Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
S2 Akhir Pertarungan


__ADS_3

Selamat membaca!


Rina mengikuti langkah Ajay yang menuntunnya untuk keluar dari rumah penyekapan, menuju tebing tempat Ranveer dan Andrean berada.


Ajay melangkah dengan hati-hati, namun saat ia hampir keluar dari pintu, ternyata Damraj dan beberapa pengawal menghadangnya. Pintu otomatis tertutup, Ajay dan Rina dikelilingi oleh 4 orang pengawal Damraj.


Aku harus hati-hati keempat pengawal ini bukan orang sembarangan.


Ajay menambah kewaspadaannya.


Satu orang maju mendekat ke arahnya, Ajay memberikan perlawanan dengan beberapa tangkisan menghalau pukulan pengawal itu, hingga Ajay mampu melumpuhkannya lewat tendangan berbaliknya yang menghujam kepala pengawal itu, satu orang terkapar sisa 3 orang yang langsung maju berbarengan, Rina semakin menjauh mundur ke belakang.


Saat Ajay disibukkan dengan pertarungannya melawan ketiga pengawal Damraj yang membuat Ajay kewalahan, Rina terlihat didekati oleh Damraj yang sudah menggenggam sebilah pisau di tangan kanannya.


Damraj berhasil menangkap Rina yang sudah tidak berkutik. Damraj melingkari tangannya untuk mendekap Rina, dengan pisau yang sudah begitu dekat di lehernya.


"Satu gerakan saja, leher wanita ini akan sobek," bentak Damraj mengancam Ajay.


Ajay hanya diam tak melawan, kedua pengawal Damraj menawannya dengan mencengkram kedua tangannya. Ajay sudah tidak berdaya sekarang, ia ingin melawan, namun Rina saat ini berada di tawanan Damraj, jika ia mau bisa saja ia langsung merobek leher Rina, namun ia tak melakukannya, ia menggunakan Rina sebagai sandera.


"Lepaskan aku, tolong lepaskan aku," teriak Rina ketakutan.


Bibir Rina gemetar menahan rasa takutnya, ujung pisau terasa mencekik lehernya, membuat napasnya begitu sesak. Rina menangis merintih, air matanya berderai menghujani wajahnya.


Ajay yang menatapnya merasa bersalah karena kegagalannya membawa Rina keluar dari rumah ini.


Ranveer, Andrean kenapa kalian hanya diam saja.


Sial, aku terlalu meremehkan mereka.


Tak lama terjadi ledakan yang menghancurkan pintu, membuat Ajay dan pengawal yang mencengkeramnya, jadi berhamburan.


Damraj menjadi lengah karena ledakan itu, dengan menggigit tangannya, Rina berhasil lolos dan berlari menjauhi Damraj.


Seketika muncullah Sahid, Andrean dan Ranveer, langsung melindungi Rina yang kini sudah berlindung di belakang Andrean.


Sudah Rina, kamu tidak usah cemas lagi, kami sudah ada di sini.


Ajay bangkit walau terlihat payah, karena efek ledakannya begitu memekakkan telinganya.


Sahid menopang Ajay untuk membantunya dan atas perintah Ranveer, Sahid membawa Ajay bersama Rina menuju ke atas tebing.


Andrean dan Ranveer bersiap untuk melawan beberapa pengawal Damraj yang kini sudah terlihat datang berkerumun.


"Hati-hati Andrean, semua pengawal Damraj menuju ke sini," ujar Ranveer memberitahu Andrean.


Andrean terlihat sudah memasang kuda-kuda, ia sudah bersiap untuk melumpuhkan semua pengawal Damraj yang datang ke arahnya, bersama Ranveer ia mulai membuat Damraj terperangah melihat semua anak buahnya jatuh berguguran dalam hitungan menit.


Damraj berlari keluar dari ruangan.

__ADS_1


Andrean segera menyusulnya, diikuti oleh Ranveer.


Di sisi tepi tebing.


Damraj terlihat terpojok karena keadaannya sekarang begitu terdesak. Ia coba melawan Andrean dan Ranveer, namun Damraj bukanlah lawan sepadan bagi mereka.


Damraj terkapar menerima tendangan Andrean sambil melakukan lompatan tingginya.


"Apa kau tidak menyerah?" tanya Ranveer yang sudah melepas kacamatanya, karena ia mengira semuanya sudah selesai.


"Cih, aku adalah Damraj, menyerah itu bukan caraku dalam berkelahi," cetus Damraj kesal.


Damraj perlahan bangkit, dari kejauhan ia melihat Rina sedang menaiki tangga menuju tebing tempat Raj berada. Tanpa di duga Damraj melepaskan tembakan yang ia ambil dari lipatan bawah celananya, pistol kecil yang ia lesakkan menuju tubuh Rina.


Peluru itu terus melesat, Andrean begitu terkesiap melihat Damraj menembak.


"Rina awas," teriak Andrean memanggil.


Rina tak dapat mendengar suara Andrean, kejadiannya begitu cepat, hingga sedikit lagi peluru itu akan menembus tubuh Rina, sampai akhirnya Arkhan yang berlari dengan sekuat tenaganya, berdiri di depan Rina sebagai tameng dari peluru yang akan menembus tubuhnya, 2 peluru yang Damraj tembakan menembus tubuh Arkhan secara bergantian, 1 di dada kirinya, 1 di perut kanannya.


Arkhan jatuh, di depan mata Rina ia tersungkur lemas. Rina bersimpuh mendekati tubuh Arkhan yang sudah bersimbah darah.


Rina lalu memangkunya, dengan derai air mata Rina menangisi keadaan Arkhan yang kini terlihat begitu sesak napasnya.


"Arkhan bertahanlah," ucap Rina terisak.


"Ini sudah takdirku, aku minta maaf, aku mohon berikan ini kepada Aashita," pinta Arkhan sambil memberikan sebuah kalung yang ia ambil dari balik kantong jaketnya.


"Arkhan," teriak Rina piluh sambil menggenggam sebuah kalung yang Arkhan berikan padanya.


Ajay dan Sahid begitu geram menatap ke arah Damraj, ia tak menyangka Arkhan harus tiada di dalam misi ini.


"Ini semua salah kita, kita terlalu meremehkan,"


Ajay mendengus kasar. Ia bangkit mengambil senapan yang Arkhan jatuhkan di dekatnya. Ia lalu mengambilnya dan menembaki semua pengawal Damraj yang baru saja muncul dari arah belakang tebing.


Ranveer terkejut karena jumlah orang yang baru datang ini tidak sesuai dengan apa yang ia lihat lewat kacamatanya. Ranveer kembali memakai kacamatanya lagi.


Ia mulai mendeteksi jumlah pengawal Damraj yang baru saja datang menyergap mereka, dengan beberapa gerakan cepat Ranveer melumpuhkan 3 orang sekaligus.


Andrean dan Ranveer saling berdekatan punggung dengan punggung.


"Jumlah orangnya terlalu banyak Ranveer,"


Andrean semakin terkuras tenaganya, suasana menjadi tidak memihak kepada mereka yang kalah dalam jumlah orang.


Sahid terlihat melemparkan beberapa bomnya, usahanya berhasil, jumlah pengawal tambahan Damraj jauh berkurang, semua terhempas oleh ledakan bom yang Sahid lemparkan.


"Bagus Sahid," ucap Ranveer.

__ADS_1


Andrean menatap Damraj dengan sorot mata tajamnya, ia melangkah untuk mendekati Damraj.


Langkah Andrean dilindungi oleh Ajay lewat tembakannya berhasil melumpuhkan pengawal Damraj yang ingin menghalanginya, Ranveer pun melepaskan lemparan pisaunya untuk terus melindungi Andrean.


Andrean sudah tiba tepat dihadapan Damraj. Mereka sudah berada di ujung tebing, terlihat di bawah mereka aliran sungai yang muaranya adalah sebuah air terjun yang curam.


Damraj coba menembakkan pistol yang digenggamnya, namun percuma peluru di dalam pistol kecilnya telah habis, ia memang hanya mengisinya dengan 2 peluru saja.


Damraj coba melakukan perlawanan terakhirnya, ia memukul Andrean dengan sekuat tenaganya yang tersisa, namun berhasil dipatahkan dengan mudah oleh Andrean, bahkan pukulan Damraj tak membuat Andrean bergeming, karena terlalu lemah.


Damraj seakan menyerah. Ia bertekuk lutut jatuh tak berdaya. Ranveer melemparkan sebuah pistol ke arah Andrean, memberikan tembakan terakhir untuk menuntaskan misi mereka kali ini.


Andrean menangkap pistol tersebut lalu menodongkan ke arah kening Damraj.


"Cih, apa ini akhir dari seorang Mafia besar yang paling ditakuti di India," ketus Damraj merutuki kekalahannya, sampai menggertakkan giginya begitu geram dengan ketidakberdayaannya.


"Namamu sekarang hanya akan tinggal kenangan, walau kau tidaklah pantas untuk dikenang," ujar Andrean sambil membuang salivanya sendiri.


Andrean mulai menarik pelatuknya, ia bersiap menembak. Semua mata tertuju ke arah Andrean termasuk Rina yang tak melepaskan pandangannya sedikit pun kepada Andrean.


Rina masih memangku Arkhan yang kini sudah tiada.


"Bunuh dia Andrean," teriak Rina begitu benci.


Mendengar suara Rina, membuat Andrean sedikit menoleh dan mengalihkan pandangannya kepada Damraj.


"Ini kesempatanku," gumam Damraj sambil mundur beberapa langkah.


Damraj menjatuhkan dirinya, membuat Andrean terkejut atas apa yang dilakukan oleh Damraj, karena tangannya tertarik oleh tangan Damraj, Andrean ikut terjatuh.


Semua mata terperanjat atas apa yang menimpa Andrean dan Damraj.


"Andrean,"


Ranveer, Ajay dan Sahid berlari untuk melihat ke dasar jurang, mereka mengamati aliran sungai tempat jatuhnya Damraj dan Andrean. Namun semua sia-sia aliran sungai yang deras dan jurang yang tinggi membuat pandangan mereka tak dapat melihat lebih jauh.


Rina semakin menangis terisak.


"Andrean,"


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Ikuti terus Cinta Amnesia menuju ending season ke 2.


Jika berkenan dapat hadir ke karyaku yang lainnya ya.


CEO Tampan Itu Jodohku

__ADS_1



__ADS_2