Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Perasaan Bersalah


__ADS_3

Angga masuk membukakan pintu mobil untuk Rina, Rina pun dengan tertatih masuk ke dalam mobil. Angga dengan segera mulai menjalankan mobilnya untuk keluar dari parkiran rumah sakit, Angga terlihat sangat tergesa-gesa, ia panik pembunuh itu berhasil mengalahkan Andrean dan kembali menyerang Rina, ia sadar pembunuh itu sudah sangat profesional, membuat Angga semakin bingung siapa yang telah memerintahkannya.


Mobil pun melaju dengan cepat meninggalkan rumah sakit.


Sementara pertarungan antara Andrean dan laki-laki misterius telah berakhir. Laki-laki itu tersungkur, mengerang kesakitan tak berdaya. Andrean mendekat mencoba melihat keadaannya, namun saat ia membungkuk dan lebih dekat, laki-laki misterius itu menyerang Andrean dengan menusukan pisaunya ke arah perut Andrean, dengan cepat Andrean mengelak, walau tersayat sedikit hingga melukai perutnya sampai berdarah.


Andrean terpukul mundur, seketika laki-laki misterius itu kembali beranjak bangkit dan siap untuk menyerang Andrean.


Namun saat laki-laki misterius itu ingin menyerang, ia melihat beberapa polisi sudah ramai berdatangan, itu membuat laki-laki misterius itu mengurungkan niatnya untuk kembali menyerang Andrean, ia berbalik dan melarikan diri dengan cepat menghilang di tengah keramaian lalu lintas.


Andrean membiarkannya dan tak mengejarnya, yang lebih ia khawatirkan adalah keadaan Rina sekarang, Andrean akhirnya pergi dengan mengendarai mogenya.


Di rumah Angga.


Sesampainya Angga di rumahnya, ia langsung membopoh Rina menuju ruang tamu, setelah itu ia lalu mengobati leher Rina yang terluka. Angga membersihkan bekas sayatan di leher Rina, dengan air hangat dan handuk. Rina mengerang kesakitan saat handuk basah mulai menyeka lukanya.


Riansyah tak lama datang mendekati Rina, matanya membulat terbelalak kaget melihat luka di leher Rina, ia begitu marah dengan bodyguard yang telah di kirim Bryan ternyata tidak becus menjaga Rina.


"Rina, bagaimana keadaan kamu?" tanya Riansyah cemas.


"Aku tidak apa-apa Pah." sahut Rina mencoba membuat Riansyah tenang.


Setelah selesai Angga membersihkan luka di leher Rina, Angga memanggil Mbok Sumi untuk menemani Rina menuju kamarnya untuk berganti pakaian yang sudah banyak ternodai oleh darahnya.


Rina berlalu bersama Mbok Sumi mulai menaiki anak tangga dan menuju kamarnya. Tinggallah Riansyah bersama Angga yang terlihat sangat kesal membahas pembunuh yang telah melukai Rina.


"Andrean sudah menjaga Rina dengan baik, hanya saja aku yang bodoh Pah, aku tidak bisa menjaga Adikku sendiri, aku terlalu lengah, padahal Andrean hanya meninggalkan kami sebentar untuk mengambil mogenya yang terpisah parkirannya dengan mobilku." tutur Angga merutuki kebodohannya.


"Seharusnya dia tidak pernah meninggalkan Rina, walau hanya sedetik saja." kecam Riansyah yang sangat murka dengan Andrean.


Tak lama pintu rumah berbunyi.


Tok-Tok-Tok.


Angga berlalu membukakan pintu rumahnya. Ternyata Andrean sudah tiba, Angga pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Andrean menghadap Riansyah yang sudah terlihat marah dengannya.

__ADS_1


"Andrean, kenapa kau meninggalkan Rina? Lihat akibatnya, kalau sampai Rina terbunuh tadi, aku bisa dengan mudah menghabisimu!" bentak Riansyah sambil meremas ujung pakaian Andrean dengan sangat geram mengingat luka di leher Rina.


Bentakan Riansyah tak membuat Andrean memasang raut wajah yang takut maupun menundukkan pandangannya seperti bodyguard lain yang takut kepada majikannya, namun dirinya tidak berani melawan dengan ucapan maupun tindakan, karena melawan bukanlah sifat Andrean, ia hanya mengumpat dan menggerutu dalam hatinya.


"Sudah Pah, Andrean tidak sepenuh salah, semua ini salahku." timpal Angga mencoba membuat Riansyah mengerti.


Riansyah segera menghempaskan tubuh Andrean, namun tak membuat posisi Andrean berpindah.


"Awas jika hal ini terjadi lagi!" seru Riansyah menegaskan.


"Memang apa yang dapat kau lakukan terhadapku, seluruh pembunuh yang kau sewa pun tidak akan bisa menyentuhku. gumam Andrean geram.


Ingin sekali Andrean melontarkan tantangan seperti itu, namun sayang itu hanya terucap di dalam hatinya.


"Baik, Pak saya mengerti, ini yang terakhir Nona Rina terluka." jawab Andrean.


Riansyah pun berlalu meninggalkan Andrean untuk menuju kamarnya. Saat Riansyah pergi Angga mencoba membuat Andrean mengerti dengan sifat Ayahnya itu.


"Jangan dimasukin hati ya bro, begitulah Papa, keras tapi sebenarnya dia baik." tutur Angga memberitahu.


"Dia sudah lebih baik, Papa sudah menelepon Dokter pribadinya untuk datang ke sini, mungkin sebentar lagi akan sampai." ujar Angga.


"Kalau begitu biar saya menjaga Nona Rina di depan kamarnya." ujar Andrean.


"Tidak perlu, tunggu saja di ruang tamu, di sini aman untuk Rina, biarkan dia istirahat dan menenangkan dirinya." tutur Angga menolak niat Andrean.


Angga akhirnya meninggalkan Andrean untuk kembali melihat kondisi Rina. Sementara Andrean duduk di sofa sembari meletakkan tasnya di meja untuk berganti pakaian yang telah basah dengan keringat dan sedikit darahnya akibat luka dari sayatan pisau laki-laki misterius itu.


"Aku ingin minta maaf kepada Rina karena gagal menjaganya, tapi bagaimana aku bisa menemuinya ya." gumam Andrean.


Namun tanpa di duga harapan Andrean menjadi nyata, Rina sendirilah yang punya keinginan untuk bertemu Andrean. Rina terlihat menuruni anak tangga ditemani oleh Angga di sampingnya.


Rina akhirnya duduk di sofa bersebrangan dengan posisi Andrean.


"Bagaimana Andrean keadaan kamu?" tanya Rina yang juga memikirkan keadaan Andrean.

__ADS_1


"Aku baik Nona Rina." jawab Andrean yang terlupa kembali menyebut Nona.


"Sudah ku bilang jangan pakai Nona, cukup Rina saja, karena aku tidak se istimewa itu untuk di panggil Nona." keluh Rina yang kembali mengingatkan Andrean.


"Apakah kamu sudah tahu? Sebenarnya siapa laki-laki itu Andrean dan mengapa dia ingin membunuhku?" tanya Rina heran.


"Sampai saat ini aku masih belum tahu, tapi yang aku tahu pembunuh ini sangatlah profesional dan dia bukan berasal dari negara ini." tutur Andrean memberitahu.


Angga terperanjat kaget mendengarnya, ia berusaha berpikir dengan keras.


"Sebenarnya siapa yang menginginkan Rina mati?" gumam Angga bertanya dalam hatinya sambil melirik Rina dengan tatapan yang iba.


****


Hotel di Jakarta.


Seorang laki-laki misterius sedang menelepon seseorang.


"Halo Bu, saya masih belum berhasil menghabisi Rina, saat ini ia di kawal oleh bodyguard yang terlatih, jadi sepertinya akan sangat sulit, Bu." tutur laki-laki misterius di telepon.


"Saya tidak mau tahu! Bagaimana pun caranya saya ingin Rina mati." tutur wanita itu sangat kesal dengan kegagalan laki-laki misterius untuk kedua kalinya.


"Saya punya rencana Bu untuk menghabisinya tapi saya perlu bantuan Ibu, karena Ibu bisa menjauhkan Rina dari bodyguard itu." tutur laki-laki misterius.


"Apa rencananya coba jelaskan?" tanya wanita itu.


Laki-laki misterius itu menjelaskan semua rencananya.


"Semoga rencana yang sudah kamu jelaskan bisa berhasil, karena saya ingin Rina secepatnya mati." ujar wanita itu dengan memicingkan senyum liciknya.


****


Bersambung✍️


Tekan like dan beri komentar kalian ya.

__ADS_1


😍🤗😊


__ADS_2