
Rangga sudah merebahkan Bi Imah di sofa, dengan perlahan ia mulai membangunkan Bi Imah. Bi Imah pun tersadar. Bi Imah membuka matanya, saat ia sudah membuka matanya, Bi Imah melihat Rangga yang sudah berada dihadapannya, Bi Imah pun terkejut sampai pingsan lagi.
"Ya ampun Bi, pingsan lagi." ujar Rangga keheranan.
Akhirnya Rangga pun menuju kamar Rina, ia membiarkan Bi Imah yang sedang pingsan di sofa ruang tamu. Rangga yang sudah berada di depan kamar Rina, ia berpikir sejenak ketika akan mengetuk pintu.
"Tunggu dulu, sebaiknya wajahku, aku tutupin dulu kali ya, biar Rina gak kaget, nanti kaya Bi Imah lagi pingsan, lagian Bi Imah aneh setan mana ada pagi-pagi gini." tutur Rangga seraya mengambil majalah untuk menutupi wajahnya.
Rangga akhirnya mengetuk pintu kamar Rina, setelah beberapa kali tidak ada jawaban, ia akhirnya menyimpulkan bahwa Rina tidak ada di rumah. Rangga segera menuju Bi Imah untuk menanyakan keberadaan Rina.
Rangga membangunkan Bi Imah dengan perlahan, berharap Bi Imah tidak pingsan lagi saat melihatnya. Rangga pun berpikir untuk tidak membuat Bi Imah terkejut, lalu ia menutup wajahnya dengan majalah, agar saat Bi Imah sadar ia tidak langsung terkejut saat melihatnya.
"Bi, bangun, Bi!" titah Rangga.
Bi Imah mulai bergerak, ia dengan perlahan mulai membuka matanya, Rangga yang sudah berada dihadapannya, langsung berkata pada Bi Imah.
"Bi jangan pingsan lagi, ini aku Rangga, aku belum mati Bi." ujar Rangga.
Bi Imah yang sudah sadar, sesekali mengerjapkan matanya tanda ia tak percaya dengan yang ia lihat saat ini, Bi Imah langsung beranjak berdiri. Bi Imah dengan cepat mengambil majalah yang Rangga pegang untuk memukul wajah Rangga, Rangga pun berteriak kesakitan.
"Aduh Bi, udah udah, ampun Bi." ujar Rangga kesakitan.
__ADS_1
"Jadi ini bener Mas Rangga, Mas Rangga masih hidup." ujar Bi Imah bahagia sekaligus terkejut tak percaya.
"Iya Bi, aku masih hidup, ini aku bukan setan, lagian mana ada setan bisa kesakitan, udah gitu setan kok pagi-pagi, emang setannya abis dugem Bi, jadi kepagian, hahaha." keluh Rangga tertawa.
"Mas Rangga kenapa harus pura-pura mati Mas?" ucap Bi Imah bingung tak percaya kalau Rangga masih hidup.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Rangga berubah menjadi terkesiap. Rangga lalu menceritakan semua kepada Bi Imah.
Setelah mendengar semua cerita Rangga, Bi Imah menjadi sangat sedih.
"Bagaimana kabar Rina, Bi?" tanya Rangga.
"Rina pergi ninggalin surat ini Mas," ucap Bi Imah seraya beranjak melangkah mengambil surat dari Rina yang ia simpan.
Bi Imah memberikan kepada Rangga, Rangga yang membacanya begitu piluh, hingga tak terasa di sudut matanya tampak air mata mulai terlihat.
"Sekarang Bibi tahu gak, dimana Rina?" tanya Rangga lirih.
"Setelah satu Bulan baru tadi Mba Rina telepon, katanya dia ada di Bandung." ujar Bi Imah.
"Bandung?" ucap Rangga penuh tanya sambil mengingat.
__ADS_1
Rangga teringat sesuatu.
"Aku akan susul Rina, aku akan bawa Rina pulang, tapi sebelum itu aku harus selesaikan urusanku dengan Angga terlebih dahulu." ujar Rangga kesal.
Rangga pamit dan ia pergi untuk menemui Mega di kantor Angga.
*****
12 Jam kemudian
Kamar Rina, Rumah Bu Rita.
Malam penuh kesunyian terlintas sosok Rangga dalam pikirannya, betapa rindunya Rina bila mengingat Rangga. Semakin Rina ingat semakin pedih hatinya, air matanya tak kuasa menetes hingga membasahi pipinya. Rina hanya bisa bercerita pada buku hariannya, setiap malam Rina selalu curahkan semua kesedihannya di dalam buku ini, hanya buku ini yang selalu menemani malamnya selama Rina di Bandung.
Malam ini yang bisa Rina tulis hanyalah Rangga, semua kenangan bersama Rangga terlalu indah untuk bisa dilupakan. Buku ini menjadi saksi betapa Rina sangat merindukan Rangga.
"Rangga, semoga di sana kamu lihat aku dan kamu tahu kalau aku sangat merindukanmu." ujar Rina dengan sendu.
*****
Bersambung✍️
__ADS_1