintaiku atau tidak." tutur Viona.
"Walau aku sedih cinta yang aku miliki tak dapat membuatku bertepuk tangan, karena aku hanya punya satu cinta, yaitu cinta yang aku miliki tapi tidak yang kamu miliki." imbuhnya dengan mata berbinar.
"Begitu dalam cinta Viona untukku, apakah cinta Rina sedalam cinta Viona? Kenapa Cinta Viona begitu tulus. Ia bahkan tetap mencintaiku, walau ia tahu cintaku saat ini hanya untuk Rina." gumam Rangga mulai tersentuh hatinya melihat cinta yang Viona miliki.
Air mata Viona mengalir membasahi pipinya. Rangga dengan cepat mengusap air matanya dengan kedua tangannya, Viona pun memeluk Rangga. Rangga hanya bisa diam mematung dadanya menjadi tempat curahan air mata Viona.
"Viona, aku minta maaf." ucap Rangga singkat.
Mendengar itu Viona langsung sigap melepas pelukannya untuk menyudahi kesedihannya, ia hapus air matanya dengan kedua tangannya dan mulai menebarkan senyum di wajahnya.
"Ini bukan salah kamu Rangga, ini salah aku yang bodoh tetap mencintaimu walaupun aku tahu kamu tidak akan bisa mencintaiku." tutur Viona mengalihkan kesedihannya.
Apa yang Viona lakukan membuat Rangga mulai tersentuh hatinya.
"Kenapa saat melihatmu seperti ini, seperti ada yang berbeda dengan hatiku ya? Apa jangan-jangan diam-diam cinta itu sudah mulai tumbuh untuk Viona." batin Rangga sembari menghela nafasnya.
Setelah Viona tidak lagi menangis, Rangga memberitahunya bahwa Reza telah menunggunya di bawah untuk makan bersama.
"Kamu duluan saja ke bawah, tidak mungkin aku menemui Ayahmu saat mataku masih seperti ini, aku cuci mukaku dulu barulah aku akan menyusul ke bawah." tutur Viona sambil berlalu menuju kamar mandi.
Rangga pun melangkah keluar dari kamar.
****
Di pinggir jalan di atas motor.
Seorang laki-laki misterius kembali berbicara dengan orang lain di telepon.
"Saya belum berhasil menemukannya Bu, beri saya waktu 3 hari, saat saya sudah menemukannya, saya pasti akan langsung menghabisinya." ujar seorang laki-laki di teleponnya.
****
__ADS_1
Bersambung✍️
Berikan komentar dan tekan likenya ya. Jika mau memberikan vote saya ucapkan. Terima kasih. 🤗😍😊🙏