Dinodai Kakak Tiriku

Dinodai Kakak Tiriku
Kembali Bertemu Darren


__ADS_3

Rumah sakit tempat Viona dirawat.


"Ayo buruan Darren, nanti jam besuknya lewat." ucap Sherra menarik tangan Darren untuk mempercepat langkahnya.


"Iya sebentar, gak usah pakai narik tangan segala Sherra." kata Darren kesal sambil menghempaskan tangan Sherra.


"Ya sudah, kalau gitu lebih baik aku duluan aja, pokoknya lantai 5 kamar melati no. 16 ya." tutur Sherra meninggalkan Darren untuk bergegas mengejar waktu agar dapat menjenguk Viona sahabatnya.


"Dasar bodoh, dia bicara secepat itu bagaimana bisa aku mengingatnya." ujar Darren kesal.


Darren akhirnya menghentikan langkahnya dan ia putuskan akan menunggu Sherra di lobi. Setelah mendapatkan satu kursi untuknya duduk, Darren mengeluarkan handphone dari sakunya dan mulai memainkan game kesukaannya.


Mobil Rina memasuki parkiran rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka bergegas untuk turun.


"Ingat, jangan lengah! Karena saat ini kamu adalah incaran dari pembunuh itu, pembunuh itu tidak akan pernah berhenti sampai kamu mati, jadi jangan jauh dari aku, oke Nona Rina." tutur Andrean menegaskan.


Rina agak kesal mendengar lagi-lagi Andrean memanggilnya dengan sebutan Nona.


"Sekali lagi kamu panggil aku Nona, aku akan suruh Papa untuk memecatmu." kesal Rina mengancam seraya menunjuk Andrean dengan telunjuknya.


Andrean tak merasa takut dengan ancaman Rina, malah itu semakin membuatnya ingin terus menggoda Rina.


Rina melangkahkan kakinya terlebih dahulu masuk ke dalam lobi, diikuti oleh Andrean yang setia melindunginya dari belakang. Namun saat Rina melintas Darren tidak melihatnya, karena sedang asyik bermain game di handphonenya.


Andrean mengamati setiap orang yang berada di sekitar mereka dengan begitu jeli.


Tibalah mereka di depan lift, Andrean langsung menyerobot kerumunan orang-orang agar bisa berada di depan Rina, untuk mengantisipasi jika pembunuh itu muncul saat lift terbuka.


Semua langsung melihat Rina dengan pandangan yang heran, seolah mereka seperti melihat hal yang tak biasa mereka lihat.


"Aduh, kenapa sih aku jadi gak bebas begini ya? Aku kan malu sampai orang-orang melihatku seperti itu." gumam Rina jengkel.


"Andrean, bisa gak kamu bersikap biasa aja jangan sampai orang-orang lihat kamu aneh begini, kamu tidak perlu berdiri persis di mulut lift seperti ini Andrean." ketus Rina dengan suara yang pelan, seraya menarik pakaian Andrean hingga membuat wajahnya sangat dekat dengan bibir Rina yang berbisik di telinganya.


"Padahal menurutku ini biasa aja, tapi kenapa semua melihatku aneh begini ya." gumam Andrean sambil menoleh melihat orang-orang yang memperhatikannya dengan pandangan yang tak biasa.


"Baik, aku akan bersikap sewajarnya." ucap Andrean sambil berdiri tegap dan menata pakaiannya yang sudah kusut akibat remasan tangan Rina.


Andrean akhirnya mengikuti kemauan Rina, ia kembali mundur dan berada satu langkah di belakang Rina.


"Tadi itu bibir Rina begitu dekat denganku, bibir yang merah merekah, tapi kenapa aku jadi memikirkan hal itu ya, apa jangan-jangan aku mulai menyukainya, hus.. hus.. Ingat Andrean ini hanya pekerjaan, tidak boleh pakai perasaan." gumam Andrean sambil mengibas tangannya mengusir bayangan Rina yang timbul dalam benaknya.

__ADS_1


Di lobi rumah sakit.


Darren yang sudah sejak tadi memainkan gamenya, lama kelamaan menjadi jenuh, ia menyudahi permainannya dan beranjak untuk menyusul Sherra. Darren pun melangkah menuju lift.


Tak lama pintu lift terbuka, semua yang sudah menunggu segera masuk ke dalam lift, tak terkecuali Rina dan Andrean, dari kejauhan Darren yang melihat pintu lift hampir tertutup, ia segera mempercepat langkahnya untuk dapat memasuki lift, saat ia sudah tiba di depan lift, pintu lift pun tertutup.


"Aduh, terlambat." ucap Darren kesal karena ia paling malas menunggu lama.


Namun tiba-tiba pintu lift kembali terbuka, ternyata Rina menekan tombol lift karena melihat seseorang yang berlari untuk masuk ke dalam lift, Rina masih belum sadar laki-laki yang dilihatnya itu adalah Darren, namun saat Darren sudah berada di dalam lift, barulah Rina mulai mengenalinya.


"Darren." kata Rina yang terkejut karena bertemu Darren di sini.


"Rina." ucap Darren tak menyangka bisa kembali bertemu dengan Rina.


Sejenak terlintas ucapan Darren, saat ia dulu gagal menemukan Rina.


"Jika aku berjodoh, aku pasti akan bertemu lagi dengan Rina, tapi bila tidak berarti dia memang bukan jodohku." gumam Darren.


Darren masih mematung diam tak menyangka, pandangannya tetap tertuju pada Rina hingga membuatnya tak berkedip. Tatapan Darren membuat Andrean menjadi jengah melihatnya. Di lift yang padat ini Rina dan Darren menjadi saling berdekatan.


"Aku tidak menyangka, dibalik ketakutanku terhadap pembunuh itu, aku malah bertemu dengan Darren, laki-laki yang memperlakukan aku dengan begitu istimewanya." gumam Rina, sambil memperlihatkan senyum kecil di wajahnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita ini di rumah sakit, apa ini yang di namakan jodoh." gumam Darren yang merasa gugup karena saat ini Rina tepat berada disampingnya.


"Kamu juga mau ke lantai ini ya?" tanya Rina kepada Darren yang juga keluar dari lift.


"Iya aku mau jenguk teman aku." ucap Darren sedikit gugup.


Mereka akhirnya meneruskan langkahnya masing-masing.


"Darren, kenapa kamu mengikuti aku terus?" tanya Rina heran karena Darren selalu melangkah di belakangnya.


Andrean hanya terdiam dan acuh karena itu bukan urusannya, ia masih menilai bahwa Darren bukan ancaman untuk Rina, maka itu ia membebaskannya. Andrean berusaha untuk menepikan perasaannya yang tadi tiba-tiba hadir dalam pikirannya, ia saat ini mencoba untuk bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang bodyguard, bertugas secara profesional, jangan menggunakan hati dan perasaan melainkan menggunakan akal.


Akhirnya setelah beragam pertanyaan yang Rina lontarkan kepada Darren, terjawab sudah alasan mengapa Darren seolah mengikutinya.


"Oh jadi, kamu ke sini untuk menjenguk Viona ya, pantas saja tujuan kita sama." tutur Rina yang baru menyadari.


"Apa ini yang dinamakan jodoh ya? Tujuan kita ternyata sama ya Rina." batin Darren bertanya-tanya dalam hatinya.


Rina akhirnya menceritakan kepada Darren, semua yang telah ia lewati, termasuk siapa Andrean yang saat ini mengawalnya.

__ADS_1


"Jadi luka di lehermu itu karena sayatan pisau dari pembunuh itu." ucap Darren sambil menunjuk plester yang melekat di leher Rina.


"Iya begitulah." jawab Rina.


"Tadinya aku pikir itu bekas ciuman dari pacarmu, makanya aku tidak menanyakannya, tapi setelah kamu cerita barulah aku tahu ternyata itu luka yang di akibatkan oleh pembunuh itu." tutur Darren dengan berpikir.


"Dasar otak mesum kamu Darren." ujar Rina seraya mencubit Darren hingga ia mengaduh kesakitan.


Mereka berdua pun, saling membagi senyum dan melempar candaan, yang membuat mereka tak sadar ada Andrean yang sedang menyaksikan keakraban mereka. Namun Darren dapat membaca situasi yang tak enak untuk Andrean.


"Andrean, apakah setelah pekerjaan mengawal Rina selesai, kamu mau bekerja untukku?" tanya Darren.


Andrean terperangah dengan pertanyaan Darren namun ia tetap santai menanggapinya.


"Jika saya tidak ada pekerjaan, saya pasti bisa, memang ada juga yang ingin membunuh Anda." kata Andrean bertanya.


"Bukan pembunuh, tapi pemaksa." ucap Darren dengan raut wajah tak enak.


Tak lama terdengar suara yang begitu nyaring memanggil nama Darren, suara yang tak menghiraukan bahwa ini sedang di rumah sakit sekalipun. Suara yang riang dan tanpa disadari telah membuat Andrean terus menatapnya.


"Darren kamu nyusul aku juga, kamu kangen kan sama aku." ucap Sherra dengan riang sambil memeluk Darren, Darren yang agak risih karena ia tidak mau Rina jadi salah paham dengan hubungannya dengan Sherra, langsung melepas tangan Sherra yang mengait di lehernya.


Sherra terhenyak berubah menjadi bete dengan sikap Darren.


"Sherra, perkenalkan ini Rina, kamu ingat yang kita pernah cari sampai ke kantor polisi, nah ini dia orangnya." kata Darren memberitahu sambil menunjuk dan memperkenalkan Rina.


Sherra mengulurkan tangannya dengan perlahan untuk berjabat dengan Rina.


"Hai, aku Rina." ucap Rina.


"Aku Sherra, senang bertemu denganmu." tutur Sherra mengungkapkan perasaannya, walau berbeda dengan kenyataannya.


"Ya ampun wanita ini bisa jadi duri dalam hubunganku dengan Darren nih, aku sepertinya akan sulit untuk menaklukan hati Darren setelah ada Rina." gumam Sherra yang melihat Darren terus menatap Rina.


"Apa yang harus aku lakukan?" imbuhnya bingung.


Setelah Rina dan Sherra kembali masuk ke dalam ruangan Viona. Darren melirik ke arah Andrean sekaligus menanyakan bagaimana tawarannya tadi.


"Maaf saya menolak, jika lawan yang saya hadapi adalah wanita seperti wanita tadi (yang menunjuk Sherra), saya tidak akan sanggup menghadapinya." tutur Andrean heran.


"Saya lebih baik menghabisi seorang pembunuh, tapi saya tidak akan menyakiti hati wanita." imbuh Andrean menolak tawaran Darren.

__ADS_1


****


Bersambung ✍️


__ADS_2