
Kicauan burung berdecit menambah indahnya pemandangan yang kini terhampar di depan mata Rina.
"Gimana Rina, apakah sudah cukup?" tanya Arkhan yang sudah menemani Rina melihat sekeliling Taj Mahal.
"Sudah, terima kasih ya Arkhan," jawab Rina dengan mengembangkan senyum di wajahnya.
"Harusnya kamu jangan tersenyum," gumam Arkhan terus menatap Rina.
"Cih, kenapa senyuman itu membuat aku begitu senang ya." imbuhnya melawan ego dan perasaannya.
Mereka akhirnya bergegas kembali menuju Apartemen Arkhan, dengan menaiki Mogenya.
πππ
Rumah Mewah Mega.
Terlihat Rangga dan Mega sedang duduk di meja makan.
"Sayang nanti aku ada meeting ya, gimana pekerjaan kamu hari ini?" tanya Mega kepada Rangga.
"Tidak menarik membahas pekerjaanku, aku lebih tertarik membahas keadaan Rina di India bagaimana?" sanggah Rangga bertanya balik kepada Mega.
Mega menghela napasnya kasar, ada perasaan sedih mendengar Rangga sampai saat ini masih belum dapat membuka hati untuknya.
"Rina baik, sekarang malah Arkhan sedang mengajaknya jalan keliling Taj Mahal," ucap Mega memberitahu.
Apa benar seperti itu?
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu Mega, sedangkan banyak kebohongan yang kamu lakukan untuk menipuku," tutur Rangga yang menatap Mega dengan sorot mata yang tajam.
Mega hanya terdiam tak dapat menjawab perkataan Rangga.
"Sudahlah aku jalan dulu." ujar Rangga seraya beranjak dari kursinya lalu berlalu meninggalkan Mega.
Tinggallah Mega seorang diri, di meja makan. Wajah yang begitu gusar tampak terlihat begitu jelas.
"Bagiku ini mulai menyebalkan, lebih baik aku menyuruh Arkhan menghabisi Rina." ucap Mega begitu kesal.
πππ
Di dalam mobil.
Rangga terlihat begitu kesal telah terjebak di dalam permainan Mega.
"Kehidupan macam apa ini? Aku sudah muak menjalaninya!" geram Rangga sambil menghentakkan tangannya ke pintu mobil dengan keras.
Saat Rangga kalut dalam emosinya, tiba-tiba ia teringat dengan semua perkataan Mega.
"Taj Mahal, berarti tempat Rina tidak jauh dari sekitar Taj Mahal." ujar Rangga terbesit dalam pikirannya untuk menghubungi seseorang.
Rangga mengambil headset bluetooth dan memakainya.
"Andrean," ucap Rangga mengawali teleponnya.
__ADS_1
"Ada apa Rangga?" tanya Andrean.
"Rina berada di sekitar Taj Mahal India, jika kamu ingin menebus semua kesalahan kamu, temukan Rina dan bawa ia kembali," tutur Rangga memberitahu sambil menutup teleponnya.
Rangga menghela napasnya kasar, lalu melepas headset yang dipakainya.
"Semoga Andrean segera menemukan Rina, agar aku bisa lepas dari segala permainan Mega." gumam Rangga dengan wajah muram.
πππ
Apartemen Andrean.
"Rina, tunggu aku datang, aku akan membawa kamu pulang kembali ke Indonesia." ujar Andrean sambil mengepalkan tangannya.
πππ
Apartemen di Agra India.
Rina sudah sampai di apartemen, sementara Arkhan langsung pergi meninggalkannya sendiri. Rina terlihat begitu senang karena dapat melihat Taj Mahal yang merupakan salah satu dari 7 keajaiban di dunia.
Rina bergegas menuju kamarnya dengan berlari menaiki anak tangga. Namun karena ia begitu cepatnya berlari sampai tidak hati-hati dalam melangkah, kaki Rina terkait pijakan anak tangga, hingga membuat Rina terjatuh, terguling lalu pingsan karena kepalanya terbentur lantai.
1 Jam kemudian.
Arkhan tiba di halaman parkir Apartemen, ia membawa belanjaan yang baru dibelinya dari supermarket. Sesampainya di depan pintu Apartemennya ia lalu membuka pintu dengan kunci yang dibawanya.
"Rin, kamu dimana? Aku bawakan segala kebutuhan kamu untuk sebulan ini, kemarin Mega soalnya mengirimkan aku uang." tutur Arkhan sambil melangkah ke arah dapur untuk meletakkan barang belanjaannya.
Arkhan lalu beranjak menuju kamar Rina, ia sangat terkejut melihat Rina sudah pingsan di lantai dengan kepala yang berdarah. Arkhan panik langsung memeriksa keadaan Rina juga denyut nadinya.
"Dia hanya pingsan." ucap Arkhan setelah mengetahui denyut nadi Rina masih terasa.
Arkhan lalu bangkit dengan menggendong Rina, ia bergegas menuju parkiran, sesampainya di parkiran, ia lalu membuka pintu belakang mobilnya dan meletakkan Rina di kursi belakang. Arkhan pun segera mengendarai mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Rumah Sakit India.
20 menit Arkhan memacu mobilnya hingga akhirnya ia sudah tiba di lobi rumah sakit. Arkhan segera turun dan membuka pintu belakang mobilnya, ia kembali menggendong Rina untuk membawanya ke ruang IGD.
Akhirnya Rina sudah berada di atas brankar yang sudah menuju ruang IGD dengan bantuan Suster dan Paramedis.
Langkah Arkhan terhenti di depan ruang IGD. Ia hanya dapat melihat Rina masuk bersama Suster dan Paramedis.
"Kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Arkhan kesal bercampur cemas yang terlihat dalam raut wajahnya.
"Aku kenapa sangat mengkhawatirkannya ya, apa mungkin aku diam-diam sudah menyukainya." gumam Arkhan mencerna perasaanya kepada Rina.
Tak lama handphonenya berbunyi. Arkhan lalu mengangkat teleponnya.
"Iya ada apa Bu?" tanya Arkhan mengawali teleponnya.
"Habisi Rina sekarang, aku tidak mau tahu, setelah itu kirim fotonya kepadaku kalau kamu memang sudah menghabisi Rina." tutur Mega seraya menutup teleponnya.
Dengan suara yang terbata Arkhan hanya menjawab singkat perintah dari Mega.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana ini, aku tidak akan bisa membunuhnya." gumam Arkhan.
πππ
Apartemen Andrean.
"Rangga memberitahuku agar tidak memberi tahu Riansyah, tapi sepertinya ini sudah saatnya aku memberitahukannya." tutur Andrean seraya mulai menghubungi Riansyah.
"Ada apa kamu telepon saya, kamu itu bodyguard yang tidak berguna, saya sangat bingung, bagaimana Bryan bisa mengirim kamu kepada saya?" geram Riansyah mengingat Andrean gagal melindungi Rina.
"Aku belum gagal," ucap Andrean.
"Apa yang kamu katakan? Sekarang Putri saya sudah meninggal, apa yang bisa kamu lakukan? Menghidupkannya lagi, apa kamu pikir, kamu itu Tuhan!" seru Riansyah semakin emosi menanggapi ucapan Andrean.
"Putrimu masih hidup, sekarang dia ada di India, aku berjanji akan membawanya pulang dan mengantarkannya kepadamu," tegas Andrean seraya menutup teleponnya.
Setelah menaruh handphonenya ke dalam tas yang melingkar di dadanya, ia pun segera berangkat meninggalkan Apartemennya. Andrean langsung memesan tiket keberangkatan ke India begitu mendengar kabar dari Rangga. Andrean menaiki mobil sportnya yang terparkir gagah di antara deretan mobil sport lainnya.
Mobil melaju meninggalkan Apartemen dengan kecepatan sedang.
πππ
Rumah Riansyah.
"Benar saja dugaanku, wanita itu bukan Rina!" ucap Riansyah tersenyum bahagia mengetahui Putrinya masih hidup.
Angga menghampiri Riansyah yang aneh melihat Ayahnya kelihatan tersenyum riang dari kejauhan.
Kenapa Papa seperti itu?
"Ada apa Pah, apa proyek yang kemarin meeting itu sudah sukses?" tanya Angga kepada Riansyah.
"Bukan ini lebih dari itu, kebahagiaan yang tak bisa aku ungkapkan," tutur Riansyah memberi teka-teki kepada Angga.
Angga semakin penasaran hingga terus mendesak Riansyah.
"Adikmu masih hidup, Papa juga sudah memesankan tiket untukmu ke India," ucap Riansyah memberitahu Angga yang membuat wajah Angga terperangah begitu terkejut.
"Rina," ucap Angga masih menganga tak percaya.
"Papa sudah kirimkan nomor Andrean di handphone kamu, setelah sampai India segera hubungi Andrean, sekarang bersiaplah dan segera berangkat." titah Riansyah meminta Angga berangkat ke India.
"Baik, aku akan bawa Rina pulang kembali." ujar Angga tanpa bertanya bagaimana bisa Rina masih hidup.
Angga berlalu menuju kamarnya untuk mempersiapkan segala keperluannya yang akan ia bawa ke India.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Berikan like dan komentar kalian ya, dukung terus Cinta Amnesia. Terima kasih. πππ
__ADS_1