
Lisa dengan segera menghubungi Rangga.
Drrret-drrret-drrret
"Kenapa gak diangkat Mas?" ujar Lisa panik.
Lisa mencoba berulang kali namun tetap saja tidak diangkat oleh Rangga.
"Aduh, Mas Rangga di saat begini, jangan-jangan kebiasaannya kambuh lagi, handphonenya juga ketinggalan di kamarnya." gumam Lisa kesal seraya terus mengamati Mega.
Tak berapa lama kemudian Dokter pun keluar dari ruang IGD dan Mega menghampirinya.
"Dokter, bagaimana kondisi sahabat saya, Dok?" tanya Mega.
"Begini Mba, kami sudah melakukan segala upaya yang terbaik untuk pasien namun terdapat penyumbatan darah di otaknya itu yang membuat kondisinya semakin kritis, kami akan melakukan tindakan operasi Mba, tolong Mba urus segala administrasi pasien." jawab Dokter menerangkan.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk sahabat saya Dokter, masalah administrasi saya urus sekarang." ujar Mega penuh harapan walau dalam hati berharap Rina tidak selamat.
"Baik! Kami akan lakukan yang terbaik, Mba berdoa ya semoga semua lancar." ujar Dokter.
"Iya Dok, terima kasih banyak." ucap Mega seraya pergi menuju resepsionis untuk mengurus masalah administrasi rumah sakit.
Lisa langsung bersembunyi, ketika ia tahu Mega ingin melewatinya untuk menuju resepsionis rumah sakit.
"Aduh Kak Rangga gak bisa dihubungi lagi, gimana ini?" ujar Lisa bertanya yang kelihatan sangat bingung.
Lisa tampak berpikir sejenak.
"Aku harus susul Mas Rangga ke rumah Kak Rina." ujar Lisa.
Lisa pun pergi dengan sangat terburu-buru, tanpa ia sadari.
Brukkkk
"Auuu sakit bgt." ujar Lisa.
"Kamu hati-hati ya Mba, ini rumah sakit sebaiknya tidak tergesa-gesa seperti itu Mba." ucap Dokter yang juga merasakan sakit akibat benturan dengan Lisa.
Tampak oleh Lisa name tag di almamater Dokter, bertuliskan Dr. Cinta Aprilia Pradita.
"Maaf ya Dok saya lagi buru-buru karena saya ingin memberitahu Kakak saya kalau calon istrinya mengalami kecelakaan mobil." ujar Lisa mencoba meminta maaf dan menjelaskan alasannya.
"Siapa nama calon istri Kakak kamu?" tanya Dokter Cinta.
"Namanya Rina, Dok!" jawab Lisa.
"Oh itu pasien yang akan saya tangani." ujar Dokter Cinta memberitahu.
__ADS_1
"Aku boleh tanya Dok, bagaimana kondisinya?" tanya Lisa khawatir.
"Kondisinya saat ini kritis, terjadi benturan yang sangat keras di bagian kepala, hasil CT scan menyatakan adanya pendarahan di bagian kepala untuk itu harus di lakukan tindakan operasi. Saat ini yang terbaik adalah kita banyak berdoa dan kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Rina." ujar Dokter Cinta.
"Baik Dokter, saya mohon selamatkan Kakak Ipar saya." ucap Lisa memohon dengan lirih.
"Pasti kami akan berusaha, selebihnya kita serahkan pada Allah untuk hasilnya." jawab Dokter mencoba menenangkan Lisa.
"Terima kasih Dokter, kalau begitu saya permisi dulu." ujar Lisa yang mencoba untuk tetap tenang setelah mendengar semua penjelasan Dokter Cinta.
Lisa akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit, ia segera menuju rumah Rina untuk menemui Rangga.
Lisa sudah berada di dalam mobil yang ia pesan. Lisa terlihat menangis ia tak kuasa membayangkan, bagaimana perasaan Rangga bila tahu Rina sedang berada di rumah sakit dan mengalami kecelakaan
"Kak Rina yang kuat ya, kisah cinta Kakak dan Mas Rangga itu sangat hebat, aku salut dengan kalian, baru kalian selesai di pertemukan setelah sekian lama berpisah ada lagi cobaan lain hingga membuat kebahagiaan kalian tertunda." gumam Lisa dengan raut wajah yang sangat sedih dan cemas.
30 menit kemudian.
Lisa akhirnya tiba di depan rumah Rina, ia segera turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah Rina. Tampak di sana sudah terlihat Rangga yang sedang menunggu Rina di ruang tamu dengan pintu yang terbuka. Rangga pun melihat kedatangan Lisa.
"Lisa kenapa kamu di sini, tumben biasanya ke sini kalau Mas ajak aja, kamu kenapa?" tanya Rangga yang terkejut melihat Lisa tampak tergesa-gesa dan sangat panik.
Lisa menarik tangan Rangga keluar dari rumah Rina, Rangga pun mengikutinya.
"Kamu kenapa sih Lisa? Apa sih narik-narik Mas begini?" tanya Rangga.
Setelah sampai di luar rumah, Lisa pun menghentikan langkahnya.
Mendengar itu Rangga yang tidak yakin, meragukan semua yang Lisa ucapin.
"Kamu mau bohongi Mas ya, ini kejutan apa lagi Lisa, Mas itu ulang tahunnya masih lama." ujar Rangga sambil mengusap rambut adiknya.
"Aku gak bohong, tadi di rumah aku sempat bertemu dengan Kak Rina sebelum dia pergi, Kak Rina itu melihat Kak Rangga sedang berpelukan dengan Kak Mega." ujar Lisa menerangkan kepada Rangga.
Rangga sangat terkejut, ia menarik tangan Lisa menuju mobilnya.
Di dalam perjalanan.
"Berarti kecelakaan yang tadi Mas lewatin di sana tempat kejadiannya." ujar Rangga yang mulai menitikan air mata.
"Iya Mas, sepertinya Kak Mega sudah tahu kalo yang kecelakaan itu adalah Kak Rina, buktinya Kak Mega sekarang ada di rumah sakit tempat Kak Rina sekarang berada." ujar Lisa menerangkan dengan nada sedikit kesal terhadap Mega.
"Mega! Kenapa dia seperti itu?" ujar Rangga seolah bertanya pada dirinya sendiri dengan kesal.
"Aku ingat sekarang! Pantas saja, berarti saat di rumah, Mega sudah tahu kalau Rina datang." sambung Rangga teringat semuanya.
Di sini Rangga teringat semua gerak-gerik Mega yang terlihat aneh. Mulai dari kejadian di kamar saat Rangga ingin melepas pelukan Mega namun Mega menahannya dan saat di perjalanan Rangga ingin melihat ke arah kecelakaan yang terjadi di jalan, Mega merubah posisi duduknya menghalangi pandangan Rangga untuk melihatnya.
__ADS_1
"Aku bodoh, Rina maafkan aku." ujar Rangga sangat kesal mengingat semuanya.
"Udah Mas, kita berdoa saja semoga Kak Rina bisa melewati masa kritisnya dan sekarang kita harus segera sampai ke rumah sakit." ucap Lisa menenangkan Rangga.
Rangga terdiam dan mulai menambah kecepatan mobilnya, dalam perjalanan Rangga sangat tidak tenang.
"Selamatkan Rina aku mohon ya Allah." gumam Rangga meneteskan air matanya.
Lisa yang melihat Kakaknya menangis, ia berusaha menguatkannya.
"Mas Rangga sekarang harus fokus agar kita bisa sampai di rumah sakit dengan selamat, Mas Rangga harus percaya dengan kekuatan doa Mas, Kak Rina itu orang yang sangat baik, aku percaya Allah akan memberikan yang terbaik untuk Kak Rina." ujar Lisa mencoba menenangkan Rangga.
Rangga mendengar kata-kata Lisa menjadi sedikit tenang, ia pun menghapus air matanya dan kembali fokus dalam mengendarai mobilnya.
"Tunggu aku Rin, aku datang. Kamu harus kuat Rin, demi aku, demi cinta kita." gumam Rangga.
******
Di rumah Rina.
"Mas Rangga, ini cappucino enak ala Bi Imah datang." ujar Bi Imah dengan riang.
"Loh kok Mas Rangga kemana ya, kenapa
gak ada." sambung Bi Imah terkejut melihat saat itu di ruang tamu kosong tidak ada Rangga.
Tak lama terdengar suara seorang laki-laki memanggil.
"Bu, kredit kredit." ucap tukang kredit menawarkan.
Bi Imah dengan masih membawa nampan yang berisi segelas cappucino segera keluar.
"Iya Bang, aduh kredit ya, nanti aja ya Bang saya tanya Mba Rina dulu." keluh Bi Imah.
"Yah Bu, belum penglaris nih Bu." ucap tukang kredit mengeluh.
"Iya nanti saya tanyain dulu, paling besok aja ke sini lagi ya." pinta Bi Imah.
"Oh gitu ya sudah besok saya balik lagi ya, tapi ini makasih ya cappucinonya buat saya kan." ujar tukang kredit seraya mengambil segelas cappucino dengan cepat dan meminumnya.
"Wah Bang kehausan udah berapa hari belum minum?" tanya Bi Imah.
"Enak Bu cappucinonya besok buatin lagi ya." kata tukang kredit.
"Wah di kasih hati minta jantung nih namanya." geram Bi Imah seraya memukul nampannya ke tubuh tukang kredit itu.
"Aduh aduh, sakit! Saya pergi dulu besok jangan lupa ya Bu." tutur tukang kredit kesakitan seraya pergi menjauh.
__ADS_1
*****
Bersambung✍️